Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 35. Curahan Hati.


__ADS_3

Suasana mendadak jadi hening saat tangan Ibu Lisa mendarat tepat diwajah Lidya, sementara wanita itu terdiam sambil menahan rasa panas yang menjalar dipipinya.


Devan yang sedikit terkejut dengan apa yang terjadi beranjak bangun dan mendekati mereka. "Bu, aku ingin-"


"Diam, Devan! Ibu sudah tidak tahan lagi melihat kelakuan istrimu ini, wanita macam apa yang tidak bisa mengurus suaminya sendiri? Hah!"


Devan menahan tubuh mertuanya yang sudah akan kembali menampar wajah Lidya, dia lalu membawa wanita paruh baya itu menjauh dari istrinya sebelum baku hantam terjadi.


"Kau lihat kelakuan putrimu itu, sebentar lagi dia akan menjadi janda!"


Ayah Pian terdiam, dia tidak tau harus mengatakan apa dan berbuat apa saat ini. Dia lalu melirik ke arah Lidya yang terus menundukkan kepalanya, masih dalam posisi yang sama saat ditampar oleh istrinya.


"Lidya, ayo bicara dengan Ayah!"


Lidya menghempaskan tangan Ayah Pian yang memegang tangannya, dia lalu melihat ke arah mereka dengan tajam.


"Apa kalian sudah puas? Hah!"


Suara teriakan Lidya menggema di tempat itu dengan air mata yang lolos disudut matanya, dia segera menghapus air mata itu seakan-akan tidak mau menangisi apa yang sedang terjadi saat ini.


"Apa Ibu sudah puas memukulku? Kalau belum, silahkan lanjutkan!"


Lidya berjalan cepat ke arah sang Ibu lalu mencengkram tangan wanita paruh baya itu, dan memukulkannya tepat kewajahnya sendiri.


"Hentikan Lidya! Apa yang kau lakukan?"


Ibu Lisa berusaha untuk menarik tangannya, tetapi Lidya tidak melepaskan tangan itu dan terus memukulkan ke pipinya.


"Kenapa? Bukannya ini yang Ibu sukai? Hah!"


Lidya semakin menggila membuat Devan dan Ayah Pian terpaksa turun tangan, mereka berusaha untuk melepaskan tangan Ibu Lisa yang sudah memerah dan memar.

__ADS_1


"apa kau gila, Lidya?"


"Ya, aku memang sudah gila! Aku gila karna kalian semua!"


Lidya menunjuk ke arah mereka semua dengan tatapan penuh kemarahan, dan tatapan itu berakhir pada Devan. Seorang lelaki yang sempat dia cintai, tapi juga dia benci.


"Apa kau udah puas sekarang? Hah, kau udah puas?"


Devan terdiam, dia harus menjaga emosinya agar suasana tidak semakin panas membara. Apalagi dalam kondisi Lidya seperti itu, jika dilawani pastilah mereka semua akan terbakar.


"Selama ini aku selalu diam, aku selalu diam apapun yang kalian katakan. Tapi sekarang tidak lagi, aku tidak akan diam!"


Sekuat tenaga Lidya menahan air mata yang sudah akan tumpah diwajahnya, saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan semua rasa sakit yang dia derita. Rasa sakit seorang anak yang selalu dibanding-bandingkan, bahkan selalu dianggap buruk oleh orangtuanya sendiri.


"Apakah aku bukan anak kalian? Apa aku bukan darah daging kalian, sehingga kalian selalu saja menganggap aku seperti sampah?"


Kedua orangtua Lidya terkesiap mendengar ucapan putrinya itu, mereka benar-benar tidak habis pikir kenapa dia bisa berkata seperti itu.


"Aku belum selesai bicara, jadi dengarkan aku sampai selesai!"


Lidya menatap tajam Ayahnya, dan tidak membiarkan siapapun bicara saat ini, karna dia belum mengeluarkan semua yang ada dihatinya.


"Kenapa? Kenapa kalian menghadirkanku ke dunia ini? Kenapa? Kenapa tidak dia saja yang menjadi anak kalian, yang setiap hari selalu kalian bangga-banggakan. Kenapa?"


Tangisan Lidya sudah tidak bisa lagi ditahan, amarahnya terus meluap-luap dengan rasa benci yang membuncah. Kedua tangannnya terkepal erat sampai kuku-kukunya memutih, bahkan urat-urat disekitar lehernya menonjol ke permukaan.


"Apa tidak ada sedikit saja kata-kata baik yang bisa kalian keluarkan untukku, apa tidak ada? Setiap hari kalian selalu mengomentari apa yang aku lakukan, apa yang aku pakai, aku makan bahkan semua yang ada ditubuhku tidak luput dari komentar kalian. Apa aku ini sebuah patung, yang tidak punya perasaan? Hah!"


Napas Lidya tersengal-sengal akibat amarah yang terus keluar, bahkan dadanya kembang-kepis akibat semua luapan rasa sakit yang selama ini dia tahan.


"Aku anak kalian, darah daging kalian, tapi kenapa kalian tidak pernah memperlakukan aku dengan baik? Pernahkan kalian bertanya bagaimana pekerjaanku? Pernahkan kalian bertanya apakah aku sudah makan atau belum? Pernahkan sedikit saja kalian peduli, dan memikirkan apa yang aku perjuangkan?"

__ADS_1


Kedua orangtua Lidya terdiam, air mata mereka turun deras mengiri kata demi kata yang keluar dari mulut putri mereka. Sungguh rasanya sangat menyakitkan, hati mereka seperti sedang diiris-iris oleh pisau saat mendengarnya. Benarkah mereka sejahat itu?


"Kalian bahkan tidak tau apakah aku bahagia atau tidak dengan pernikahan ini!"


Deg, kedua orangtua Lidya merasa ditampar dengan sangat kuat mendengar kalimat terakhir yang terucap. Dada mereka berdua terasa sesak, seakan-akan tidak ada udara yang masuk keorgan pernapasan.


"Lidya, mereka orangtuamu! Tidak sepantasnya-"


"Diam kau! Semua ini gara-garamu, mereka memperlakukan aku dengan buruk karnamu, Devan!"


Kali ini Lidya menghadap ke arah Devan, dan sekarang giliran laki-laki itu yang harus mendengar ucapannya.


"Kehadiranmu benar-benar mengubah duniaku, Devan! Kau memberi cinta, tapi juga memberi rasa sakit yang teramat dalam. Setiap hari, setiap hari aku hidup bagai di dalam neraka. Setiap hari aku dibanding-bandingkan, setiap hari aku dicela dan kau dipuji. Kau yang baik, dan aku yang buruk. Kau yang disayang, dan aku layaknya sampah! Apa salahku? Apa salahku hingga kedua orangtuaku selalu memihakmu, dan menjadikanku bahan cemohan?"


Devan terdiam, matanya menatap sendu ke arah Lidya yang tampak benar-benar hancur. Selama ini dia tidak tau apa yang wanita itu rasakan, dia tidak tau kalau Lidya diperlakukan tidak adil seperti itu.


Selama ini dia merasa senang dengan kasih sayang yang kedua orangtua Lidya berikan padanya, karna dia sendiri tidak pernah merasakan kasi sayang orangtua. Hingga dia tidak sadar, kalau kehadirannya membuat Lidya terkucilkan.


"Lidya, Ayah dan Ibu tidak seperti itu. Kami hanya ingin-"


"Apa? Yang terbaik untukku? Itu maksud kalian?"


Ibu Lisa terdiam, dia menatap sedih dan merasa benar-benar hancur. Dia tidak sadar kalau semua yang dia lakukan sudah menyakiti hati putrinya.


"Mulai sekarang dan detik ini juga, aku tidak mengenal kalian semua, dan aku tidak ada hubungan apapun dengan kalian!"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2