
"Apa kau ingin menciumku lagi?"
Devan langsung menggelengkan kepalanya, bisa kebablasan dia jika mencium Amora saat wanita itu hanya memakai handuk seperti itu saja.
"Ya Lord, tolong berikan aku kesabaran seluas samudra! Dan ada apa dengan gadis ini? Apa dia maniak ciuman?"
Amora langsung berbalik saat mendapat penolakan, dia bukannya penggila ciuman, hanya saja dia ingin memastikan sesuatu.
Dia lalu mengambil pakaian di dalam lemari dan kembali masuk ke kamar mandi, sementara Devan mengawasi Amora dari ujung matanya.
Setelah selesai, mereka segera beranjak ke restoran yang ada di hotel itu. Terlihat sudah banyak orang yang memenuhi tempat itu, termasuk musuh Amora.
"Jarum jam angka 2!"
Devan mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan Amora, tetapi sesaat kemudian dia paham dengan apa yang dimaksud oleh wanita itu.
"Jadi, dia yang bernama Lucas?"
Devan memalingkan wajah saat salah satu anak buah lelaki itu melihat ke arahnya dan Amora, dia lalu kembali menikmati sarapan agar mereka tidak curiga.
"Dia adalah target yang harus ku hancurkan!"
Amora mengepalkan tangannya, dia masih ingat jelas bagaimana wajah lelaki itu beberapa tahun silam. Saat dia baru berusia 14 tahun.
"sepertinya dia lelaki yang kuat, Nona!"
"Tentu saja! Jika tidak, saat ini dia sudah hancur di bawah kakiku!"
Devan menganggukkan kepalanya, terlihat jelas aura kekuasaan diwajah lelaki itu. Bahkan hanya melihat wajahnya saja, orang-orang akan tau betapa hebat dan berkuasanya Lucas.
"Tapi tunggu, kenapa aku merasa wajahnya sangat mirip denganku?"
Devan menyentuh wajahnya sendiri, entah hanya perasaan saja atau memang benar. Garis wajah Lucas sangat mirip dengan garis wajahnya, bahkan bibir mereka nyaris sama.
Amora tersenyum tipis saat mengetahui apa yang sedang Devan pikirkan, inilah salah satu sebab kenapa dia memberi penawaran dengan lelaki itu, karna wajah Devan sangat mirip dengan Lucas.
"Wajahmu memang mirip dengannya!"
Devan terkesiap. "Be-benarkah, Nona? Saya pikir hanya perasaan saya saja!"
Kini dia mulai mengerti, bisa jadi Amora melakukan ini karna wajahnya mirip dengan musuh gadis itu. Akan tetapi, apa yang harus dia lakukan jika memang mirip?
"Sebentar lagi mereka pasti akan ke sini!"
Belum sempat Amora menutup mulutnya, tiba-tiba ada seorang lelaki yang menghampiri mereka.
__ADS_1
"Maaf, Tuan! Bisakah anda menemui Tuan saya sebentar, beliau ingin bicara dengan anda!"
Amora dan Devan mendongakkan kepala. "Maaf, Tuan! Kami sedang menikmati waktu berdua!" Amora tersenyum manis pada lelaki itu.
Devan hanya menjadi pendengar budiman, pikirannya sedang berkelana memikirkan tentang kemiripannya dengan lelaki bernama Lucas.
"Jangan-jangan dia ayahku? Atau kami bersaudara? Cih, memangnya ini film ikan terbang!"
Devan menggelengkan kepalanya, tidak mungkin ada hal seperti itu didunia ini. Mungkin memang hanya kebetulan saja wajah mereka mirip.
Setelah mendapat penolakan, lelaki itu menjauh dari meja mereka, dia lalu melaporkannya pada sang Tuan.
"Mereka sepertinya sepasang kekasih, Tuan! Itu sebabnya mereka tidak ingin di ganggu!"
Lelaki bernama Lucas itu menganggukkan kepalanya, tetapi sorot matanya masih melihat tajam ke arah Devan.
"Kenapa wajahnya sangat mirip denganku? Jangan-jangan dia ...."
Lucas langsung berdiri membuat semua anak buahnya ikut berdiri, dia lalu berjalan lurus ke arah Devan karna penasaran dengan lelaki itu.
"Permisi, Tuan!"
Devan dan Amora mengalihkan pandangan mereka. "Ya, Tuan?"
"Apa saya boleh bergabung dengan kalian?"
"Sayang, apa kau tidak keberatan?"
Devan hampir saja terjungkal dari kursi mendengar panggilan Amora padanya, dia lalu mencoba untuk tetap tenang dengan menarik napas panjang.
"Terserah padamu saja, Sayang!"
Amora lalu mempersilahkan Lucas untuk duduk, sementara Lucas sendiri menyuruh semua anak buahnya untuk menjauh karna dia ingin berbincang dengan mereka.
"Perkenalkan, nama saya Lucas Zander!"
Amora dan Devan menganggukkan kepala mereka, lalu bergantian memperkenalkan diri pada laki-laki itu.
"jadi, kalian ini sepasang kekasih?"
"benar, Tuan! Kami sedang liburan di kota ini. Tapi, jika diperhatikan. Wajah anda dan kekasih saya sangat mirip!" ucap Amora, dia benar-benar pandai sekali dalam berakting.
Lucas menyetujui ucapan Amora, dia lalu beralih melihat ke arah Devan yang hanya memperhatikan mereka saja.
"Jadi Tuan Devan, apa saya boleh bertanya pekerjaan anda?"
__ADS_1
Devan tersenyum. "Saya hanya seorang manager kafe, Tuan!"
Lucas menganggukkan kepalanya, setelah diperhatikan lebih dekat. Wajah Devan memang mirip dengannya, tapi dibeberapa bagian juga terlihat sangat berbeda.
"bagaimana dengan keluarga anda? Maaf jika saya lancang!"
"tidak apa-apa, mungkin anda sedang berpikir kalau kita adalah saudara yang terpisah!"
"Hahaha!"
Tawa Lucas pecah ditempat itu membuat anak buahnya tercengang, sementara Devan dan Amora hanya tersenyum tipis saja melihat tawa lelaku itu.
"Ya ya, bisa jadi seperti itu!"
Lucas mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian Devan menceritakan tentang keluarganya pada laki-laki itu.
"jadi, anda besar di panti asuhan?"
Devan mengangguk. "Benar, dan merekalah keluargaku!" Dia tersenyum mengingat masa kecilnya dulu.
"sekarang tidak lagi, kan sudah ada aku!" seru Amora.
Devan hanya tersenyum saja, entah Amora berkata jujur atau hanya pura-pura yang jelas dia merasa senang.
"Baiklah, silahkan nikmati waktu liburan kalian! Dan ini kartu namaku, hubungi saja jika kalian mendapat masalah!"
Lucas menyodorkan kartu namanya pada Devan dan Amora, dia lalu berdiri dari kursinya.
"Senang berkenalan dengan kalian, sampai jumpa dilain waktu!"
Amora dan Devan menganggukkan kepala mereka, kemudian Lucas berlalu pergi dari tempat itu bersama dengan para anak buahnya.
"Nona, apa semua ini tidak apa-apa?"
Amora tersenyum, dia membolak-balikkan kartu nama yang diberi oleh laki-laki itu. "Tidak apa-apa, kita hanya berkenalan saja dengannya!"
Amora lalu mengajak Devan pergi, hari ini pekerjaan mereka sudah selesai. Dia sudah membuat Lucas tau tentang keberadaan mereka.
"Baiklah, setelah ini aku yakin kalau dia pasti akan mencaritau tentang kehidupan Devan!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.