
"Apa kita harus mengikuti mereka, Nona?"
Amora menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, hari ini kita kosong!"
Amora beranjak bangun dan keluar dari tempat itu dengan diikuti oleh Devan. "Aku ingin ke pantai!"
Devan menganggukkan kepalanya, mereka lalu keluar dari hotel menuju pantai yang berada tidak jauh dari hotel tersebut.
Sesampainya di pantai, Amora langsung membuka sepatunya dan berjalan di atas pasir dengan bertelanjang kaki sementara Devan mengikutinya dari belakang.
Hamparan lautan luas terasa menyejukkan mata, apalagi ditambah hembusan angin yang seakan memberikan ketenangan pada semua orang.
Amora tersenyum ke arah lautan, lalu tiba-tiba matanya terasa panas dan ingin mengeluarkan air mata.
"Papa, aku datang ke tempat ini! Apa Papa masih ingat kejadian itu? Aku rasa Papa masih mengingatnya, karna aku sendiri juga seperti itu!"
Air mata yang semula hanya setetes dua tetes, kini mengalir deras diwajah cantiknya membuat Devan tersentak.
Untuk pertama kalinya, Devan melihat Amora menangis. Wanita yang biasa dingin dan tampak menyeramkan, kini terlihat seperti seorang gadis yang menangis karna putus cinta.
Ingin sekali dia memeluk tubuh Amora, tetapi dia takut dianggap lancang dan mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Hiks!"
Tangisan Amora semakin terdengar lirih membuat Devan tidak tahan, dengan cepat dia menarik tubuh Amora ke dalam pelukannya.
"Menangislah, keluarkan semua rasa sakit yang ada dalam hatimu! Kau memintaku untuk menjadi kekasihmu, 'kan? Maka biarkan aku melakukan ini!"
Amora yang semula tegang kini tampak menerima pelukan Devan, kini suara tangisannya bahkan terdengar lebih kencang ketimbang yang sebelumnya.
Devan terus mendekap tubuh itu, mengalirkan kehangatan dan ketenangan untuk Amora. Hatinya terasa sakit saat melihat gadis itu menangis, lebih baik dia melihat Amora marah atau mengamuk daripada seperti ini.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi padamu, Amora? Rasa sakit seperti apa yang selama ini tertanam dihatimu? Bolehkah aku menggantinya dengan kebahagiaan?"
Amora membeku saat mendengar kata-kata yang Devan ucapkan, untuk pertama kalinya mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sesungguhnya.
"Apa kau tidak mempercayaiku?"
Amora terdiam, sementara Devan meraih dagunya agar menatap wajah laki-laki itu saat ini.
Cup, tanpa Amora duga sama sekali. Saat ini Devan mengecup bibirnya, bukan hanya sekedar kecupan. Laki-laki itu bahkan melummat bibir atas dan bawahnya, membuat dia terkesiap.
"Dev- eemh!"
__ADS_1
Amora mengerrang saat bibirnya digigit oleh Devan, secara otomatis mulutnya terbuka membuat laki-laki itu langsung menghisap kuat lidahnya.
Tangan Devan memeluk pinggang Amora dengan sensitif, dia bahkan menahan tengkuk gadis itu agar ciuman mereka semakin dalam.
Dia lalu menyudahi ciuman itu saat Amora kehabisan napas, mereka berdua tersengal-sengal sambil berebut oksigen untuk memenuhi organ pernapasan.
"ke-kenapa kau menciumku?" tanya Amora dengan tersengal-sengal, wajahnya memerah bak kepiting rebus saat ini.
"Karna aku ingin!"
Devan lalu menarik tangan Amora ke sebuah kursi yang ada di tempat itu, mereka lalu duduk di sana dengan saling diam.
Amora terus melirik ke arah Devan yang tidak kunjung bersuara, dia bingung kenapa saat ini laki-laki itu hanya diam dengan kepala tertunduk.
Devan sendiri merasa sangat malu dan canggung saat ini, bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal semacam itu pada Amora. Dia seperti terhipnotis saat bertatapan mata dengan wanita itu, hingga tidak sadar melummat bibirnya.
"Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu?"
Devan terlihat gugup, keringat dingin mulai menjalar ke seluruh tubuh. Namun, belum sempat dia menjawab. Suara dering ponsel Amora terdengar, membuat wanita itu langsung mengangkat panggilan dari seseorang.
"halo!"
"Nona, mereka memakan umpan kita!"
"Baik, Nona!"
Tut, panggilan itu langsung terputus saat Amora sudah memberi perintah. Dia lalu beranjak bangun membuat Devan mengikutinya.
"Kita harus kembali ke hotel!"
Devan menganggukkan kepalanya, lalu mereka segera kembali ke hotel tempat mereka menginap saat ini.
Sementara itu, Justin yang sedang menjalankan perintah dari Amora terlihat sibuk bersama dengan 4 orang anak buahnya. Mereka adalah orang-orang yang ahli dalam hal teknologi, yang selama ini bekerja untuk Amora.
Tiba-tiba ponsel Justin berdering, dan menampakkan seorang anak buah yang dia tugaskan dikafe Devan sedang menelpon.
"Katakan!"
"maaf, Tuan! Saat ini ada seorang wanita bernama Lidya yang membuat keributan di kafe-"
"Apa? Seret wanita itu sebelum aku membunuhnya!"
Tut, Justin langsung mematikan panggilan itu dengan kesal. Dia bahkan hampir saja membanting ponselnya, tetapi diurungkan karna ponsel itu pemberian sang Nona.
__ADS_1
"awasi terus pergerakan mereka, aku ada urusan sebentar!"
"Baik, Tuan!"
Justin segera keluar dari tempat itu menuju kafe milik Devan, pekerjaannya sudah sangat banyak dan sekarang dia masih harus mengurus kafe itu.
Justin mengemudikan mobilnya dengan kencang, hingga butuh 10 menit saja untuk sampai di tempat tujuan.
"Selamat datang, Tuan!"
Seorang lelaki yang menelpon tadi menyambut kedatangannya. "Di mana wanita gila itu?"
"Dia di dalam ruangan Tuan Devan, Tuan! Dia memaksa untuk mengambil semua uang yang ada di sana!"
Darah Justin seketika langsung mendidih saat mendengarnya, dengan langkah cepat dia masuk ke dalam kafe yang tampak cukup ramai hari ini.
"Minggir kau, Niki! Apa kau mau ku pecat?"
Lidya berusaha untuk menarik tubuh Niki yang berdiri di depan brankas, tetapi gadis kecil itu sangat kuat dan tidak membiarkannya untuk menyentuh uang Devan.
"Kakak mau apa? Apa kakak udah bilang ke Kak Devan kalau mau ambil uang?"
"Itu bukan urusanmu! Sekarang minggir!"
Lidya menarik rambit Niki dengan kuat membuat gadis itu berteriak kesakitan, dia lalu berhasil menarik tubuh Niki dan menghempaskannya ke arah pintu.
Bruk!
Niki memejamkan matanya saat mengira kalau tubuhnya akan mencium lantai, tetapi dia salah. Saat ini, tubuhnya sedang berada dalam pelukan seseorang.
Deg. "Tuan Justin?"
Justin segera membedirikan tubuh Niki, dan menatap tajam ke arah Lidya yang sudah bersiap untuk membuka brankas milik Devan.
"Aku akan memotong tanganmu bila menyentuh brankas itu!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1