
Justin mematung di depan kamar Amora, untuk beberapa saat dia terus seperti itu karna ingin memberi waktu pada Nona mudanya.
Prang!
Suara benda terjatuh terdengar dari dalam kamar itu, tetapi Justin tetap menahan diri untuk tidak melakukan apa-apa.
Sementara itu, keadaan di dalam kamar Amora benar-benar sangat berantakan. Siempunya kamar sendiri sedang berdiri di depan sebuah potret, yaitu potretnya dengan sang Papa.
"Papa!"
"Aaarggh!"
Prang!
Prang!
Brak!
Dia melempar semua benda-benda yang ada di kamar itu dengan amarah yang terus meluap-luap, darahnya seketika mendidih saat mengingat semua rasa sakit yang terjadi di masa lalu.
"Nona! Apa saya boleh masuk?"
Amora menghentikan tangannya saat mendengar suara Justin, sekilas dia melihat ke arah pintu lalu kembali menggerakkan tangannya untuk meninju kaca.
Pyar!
Suara pecahan kaca itu menggema diseluruh penjuru kamar, tentu saja bersamaan dengan mengalirnya darah segar dari tangan Amora.
Brak!
Tiba-tiba pintu kamar itu didobrak oleh seseorang, tanpa melihat ke belakang pun Amora tau siapa yang mendobrak pintu tersebut.
"Nona, maafkan saya!"
Justin menjongkokkan tubuhnya lalu memegang tangan Amora yang berdarah, sementara Samy dan Devan terpaku di ambang pintu saat melihat semua yang terjadi.
__ADS_1
"aku ingin sendiri!"
"Maaf Nona, saya akan tetap bersama Nona!"
Amora berdecak kesal, dia lalu berbalik dan hendak keluar dari kamar itu. Namun, kakinya menadadak kaku saat bersitatap mata dengan Devan. Terlihat jelas keterkejutan dimata lelaki itu saat ini.
Devan yang memang sama sekali tidak mengetahui apapun tentang Amora, tentu merasa sangat kaget dengan apa yang terjadi. Sangking kagetnya, dia bahkan tidak sanggup untuk mengucapkan apa-apa.
Untuk beberapa saat mereka saling berpandangan, sampai Amora memilih keluar dan melewati tubuh Devan dan juga Samy, yang tentu saja membuat Justin mengekorinya.
Setelah kepergian Amora, berbagai pertanyaan terus berputar-putar dalam pikiran Devan, rasa penasaran dan simpati juga memenuhi hatinya. Dia ingin sekali mengetahui semua tentang Amora, tapi tidak mungkin dia menanyakan hal itu saat ini.
"Maafkan kakak, Amora! Maafkan kakak!"
Devan mengernyitkan keningnya saat mendengar gumaman Samy, dan yang lebih mengejutkan lagi saat melihat laki-laki itu bersimpuh di atas lantai.
"Tuan, apa yang anda lakukan?"
Dia segera meraih tubuh Samy, sementara lelaki itu sedang menundukkan kepala dengan terisak.
"Aku bersalah, aku menyesal! Maafkan aku, tolong maafkan aku!"
Devan semakin tidak mengerti, sekuat tenaga dia mengangkat tubuh Samy dan membawa lelaki itu ke sofa yang ada di belakang mereka.
"Tunggu sebentar, Tuan! Biar saya ambilkan minum!"
Devan yang sudah akan beranjak pergi ditahan oleh Samy, lelaki itu mencekal lengan nya membuat kedua kakinya terpaksa diam di tempat.
"Tuan, saya hanya ingin-"
"Aku bersalah, aku benar-benar bersalah!"
Entah sadar atau pun tidak, tetapi saat ini Samy sedang menyandarkan kepalanya di lengan Devan seolah-olah sedang mengadukan semuanya.
Devan terdiam, dia sedang berpikir keras bagaimana cara menenangkan Samy yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Tuan, setiap manusia pasti melakukan kesalahan, dan tidak ada satu manusia pun yang luput dari kesalahan!"
"Tapi, tapi aku telah berbohong dan menutupi semuanya. Aku berbohong dan membuat Papa meninggal!"
Deg, Devan terdiam dengan jantung berdebar keras. Sekarang dia yakin kalau Samy dan Amora berselisih paham tentang orang tua mereka.
"Anda pasti sama sekali tidak ada niat untuk membuat orangtua anda meninggal, 'kan?"
Samy mengangguk, tidak perduli siapa yang sedang bersamanya saat ini, yang pasti dia tidak sanggup lagi untuk menyimpan kesedihannya.
"Berarti itu bukan murni kesalahan anda, dan semua itu berkat campur tangan Tuhan di dalamnya. Mungkin, kebohongan yang anda lakukan memang membuat masalah. Tapi, semua itu diluar keinginan Tuan!"
Samy yang sejak tadi terisak kini menghentikan tangisannya, dia lalu mendongakkan kepala dan melihat ke arah Devan.
"apa yang kau katakan benar, tapi aku sudah membuat kesalahan besar!"
"Seperti yang saya ucapkan tadi, Tuan! Semua orang juga melakukan kesalahan, tapi, mereka berjanji untuk merubah diri agar kesalahan itu tidak lagi terulang.
Samy terdiam, dia sedang memikirkan apa yang Devan katakan. "Kau benar, hanya saja adikku tidak bisa memaafkanku!" Suaranya terdengar getir.
Devan tersenyum. "Bukan tidak bisa, Tuan! Tapi belum bisa, saya yakin suata saat nanti Nona Amora akan memaafkan anda!"
Samy merasa cukup terhibur dengan apa yang Devan ucapkan, dia lalu mengusap air mata yang masih membekas di wajahnya dan tersenyum tipis.
"ternyata adikku sangat hebat, ya! Dia berhasil mendapatkan lelaki yang berhati baik sepertimu!"
"A-apa Tuan?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1