Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 62. Penjemputan Devan.


__ADS_3

Setelah mengiyakan permintaan Samy, Devan memutuskan untuk segera pulang. Tidak mungkin dia terus mengasingkan diri seperti ini, bukannya menyelesaikan masalah, tetapi malah menambah banyak masalah.


Dia melangkahkan kakinya untuk kembali ke penginapan yang berada tidak jauh dari danau itu, suasana yang tenang dan sejuk benar-benar membuat hari-harinya jadi tenang.


"Tunggu, di mana kunciku?"


Devan merogoh sakunya untuk mencari kunci, dan jangan bilang kalau kuncinya hilang. "Ah ini dia!"


Devan segera memasukkan kunci itu untuk membuka pintu, dia ingin mengambil dompet dan ponselnya yang ada di dalam tempat itu.


Brak!


"Kau sudah pulang?"


Tubuh Devan melompat kaget saat melihat seseorang duduk di kursi yang ada di rumah itu, dengan cepat dia mengucek-ngucek matanya untuk memastikan apakah matanya benar-benar berfungsi dengan baik atau sedang berhalusinasi.


"Amora?"


"Ya, ini aku! Kenapa? Kau terkejut?"


Devan tidak menyangka kalau Amora benar-benar ada di hadapannya, bahkan saat ini wanita itu sedang berjalan ke arahnya.


"Mau kau sembunyi dilubang semut sekalipun, aku tetap akan bisa menemukanmu!"


Amora langsung menarik tangan Devan untuk masuk ke dalam rumah itu, sementara Devan masih diam dalam kebingungannya.


"Tunggu, Amora!"


Devan menahan tangan Amora yang sedang menariknya. "Kenapa kau ada di sini?"


"Kenapa? Apa kau benar-benar ingin pergi dariku?"


Amora menatap Devan dengan tajam, berhari-hari dia menunggu kabar dari laki-laki itu. Namun, semuanya nihil. Devan bak hilang ditelan bumi membuatnya sangat khawatir, dan menyuruh Justin untuk mencari keberadaannya.


"Tidak, Amora! Bukan seperti itu, aku hanya, hanya merasa kaget saja!"


Devan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kemudian dia membawa Amora untuk duduk dikursi yang ada di tempat itu.


"Lalu, apa yang kau lakukan di sini?"


Devan terdiam, tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya pada wanita itu. "Aku hanya sedang menenangkan diri, Amora!"


Ya, Devan tidak berkata bohong. Dia benar-benar ingin menenangkan diri, menjauhkan segala masalah darinya sebelum jiwanya menjadi gila.


"Bukannya kau sedang menghindariku?"


Devan langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak pernah melakukan itu, Amora!"


"apa kau menghindari proses perceraianmu?"

__ADS_1


"Tidak, aku- tunggu, perceraian?"


Benar, dia baru ingat kalau proses perceraiannya sedang berjalan. Si*al, Valdo pasti akan membunuhnya setelah ini.


"Apa aku benar?"


Devan kembali menggelengkan kepalanya dan bergegas mengambil ponsel yang ada di dalam kamar, dia harus segera menyalakan ponselnya untuk menghubungi Valdo.


"Astaga!"


Matanya melotot dengan sempurna saat melihat ada 350 panggilan tidak terjawab, bahkan pesan yang masuk juga hampir sampai 1000 pesan.


Dengan tangan gemetar, Devan membuka aplikasi hijau untuk melihat pesan-pesan itu, yang berasal dari Niki, Valdo, Lidya dan keluarganya. Tidak ketinggalan Amora, juga para karyawannya yang merasa khawatir dengan keadaannya.


Devan tidak berani membuka pesan dari Valdo, dia lalu memutuskan untuk langsung menelpon laki-laki itu.


Tut, tut, tut. "Si*al!"


Ternyata batrei ponselnya sudah habis dan dia tidak bisa menelpon Valdo, dia lalu kembali menemui Amora dan mendudukkan tubuhnya dengan kesal.


"Amora, ayo kita pulang!"


"aku tidak mau!"


"Hah?"


Devan menatap Amora dengan heran, bukannya kedatangan wanita itu untuk mengajaknya kembali?


"Hah!"


Devan menghela napas kasar lalu menyandarkan kepalanya dibahu Amora membuat wanita itu tersentak. "Semua ucapanmu itu tidak benar, Amora! Tapi ya, saat ini aku memang sedang mengalami kesulitan!"


Amora terdiam mendengar ucapan Devan, perasaan takut yang sejak tadi menyelimuti hatinya kini berganti jadi rasa khawatir.


"Aku tidak bisa mengatakannya sekarang, tapi yang pasti, aku pergi bukan karna ingin menghilang darimu!"


Cup!


Tubuh Amora menegang saat Devan mengecup pipinya, hawa panas mulai menjalar diseluruh tubuh membuat wajahnya merona.


"Jadi ayo, kita kembali!"


Amora menganggukkan kepalanya, kemudian mereka keluar dari rumah itu dan kembali ke tempat mereka berasal.


Sepanjang perjalanan, Devan terus menggenggam tangan Amora. Sesekali dia akan mengecup tangan itu membuat wajah Amora kian memerah.


"Em ... Amora, apa aku boleh menanyakan sesuatu?"


Sesaat Devan mengalihkan pandangannya, kemudian dia kembali melihat ke arah jalanan.

__ADS_1


"Katakan saja!"


Devan tersenyum sembari menarik napas panjang. "Jika, jika ada sesuatu hal tentangku yang membuatmu kecewa, apa kau akan meninggalkanku?"


Amora melihat ke arah Devan. "Maksudnya?"


"Em ... sesuatu yang tidak kau sangka-sangka sebelumnya, dan semua itu akan sangat membuatmu terluka! Apa kau akan tetap bersamaku?"


Amora terdiam, dia mencoba untuk memikirkan apa yang Devan katakan. "Hanya ada 2 hal yang tidak akan pernah aku maafkan, yaitu pengkhiaanatan dan kebohongan!"


Glek, Devan menelan salivenya dengan kasar. Tangannya mencengkram kuat setir kemudi yang ada digenggaman tangannya, entah kenapa suasana berubah menjadi sesak untuknya.


"selain itu, aku akan memaafkannya!"


"Benarkah?"


Amora menganggukkan kepala saat Devan melihat ke arahnya. "Benar, aku akan selalu bersamamu kecuali 2 hal itu!"


Devan sedikit mengulas senyum, walaupun hatinya sedang dilanda resah gelisah saat mendengar jawaban Amora.


"Aku tidak mengkhianatinya, aku juga tidak berbohong. Aku hanya tidak mengatakan semua itu pada Amora, aku harap tidak akan ada satu pun yang tau tentang ini!"


Itulah harapan Devan saat ini, cukup Lidya dan keluarganya saja yang tau. Dia akan menutup rapat-rapat semua ini, terutama dari Amora dan juga Justin.


"Tapi Amora, aku lupa menanyakan tentang sesuatu. Sama siapa kau datang menemuiku? Kenapa tidak ada mobil di sana?"


Devan baru teringat tentang hal itu, apa mungkin Amora datang sendirian untuk menemuinya?


"aku bersama Kak Justin tadi!"


"Benarkah? Kenapa aku tidak melihatnya?" Devan merasa tidak melihat orang lain selain mereka berdua.


"sejak kau datang, Kak Justin sudah duduk disudut dapur. Dia memilih duduk disitu karna ingin menyelesaikan pekerjaanya, apa kau tidak melihat?"


"a-apa? Jadi tadi dia ada di sana?"


"ya!"


"apa dia melihat saat aku menciummu?"


"Tentu saja!"


Glek. "Habislah aku setelah ini!"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2