Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 92. Memberitahu Keluarga.


__ADS_3

"Sekarang. Aku akan menikahimu sekarang juga,"


"Apa?" Amora terlonjak kaget saat mendengar ucapan Devan, tetapi sesaat kemudian dia tertawa membuat laki-laki itu mengernyit bingung.


"Kenapa kau tertawa? Apa kau pikir aku sedang bercanda?" ucap Devan dengan cemberut.


Amora hanya mengendikkan bahunya untuk menanggapi apa yang laki-laki itu ucapkan, dia tidak habis pikir bagaimana mungkin Devan semudah itu memutuskan untuk menikah.


"Amora, aku serius!" ucap Devan dengan penuh penekanan membuat Amora langsung menatapnya dengan tajam.


"Kau baru saja bercerai, tapi kau langsung memutuskan untuk menikah denganku?" tanya Amora memastikan, karena dia merasa kalau Devan sedang tidak serius.


Devan menghela napas kasar lalu menggenggam kedua tangan Amora. "Amora, kau tau sendiri bagaimana rumah tanggaku. Sejak awal, pernikahan itu harusnya tidak terjadi. Pernikahan itu hanya memberi luka dalam hatiku, bahkan juga melukai hati Lidya."


Amora terdiam mendengar ucapan lelaki itu. Tanpa dijelaskan pun, dia tau benar apa yang terjadi dalam rumah tangga Devan dan Lidya, dia bahkan manjadi saksi bagaimana laki-laki itu melewati malam pertama yang sangat tragis.


"Kau tau Amora, sejak dulu aku hanya mencintai Lidya saja. Banyak wanita yang dekat denganku, tapi aku hanya melihat ke arahnya dan tidak pernah berpaling. Maka dari itu, hatiku benar-benar sangat hancur dengan apa yang dia lakukan."


Amora tentu paham dengan apa yang Devan rasakan, karena dia sendiri juga sudah merasakan bagaimana sakitnya sebuah perselingkuhan. Walaupun saat itu bukan kekasihnya yang berselingkuh, melainkan ibu kandungnya sendiri.


"Ku pikir aku akan hancur dan terpuruk atas apa yang terjadi, tetapi pikiranku itu salah. Aku bisa bangkit tanpa merasa hancur, dada yang semula sesak langsung membaik seketika. Aku bahkan sampai lupa akan semua perbuatan Lidya, dan semua itu karna kehadiranmu, Amora." Devan menatap Amora dengan mata berkaca-kaca.


"Kehadiranmu sangat berarti untukku, dan aku tidak hancur itu semua karnamu. Kau lah yang menarikku dari rasa sakit, dan kau jugalah yang mengembalikan semangat dan senyuman diwajahku. Tidak bisa ku bayangkan akan jadi seperti apa aku saat itu jika kau tidak ada, mungkin sekarang pun aku pasti masih berada dalam pusara kesakitan." Air mata Devan menetes membasahi wajah saat mengingat bagaimana sosok Amora menyelamatkannya dari kehancuran.


"Awalnya aku merasa ragu, dan aku bahkan berpikir bahwa kau adalah orang gila yang mengusik hidupku. Tapi ternyata aku salah. Kau adalah malaikat yang Tuhan kirim untukku, kau bahkan tidak sedikitpun mengizinkanku untuk mengenal rasa sakit. Seperti itulah kehadiranmu untukku, Amora. Dan sekarang aku benar-benar ingin memilikimu seutuhnya,"


"Aku mau. Aku mau menikah denganmu, Devan."


Devan tercengang saat mendengar ucapan Amora. "Ka-kau, kau serius?"

__ADS_1


Amora menganggukkan kepalanya sampai beberapa kali. "Ayo, kita bicarakan dengan semua orang!"


Devan langsung memeluk tubuh Amora dengan erat. Seumur hidupnya, baru pertama kali dia merasa sangat bahagia seperti ini. Bahkan saat melamar Lidya dulu, dia tidak sampai mengeluarkan air mata. "Terima kasih, terima kasih, Amora."


Setelah berpelukan selama beberapa waktu, Devan dan Amora segera beranjak dari tempat itu untuk menemui semua orang, mereka sudah tidak sabar untuk memberitahukan kabar baik ini pada semuanya.


"Ada apa, kenapa kalian mengumpulkan kami seperti ini?" tanya Lucas yang baru saja bangun tidur. Entah kenapa akhir-akhir ini dia mudah sekali merasa lelah.


Samy, Justin dan ibu Jessy juga berkumpul di tempat itu. Sejak semua kebenaran terungkap, Amora memaksa ibu Jessy untuk tinggal bersama mereka, dan akhirnya mereka semua berkumpul di rumah itu.


Melihat semua orang sudah berkumpul di tempat itu, langsung saja Devan mengatakan apa yang ingin dia dan Amora lakukan.


"Aku dan Amora akan segera menikah,"


"Apa?" Semua orang terlonjak kaget saat mendengar ucapan Devan.


"Kenapa gak dari kemaren-kemaren aja, sih?"


Amora dan Devan tercengang melihat reaksi yang mereka berikan, bahkan ibu Jessy juga terlihat sangat bersemangat. Hanya satu orang saja yang duduk diam di tempatnya, dialah Justin yang sibuk memikirkan Niki dan Valdo.


"Kalian tidak terkejut?" tanya Devan dengan bingung.


"Kenapa kami harus terkejut? Apa kau tidak tau, kalau sudah lama kami menunggu kabar pernikahan kalian ini? Papa kan, ingin cepat-cepat gendong cucu."


Blush.


Wajah Amora langsung memerah saat mendengar ucapan Lucas, sementara Devan langsung memarahi papanya itu.


"Kalau tidak sabar, kenapa bukan Anda saja yang menikah dan punya anak lagi, Tuan Lucas?" sindir ibu Jessy membuat yang lain tergelak.

__ADS_1


"Sebaiknya kau berkaca, Jessy. Apa kau pikir, kau itu punya suami?"


"Cih, setidaknya aku sabar dan tidak seperti Anda."


Devan dan yang lainnya hanya bisa menggelengkan kepala mereka saja saat sudah seperti ini, di mana Lucas dan ibu Jessy akan terus berceloteh panjang lebar sampai hari berganti.


"Ada apa denganmu, Justin? Apa kau tidak setuju dengan pernikahan mereka?" Sami merangkul bahu Justin yang sedang duduk tepat di sampingnya.


Justin yang baru tersadar dari lamunannya langsung menggelengkan kepala. "Saya akan menyiapkan pesta pernikahan yang sangat mewah dan megah untuk Nona." Dia melihat ke arah Amora sambil tersenyum tipis.


Amora mengangguk senang sambil tersenyum lebar. "Tentu saja kau harus menyiapkannya, Kak. Tapi, bukan untuk pernikahanku dan Devan saja."


Semua orang mengernyitkan kening mereka dengan bingung, termasuk Lucas dan ibu Jessy yang sudah selesai beradu mulut.


"Memangnya siapa lagi yang mau menikah, Amora?" tanya Samy penasaran.


"Tentu saja kak Justin dan Niki,"


"Apa?"





Tbc.


Mampir juga ke karya teman aku di bawah ini ya 😍

__ADS_1



__ADS_2