Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 82. Keabsurdan Lucas.


__ADS_3

"Apa?"


Devan dan Lucas langsung melihat ke arah pintu saat mendengar suara seseorang, tampaklah Amora dan Justin sedang berdiri di tempat itu.


Amora langsung berjalan masuk untuk menarik tangan Devan dan memeluk tubuhnya dengan erat. "Aku tidak akan membiarkanmu membawa kekasihku, juga kakakku!" Dia menatap tajam ke arah Lucas membuat laki-laki paruh baya itu memandang sinis.


Devan yang berada dalam pelukan Amora mencoba untuk melepaskan diri. Bukan tidak ingin dipeluk oleh wanita itu, tetapi takut terjadi perang lagi antara Lucas dan juga Amora.


"Mereka anakku, jadi aku berhak untuk membawa mereka!" Lucas menekan setiap kata-katanya agar Amora paham, dan tidak seenaknya saja.


"Aku tidak peduli!" Amora menarik tangan Devan dan membawanya keluar dari ruangan itu. Namun, ternyata tangan laki-laki itu dicekal oleh Lucas.


"Lepaskan tangannya, dan jangan bertingkah seperti anak kecil," teriak Lucas.


Devan melotot ke arah Lucas agar laki-laki itu melepaskan tangannya. Untuk apa juga mereka tarik-trikan seperti ini, membuatnya malu saja.


"Beraninya kau menyebutku anak kecil!" Mata Amora berkilat marah, dengan cepat dia menghampiri Lucas yang tentu saja membuat Devan dan Justin langsung berdiri di antara dua manusia itu.


"Terus, aku harus memanggilmu apa? Siva?"


Krik, krik, krik. Terjadi keheningan yang membangongkan akibat ucapan Lucas, untuk beberapa saat keadaan terus seperti itu. Sampai tiba-tiba ...


"Pfft, hahaha!" Tawa Devan pecah di tempat itu membuat semua mata memandangnya. "Seharusnya kau bilang gini, Sayang. Jangan panggil aku anak kecil, Paman. Namaku Amora, hahahah!" Dia tertawa terbahak-bahak sampai membuat perutnya terasa sakit.


Amora yang melihat tawa Devan hanya mengernyitkan kening saja, sementara Lucas ikut terkekeh dengan apa yang tadi dia ucapkan.


Justin sendiri tampak sedang menahan senyum membuat Amora langsung menginjak kakinya. "Maafkan saya, Nona."


"Kenapa kau ketawa? Tidak ada yang lucu di sini!" Amora berdecak kesal melihat tawa Devan, dia lalu berbalik dan langsung keluar dari ruangan itu.


"Astaga. Sayang, tunggu aku! Hahaha." Devan masih saja tertawa sambil berusaha untuk mengejar Amora, tetapi lagi-lagi tangannya dicekal oleh Lucas.

__ADS_1


"Kau benar-benar mencintainya?"


Mendengar pertanyaan Lucas, tawa yang sejak tadi ada di wajahnya langsung hilang seketika. "Kenapa Anda bertanya?" Raut wajahnya terlihat sangat serius sekarang.


"Papa hanya bertanya saja. Kenapa kau bisa mencintai gadis kurang umur begitu?" Lucas menggeleng-gelengkan kepalanya membuat Devan tercengang. Dia mengira kalau laki-laki itu akan marah, atau mengatakan sesuatu untuk menentang hubungannya dan Amora.


Sejujurnya Lucas adalah lelaki yang sangat baik, hatinya terbuka lebar untuk siapa saja yang mendekat. Dengan gampangnya dia menerima semua kebenaran tentang Devan, dia bahkan merasa bersalah atas apa yang menimpa laki-laki itu. Padahal bukan dialah yang bersalah.


"Dia bukan kurang umur, tapi kurang kasih sayang. Dia besar di tengah gempuran masalah yang terjadi antara orangtuanya dan juga Anda. Jadi bukan salahnya menjadi seperti itu." Devan tersenyum simpul mengingat kemarahan Amora tadi. "Bagaimana pun dia, aku sangat mencintainya."


Lucas terdiam saat mendengar ucapan Devan, dia seperti sedang mendengarkan ungkapan hatinya sendiri untuk Alice. Sebesar itu jugalah dia mencintai wanita itu, hingga sampai sekarang tidak bisa menerima kehadiran wanita lain.


"Kalau gitu pergilah, papa akan melihat keadaan kakakmu." Lucas menepuk bahu Devan, dan melangkah pergi saat melihat anggukan kepala putranya itu.


Devan sendiri masih merasa canggung sekali, apalagi harus memanggil Lucas dengan sebutan papa. Jika dia saja merasa seperti ini, lalu bagaimana dengan Amora nanti?"


Devan menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran yang sudah jauh melanglang buana, dia lalu beranjak keluar dari ruangan itu untuk mencari Amora.


"Kau udah sadar, Samy?" Lucas menggenggam tangan Samy, dia bersyukur sekali karena putranya sudah sadar.


"Papa," panggil Samy lirih membuat Lucas mendekatkan tubuh ke arahnya.


"Iya, ini papa, Nak!"


Samy tersenyum tipis. "Ba-bagaimana dengan adikku?" Dia memandang Lucas dengan sendu, bahkan matanya sudah berkaca-kaca sekarang.


Lucas menghela napas berat saat mendengar pertanyaan yang dilayangkan oleh Samy. "Adikmu baik-baik saja, dia sehat wal afiat!"


Samy terkekeh pelan mendengar jawaban Lucas, dia tau kalau papanya itu pasti kesal karena dia menanyakan tentang Amora. "Apa Papa bisa memanggilnya? Aku ingin bertemu Amora."


Lucas menatap Samy dengan tajam. Ternyata anaknya itu tipe-tipe manusia yang dikasi hati minta jantung, tetapi dalam keadaan seperti ini dia tidak bisa menolak.

__ADS_1


"Papa akan memanggil adik-adikmu."


Samy mengernyitkan keningnya dengan bingung. "Adik-adikku?"


Lucas mengangguk. "Benar, Devan juga adikmu."


"Ah, tentu saja. Devan juga adikku," jawab Samy dengan tersenyum lebar. Tentu saja Devan akan menjadi adiknya saat sudah menikah dengan Amora.


Lucas yang tau ke mana arah pikiran Samy hanya tersenyum saja, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengguncang jiwa dan raga putranya itu.


Amora yang saat ini berada di samping mobil terdiam sambil menatap Justin, tetapi pikirannya tertuju pada Devan.


"Nona, sepertinya Tuan Lucas hanya ingin-"


Amora mengangkat tangannya karena tidak mau mendengar ucapan Justin, sementara laki-laki itu langsung menutup mulut rapat-rapat.


"Aku tidak akan membiarkan dia membawa Devan dan Samy, tidak akan pernah!"


Justin menghela napas kasar mendengar ucapan Amora. "Nona tidak perlu menghawatirkan itu."


"Gimana enggak khawatir? Lucas itu laki-laki yang licik,"


"Dan laki-laki licik itu akan menjadi mertuamu."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2