Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Cilok


__ADS_3

Deka menghampiri Syad. Sepertinya hanya keponakan kecil kesayangannya itu yang mampu menenangkan hati.


“Syad sama daddy, yuk!" ajak Deka.


“Iya, Bang. Nitip Syad dulu. Mina lagi jemur baju, gue kebelet nih.” Dewa menyerahkan Syad ke dalam gendongan Deka. Lalu terbirit-birit lari ke kamar mandi.


“Yuk, main ke luar!" ajak Deka pada Syad seraya menciumi gemas pipi gembulnya.


Deka beranjak ke luar sembari menggendong Syad. Baru sampai teras ada penjual balon lewat.


Totet ... totet ... totet


“Yon yon,” oceh Syad.


“Oh, Syad mau balon?”


Syad mengangguk.


“Bang beli balon!” seru Deka memanggil tukang balon.


Tukang balon masuk ke halaman rumah. Balon yang dijual adalah balon dengan karakter tokoh kartun. Ada juga balon berbentuk binatang.


“Syad, mau yang mana balonnya?” tanya Deka.


“Mon mon mon,” oceh Syad sembari menunjuk balon karakter doraemon.


Deka menggaruk kepalanya sendiri. Ya ampun, Doraemon lagi.


"Jangan doraemon ya? Yang lain aja," bujuk Deka.


"Mon mon mon."


"Itu gambar burung bagus. Yang burung aja ya," bujuk Deka sekali lagi.


"Mon mon mon." Syad tetap memilih balon karakter doraemon.


Akhirnya Deka pasrah saja. Menuruti keinginan Syad.


"Yang Doraemon aja katanya, Bang!" seru Deka pada penjual balon.


"Wah dedenya suka Doraemon ya?" kata tukang balon.


Deka yang tengah sensitif merasa ucapan tukang balon itu adalah ejekan untuknya. Ia berdecak kesal karenanya.


Tukang balon menyerahkan balon pilihan Syad. Sebelumnya ia terlebih dahulu mengikatkan beban batu pada benang balon agar tidak terbang.


Transaksi bersama tukang balon telah selesai. Syad memegang balon doraemon dengan riang.


Baru saja Deka berbalik badan hendak masuk ke dalam rumah, tiba-tiba Ririn sudah berdiri di belakangnya.


“Bang Deka suka doraemon ya?” tanya Ririn sembari menatap balon Doraemon yang dipegang Syad.


Pertanyaan Ririn membuat Deka gusar. Namun rasa gusarnya lenyap seketika demi mendengar ucapan Ririn selanjutnya.


“Saya juga suka Doraemon,” ucap Ririn sebelum Deka menjawab pertanyaannya.


Deka termangu mendengar ucapan Ririn.


“Kalau begitu, berarti kita cocok ya, Rin,” sahut Deka. Kali ini dengan menampilkan sebuah senyuman penuh pesona. Seiring dengan meluruhnya rasa malu tentang boxer Doraemon.


Balas senyum ga, ya. Balas ga, balas ga. Bales aja lah.

__ADS_1


Ririn balas tersenyum. Senyuman Ririn membuat hati Deka melambung tinggi hingga ke awan.


Terima kasih Doraemon. Gumam Deka dalam hati.


 


\=\=\=\=\=\=\=


Deka membolak-balik laporan di atas meja kerjanya. Laporan yang sejatinya adalah deretan huruf dan angka, namun menjadi gambar-gambar Ririn di dalam penglihatannya.


Seminggu setelah momen menginap di rumah Abah, bayang-bayang Ririn seakan menghantui. Apalagi setelah mengetahui Ririn ternyata pecinta Doraemon, sama seperti dirinya. Kekuatan dan rasa optimis Deka meletup menyala. Naik berkali-kali lipat.


Fery sudah berdiri di depan meja kerja Deka. Namun, sepertinya Deka tidak menyadari keberadaannya. Pantas saja tadi mengetuk pintu berkali-kali, tak ada sahutan dari Deka. Rupanya bos tampan yang juga adalah sahabatnya saat SMA itu tengah melamun.


Fery menggeleng-gelengkan kepala melihat Deka yang tengah senyum-senyum membaca laporan perusahaan. Padahal yang dibaca laporan perusahaan loh, bukan novel komedi.


“Dooorr!!”


“Macan macan macan!” Keluarlah latahnya Deka gara-gara dikagetkan Fery.


“Hahahahaha.” Fery tergelak-gelak.


“Karpet ....”


“Kampret kampret.”


 “Iya, kampret, ngagetin aja lo!”


“Hahahahaha. Habisnya lo malah ngelamun, kayak anak perawan lagi mikirin jodoh yang belum datang-datang. Mana senyum-senyum sendiri, lagi. Bikin gue cemas akan kesehatan jiwa lo.” Fery menarik sedikit kursi di depan meja kerja Deka, lalu mendudukinya.


“Lagian lo masuk ruangan bos ga ketuk pintu dulu!” gerutu Deka.


“Kesemutaaaaan ...!”


“Iya, sampe tangan gue kesemutan lo ga nyahut. Ternyata lo lagi senyum-senyum sendiri ga jelas. Kayak orang yang lagi jatuh cinta aja.”


Deka diam saja tak menanggapi ucapan Fery. Ia sendiri bingung dengan perasaannya. Apakah dirinya benar jatuh cinta pada Ririn atau hanya sekedar perasaan suka karena wajahnya mirip Mimin.


“Tunggu tunggu, jangan bilang kalau lo beneran lagi jatuh cinta,” tukas Fery.


Sebagai seorang sahabat, Fery tahu betul bagaimana perjalanan hidup Deka. Yang ia tahu, Deka tak pernah dan tak mau lagi jatuh cinta setelah kisahnya dengan Tania.


“Bener rupanya kata orang bijak. Cinta itu bagai jam pasir, ketika hati terisi, otak mulai kosong,” ujar Fery, menanggapi tingkah Deka yang bukan menjawab ucapan malah justru melamun.


“Jangan sotoy lo!”


“Tapi gue turut berbahagia dengernya kalau lo udah ga jomblo lagi. Sumpah, gue kasian sama hape lo,” ujar Fery dengan ekspresi sedih, menatap nanar ponsel Deka.


“Emangnya kenapa hp gue?” Deka mengangkat ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja. Ponsel canggih dengan khas logo gambar buah tergigit, yang harganya sama dengan harga sebuah motor.


“Hp-nya harga dewa, kameranya mantap jiwa, mainnya social media tapi yang chat kagak ada. Jomblo soalnya. Wkwkwwkwk. Hahahaha.” Fery tertawa mengejek.


“Daripada hape lo. Foto profil WA  kenapa sama pacarnya terus. Gue curiga, dulu beli hp-nya patungan tuh. Hahahaha,” balas Deka.


Deka sendiri sampai seusianya kini belum pernah memajang foto wanita sebagai foto profil ataupun wallpaper ponselnya.


“Ish, sembarangan. Itu karena gue how much I love-nya sama dia. Lo sih ga punya love love,” ejek Fery.


“Jangan how much how much I love you, entar kalau putus berabe urusannya," kata Deka.


“Putus cinta itu biasa. Yang bahaya itu putus rem, nyawa taruhannya," sahut Fery.

__ADS_1


“Alah, gue tuh ngeri kalau lo putus cinta. Terakhir kali lo putus sama yang namanya Maemunah itu ‘kan, lo hampir nelen tusuk cilok. Hahahaha.”


“Buset, gue ga punya mantan namanya Maemunah, woy!!” protes Fery.


“Oh, Maysaroh.”


“Mayang!”


“Iya, Mayat”


“Seterah lo deh,” sahut Fery pasrah.


“Btw memang sih, pengalaman putus paling berkesan itu pas sama Mayang. Gue diputusin pas lagi sayang-sayangnya.” Fery berkata lagi, kali ini dengan raut sendu.


“Lo diputusin kenapa?”


“Dia ‘kan minta dibeliin cilok, terus tusukannya habis. Gue bilang, pake ujung pulpen aja bisa kok, Yang. Eh, dia bilang, kita putus aja, sambil buang ciloknya depan muka gue.”


“Wahahahahaha.” Deka tertawa terpingkal-pingkal.


“Udah ah, jangan ngobrol aja. Gue ke sini mau kasih ini. Agenda proyek bulan ini.” Fery menyerahkan berkas laporan yang dibawanya.


Deka menerima berkas laporan dari tangan Fery dan membaca isinya sekilas. Senyumnya terbit seketika saat matanya menemukan sesuatu dalam berkas laporan itu.


“Proyek pembangunan taman kota di Serang.” Deka membaca tulisan di laporan tersebut. “Siapa penanggung jawab proyeknya?” tanyanya kemudian.


“Kalau ga salah, si Adi,” jawab Fery.


“Tolong di rotasi. Gue yang pegang proyek itu!" kata Deka.


“Ya ampun, itu proyek dengan nilai paling kecil, Bro. Luas tamannya juga mini. Makanya proyeknya dikasih si Adi, dia anak paling baru di antara karyawan lainnya," terang Fery.


"Masa Bos yang turun tangan sih untuk proyek ecek-ecek begitu," lanjutnya.


“Pokoknya, kalau ada proyek di kota Serang ... gue yang pegang!" putus Deka.


“Jangan-jangan cewek yang sedang lo taksir itu orang Serang,” tebak Fery.


Deka hanya melempar senyum menanggapi tebakan Fery.


Dalam hatinya bergumam.


Serang ... I’m in love. I’m coming.


.


.


.


.


Terima kasih dukungannya.


❤️❤️❤️❤️


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2