
“Abang, kita belum beli bedongan loh!” Ririn bersama Deka tengah merakit boks bayi untuk persiapan kelahiran anak kembar mereka.
“Bedongan itu apa, Yang?”
“Kain yang buat bedong itu loh. Saya lupa beli.”
“Oke deh, nanti kita beli.”
“Enggak nanti, Bang. Persalinannya ‘kan minggu depan, jadi harus sekarang belinya," ujar Ririn.
Menurut dokter yang menangani kehamilan Ririn, posisi bayi pertama sungsang sehingga harus dilakukan tindakan operasi cesar. Dokter telah merencanakan tanggal operasi yaitu di minggu ke-34 kehamilan. Artinya, seminggu lagi Ririn akan melakukan proses persalinan cesar.
“Kalau besok pagi gimana? Sepertinya tidak ada hal urgensi untuk jadwal besok,” sahut Deka.
“Oke.”
“Terus, Mami kapan mau ke sini, Yang? Kalau bisa beberapa hari sebelum persalinan, Mami sudah ada di sini, nginep di rumah kita.”
“Mami mau ke sini, tapi nunggu Dewa ada waktu untuk mengantar ke sini.”
“Apa abang saja yang jemput Mami?" tawar Deka.
“Mami bilang, enggak usah. Biar diantar sama Dewa saja katanya.”
“Baiklah kalau begitu.”
Tidak lama kemudian boks bayi pun selesai dirakit.
“Taruh di mana ini, Yang?”
“Di pojok sana saja, Bang.”
Boks bayi berwarna putih yang didesain untuk bayi kembar itu diletakkan dalam kamar pasangan suami istri tersebut. Hal itu bertujuan agar keduanya lebih dekat bersama bayi mereka nanti.
Sejak Ririn dinyatakan hamil, Deka memutuskan untuk pindah kamar di lantai satu untuk menghindari risiko Ririn terjatuh atau terpeleset dari tangga seperti kehamilan sebelumnya.
\=\=\=\=\=
Deka tengah berolahraga pagi dengan ditunggui oleh sang istri tercinta saat Sanah datang menghampiri mereka.
“Bu, ponsel Bapak berbunyi,” lapor Sanah.
“Sini ponselnya, Nah!” seru Ririn.
Sanah memberikan ponselnya kepada Ririn. Setelahnya, sang ART itu kembali ke alamnya.
“Bang, ada telepon dari Dewa,” kata Ririn.
“Tumben amat si Dewa nelepon subuh-subuh begini.” Deka menghentikan kegiatan olahraganya lalu menjawab panggilan telepon dari adiknya itu.
“Assalamualaikum, Bang Deka ganteng, tapi masih kalah ganteng dari gue.”
“Waalaikum salam. Yang bilang lo lebih ganteng berarti belum mengetahui makna ganteng itu seperti apa,” sahut Deka tak mau kalah.
__ADS_1
“Hahahahaha.” Dewa tertawa terbahak di ujung telepon.
“Ada apa subuh-subuh nelepon gue. Kesambet lo!”
“Enggak tahu nih, tiba-tiba aja gue kangen sama abangku satu-satunya dan enggak ada duanya.”
“Bilang, lo minta apa? Nanti gue transfer.”
Dewa tertawa kecil. “Enggak minta apa-apa, Bang. Serius cuma lagi kangen aja dan khawatir sama Abang. Abang sama Ririn bagaimana kabarnya?”
“Alhamdulillah, sehat.”
“Alhamdulillah. Oya, Bang, hari ini insyaallah gue mau antar Mami ke rumah Abang.”
“Mestinya dari kemarin-kemarin Mami diantar ke sini.”
“Iya, maaf baru sempat.”
“Sok sibuk.”
“Hahahaha, maklum calon sultan kedua, jadi ya begini, sibuk.”
"Iya. Sultan Cibening."
"Hahahahaha." Dewa tergelak dalam tawa.
“Abang hati-hati ya," ujar Dewa saat tawanya reda.
“Hati-hati kenapa?”
“Iya.”
“Ya udah, gitu aja. Gue cuma mau mengingatkan Abang untuk hati-hati."
Kening Deka mengernyit mendengar ucapan adiknya itu.
“Cepetan bawa Mami ke sini!" seru Deka kemudian.
“Iya, assalamualaikum.”
“Waalaikum salam.”
“Miss you. mmuach, mmuach.”
“Hiiiiii.” Deka bergidik mendengar Dewa mengecupnya di ujung telepon.
“Hahahahaha.” Tawa Dewa meledak sebelum mengakhiri panggilan teleponnya.
\=\=\=\=\=\=
“Katanya abang mau nganter ke baby shop beli bedongan, kok abang pake baju kerja rapi gitu sih,” protes Ririn.
Padahal suaminya itu sudah berjanji untuk tidak pergi ke kantor dan menemaninya berbelanja di baby shop. Namun, saat Ririn masuk ke kamar malah mendapati Deka sudah memakai kemeja, lengkap dengan dasi dan jas.
__ADS_1
“Kita ke kantor dulu ya, Sayang. Ada berkas yang harus ditandatangani pagi ini, sekalian mau ngecek laporan. Tapi sebentar doang, kok. Lagian baby shop buka jam sepuluh ‘kan?”
“Iya.” Ririn merengut.
Biasanya jika sudah datang ke kantor, sebentar itu hanya sekedar wacana. Tetap saja, saat jam istirahat siang, baru suaminya itu bisa keluar kantor.
“Kamu juga ikut dong ke kantor. Nanti dari kantor kita langsung ke baby shop,” ujar Deka.
“Sayang, ayo ganti baju!” Deka berseru lagi karena Ririn masih bergeming, belum beranjak untuk mengganti pakaiannya.
“Pakai baju apa nih?” Ririn bangun dari duduknya. “Baju apa yang cocok sama saya?” lontarnya sembari membuka lemari pakaian.
“Pakai baju apapun kamu pasti cantik, Yang. Enggak pakai baju pun kamu cantik, abang saksinya,” seloroh Deka.
“Ish, Abang!”
Deka tertawa melihat reaksi Ririn.
Ririn pun menuruti perintah Deka untuk berganti baju. Dress hamil muslimah warna peach yang menjadi pilihannya. Dipadukan dengan jilbab warna senada. Ririn tampak cantik dengan dress itu.
“Cantiknya istri abang,” puji Deka. Ia menarik Ririn ke dalam pangkuannya.
“Berat kali Bang, kalau dipangku.” Ririn menyadari berat tubuhnya kini tidak seringan dulu.
“Enggak, masih lebih berat cintaku padamu," sahut Deka.
Ririn turun dari pangkuan Deka dan memilih untuk duduk di sampingnya.
“Abang doakan saya, ya. Sebentar lagi saya lahiran. Katanya melahirkan itu taruhannya nyawa. Saya takut .... “
“Sssst .... “ Deka menempelkan telunjuknya di bibir Ririn. “Jangan ngomong yang aneh-aneh. Boy and Girl pasti lahir dengan selamat. Kamu pun pasti selamat. Dan abang akan menyambut perjumpaan anak-anak kita dengan sukacita, dengan senyuman bahagia. Dan kita akan bahagia selamanya.”
“Amin,” sahut Ririn.
“Abang janji akan ada di dekat kamu saat kamu melahirkan nanti.”
“Janji ya. Minggu depan loh, saya lahiran.”
“Iya, Sayang.”
“Kalau ada proyek miliaran, tetap akan menemani saya lahiran ‘kan?”
“Tentu dong. Abang temani kamu lahiran dulu, habis itu baru mengurusi proyek miliaran itu.”
“Dasar Abang. Proyek teroos!”
.
.
Lanjut
__ADS_1