Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Bab 95


__ADS_3

“Dewa ...!” Mama yang tengah menangis histeris berlari menghambur memeluk Dewa.


“Ada apa, Mah?” tanya Dewa dengan raut penuh kebingungan.


“Abang kamu, Wa. Abang kamu dan Ririn ....” Mama meraung menangis lagi.


"Bang Deka sama Ririn kenapa, Mah?"


Bukannya menjawab, Mama malah bergeming dalam isak tangis. Menunggu Mama menjelaskan sepertinya akan percuma karena ibu kandung Deka dan Dewa itu semakin terlarut dalam tangisnya.


Dewa melangkah masuk ke sebuah ruangan kosong dan sangat luas. Keheningan dan kesunyian seketika menyergap saat ia menginjakkan kaki di ruangan hampa tidak berpenghuni tersebut. Membuat sekujur tubuhnya meremang dan bulu halusnya bergidik berdiri.


Pandangannya menyapu seluruh sudut ruangan dengan nuansa warna putih. Kemudian sorot matanya menangkap dua buah brankar di salah satu sudut ruangan.


Dewa berjalan mendekati brankar tersebut. Di atas pembaringan tersebut terdapat dua jasad dengan ditutup kain putih terbaring di brankarnya masing-masing. Pelan dan hati-hati Dewa menyibak kain putih yang menutupi jasad yang terbujur kaku tersebut.


"Bang Deka ...!” Dewa berteriak histeris saat mendapati jasad Deka yang terbujuk kaku dengan ditutup kain putih tersebut.


Kemudian ia menyibak kain putih pada jasad yang terbaring di brankar lainnya. Ia kembali terlonjak kaget saat mendapati jasad tersebut adalah Ririn.


"Bang Deka, Ririn." Dewa terisak menyebut dua nama tersebut.


“Aa, bangun!” Mimin membangunkan suaminya yang tertidur dengan terisak-isak serta berkucuran peluh di dahi.


“Astagfirullahaladzim,” ucap Dewa saat ia telah membuka mata.


“Aa mimpi buruk ya?” terka Mimin.


Dewa mengangguk. “Ya Allah, Neng, aa mimpi Bang Deka dan Ririn meninggal.”


“Astagfirullah. Biarlah, cuma mimpi. Ini pasti karena Aa belum sempat nganter Mami ke Jakarta, jadi kepikiran, terus mimpi deh."


Pasalnya, sejak beberapa hari yang lalu, Ririn sudah mewanti-wanti agar Dewa segera mengantar Mami ke Jakarta. Namun, suaminya itu belum sempat mewujudkan karena faktor kesibukan. Dewa tengah merintis usaha barunya yang masih dalam tahap nol.


“Iya, mungkin juga begitu. Ya sudah deh, hari ini aa mau antar Mami ke rumah Bang Deka.”


“Iya, dong. Ririn minggu depan sudah mau lahiran. Aa harus cepat antar Mami ke sana. Apalagi kehamilan anak kembar itu lebih cepat dari proses persalinan kehamilan biasa. Mana tahu besok malah Ririn sudah kontraksi."


“Ya Allah, tadi mimpinya terasa banget loh, Neng, nyeseknya. Aa khawatir sama Bang Deka dan Ririn," ujar Dewa.


“Itu cuma bunga tidur A. Lagian kalau mimpi seseorang meninggal itu biasanya seseorang itu akan panjang umur, begitu katanya.”


“Amin allahumma amin.”


Pagi itu, Dewa menelepon Deka untuk sekedar menanyakan kabar, mengucap kangen dan mengingatkan kakaknya itu agar berhati-hati. Hal yang belum pernah dilakukan Dewa sebelumnya. Deka saja sampai terheran-heran akan aksi Dewa pagi itu.

__ADS_1


Setelahnya, Dewa berangkat ke Jakarta mengantar Mami. Semula hanya Mami dan Dewa yang berangkat. Namun, pada akhirnya Mimin dan Abah juga turut serta berangkat ke Jakarta karena alasan kangen, sudah lama tidak berkumpul bersama. Seorang pengasuh juga ikut bersama mereka untuk menjaga ketiga anak Dewa dan Mimin.


Mobil tipe MPV yang melaju dengan kecepatan normal itu baru sampai Tangerang saat ponsel Dewa berdering. Dewa melirik ponselnya. Seketika keningnya mengernyit karena menemukan nama Fery yang meneleponnya. Ada apa? Tumben sekali Fery meneleponnya. Begitu tanya hatinya.


“Iya, Bang Fer.”


“Wa. Deka ditusuk orang, sekarang lagi mau dibawa ke rumah sakit.” Terdengar kepanikan dari suara Fery di ujung telepon.


“Astagfirullahaladzim. Innalilahi." Dewa tersentak kaget mendengar berita tersebut.


Ingin bertanya lebih lanjut mengenai bagaimana terjadinya tragedi penusukan tersebut, namun khawatir menimbulkan keresahan dari yang lainnya. Akhirnya ia hanya bertanya tentang keadaan Deka.


"Sekarang keadaannya bagaimana, Bang?”


“Keadaannya kritis.”


“Astagfirullahaladzim. Rumah sakit mana, Bang?”


“Rumah Sakit Sehat Selalu, yang dekat dengan kantor. Oya, gue belum berhasil nelepon Pak Satya. Lo aja yang kasih tahu Pak Satya dan Mama ya."


“Oke, gue langsung ke sana."


“Wa, Ririn juga sepertinya sudah mau lahiran. Tadi Ririn dibawa ke rumah sakit bersalin. Coba lo hubungi Silvi. Ririn ditemani Silvi ke rumah sakit.”


“Ya Allah. Oke, Bang, makasih. Bang, kabari gue kalau ada hal penting ya.”


“Ada apa, Nak Dewa?” tanya Abah usai Dewa mengakhiri panggilan telepon dari Fery.


“Bang Deka sedang kena musibah," jawab Dewa.


“Astagfirullahaladzim. Musibah apa?” timpal Mami.


“Belum tahu. Kita langsung ke rumah sakit saja ya.”


“Terus Ririn bagaimana A?”


“Ririn juga katanya mau melahirkan.”


“Ya Allah. Nak Dewa, ayo jalan lebih cepat lagi biar kita bisa segera sampai rumah sakit," titah Mami.


\=\=\=\=\=\=\=\=


 


“Hey, kenapa kalian enggak bawa Pak Deka ke rumah sakit!” seru Fery emosi. Napasnya terengah-engah dengan peluh bercucuran di area wajah dan tubuhnya. Terbukti dari kemejanya yang basah.

__ADS_1


Ia yang berniat mengejar motor pelaku penusukan, kemudian memilih turun di tengah jalan karena mengkhawatirkan keadaan Deka. Ia menitahkan seorang satpam yang duduk dalam boncengannya untuk melanjutkan mengejar pelaku bersama dua motor lainnya.


Ia berlari-lari menuju lokasi tempat kejadian perkara. Sebab jika menggunakan mobil atau motor malah akan semakin lama karena jalannya harus memutar.


“Iya, Pak, sudah telepon ambulans kok,” sahut Silvi.


“Ngapain pake ambulans, orang ada mobil!” sentak Fery.


“Ya Allah, enggak kepikiran Pak, saking panik.”


“Ayo cepat gotong ke mobil!” Baru saja Fery berseru demikian, suara sirine ambulans terdengar jelas semakin mendekat ke arah titik lokasi.


“Itu ambulans datang!" seru beberapa orang di antara kerumunan tersebut.


Kebetulan ada rumah sakit yang berlokasi tidak jauh dari kantor, sehingga tidak sampai lima belas menit kendaraan yang dilengkapi perlengkapan medis untuk mengangkut orang sakit atau kecelakaan tersebut sampai ke TKP.


“Dibawa pakai ambulans saja Pak Fery, agar Pak Deka mendapat penanganan pertama yang tepat dari tenaga medis,” usul salah seorang yang berada di situ. Fery mengangguk setuju.


“Ya Allah.” Ririn meringis memegangi perutnya.


“Bu Ririn kenapa?” tanya Silvi.


“Masya Allah perut saya sakit,” sahutnya dengan ekspresi menahan sakit.


“Silvi, kamu bawa Bu Ririn ke rumah sakit bersalin dengan diantar Pak Pardi. Mungkin Bu Ririn mau melahirkan,” lontar Fery. 


“Enggak. Saya mau menemani suami saya,” sahut Ririn masih dengan sisa tangisnya. 


“Bu, Pak Deka biar sama saya saja. Saya juga yang nanti akan menghubungi keluarga Pak Deka. Bu Ririn ke rumah sakit bersalin saja ditemani Silvi,” kata Fery.


“Iya, Bu. Saya akan temani Ibu," sahut Silvi.


“Saya mau temani suami saya. Huuu ... huuu ....” Ririn menangis histeris.


“Bu, Pak Deka insyaallah selamat. Saya harus temani Pak Deka sekarang. Ibu doakan saja Pak Deka. Ibu juga harus berjuang melahirkan anak-anak Pak Deka ke dunia, biar Pak Deka senang dan bahagia," tutur Fery.


“Abang. Huuu ... huuu ....”


Setelah dibujuk dan ditenangkan akhirnya Ririn mau menerima saran Fery dan lainnya. Deka dibawa ke rumah sakit dengan menggunakan ambulans dengan ditemani Fery. Sementara Ririn dibawa ke rumah sakit bersalin bersama Silvi dan seorang karyawan perempuan lain dengan menggunakan mobil yang disopiri Mang Pardi


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2