
"Ayo sekarang cerita!"
"Tunggu, ya!" Deka beranjak menuju nakas lalu membuka lacinya satu per satu.
"Abang nyari apa?" tanya Ririn.
"Nyari surat hasil lab," jawab Deka masih dengan kegiatan mencari hasil laboratorium tempo hari.
"Hasil laboratorium?" Ririn mengerutkan keningnya. "Abang sakit?" tanyanya.
Deka kembali duduk di samping Ririn. "Iya, Rin. Aku sakit."
"Sakit apa?"
"Nanti kamu baca sendiri saja surat hasil laboratorium rumah sakitnya. Tapi, aku lupa naro di mana ya?" Telunjuk Deka mengetuk-ngetuk dagunya.
"Rin, nanti saja ya aku ceritanya. Aku cari dulu suratnya, mungkin nyelip di kantor," ujar Deka.
Ririn mengembuskan napas kecewa.
\=\=\=\=\=\=\=
Saat jam istirahat Deka dan Fery menyantap makan siang di kantin kantor. Mereka duduk di meja VIP yang berada di ruangan semi terbuka. Di sana terdapat meja khusus yang diperuntukkan untuk jajaran direksi.
“Kenapa sih Bro, muka lo sedih banget. Kayak mukanya si Faiz kalau lagi dimarahin emaknya,” seloroh Fery. Pasalnya seharian ini ia melihat raut murung di wajah Deka.
“Faiz siapa?” lontar Deka.
“Faiz ponakan gue. Dia tuh kalau disuruh ke warung, pulangnya pasti dimarahin emaknya, soalnya salah mulu. Yang disuruh apa yang dibeli apa. Udah gue bilangin, mulutnya jangan berhenti ngucap barang yang mau dibeli biar ga salah. Iya dia nurut, dari rumah sampai warung ngucap kecap kecap kecap kecap kecap kecap kecap kecap kecap kecap, eh pas pulang yang dibawa sabun colek, bukan kecap. Tetep aja salah."
“Itu berarti ponakan lo mewarisi kebodohan lo yang haqiqi," gurau Deka.
“Gue mah ga bodoh malah gue tuh kepinteran. Pernah ‘kan waktu kecil gue disuruh nyokap beli sabun pencuci piring lightsun, di kemasannya ‘kan ada tulisannya sobek di sini, ya gue nurut langsung sobek aja pas di warungnya.
Pulang pulang gue dimarahin sama nyokap karena sabunnya habis. Soalnya gue bawanya kebalik, sabun yang udah gue sobek itu tumpah-tumpahan di jalan.
Gue ngebela diri dong, orang gue ga ngerasa salah. Gue bilang aja ke nyokap, Emak marahin aja tuh pabriknya! Kenapa pake ditulis sobek di sini, harusnya ditulis, sobek di rumah!”
Deka terkikih geli mendengar cerita Fery. Sejak dulu sahabatnya itu memang dikenal sebagai pelipur lara. Selalu mampu menciptakan tawa di kala hati tengah gundah gulana. Usai tertawa, raut wajah Deka meredup kembali karena memikirkan masalahnya.
“Ada apa, Bro? Jangan bilang kalau rumah tangga lo sekarang lagi banyak drama," tukas Fery.
“Kayaknya gue sih yang banyak drama.”
Fery tertawa. “Sejak kapan lo banyak drama? Biasanya lo ‘kan kayak pelajaran Fisika ... banyak gaya. Hahahaha."
“Ish, gue ga banyak gaya cuma terlalu tampan doang. Lagian hidup mah ga usah banyak gaya kalau satu gaya aja udah enak," seloroh Deka.
“Yang paling enak itu gaya nari India dibawah guyuran air hujan sambil gesek-gesekin punggung ke pohon. Apalagi kalau narinya sama Shahruk Khan."
Deka mengulas senyum tanggung. Otornya tersenyum merona.
“Nih.” Fery menyodorkan sebungkus rokok kepada Deka walaupun ia tahu Deka bukanlah perokok.
__ADS_1
“Enggak,” tolak Deka.
“Siapa tahu bisa mengurangi beban pikiran lo.”
“Merokok bisa menyebabkan kantong kering, mulut bau asap, muka keriput, istri marah-marah, diusir satpam mall, polisi udara dan kebakaran kasur!" kata Deka.
“Yang terakhir itu adalah alasan Fera gugat cerai gue, karena rokok gue udah ngebakar kasurnya. Huaaa ... huaaa.” Fery berakting nangis.
“Udah sih, mending lo berhenti ngerokok deh, biar hidup lo sehat. Emang lo ga takut mati apa?”
“Enggak lah, kan gue bawa korek. Kalau mati tinggal nyalain lagi. Hahahaha."
“Bukan rokoknya yang mati. Kamunya yang mampus!”
“Ah, teori. Peringatan di bungkus rokok kurang serem sih. Coba kalau di bungkus rokok itu dikasih peringatan yang lebih serem misalnya, merokok dapat menyebabkan jomblo seumur hidup. Yakin deh, ga ada lagi yang mau merokok," kelakar Fery.
“Seterah lo deh!” Deka berdecak.
“Btw ada apa, Bro?”
Deka terdiam sejenak menatap sahabatnya itu. Ia menarik napas pelan sebelum berucap. “Gue terinfeksi virus HIV,” ungkapnya.
Pernyataan Deka sontak membuat Fery terkejut.
“Aw aw aw aw.” Saking terkejut, Fery salah menyelipkan batang rokok ke bibirnya. Sisi batang rokok yang sudah disulut api malah diselipkan ke bibirnya. Membuat ia terlonjak-lonjak kepanasan, bibirnya serasa terbakar api.
“Lo yang kayak Fisika, banyak gaya!” sungut Deka.
“Sori sori, gue beneran kaget,” sahut Fery. “Yang tadi lo bilang itu serius?”
“Lo ingat ... beberapa hari sebelum menikah, gue sakit.” Deka mulai bercerita dengan pelan dan hati-hati. Ia tak mau ada yang menguping pembicaraannya. Fery mendengarkan dengan saksama.
“Terus gue pergi ke dokter ‘kan. Terus gue disuruh cek darah. Nah, di situ ketahuan kalau gue terinfeksi,” tutur Deka.
“Apa ga ada kemungkinan kalau hasil tesnya salah?”
Deka mengedikkan bahu. “Gue enggak tahu.”
“Soalnya lo udah lama ‘kan enggak .... “ Fery memberi isyarat tanda kutip dengan jari.
“Mungkin aja gue udah lama teinfeksi, hanya baru ketahuan sekarang.”
“Coba lo ingat-ingat, apakah dulu setiap melakukan itu lo ga pake pengaman?”
“Dulu gue selalu pake pengaman setiap melakukan, karena gue juga ga mau mengambil risiko, atas kemungkinan buruk yang terjadi dari keliaran gue waktu itu. Kecuali waktu dengan Clara, karena gue ga sengaja melakukannya. Itu di luar kendali gue," tutur Deka.
“Nah, makanya gue rada ga percaya. Apa sebaiknya lo cek lagi, khawatir ada kesalahan. Bisa aja kan hasil tes itu salah," pikir Fery.
“Kalau ternyata hasil tes itu benar? Kalau gue benar-benar terinfeksi, bagaimana?” lontar Deka.
“Ririn tahu tentang masalah ini?” Fery balik bertanya.
“Gue belum cerita sama Ririn. Gue takut.”
__ADS_1
“Takut apa?”
“Gue takut, Ririn akan meninggalkan gue kalau dia tahu gue begini, Fer.”
“Kalau dia sayang sama lo. Kalau dia cinta sama lo, tentu dia ga akan meninggalkan lo.”
“Entahlah. Gue belum berani untuk menceritakan hal ini ke Ririn.”
“Terus selama ini, bagaimana kalian melakukan hubungan suami istri?” tanya Fery. Sebuah fakta yang hampir semua orang tahu bahwa virus HIV dapat menular lewat hubungan intim.
“Belum pernah. Jangankan itu, ciuman pun gue ga berani," ungkap Deka.
“Hah, apa? Jadi selama ini kalian belum melakukannya?" Mulut Fery terbuka menganga.
“Iya. Dan Ririn merasa gue mengabaikan dia. Padahal gue takut menularkan ini virus.”
“Ririn pasti marah lah, kalau sikap lo kayak gitu. Perempuan itu hatinya sensitif.”
“Subuh ini dia marah, dan sempat mau pergi, mau pulang ke rumah orangtuanya," ungkap Deka.
“Lo harus jujur dan berterus terang. Jangan membuat istri lo merasa diabaikan. Lagian nih, setahu gue, kalau lo kena virus itu masih aman kok melakukan hubungan intim asal pakai pengaman. Lagian kuat banget lo sampai nahan diri untuk ga melakukannya."
“Gue kuat-kuatin lah, terpaksa. Yang gue pikirkan, gimana kalau Ririn menginginkan anak? Gue gak mau menularkan virus ini ke istri dan anak gue.”
“Yang penting lo ceritakan dulu masalahnya. Ririn harus tahu masalah lo, lalu kalian bisa mencari solusinya. Ririn itu perempuan baik, gue yakin dia akan bijak menanggapi masalah lo. Lo ga usah mikir yang enggak-enggak dulu. Jangan berpikir Ririn akan meninggalkan lo. Ga usah khawatir berlebihan kayak gitu," saran Fery.
Deka menangis terisak kala membayangkan Ririn akan meninggalkannya. “Hiks hiks hiks ... kenapa hidup gue gini amat, Fer.”
Fery mengusap punggung sahabatnya itu. “Sabar Deka. Sekarang mendingan lo pulang. Lo keluarin jurus alay lo dulu. Lo beli bunga, coklat, boneka, terus tulis kata-kata manis untuk Ririn. Begitu sampai rumah, peluk Ririn dari belakang dan kasih bunga itu. Lo pasti akan melihat senyum bahagia dan wajah teduh istri lo. Nah, setelah kelihatan tenang, baru lo cerita, pelan perlahan dari hati.”
Fery menepuk bahu Deka. “Gue percaya sama lo. Gue percaya sama Ririn. Gue yakin, pernikahan kalian akan bahagia.”
“Amin.”
“Satu lagi. Saran gue, sebaiknya lo melakukan pemeriksaan darah ulang. Karena gue ga yakin sama hasil yang lo bilang tadi,” pungkas Fery.
.
.
.
.
.
Si Fery numpang lewat, numpang ngebodor.
Sabar ya tunggu sampai bab 44. Cepet kok, insyaallah aku akan dobel up terus selama mampu. 🤗🤗
Terima kasih dukungannya
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1