
“Nak Deka belum datang ke sini lagi, Rin?” tanya Abah.
“Iya, Bah. Mungkin masih sibuk, banyak pekerjaan.” Bukankah sekesal apapun perasaannya pada sang suami. Seorang istri tidak boleh menjelek-jelekkan suami di depan orangtua, keluarga, apalagi orang lain.
“Rin, dalam setiap rumah tangga itu pasti ada saja masalahnya. Asal bukan tentang KDRT, sebaiknya jangan pernah memutuskan untuk berpisah,” pesan Abah.
“Iya, Bah," angguk Ririn.
“Kalau misalnya suami kamu berselingkuh atau mengkhianati kamu, itu tinggal kebesaran hati seorang istri saja bagaimana. Tegur saja, kalau bisa dimaafkan. Maafkan dia dengan perjanjian tidak akan mengulanginya lagi. Atau, jika seorang istri itu memiliki hati yang besar seluas samudera mending tawari poligami saja, daripada berselingkuh ya ‘kan?” lontar Abah.
“Apa? Suami ditawari poligami? Enak aja!” sungut Mami mencak-mencak. Mami sedang di dapur, namun mendadak pendengarannya jeli saat Abah berbicara poligami. Padahal Abah berbicara sangat pelan.
“Kalau istri ikhlas dipoligami itu hadiahnya surga loh, Mih." Abah berdalih.
“Masih banyak jalan lain untuk menuju surga selain dengan merelakan suami berpoligami. Bukannya dapat surga, malah nambah dosa karena si istri pertama selalu dengki sama madunya. Qurban banyak yang tidak mau, padahal mampu. Sedangkan poligami banyak yang mau, padahal tidak mampu. Cih." Mami melipat tangan di dada dengan pandangan terhunus pada Abah.
“Sukses suami itu dimulai dari doanya istri. Semakin banyak istri, semakin banyak yang mendoakan,” seloroh Abah.
“Jadi Abah ingin seperti Haji Sadeli yang istiqomah ... istri tiga kompak serumah.” Mami mencak-mencak sembari berkacak pinggang.
“Ih, enggak. Abah mah enggak mau poligami, berat, enggak akan kuat.”
“Awas aja kalau Abah sampe poligami!”
“Enggak, Mih. Abah enggak akan poligami, kecuali ...."
"Kecuali apa?"
"Kecuali kalau pemerintah menetapkan peraturan istri ganjil genap. Mau enggak mau, abah harus punya istri dua dong. Untuk malam ganjil dan malam genap. Hehehe.”
__ADS_1
Sementara Ririn sedari tadi tertawa-tawa menyaksikan perdebatan Abah dan Mami tentang poligami.
\=\=\=\=\=
Sudah satu minggu Deka terkapar tidak berdaya di atas peraduannya. Sepulang dari menjenguk Ririn di Kota Serang, Deka mengalami demam tinggi, sakit perut hingga mual dan muntah. Gejala tersebut dirasakan Deka berhari-hari sehingga Fery mendatangkan seorang dokter untuk memeriksa kondisi kesehatan Deka.
Dokter mendiagnosa Deka menderita gejala tifus. Dokter juga menyarankan Deka untuk dirujuk ke rumah sakit agar dapat beristirahat total dan mendapatkan perawatan medis. Namun, Deka menolak dan memilih untuk dirawat di rumah saja. Maka beginilah, salah satu ruang kamar di rumah megahnya disulap menjadi kamar perawatan. Ia juga mempekerjakan seorang perawat untuk merawatnya.
“Kenapa lo enggak bilang sama Ririn aja kalau lo lagi sakit?” lontar Fery. Sahabat Deka itu sudah beberapa hari menginap di kediaman Deka untuk menjaganya.
“Enggak, jangan sampai Ririn tahu. Gue gak mau membebani pikirannya. Mama sama Papa juga jangan sampai tahu. Gue udah bilang sama Papa mau istirahat menenangkan pikiran,” sahut Deka lemah dengan tangan terinfus.
“Malah kalau lo enggak bilang, Ririn bisa salah paham.”
“Gue udah kirim pesan waktu hari pertama gue sakit. Gue masih lemes, Fer. Gua gak kuat untuk berpura-pura kuat.”
“Ya udah terserah lo deh.”
“Silakan, Mas,” ucap Fery.
Dengan sigap perawat pria itu mengganti cairan infus dan melakukan serangkaian prosedur pemeriksaan seperti mengukur suhu tubuh, mengukur tekanan darah juga mengambil sampel darah.
Tidak lama kemudian dokter datang untuk melakukan kunjungan rutin setiap harinya. Dokter memberikan terapi antibiotik dalam pengobatan gejala tifus yang dialami Deka.
“Masih lama sembuhnya, Dok?” tanya Fery kepada dokter.
“Tergantung sih, Pak. Pada umumnya dengan penanganan yang memadai tifus bisa sembuh dalam waktu tujuh sampai empat belas hari. Gejala bisa membaik setelah beberapa hari pengobatan. Namun proses penyembuhan tifus juga bisa memanjang hingga tiga minggu atau lebih bergantung pada daya tahan tubuh penderita dan obat-obatan yang diberikan. Untuk perawatan yang lebih baik sih seharusnya bedrest di rumah sakit agar makanan yang dikonsumsi Pak Deka bisa terkontrol."
“Bro, lo ke rumah sakit aja sih?” lontar Fery. Sungguh ia sangat mengkhawatirkan kondisi kesehatan sahabatnya itu.
__ADS_1
“Enggak, Fer. Gue paling takut nginep di rumah sakit," tolak Deka.
“Ya sudah, tidak apa-apa. Yang penting di sini dijaga sama perawat. Dan untuk makanannya terus dijaga ya. Konsumsi makanan yang lembut dulu seperti bubur atau nasi tim," pesan sang dokter berusia empat puluhan itu.
“Baik, Dok,” ucap Fery.
“Baik, Pak Deka, Pak Fery. Saya pamit dulu. Besok saya akan berkunjung lagi ke sini. Kalau ada keadaan darurat, bisa hubungi ponsel saya. Semoga lekas sembuh, ya, Pak Deka.”
“Amin. Terima kasih ya, Dok." Kembali Fery yang menyahuti ucapan dokter. Sementara Deka, terbaring lemah tidak berdaya.
.
.
.
.
Terima kasih dukungannya.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1