
"Kalau Abang ada masalah ... tolong cerita sama saya. Karena saya adalah istri Abang,” ucap Ririn seraya menatap lekat bola mata Deka.
"A-aku memang ada masalah, Rin," ungkap Deka.
"Kalau begitu, cerita!"
"Terlalu berat, aku bahkan tidak berani untuk menceritakannya pada keluargaku."
"Tapi saya istri Abang, yang seharusnya jadi tempat keluh kesah Abang. Itu kalau Abang menganggap saya adalah istri Abang!"
"Tentu saja kamu istri aku." Deka merengkuh kedua bahu Ririn.
"Oke, aku akan cerita, tapi tidak sekarang. Beri kesempatan aku untuk menguatkan diri. Bersabarlah untukku, Rin!" Deka mengecup kening Ririn. "Aku berangkat dulu ya. Assalamualaikum," pamitnya.
"Waalaikum salam," sahut Ririn lirih seraya memandangi punggung lelakinya yang semakin menjauh. Ia memilih untuk tidak mengantar kepergian Deka sampai di teras seperti biasanya. Hatinya sedang tidak baik. Sedang sebal kepada lelakinya.
Malam-malam berikutnya, Deka melakukan hal yang sama. Meninggalkan Ririn saat telah terlelap tidur dan berusaha bangun lebih awal sebelum istrinya itu bangun. Ia juga belum menceritakan tentang masalahnya kepada Ririn. Ia sungguh belum siap. Takut Ririn akan meninggalkan jika tahu keadaannya.
Ririn bukannya tidak tahu, ia tahu setiap malam Deka meninggalkannya. Hatinya perih, sangat perih, sungguh menyesak di dada. Terkadang sampai menangis sendiri.
Padahal ia merasa trauma tidur sendirian, sejak kejadian Jefri membekapnya di malam menegangkan itu. Namun, Deka malah meninggalkannya seperti ini.
Malam ini Ririn tak bisa menahan kesabarannya. Setelah Deka berpindah ke kamar sebelah dan meninggalkannya tidur sendirian, ia beringsut turun dengan linangan air mata.
Hati Ririn benar-benar sakit. Seharusnya Deka bercerita tentang masalahnya, bukan malah bersikap seperti ini.
Ya Allah apakah memiliki pernikahan yang bahagia itu memang bukan takdirku? Salahkah aku mengharapkan bahagia dalam pernikahan keduaku ini? Bang Deka memang tidak pernah menyakitiku seperti Jefri dulu yang selalu menyakitiku. Tapi sungguh sikapnya ini sama-sama menyakitkan.
Ririn meraih tas besar dari dalam lemari, lalu memasukkan beberapa baju ke dalamnya dengan air mata yang terus bercucuran. Setelah isi tas itu penuh, ia menutup resletingnya dan meletakkan di dekat pintu.
Ririn melirik jam dinding, waktu menunjukkan pukul 23.40. Malam yang sangat larut bagi seorang perempuan keluar rumah. Rasa emosi yang membelit hati mendorongnya untuk pergi. Akan tetapi, logika menahannya.
Ada rasa takut saat membayangkan keluar rumah di malam begini. Malam larut sudah pasti tidak bersahabat dengan perempuan seperti dirinya. Maka ia mengurungkan niatnya untuk pergi.
Ririn turun ke lantai bawah. Seperti Deka, ia pun pindah ke kamar lain di sebelah kamar ART-nya. Di kamar itu ia kembali menumpahkan tangisnya.
Malam telah hilang, berganti sang fajar yang datang. Deka terbangun saat alarm ponselnya berbunyi. Seperti biasa ia menyetel alarm pada waktu subuh buta. Lalu, pindah kembali ke kamarnya bersama Ririn.
Deka terkejut saat mendapati Ririn tak ada di kamarnya. Lalu, ia melangkah ke kamar mandi untuk menemukan Ririn, namun tidak ditemukannya Ririn di sana.
Ririn ke mana? Apa Ririn sudah bangun sesubuh ini? Apa dia sedang di dapur?
Saat batinnya tengah bertanya-tanya, pandangan Deka jatuh pada tas besar yang bersandar di dinding dekat pintu kamar. Ia segera meraih tas itu lalu membukanya. Seketika ia tertegun ketika mendapati pakaian Ririn tersusun rapi di dalamnya.
“Rin ...! Ririn ...!” Deka berseru gusar.
"Sayang ...!"
Deka turun ke lantai bawah menuju dapur, tidak didapatinya Ririn di sana. Mencari Ririn ke kamar mandi di lantai bawah juga tidak ada.
“Ririn ke mana??” Ia meremas kepalanya sendiri.
Kemudian ia mengetuk pintu kamar salah seorang ART-nya untuk menanyakan keberadaan Ririn.
“Pak Deka, ada apa gerangan?” tanya Sanah sembari mengucek mata. ART keponakan Bi Siti itu tampak masih mengantuk.
__ADS_1
“Istri saya ke mana?” Deka langsung saja bertanya. Suaranya terdengar khawatir.
“Lah memangnya ke manakah Ibu pergi, Pak?” Sanah balik bertanya.
“Saya tanya kamu, karena saya ga tahu!” sungut Deka.
“Saya juga tidak mengetahuinya, Pak.”
“Kamu ga denger suara apa gitu?”
“Suara apa? Saya tidak mendengar suara apapun. Hanya mendengar suara cicak di dinding saja.”
“Takutnya istri saya keluar, gitu?”
“Tidak, Pak. Saya sungguh tidak mengetahuinya, karena saya sedang tertidur. Kalau saya tidur, mata dan kuping saya merem, Pak.”
“Heh! Kamu ini guru bahasa Indonesia yang menyamar jadi ART ya!” tukas Deka, sebab merasa kesal dengan jawaban Sanah.
Saat Deka masih mengintrogasi Sanah, Ririn membuka pintu kamar yang ia tempati, yang bersebelahan dengan kamar Sanah.
“Rin,” panggil Deka. Ririn tak menanggapi panggilan Deka, bahkan pura-pura tak melihatnya.
“Ibu tidur di kamar ini?” lontar Sanah.
“Iya,” jawab Ririn diiringi sebuah senyuman kepada Sanah, kemudian berlalu.
Ririn hendak mandi di kamar mandi bawah, tapi handuknya ada di kamar lantai atas, sehingga mau tak mau ia harus kembali ke kamarnya. Deka mengikuti Ririn di belakangnya.
“Sayang, kamu ngagetin aku tau. Aku kira kamu pergi. Aku udah khawatir,” ujar Deka setelah mereka sampai di kamar.
“Sayang, kenapa? Ada apa?” Deka berdiri di belakang Ririn.
Ririn memutar tubuhnya, sehingga posisi mereka kini saling berhadapan.
“Kenapa? Ada apa? Harusnya saya yang bertanya begitu. Abang ini kenapa? Abang ada apa?” balas Ririn, matanya menatap tajam Deka.
“A-aku gak kenapa-kenapa.”
“Abang bilang ga kenapa-kenapa. Terus kenapa setiap malam Abang ninggalin saya tidur sendirian?!” lontar Ririn dengan intonasi lebih keras dari sebelumnya.
Deka terdiam. Ia hanya mampu menatap wajah cantik yang tengah kesal itu. Seandainya saja ia bisa berterus terang, namun kenyataannya ia belum mampu untuk menceritakan masalahnya kepada siapa pun.
“Abang tahu, saya itu takut tidur sendirian! Saya masih trauma dengan kejadian malam itu. Abang malah ninggalin saya sendirian. Hiks hiks hiks.” Ririn tidak dapat menahan tangisnya.
“Rin, aku ....”
“Kalau Abang ga butuh saya ....” Ririn mengusap air mata yang luruh tanpa disuruh. “pulangkan saya ke rumah orangtua saya!" lanjutnya masih dengan terisak.
Deka menghambur memeluk Ririn dan mengusap lembut punggungnya. “Rin, jangan begitu. Aku sayang kamu,” ucapnya seraya menciumi puncak kepala Ririn.
Perlakuan Deka membuat Ririn semakin menangis di pelukannya. Beberapa saat kemudian, setelah dapat mengendalikan tangisnya. Ia melepaskan diri dari pelukan suaminya itu.
“Saya mau pulang,” ujar Ririn.
“Enggak boleh. Aku suamimu, aku melarang kamu untuk pulang. Istri solehah harus nurut sama suami.”
__ADS_1
“Buat apa saya di sini? Buat apa Abang menikahi saya kalau Abang seperti ini!”
“Oke oke. Aku minta maaf atas sikap aku yang mungkin menyakiti kamu. Yang harus kamu tahu, aku sayang sama kamu. Aku ingin kamu tetap di sini.”
“Saya ‘kan pernah bilang, saya ga akan pergi kecuali kalau Abang yang menyuruh pergi! Tapi sikap Abang ini ... saya merasa seolah Abang menyuruh saya untuk pergi.”
“Enggak, Rin. Aku gak begitu.”
“Kalau begitu, ayo cerita! Abang ada apa?”
Deka menatap Ririn beberapa saat lalu menuntunnya untuk duduk. Mereka duduk di tepi tempat tidur.
“Aku memang ada masalah, Rin. Aku belum pernah cerita masalahku ke siapa pun. Mama, Papa, Dewa atau Fery pun enggak pernah tahu masalahku. Aku juga belum siap untuk jujur sama kamu. Aku takut ....” Deka me-remas kepalanya.
“Takut apa, Bang?” tanya Ririn sebab Deka tak kunjung melanjutkan ucapannya.
Deka menatap wajah cantik Ririn. “Aku takut kamu pergi meninggalkan aku jika kamu tahu keadaanku sesungguhnya,” ucap Deka lirih.
Ririn meraih tangan Deka lalu menggenggamnya erat. “Saya ‘kan udah bilang berkali-kali. Saya akan selalu ada di samping Abang. Saya ga akan pernah pergi, kecuali Abang yang menyuruh saya pergi."
Deka mengusap tangan Ririn yang tengah menggenggam tangannya lalu menariknya hingga ke bibir dan mengecupnya. “Makasih ya, Sayang.”
Ririn mengangguk. “Ayo sekarang cerita!”
.
.
.
.
Maafkan otornya ya. Bersabar ya, ini sedang berusaha menyambungkan dengan extra part di GBM itu.
Kalau buru-buru jujur, cepet tamat deh ceritanya 🤭
Ayo kasih semangat untuk otornya.
__ADS_1