
“Lalu bagaimana keadaan istri saya, Dok?”
“Bu Ririn masih tidak sadarkan diri karena pengaruh obat bius. Kami akan melakukan tindakan kuret untuk mengeluarkan sisa jaringan mati di dalam rahim. Atau untuk membersihkan rahim.”
“Dok, apa saya boleh melihat calon anak saya? Saya ingin tahu jenis kelamin calon anak saya.”
Dokter itu terdiam sejenak menatap Deka. “Baik, saya izinkan Bapak untuk melihat janinnya, kalau Bapak kuat. Tetapi, nanti setelah proses kuret selesai.”
“Iya, Dok, terima kasih.”
“Sama-sama, Pak Deka. Saya tinggal dulu.”
“Iya, Dok.”
Selepas dokter itu pergi, Deka kembali meratapi kesedihannya. Tidak pernah terbayang akan kehilangan Akachan secepat ini. Harapannya untuk bertemu Akachan pupus sudah. Meluruh bersama kebahagiaan yang terhempas begitu saja.
Mimpinya untuk menyambut Akachan dengan senyum bahagia tidak akan pernah terwujud. Seiring nelangsa yang menjejali hati.
Ia yang terlalu bahagia kemarin, merasa jatuh sejatuh-jatuhnya. Ia yang begitu bersuka cita kemarin, merasa sedih sesedih-sedihnya.
__ADS_1
Deka duduk di kursi ruang tunggu. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan yang sikunya menumpu pada paha. Bahunya bergetar-getar, pertanda ia tengah menangis. Ia belum pernah merasa kehilangan sebelumnya. Belum pernah mengalami kesedihan sedalam ini.
“Bapak, yang sabar ya, yang ikhlas. Mungkin ini belum rezeki Bapak dan Ibu. Insyaallah nanti Bapak sama Ibu dapat kesempatan lagi untuk memiliki anak. Ibu sama Bapak ‘kan masih muda, masih banyak kesempatan.” Bi Iroh mencoba menenangkan Deka. Ia tahu betul bagaimana bahagianya sang majikan beberapa bulan ini.
“Iya, Pak. Kata ibu saya, kehilangan anak itu berarti tabungan akhirat. Anak-anak yang meninggal waktu kecil itu akan menolong orangtuanya di akhirat kelak, asalkan orangtuanya ikhlas saat diberi takdir kehilangan anak. Ibu saya juga beberapa kali kehilangan anak. Kata beliau berarti tabungannya sudah banyak,” timpal Sanah.
“Bapak harus kuat. Kalau Bapak sedih, bagaimana perasaan Ibu, pasti lebih sedih lagi,” ujar Bi Iroh.
“Betul, Pak. Bapak yang nanti harus menenangkan Ibu,” timpal Sanah lagi.
Deka membuka tangannya yang menutup wajah. Ia mengangkat wajah menatap kedua asisten rumah tangganya bergantian. “Terima kasih, ya,” ucapnya.
“Amin.” Kedua ART itu menyahut kompak.
“Semoga nanti Ibu segera hamil lagi, dan selamat serta lancar, sehat walafiat sampai persalinan di kehamilan kedua nanti,” ujar Bi Iroh. Yang diamini oleh Sanah.
“Amin, terima kasih ya,” balas Deka.
Tiga puluh menit kemudian, dokter telah selesai melakukan tindakan medis kuretase atau kuret. Sementara Ririn masih dalam pemantauan dokter dan perawat untuk memastikan tidak ada komplikasi seperti perdarahan hebat atau infeksi setelah kuret.
__ADS_1
Perawat membawa Deka untuk melihat janin, calon anaknya yang telah gugur sebelum waktunya dilahirkan. Deka sudah berkonsultasi dengan Ustaz Arif—ustaz yang membimbingnya selama ini.
Menurut sang ustaz, janin keguguran sebelum sempurna empat bulan, tidak ada aqiqah, tidak diberi nama, tidak dishalati, dan dapat dikuburkan di tempat mana pun. Sementara yang keguguran setelah empat bulan, janin ini telah ditiupkan ruh. Sehingga jenazahnya diberi nama, dimandikan, dikafani, boleh dishalati, dan dimakamkan bersama kaum muslimin lainnya.
Air mata Deka luruh saat menatap janin yang telah terbentuk menyerupai calon bayi itu. Ada kaki, tangan, kepala, hanya wajahnya belum sempurna dan ukurannya sangat kecil.
Calon anak Deka yang berjenis kelamin perempuan itu tingginya hanya 4 inci dan beratnya 0,02 kg. Seukuran ... maaf, anak cicak.
“Calon anak saya, jenis kelaminnya apa, Sus?” tanya Deka.
“Perempuan, Pak," sahut suster.
“Ya Allah, seandainya kamu hidup dan dilahirkan normal seperti bayi lainnya, Mommy pasti senang. Kamu pasti akan cantik seperti Mommy,” gumam Deka dalam hati. Ia teringat bahwa Ririn menginginkan anak perempuan.
“Maafkan daddy dan Mommy ya, Sayang. Karena tidak bisa menjaga kamu sampai waktunya perjumpaan kita,” lirih Deka dengan suara bergetar.
“Doakan Mommy dan daddy agar bisa ikhlas menerima kehilanganmu,” ucap Deka di sela isak tangisnya.
__ADS_1