
Deka melirik Opi yang tengah berolahraga kecil sambil menyanyikan lagu soundtrack Doraemon. Nyanyian Opi terdengar seperti tengah mengolok-olok dirinya.
Hadeuh. Jadi inget sama aib tentang boxer Doraemon lagi ‘kan. Keluh hatinya.
Deka mengikuti langkah Dewa yang masuk ke dalam rumah. Lalu berpapasan dengan Mami di pintu masuk.
“Nak Deka, istirahat lagi aja! Ini masih pagi. Nanti dipanggil kalau sudah waktunya sarapan,” ujar Mami.
“Iya, Mih,” sahut Deka santun. Biasanya ia memanggil orangtua kawannya dengan sebutan Tante dan Om. Namun, keluarga Haji Zaenudin yang hangat membuatnya memanggil dengan sebutan yang sama dengan anggota keluarga lainnya yaitu Mami dan Abah.
Deka masuk ke kamar, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah mengganti pakaian salatnya. Sejujurnya ia memang masih mengantuk. Gara-gara memikirkan aib boxer Doraemon, ia tak bisa tidur lagi semalam, dan terjaga sampai subuh.
Perlahan Deka menutup mata. Perlahan pula rasa kantuk itu menggiringnya ke alam mimpi.
Deka tengah tertidur lelap ketika kakinya terasa seperti disentuh dan digoyang-goyang oleh seseorang. Awalnya ia tak menggubris dan memilih untuk mengabaikan saja. Namun, guncangan pada kakinya terasa semakin kencang.
Deka membuka mata. Seketika ia terlonjak bangun ketika menyadari Ririn yang tengah berdiri di depan ujung kakinya.
“Bang, mana pakaian kotornya? Sini biar saya cuci!" kata Ririn.
Deka menggeleng cepat. “Jangan! Ga usah. Makasih.”
“Ga papa, Bang.” Ririn melangkah menuju dinding di mana kapstok menempel di sana.
Wajah Deka mendadak pucat dan panik. Pasalnya, selusin boxer bergambar Doraemon tergantung di kapstok itu.
“Bang Deka pecinta Doraemon ya? Hahahaha.” Ririn tertawa mengejek dan terdengar membahana di telinga Deka.
“Doraemon ... Doraemon ... Doraemon ... Doraemon ... Doraemon ... Doraemon .... “ Ririn menari sembari bertepuk tangan seolah mengolok-olok Deka.
“Tidaaaaaak ...!!” Deka berteriak sembari menutup kedua telinganya.
Tok ... tok ... tok
Suara pintu kamar diketuk.
“Bang Deka, bangun! Sarapan dulu." Suara Dewa memanggilnya di depan pintu.
Deka membuka mata dan mengerjapkannya berkali-kali.
Anjir, mimpi buruk gue. Gumam Deka dalam hati.
“Bang, sarapan dulu!” seru Dewa lagi.
“Iya, iya,” sahut Deka.
Deka mengacak rambutnya frustrasi. Masalah boxer Doraemon ini benar-benar mengganggu pikirannya. Ia berpikir untuk segera pergi dari rumah ini. Ingin cepat pulang ke rumah agar terbebas dari belenggu aibnya.
Deka meraih ponsel untuk menghubungi papahnya. Setelah lima panggilan, baru panggilan itu terjawab.
“Halo.” Terdengar suara serak papahnya di ujung telepon.
“Pah, mau pulang jam berapa?”
“Ini hari minggu, Deka. Ga usah buru-buru pulang. Whoooam,” sahut Papa yang masih mengantuk.
“Deka pengen cepet pulang, Pah.”
“Harusnya kamu gunakan kesempatan ini untuk pedekate sama Ririn.”
__ADS_1
Mau pedekate gimana, udah terlanjur malu gegara boxer. Batin Deka.
“Ya udah deh, Pah. Deka susul ke hotel aja,ya.”
“Jangan! Mama sama papa mau menghabiskan quality time berdua saja. Kamu jangan ganggu!”
“Halo, Pah. Pah, halo. Halo. Hola. Loha.”
Deka berdecak sebal karena Papa memutuskan sambungan telepon sepihak.
Dengan perasaan kesal ia beringsut turun dari tempat tidur. Melangkah pelan menuju pintu, membukanya, lalu keluar kamar.
Di ruang keluarga, seluruh penghuni rumah sudah berkumpul. Mereka duduk di atas tikar bersiap menyantap sarapan. Sebab meja makan tak sanggup menampung semua anggota keluarga.
“Nak Deka, mari kita sarapan!" ajak Abah.
“Iya, Bah. Mau cuci muka dulu sebentar,” sahut Deka.
“Bang Deka ga usah cuci muka juga udah ganteng maksimal,” seloroh Opi. Lalu melirik Ririn yang kebetulan sedang menatap Deka. “Iya ga, Teh Rin?”
“Ish, apa sih Opi.” Ririn membuang pandangannya dari Deka.
Melirik sekilas ke arah Ririn, Deka berlalu menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Melihat Ririn, ia jadi kepikiran lagi tentang aib boxer Doraemon.
Mau menolak acara sarapan ini dan menyusul Papa di hotel, ia merasa tak enak sendiri. Akhirnya, ya sudahlah, mau tidak mau ikut bergabung bersama keluarga Ririn. Walaupun beban pikiran tentang boxer Doraemon itu tak dapat hilang dari ingatannya.
Saking boxer Doraemon begitu menjejali pikiran, sampai-sampai ketika Mami melempar tanya kepadanya. “Nak Deka mau sarapan apa? Kupat sayur apa kupat tahu?”
Tanpa sadar Deka malah menjawab, “Doraemon.”
“Apa? Ikan salmon?” Kening Mami berkerut mendengar jawaban Deka.
Namun napasnya kembali sesak ketika menatap Ririn. Sepertinya wanita cantik itu mendengar dengan baik jawabannya tadi. Terbukti dari tingkah Ririn yang seolah sedang berusaha menahan senyum sambil sesekali menatapnya.
“Mami ga punya ikan salmon, Nak Deka,” ujar Mami.
“Mih, tadi Bang Deka itu bilang ‘ayo kemon’ artinya buruan sarapan. Opi juga udah laper, nih,” sahut Opi menimpali.
“Nak Deka mau yang mana? Kupat sayur apa kupat tahu?” tawar Mami lagi.
“Apa aja, Mih. Dua-duanya pasti enak. Emmm ... kupat tahu juga boleh,” sahut Deka.
“Nah, cocok, pilihan yang tepat. Karena kupat tahu, yang bikin bumbu kacangnya Ririn. Kalau kupat sayur, mami sendiri yang bikin kuah sayurnya,” terang Mami.
Yaaaa ... Ririn lagi.
“Jangan lupa, Mih. Opi yang beli kupatnya di bik Atun.” Tak mau kalah, Opi menunjukkan kontribusinya dalam persiapan kegiatan sarapan pagi ini.
“Iya, iya. Ayo kita mulai sarapannya!" seru Mami.
“Jangan lupa berdoa sebelum makan.” Abah mengingatkan.
Semuanya tampak berdoa. Ada yang terang-terangan mengangkat tangan dan membaca doa makan dengan bersuara lantang seperti Opi. Dan ada pula yang berdoa dalam hati.
Deka yang belum pernah melakukan ritual doa sebelum makan, tampak bingung. Doa sebelum makan itu seperti apa, ia tidak tahu. Akhirnya, ia memilih berdoa dalam hati seperti yang dilakukan Abah dan yang lainnya.
Semoga makanan ini rasanya enak, bergizi seimbang, tidak mengandung pengawet, dan mudah dicerna dengan baik oleh tubuh. Masuk ke mulut dengan aman, terus bergerak ke kerongkongan dan turun ke lambung dengan lancar. Diproses sempurna di lambung, diserap dengan baik oleh usus halus, lalu dicerna oleh usus besar. Dan sampahnya dibuang oleh anus dengan sewajarnya. Begitu Deka berdoa dalam hatinya.
Usai sarapan bayang-bayang Doraemon ternyata masih menghantui.
__ADS_1
Dimulai dari teriakan Dewa pada Mimin saat hendak memakaikan baju untuk Syad.
“Neng! Baju Syad mana?” teriak Dewa di ruang keluarga.
“Bajunya udah disiapin di sofa depan!" balas Mimin yang juga berteriak. Istri dari Dewa itu tengah menjemur pakaian di teras samping rumah.
“Oh, yang gambar DORAEMON ini?” teriak Dewa lagi.
“Iya, yang gambar DORAEMON!" balas Mimin.
Hadeuh, Doraemon lagi.
Mencuci muka sepertinya baik untuk mengurai pikiran kusut tentang Doraemon. Begitu pikir Deka.
Saat Deka melewati ruang TV, Opi tengah menonton film kartun Doraemon.
“Loh, bukannya katanya mau ada siaran langsung pidato presiden tentang perombakkan kabinet,” ujar Abah.
“Nanti, Bah ... habis pilem DORAEMON.”
“Oooh, HABIS pilem DORAEMON.”
Doraemon lagi 'kan.
Setelah mencuci muka di kamar mandi, Deka melewati dapur. Mami yang tengah khusyuk memasak dikagetkan oleh Opi . “Dor!”
“DORAEMON DORAEMON DORAEMON,” latah Mami. Opi terkikik geli. Sementara Deka semakin gelisah.
Doraemon lagi. Doraemon lagi.
.
.
.
.
Jangan lupa yang ini juga di Like ya. Aku dobel up nih
__ADS_1