
Sudah seminggu memasak bubur. Akhirnya di hari ketujuh, Bapak mengatakan bubur buatan saya enak.
Ya Allah semoga Bapak lekas sembuh. Biar jangan makan bubur terus. Kasihan. 🥺🥺
Ririn mengernyit membaca story wa Sanah. Bapak di sini maksudnya siapa ya? Bapaknya Sanah atau Bang Deka? Hatinya bertanya-tanya.
Mau bertanya pada Sanah, enggan dan gengsi karena khawatir Deka sedang ada di rumah. Maunya Ririn, Deka yang menghubunginya dan menjelaskan tentang mama Tiara kepadanya.
Kemudian Ririn berpikir untuk menghubungi Silvi--sekretaris Deka. Ia teringat punya hutang beberapa rupiah kepada Silvi saat memintanya untuk menemani Tiara jajan di kantin beberapa bulan lalu. Hal itu akan digunakan sebagai alasan menelepon sekretaris Deka sembari menggali informasi tentang Deka. Begitu pikirnya.
“Ya Allah, Bu Ririn, enggak usah. Cuma segitu aja kok,” tolak Silvi saat Ririn menelepon dan mengutarakan maksudnya.
“Saya enggak enak, loh, Vi.”
“Enggak apa-apa, Bu, santai aja. Oya, Bu, saya turut berduka cita atas musibah yang terjadi. Semoga Bu Ririn lekas pulih dan bisa segera hamil lagi.”
“Amin, makasih ya, Vi.”
“Suruh Pak Deka buat anak lagi. Pokoknya harus gaspol yah, Bu. Hehehe.”
“Bagaimana mau gaspol, kalau Pak Deka selalu sibuk dengan pekerjaan. Ngomong-ngomong, sekarang Pak Deka sedang sibuk dengan proyek yang di mana ya, Vi?”
“Bu Ririn masih ada di Serang ya?”
“Iya, saya masih di Serang.”
“Pak Deka sedang sakit, Bu, sudah seminggu enggak masuk kantor.”
“Oya, sakit apa? Kok Pak Deka enggak bilang sama saya?”
__ADS_1
“Mungkin Pak Deka enggak mau bikin Ibu khawatir. Jadi, enggak ngasih tahu Ibu. Kata Pak Fery sih Pak Deka sakit tifus. Sekarang lagi dirawat, tapi di rumah. Pak Deka enggak mau dirawat di rumah sakit. Pak Fery juga selalu menginap di rumah Pak Deka setiap malamnya,” ungkap Silvi di ujung telepon.
Ririn tertegun mendengar penuturan Silvi.
“Terima kasih infonya, ya, Vi.”
“Iya, Bu, sama-sama.”
“Maaf yah, sudah mengganggu istirahat kamu.”
“Enggak kok, Bu.”
“Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam.”
“Hati-hati ya, Rin. Maaf Abah sama mami enggak bisa mengantar kamu. Salam saja dengan suamimu, insyaallah kalau Abah sempat, kami akan ke sana untuk menengok,” pesan Mami saat mengantar kepulangan Ririn di teras rumah. Sementara Abah masih sibuk di toko.
“Iya, Mih, enggak apa-apa. Ririn pulang ya.” Ririn berpamitan dan mencium punggung tangan Mami.
"Iya, hati-hati, Rin."
Selama dalam perjalanan, Ririn terus memikirkan masalahnya bersama Deka. Ia merasa bersalah dengan sikapnya. Apalagi saat menyinggung soal masa lalu Deka. Benar yang dikatakan Deka, seharusnya ia tidak mengungkit soal masa lalu.
Bukankah sejak awal Deka sudah menceritakan tentang masa lalunya. Bukankah sejak awal Ririn sudah mengetahui bahwa Deka adalah seorang mantan cassanova. Tentu saja ia harus siap dengan segala risikonya menjadi istri seorang mantan cassanova.
Setelah dua jam perjalanan, akhirnya mobil yang ditumpangi Ririn sampai di depan halaman rumahnya.
“Pak Agus, turun saja dulu. Makan dan minum dulu, istirahat dulu jangan langsung pulang,” ujar Ririn saat hendak turun dari mobil.
__ADS_1
“Iya, Neng Ririn, terima kasih," balas sang sopir.
Ririn membuka pintu mobil lalu turun. Ia melangkah masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang. Ia memang tidak memberitahukan rencana kepulangannya kepada Deka ataupun asisten rumah tangganya.
“Bu Ririn, udah pulang?” lontar Bi Iroh terkejut mendapati Ririn masuk lewat pintu belakang.
“Iya, Bi. Katanya Bapak sakit ya?”
“Iya, Bu.”
“Sekarang Bapak di mana, Bi?”
“Di kamar tamu di lantai dua, Bu.”
“Makasih, Bi. Oya Bi, buatkan minuman untuk Pak Agus, sopir Abah yang mengantar saya ke sini. Pak Agusnya ada di depan.”
“Siap,Bu.”
Kemudian Ririn melanjutkan langkahnya menuju lantai dua menuju kamar yang disebutkan Bi Iroh.
Ririn membuka pintu yang sedikit tertutup itu, seketika ia terkejut saat melihat seorang wanita tengah duduk menunggui Deka.
Wanita itu sontak menoleh saat terdengar suara decit pintu terbuka. “Mbak Ririn sudah pulang?” lontarnya.
“Mbak Intan?” sahut Ririn terkejut.
Â
Â
__ADS_1