
“Abang, coba geh tadi perut saya kedutan.” Ririn meletakkan tangan Deka di atas perutnya.
“Mana, kok gak kerasa, Yang?” lontar Deka beberapa saat kemudian. Ia mendekatkan telinganya di perut Ririn.
“Berarti yang bisa merasakan gerakan si Akachan, saya doang. Daddynya enggak.”
“Curang, ih! Masa bikinnya berdua, kamu doang yang merasakan.” Deka menegakkan kembali tubuhnya.
“Tenang, Abang, soalnya ini masih kecil. Kata Mimin kalau udah semakin besar, nanti gerakannya semakin lincah dan semakin kerasa. Katanya malah nanti suka nonjol-nonjol gitu di perut."
“Ga sabar pengen cepetan ketemu Akachan. Hai, Sayang, cepat besar ya di dalam. Makan yang banyak biar Mommy laper terus dan banyak makan." Deka mencium perut Ririn.
“Oh iya, Bang. Ini ‘kan mau empat bulan. Kita mau bikin acara syukuran empat bulanan enggak?”
“Terserah kamu aja, Yang. Abang ‘kan baru kali ini mau punya anak, jadi enggak paham. Kalau memang biasanya ada acara seperti itu, ya kita adakan saja.”
“Terus kita adakan di mana acaranya? Di sini, di Serang, apa di Subang?”
“Kalau perlu di tiga tempat itu bergantian juga boleh.”
“Emmm. Saya ngobrol dulu sama Mama dan Mami deh. Besok Abang bisa antar saya ke rumah Mama?”
“Bisa dong, sekalian Abang berangkat kerja besok.”
“Oke.”
Ririn merapatkan tubuhnya pada Deka. “Abang enggak ingin nengok si Akachan?” tanyanya sembari hidung mancungnya ndusel-dusel di dada Deka.
Sejak hamil, justru Ririn yang lebih aktif ‘meminta’. Sementara Deka, kalau tidak ‘diminta’ lebih memilih untuk tidak melakukannya. Ia sangat mengkhawatirkan calon anak di dalam perut sang istri. Tidak mau gara-gara ulahnya, akan membahayakan keselamatan si jabang bayi.
Frekuensi hubungan suami istri menjadi berkurang sejak Ririn dinyatakan hamil. Dalam satu bulan, paling tiga atau empat kali mereka melakukannya. Itu pun hanya satu ronde saja.
“Kalau kamu mau, ayo lah.”
Deka memeluk tubuh Ririn dan selanjutnya terjadilah apa yang seharusnya terjadi.
Keesokan harinya, Deka mengantar Ririn ke rumah Mama sebelum berangkat bekerja.
“Yang, nanti pulangnya sore aja ya, nanti Abang jemput,” pesan Deka sebelum pergi ke kantor.
“Iya, Abang.”
“Kamu hati-hati ya. Ga usah sibuk di rumah ini. Cukup ngobrol aja sama Mama.”
“Iya, paham. Abang juga hati-hati ya.”
“Iya, Sayang.” Deka mengecup kening, pipi dan bibir Ririn seperti kebiasaannya sebelum berangkat kerja. Tidak lupa, Ririn pun mencium takzim punggung tangan Deka.
“Bye, I love you.” Deka melambaikan tangan. Ia sudah duduk di dalam mobil dengan mesin mobil yang sudah menyala.
“I love you too.” Ririn balas melambaikan tangan. Kemudian mobil Deka pun melaju.
Tidak banyak yang dilakukan Ririn di rumah sang mertua selain mengobrol, berbincang-bincang tentang kehamilan. Dan juga belajar merajut. Mama mertuanya itu sedang gemar merajut. Terutama merajut pernak-pernik bayi untuk calon anak dari putra sulungnya.
__ADS_1
“Dulu waktu Mina hamil, mama masih aktif di butik. Jadi, gak sempat bikin-bikin seperti ini,” ujar Mama sembari tangannya sibuk dengan kegiatan merajut.
“Padahal dulu waktu mama hamil Deka dan Dewa, meski mama bekerja, tetap diusahakan untuk merajut. Bikin topi bayi, kaos kaki bayi.” Mama mulai bercerita.
Ririn tersenyum mendengar cerita sang mertua yang masih terlihat cantik dan tampak muda meski usianya sudah kepala lima. Ririn memperhatikan gerakan tangan Mama lalu mengikutinya. Ia tengah belajar merajut.
“Ini begini, Mah?” lontar Ririn.
“Bukan begitu. Ini jarumnya masuk ke sini.”
“Begini?”
“Iya, betul begitu.”
“Kalau udah lihai, merajut ini menyenangkan ya, Mah.”
“Tentu menyenangkan sekali,” sahut Mama.
“Oya, bagaimana kehamilan kamu, Sayang, sehat?”
“Alhamdulillah sehat, Mah.”
“Sudah ketahuan jenis kelaminnya?”
“Belum, Mah. Kemarin terakhir periksa kandungan, belum kelihatan jenis kelaminnya.”
“Enggak, apa-apa. Ini ‘kan anak pertama, jadi mau perempuan atau laki-laki ya sama saja. Yang penting sehat.”
“Iya, Mah.”
“Rutin, Mah.”
“Hati-hati ya, Sayang, dijaga kehamilannya. Deka udah pengen banget punya anak,” kata Mama.
“Iya, Mah. Doakan Ririn semoga kehamilannya lancar, bayinya sehat. Amin.”
“Insyaallah, mama akan selalu berdoa. Semoga semuanya sehat. Ini sudah berapa bulan usia kandungannya?”
“Empat bulan, Mah. Makanya ini mau diskusi sama Mama, baiknya kalau mau mengadakan acara syukuran empat bulanan di mana, Mah?”
“Maunya Deka bagaimana?”
“Bang Deka maunya kita bikin acara di tiga tempat. Di Jakarta, Serang dan Subang.”
“Ya sudah kalau begitu. Yang penting, Ririn jangan terlalu capek. Serahkan sama orang saja yang mengurusnya. Kalau kata mama sih, syukuran empat bulan itu dengan bagi-bagi sembako atau menyantuni anak yatim juga enggak apa-apa. Yang penting intinya kita berbagi kebahagiaan dan juga mendoakan keselamatan Ririn dan calon bayinya.”
“Iya, Mah. Mending begitu kayaknya. Mungkin untuk di Subang nanti bagi-bagi sembako aja. Kalau di Serang mungkin nanti ada acara pengajiannya. Dan untuk di sini acara santunan anak yatim aja.”
“Nah, mama setuju tuh. Biar semuanya ikut merasakan kebahagiaan kalian.”
“Iya, Mah.”
Belajar merajut, ternyata cara yang cukup efektif untuk membunuh waktu luang yang membosankan. Buktinya, tidak terasa waktu asar telah tiba. Padahal tadi Ririn hanya menunda untuk salat Zuhur dan makan siang saja.
__ADS_1
Ririn segera membereskan peralatan rajutnya. Ia berjanji dalam hati, di rumahnya nanti, akan mengisi waktu senggangnya dengan kegiatan ini.
Hasil kegiatan merajut hari ini, Ririn berhasil membuat topi bayi yang lucu. Ia membuat topi berwarna hijau, agar bisa dipakai oleh bayinya kelak. Baik nanti bayinya berjenis kelamin laki-laki atau perempuan.
Ia tersenyum senang sambil memandangi hasil karyanya. Sepulang kerja Deka nanti, ia akan menunjukkan hasil karyanya dengan bangga kepada sang suami.
Saat ia tengah membereskan peralatan rajut, ponselnya berdering. Ia mengusap layar ponsel. Ada sebuah panggilan telepon dari Tiara.
“Halo, Tan.”
“Iya, Ra. Kenapa?”
“Tante lagi di mana?”
“Di rumah mamanya om Deka. Ada apa?”
“Tan, aku ada PR bahasa Inggris. Enggak bisa nih ngerjainnya. Tante bisa bantu aku?”
“Duh, kalau bahasa Inggris, tante juga ga paham. Kalau bahasa Sunda, baru tante paham.”
“Apa tanya om aja ya, Tan?”
“Boleh, tapi nanti malam saja tanyanya, kalau Om sudah tidak sibuk.”
“Oke, Tan.”
“Atau kamu coba kerjakan dulu sendiri. Kayaknya ada kamus bahasa Inggris di rak buku di ruang kerja Om. Coba kamu ambil aja. Kalau ruangannya dikunci, minta tolong teh Sanah untuk buka pintunya. Teh Sanah punya kunci serepnya.”
“Oke, Tan. Makasih ya.”
“Ya, sama-sama.”
Setelah mendapat panggilan telepon dari Tiara, Ririn jadi teringat rencananya untuk membelikan sepatu sekolah buat Tiara.
Beberapa hari yang lalu, sepatu Tiara kebasahan karena hujan. Saat itu Ririn baru menyadari Tiara hanya memiliki satu sepatu. Sehingga ia berencana untuk membelikan sepatu lagi buat Tiara.
Ia lalu menghubungi Deka dan meminta izin untuk pulang sekarang. Deka yang memang tengah banyak pekerjaan dan sepertinya tidak bisa pulang sore, akhirnya mengizinkan Ririn pulang duluan dengan dijemput Mang Pardi.
.
.
.
.
__ADS_1