
“Kok make up-nya gini amat!” ejek Bella. Entah apa maksud ucapannya apakah mengejek, menghina, atau mengkritik. Yang pasti sikapnya sungguh menyebalkan.
“Memang saya yang mau begini, Mbak. Ga mau terlalu tebal, tipis aja,” sahut Ririn.
“Tapi kamu itu mau foto prawedding, bukan mau pergi ke pasar tradisional!” ketus Bella.
“Biar atuh, Mbak. Tanpa make up pun Teteh ini mah sudah cantik,” puji sang perias, membela Ririn.
“Mending kamu kasih polesan buat calon mempelai prianya, sana!” usir Bella pada sang perias. “Biar ga kelihatan pucat di kamera,” lanjutnya.
Perias itu patuh, pergi menghampiri Deka yang baru saja berganti baju. Jika saat sesi pertama Deka mengenakan jas formal, di sesi kedua ia memakai kemeja warna merah marun, seragam dengan gamis yang dipakai Ririn.
“Kenapa kamu mau sama Deka?” lontar Bella sambil menepuk-nepuk pelan spons ke wajah Ririn.
“Karena sudah jodoh, Mbak,” sahut Ririn.
“Aku lihat sih kayaknya kamu itu cewek baik-baik.” Bella menatap remeh Ririn. “Tapi kok malah mau sama Deka!” ucapnya sinis.
“Memangnya Bang Deka kenapa, Mbak? Ga ada yang salah dengan Bang Deka ‘kan?!” Ririn merasa kesal dengan ucapan Bella. Apa maksudnya berkata seperti itu.
“Deka itu ba-jingan, loh! Kamu belum tau ya?” ucap Bella setengah berbisik.
“Mau Bang Deka itu bajingan, tupaian, luwakan, itu urusan saya! Mbak ga perlu repot-repot mengurusi pilihan hati saya!” sahut Ririn tegas.
Ririn berdiri hendak menghampiri Deka. Belum Ririn melangkah, Bella berkata lagi. “Semoga kamu mau sama Deka bukan karena dia tajir!"
“Oh, tentu tidak! Mbak harus ingat, selain tajir dia juga tampan rupawan menawan,” sahut Ririn kemudian pergi meninggalkan Bella yang bersungut-sungut atas jawaban Ririn.
Foto prawedding sesi kedua telah usai. Sekarang saatnya istirahat makan siang, sebelum mulai sesi foto ketiga.
“Rin, mau makan di mana?” tanya Deka.
“Makan di sini aja ya. Saya tadi bawa bekel. Masakan saya sendiri,” jawab Ririn. Subuh tadi ia sengaja memasak, maksudnya agar Deka mencoba masakannya.
“Oya? Mana? Aku mau dong nyobain masakan kamu,” ucap Deka antusias.
“Di mobil.”
“Yang plastik keresek warna item itu?” Saat berangkat tadi, Ririn membawa kantong plastik keresek hitam. Namun tadi, Deka belum sempat bertanya apa yang dibawa Ririn dalam kantong plastik itu. Karena terlalu antusias membahas soal foto prawedding.
“Iya, yang itu,” angguk Ririn.
“Oke. Kamu tunggu di sini ya. Aku ambil dulu di mobil.”
Deka pergi untuk mengambil bekal yang dibawa Ririn. Tak butuh waktu lama, ia kembali dengan membawa tentengan kantong keresek hitam.
“Ini, Rin?” Deka mengangkat kantong yang dibawanya.
“Iya, yang itu. Sini!”
Deka menyerahkan kantong keresek itu. Ririn membuka bungkusan itu dan mengeluarkan isinya. Ada tiga bungkus kertas rames yang berisi nasi. Ada beberapa plastik bening ukuran setengah kilo yang berisi sayur kangkung, telor balado dan tempe mendoan. Plastik bening kecil berisi sambal terasi serta tiga bungkus pepes teri dan peda.
“Ini saya yang masak. Saya bawa tiga bungkus biar buat Mbak Bella juga sekalian,” terang Ririn.
Deka hanya menatap bungkusan-bungkusan itu. Ia termasuk orang yang pilah-pilih makanan. Masakan rumah yang bisa ia makan hanya ayam, daging atau nasi goreng kesukaannya. Malahan sehari-hari ia lebih sering mengonsumsi junk food.
“Ayo, Bang ... makan!”
“Eng...”
“Kamu itu katanya calon istri Deka. Malah gak tahu kesukaannya!" sela Bella yang tetiba datang.
"Are you sure? Mana suka Deka sama makanan kayak gitu,” cibirnya seraya tersenyum sinis.
__ADS_1
“Abang ga suka masakan kayak gini?!” lontar Ririn.
“Aku memang jarang masakan rumah, Rin. Paling cuma ayam goreng aja masakan Bi Siti yang mau aku makan,” ungkap Deka.
“Oh, gitu. Ya udah kalau ga suka jangan dipaksa,” sahut Ririn sembari memaksakan senyum. Dalam hatinya sungguh ia merasa kecewa.
Bella tampak tersenyum puas melihat penolakan Deka.
“Makan ini aja, Bang!” Bella menyerahkan box berisi cheese beef burger, white chocolate strawberry pie dan fanta mc float.
“Kamu beli?” lontar Deka.
“Tadi aku pesan delivery. Tapi, aku pesan dua box aja buat aku dan Abang. Aku lupa ga pesan buat Ririn. Maaf ya, Rin.” Bella mengusap lengan Ririn dengan memasang raut penyesalan. Hanya akting.
“Ga papa kok, Bell. Lagipula aku bawa bekal, sayang kalau gak di makan.” Ririn memasang senyum di bibirnya.
“Rin, aku gak papa makan ini aja?” tanya Deka khawatir menyinggung perasaan Ririn. Padahal, calon istrinya itu jelas kecewa. Dasar cowok tidak peka!
“Gak papa. Yang penting Abang harus makan. Nanti bisa masuk angin kalau gak makan." Ririn mengulas senyum.
“Ya udah, aku makan ya. Kamu juga dimakan ya bekalnya.”
Ririn tersenyum lagi. “Iya, Abang.”
“Mau ke mana, Rin?” tanya Deka saat kemudian Ririn berdiri dari duduknya.
“Aku mau kasih ini untuk fotografer dan mbak tukang rias. Sayang ‘kan kalau bekal ini ga dimakan,” sahut Ririn. Setelahnya berlalu meninggalkan Deka dan Bella berdua.
Fotografer dan penata rias tampak senang dan antusias ketika Ririn menawarkan masakannya.
“Wow pepes peda kesukaan aku!” seru fotografer.
“Wow, tumis kangkung dan sambal terasi. Enak nih,” kata penata rias.
Ririn memilih untuk menyantap makan siang bersama fotografer dan penata rias. Membiarkan Bella yang tengah tersenyum menang menyantap burger bersama Deka. Sesekali artis tidak terkenal itu mengusap bibir Deka yang terkena saus.
Dada Ririn bergemuruh menatap keakraban mereka. Sungguh rasanya ingin menggulung usus dua belas jari si Bella. Terus usus dua belas jari itu dipotong sebanyak tujuh jari menyisakan lima jari saja. Begitu bisik setan di hati Ririn.
\=\=\=\=\=\=\=
Sudah dua hari selepas kegiatan foto prawedding itu, Ririn mengabaikan setiap telepon dan chat dari Deka. Hanya chat penting tentang persiapan pernikahan saja yang ia balas, itu pun ia balas dengan satu kata saja, ‘oke’. Memangnya ... RCTI.
Hati Ririn sungguh masih kesal. Yang membuatnya semakin kesal karena Deka tak menyadari kekesalannya.
[Rin, kamu kenapa sih? Kok gak mau angkat telepon aku. Ga balas chat aku. Apa kamu lagi marah sama aku?]
Ririn membaca chat dari Deka lalu membalasnya di hati. Udah tahu lagi marah, pake nanya.
[Kemarin kita dekat bagaikan tangan yang saling bergenggaman. Kini kita jauh bagai tangan yang tak pernah saling menyentuh]
[Oke deh. Kalau lagi marah, aku ga akan ganggu kamu dulu. Kalau udah selesai marahnya, kamu langsung chat aku, jangan lupa ketik ‘I love you’ ya]
Itu adalah chat terakhir yang dikirim Deka. Setelah itu Deka tidak menghubunginya lagi sejak kemarin. Membuat hati Ririn dilema. Antara harus menghubungi Deka duluan atau membiarkannya saja.
Begitulah wanita jika sedang merajuk. Sok jual mahal, giliran pasangannya kabur tanpa kabar baru ia ketar-ketir kalang kabut.
Ririn tengah duduk termenung di ruang tamu, masih menimbang kegalauannya. Lamat-lamat terdengar suara petikan gitar dari halaman rumah.
Awalnya Ririn mengabaikan suara yang didengarnya. Namun kemudian suara petikan gitar itu semakin mendekat ke arah rumahnya. Malah kini diiringi suara seseorang bernyanyi.
“Ada siapa Rin?” tanya Mami menghampiri Ririn di ruang tamu.
__ADS_1
“Enggak tahu, Mih. Pengamen kali,” sahut Ririn.
“Kok sepertinya suara orang nyanyinya kayak deket gitu, kayak di depan pintu. Coba lihat yuk!”
“Yuk!”
Ririn dan Mami beranjak menuju pintu utama. Suara nyanyian itu semakin jelas terdengar. Ririn mengenal lagu itu, sepenggal lagu milik grup band Ungu yang berjudul, Tercipta Untukku.
Aku ingin engkau slalu
Hadir dan temani aku
Di setiap langkah
Yang meyakiniku
Kau tercipta untukku
Sepanjang hidupku
“Kok suaranya mirip ....” gumam Ririn.
“Mirip siapa, Rin?” lontar Mami.
“Ah, tapi ga mungkin banget.” Ririn menyanggah sendiri dugaannya.
Tangan Ririn memegang gagang pintu, sementara tangan satunya memutar kunci. Kemudian ia menekan gagang pintu agar terbuka pintunya.
Ririn terlonjak kaget bahkan hampir pingsan saat melihat sosok yang berdiri di depan pintu tengah bermain gitar sambil bernyanyi.
“Pa-Pasha Ungu,” desisnya. Ia menahan diri untuk tidak pingsan.
Kemudian ...
Gubrak
Mami yang pingsan.
\=\=\=\=\=\=
Sultan mah beda. Pacar ngambek ga usah capek-capek nyanyi sambil genjreng-genjreng main gitar. Datangkan langsung penyanyinya!
.
.
.
.
Terima kasih dukungannya
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1