
Deka terus mengembangkan senyum. Tangan kirinya menggenggam dan mengayun tangan mungil Syad. Sementara di sisi kiri Syad, ada Ririn yang juga menggenggam dan mengayun tangan Syad yang satunya.
Sejak bangun tidur pagi tadi, Syad mulai tantrum, ingin diajak jalan-jalan. Maka Deka kini mengajaknya jalan-jalan dengan ditemani Ririn.
“Rin, tolong temani Bang Deka ngemong Syad ya. Kalau Bang Deka sendiri, aku khawatir, hati ga tenang,” pinta Mimin.
Ririn yang juga mengkhawatirkan Syad lantas mengikuti permintaan Mimin. Menemani keponakan dan om-nya itu jalan-jalan.
Deka mengajak Syad ke salah satu mal di Jakarta. Ririn bersama keluarganya memang sedang berada di Jakarta untuk menghadiri acara syukuran empat bulan kehamilan Mimin. Empat bulan waktu yang sudah dilalui, tak ada perkembangan signifikan bagi hubungan Deka dan Ririn.
Mereka masuk ke salah satu arena bermain anak. Tempat bermain indoor yang menyediakan arena bermain basah dan kering yang unik dan seru.
“Syad, kita main air, yuk!” Deka menuntun Syad menuju area WaterWorks yang memiliki beragam wahana seperti air mancur, kolam air dan kolam pancing mainan.
Syad tampak riang berdiri di samping air mancur kecil bersama Deka. Sementara Ririn hanya memperhatikan om dan ponakan itu bermain air hingga membuat baju mereka basah. Seingatnya Deka tak membawa baju ganti, lalu bagaimana mereka pulang nantinya kalau baju Deka basah begitu. Tanya Ririn dalam hati.
“Ayo sini, Rin!” ajak Deka.
“Enggak, aku di sini aja.” Ririn menggeleng, menolak ajakan Deka.
“Mom, cini!” Syad menghampiri Ririn lalu menarik tangannya. Ririn tentu tak mampu menolak ajakan Syad.
Satu jam mereka bermain air, membuat pakaian mereka basah. Meski tidak sebasah orang yang habis berenang.
“Rin, aku tinggal dulu sebentar, ya. Kamu jagain Syad dulu, ga papa ‘kan?” lontar Deka.
“Bang Deka mau ke mana?”
“Nyari baju. Memang kamu mau, pulang dengan baju basah begitu?!”
Deka sudah melenggang dua langkah ketika kemudian Ririn menyerunya. “Bang!”
Deka memutar tubuhnya untuk menjawab seruan Ririn. “Ya.”
“Emm, jangan lama-lama, Bang!” pinta Ririn.
Deka menjawab dengan gerakan tangan membentuk simbol “oke”, mata sebelah dipejamkan dan mulut setengah terbuka. Membuat Ririn menjadi jengah sendiri.
Dua puluh menit setelahnya, Deka kembali dengan menentang dua paper bag.
“Ayo, Jagoan. Udahan mainnya. Kita ganti baju sekarang,” ujarnya.
“Da mau." Syad menolak ajakan Deka karena masih ingin bermain.
“Nanti habis ini kita beli mainan,” bujuk Deka. Tidak banyak drama, bujukannya langsung disambut riang oleh Syad.
“Syad mau ganti baju sama daddy apa sama Mom?” Deka berjongkok menanyai Syad.
“Biar sama saya aja, Bang.” Ririn yang menyahut.
Deka menyerahkan salah satu paper bag kepada Ririn. “Ini baju kamu dan Syad.”
“Makasih,” ucap Ririn seraya menerima paper bag dari tangan Deka.
“Ayo, Sayang.” Ririn menggendong Syad menuju toilet untuk ganti baju.
Syad, beruntung kamu. Udah dipanggil sayang, diajakin ganti baju bareng lagi. Gumam Deka dalam hati.
Di dalam kamar mandi, Ririn mengeluarkan isi paper bag. Ia tersenyum saat melihat isinya. Ada dua potong kaos sweater warna putih bergambar Doraemon, satu rok jeans panjang bahan denim model payung dan satu celana panjang jeans anak bahan denim.
Ririn lebih dulu mengganti baju Syad. Setelahnya barulah ia mengganti bajunya.
“Syad, baju kita kembar,” ujar Ririn.
__ADS_1
Syad tampak riang dan senang saat mengetahui baju yang dikenakannya bergambar Doraemon dan sama dengan tantenya. Selesai mengganti baju, Ririn keluar dari toilet.
“Suka bajunya?” tanya Deka. Bibirnya tersenyum memandang Ririn dengan pakaian pilihannya. Pakaian apa saja akan terlihat cantik jika Ririn yang memakainya. Begitu kesimpulan hati Deka.
“Suka,” jawab Ririn jujur. Hal yang berbau Doraemon pasti ia akan suka.
Deka tersenyum senang mendengar jawaban Ririn.
“Tunggu ya, aku ganti baju dulu,” ujarnya lalu pergi ke toilet untuk mengganti baju. Sementara Ririn dan Syad duduk menunggu di tempat Deka menunggunya tadi.
Sepuluh menit setelahnya Deka keluar dari toilet. Pakaiannya sudah berganti. Celana chino yang dikenakannya berganti dengan celana jeans denim. Kemeja yang dikenakannya berganti dengan kaos sweater bergambar Doraemon.
“Yeay, cama cama. Daddy cama, Mom cama, Cad cama,” celoteh Syad sambil menunjuk-nunjuk kaos yang dikenakan Deka. Sementara Ririn tergugu, tak tahu harus berkata apa. Satu sisi hatinya merasa malu, namun satu sisi hati yang lainnya merasa suka.
“Pak Deka,” sapa seorang pria paruh baya yang berjalan menghampiri Deka.
“Pak Hasan.” Deka dan pria yang adalah salah satu kliennya itu saling berjabat tangan hangat.
“Wah, Pak Deka ini luar biasa, ya. Masih muda, sukses dan penyayang keluarga. Ini pasti istri dan anak Pak Deka ‘kan?” tukas Pak Hasan.
“Eh, eu ....” Deka bingung mau menjawab apa. Ia melirik Ririn yang tampak jengah dengan tebakan Pak Hasan.
Duh, Rin. Ini orang ke- 26 yang berpikiran seperti itu. Selama ini, kamu ngitungin juga ga sih? Batin Deka.
“Udah gitu, kompak lagi. Bajunya seragaman Doraemon. Pokoknya judulnya happy family,” potong Pak Hasan.
“Ah, Bapak bisa aja.” Deka menjeda sebentar ucapannya dan melirik ke sekitarnya. “Pak Hasan ke sini sama siapa?” tanyanya sekedar basa-basi.
“Tuh, sama cucu di sana,” tunjuk Pak Hasan. Deka melirik pada yang ditunjuk Pak Hasan.
“Pak Hasan maaf kami duluan ya. Kami sudah dari tadi di sini. Pak Hasan juga kakek yang baik nih .... “ Deka menepuk akrab pundak Pak Hasan. “penyayang cucu,” lanjutnya.
“Harus itu, Pak Deka. Pria sukses adalah pria yang menyayangi istri, anak dan keluarganya.” Pak Hasan balas menepuk pundak Deka.
Tidak ada obrolan panjang setelahnya karena Syad mulai rewel tak sabar ingin dibelikan mainan.
Sebelum pergi ke toko mainan, Deka mengajak Ririn dan Syad untuk masuk kios photobooth. Kekompakkan mereka ini perlu diabadikan. Begitu pikirnya.
Ririn yang belum pernah masuk dan melakukan foto box patuh saja pada ajakan Deka.
“Ayo, kita foto!” seru Deka.
“Hah, apa? Foto?” sahut Ririn.
“Iya, jangan lupa senyum,” ucap Deka sambil meletakkan telunjuknya di pipi kanan dan kiri.
“Yey yey yey.” Syad berceloteh riang.
“Ok, siap!” Deka merengkuh Syad dan Ririn. Memposisikan Syad di tengah, Deka dan Ririn mengapit bocah menggemaskan itu.
“Satu ... dua ... tiga ... say cheese.”
Cekrek ... cekrik ... cekrek ... cekrik
Setelahnya keluar deretan foto dengan berbagai macam pose.
“Rin, simpan ini ya! Untuk kenang-kenangan. Ini buatmu!” Deka menggenggamkan lembaran foto ke tangan Ririn, tanpa menunggu persetujuan Ririn.
“Yang ini, buatku,” lanjutnya. Ia menyimpan beberapa foto itu di dompetnya.
Setelah memastikan Ririn telah memasukkan fotonya ke dalam tas, baru ia melanjutkan tujuan selanjutnya. Berburu mainan untuk Syad.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=
Langit jingga telah memudar berganti dengan gelap yang mulai menyapa. Mobil tipe MPV milik Abah yang dikemudikan Dewa berhenti di sebuah resto di kawasan Tangerang. Dewa dan Mimin memilih untuk ikut pulang bersama Abah, Mami dan Ririn. Sebab sudah seminggu mereka menginap di Jakarta dan tak bisa meninggalkan toko mereka terlalu lama.
Setelah memesan menu makanan, mereka menunaikan salat Magrib di musala yang disediakan di resto tersebut. Selepas salat, mereka kembali ke meja yang mereka tempati. Tidak menunggu lama menu pesanan mereka tiba.
Mereka mulai menyantap menu makanan yang telah tersedia di meja. Sesekali tercipta obrolan hangat dan candaan pada Syad.
“Mau ke mana, Rin?” tanya Abah karena di tengah aktivitas makan tiba-tiba Ririn berdiri.
“Mau ke toilet dulu, Bah,” sahut Ririn.
“Anter atuh A, takut Ririn nyasar,” ujar Mimin pada Dewa.
“Ih, ga usah. Memangnya Syad masih harus dianter,” sahut Ririn.
Ia menghampiri salah seorang pelayan yang tengah menghidangkan menu di meja sebelah. “Mbak, toilet di mana?” tanyanya.
“Toilet lurus aja, terus belok kiri. Paling ujung di sana ada toilet,” terang pelayan.
“Oh, oke. Makasih, Mbak.”
Ririn beranjak menuju toilet sesuai arahan pelayan tadi. Berjalan lurus lalu di ujung pertigaan berbelok kiri. Ia yang tengah mengayun langkah santai seketika tersentak saat matanya menangkap bayangan seorang pria yang sangat dikenalnya.
Pria masa lalu yang telah banyak menghunjamkan luka dalam hidupnya.
.
.
.
.
Terima kasih dukungannya
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1