
Mata Ririn terbelalak mengeja tiga kata itu. “HIV? Abang positif HIV?”
Deka mengangguk lemah. “Iya, Rin. Maafkan aku. Hiks hiks hiks.” Tangisnya pecah seketika.
Kekuatan yang ia pupuk tadi seakan ambruk melebur bersama derai air mata yang tumpah membasahi wajah tampannya.
Pria pantang menangis. Begitu kalimat Papa yang paling diingatnya. Namun, tidak salah jika kali ini ia menangis. Ini adalah tangisan tentang penyesalan. Penyesalannya sebagai seorang pendosa.
Ririn pun sama terpukulnya. Ia tidak menyangka Deka terinfeksi virus berbahaya seperti HIV. Hatinya pernah menduga-duga tentang penyakit Deka, tapi bukan penyakit itu yang diduganya.
Ririn mencakup pipi Deka dengan kedua tangannya. Ditatapnya pria tampan yang telah membuat mati rasa trauma hatinya, telah menghidupkan perasaan cinta pertamanya, serta meninggikan derajatnya dengan menikahi.
“Abang jangan bersedih, ada saya di sini,” ucapnya lirih. Suaranya terdengar serak menahan tangis. Berusaha sekuat mungkin untuk tidak ikut menumpahkan air mata di depan lelakinya.
Deka mengangkat wajahnya, menatap lekat pada bola mata bening milik Ririn. “Kamu ga akan meninggalkan aku setelah mengetahui keadaanku seperti ini?” tanyanya lirih.
“Saya akan selalu mendampingi Abang, apapun keadaannya,” jawab Ririn tulus diiringi seulas senyum. Tangannya mengusap lembut bekas jejak air mata Deka.
Mendengar jawaban Ririn, Deka langsung menghambur memeluknya. Ucapan yang keluar dari bibir wanita yang disayanginya, tak pelak membuat Deka semakin terisak. Semakin meninggikan rasa yang dimilikinya. Semakin sayang dan semakin cinta pada bidadari pilihannya.
Ya Allah terima kasih telah menyandingkan seorang bidadari luar biasa dengan pria pendosa seperti diriku. Ucapnya penuh syukur di dalam hati.
“Makasih, Sayang. Hiks hiks hiks,” ucapnya dengan isak tangis yang belum mereda.
Ririn mengusap lembut punggung Deka yang tengah memeluknya. Berusaha menenangkan lelakinya. “Abang tenang ya, yang penting Abang harus semangat. Nanti kita konsultasi ke dokter. Pasti ada jalan keluarnya,” tuturnya.
Deka melepaskan pelukannya. Tangisnya agak mereda. Reaksi Ririn membuatnya lebih tenang. Hal yang ditakutkan tidak terjadi. Ia sempat berpikir jika Ririn akan menolak atau meninggalkan setelah mengetahui kondisinya. Yang terjadi justru kebalikannya, Ririn menerima dan berusaha menenangkannya.
“Dengan keadaanku seperti ini apa kita bisa menjalankan hubungan pernikahan yang normal?” tanya Deka seraya menatap lekat bola mata Ririn yang terpancar ketulusan.
“Saya enggak tahu, tapi yakinlah setiap masalah insyaallah ada jalan keluarnya.” Ririn mengusap pipi Deka. “Nanti kita ke dokter ya,” lanjutnya kemudian.
Deka mengangguk setuju. Selama ini ia enggan pergi ke dokter karena memilih pasrah dengan keadaan. Yang ia tahu virus tersebut tidak ada obatnya, lalu untuk apa pergi ke dokter. Namun, benar kata Ririn, mereka perlu pergi ke dokter untuk berkonsultasi. Mungkin saja ada saran medis tentang hubungan perkawinan bagi penderita HIV.
“Iya, kita ke dokter secepatnya,” sahut Deka.
“Sejak kapan Abang terinfeksi virus HIV ini?” tanya Ririn.
“Aku baru tahu terinfeksi virus ini saat dua minggu sebelum pernikahan. Saat itu aku sempat berniat ingin membatalkan pernikahan kita, karena aku mengkhawatirkan kamu. Khawatir tidak dapat membahagiakan kamu. Tapi Dewa melarang niat aku untuk membatalkan pernikahan kita,” ungkap Deka.
Ririn mendengarkan dengan saksama penuturan Deka.
“Saya boleh bertanya, Bang?”
“Boleh. Tanya aja, silakan.”
“Kapan terakhir kali Abang melakukan hubungan .... “ Ririn ragu untuk melanjutkan kalimatnya. "dengan wanita,” lanjutnya lirih dan ragu.
Deka paham ke mana arah pertanyaan Ririn, meskipun Ririn menggantung kalimatnya. Sebenarnya ia tidak menyukai pertanyaan yang dilontarkan Ririn. Pertanyaan itu seakan mengangkat kembali kotoran yang sudah ia siram bersih. Namun, ia memahami dalamnya hati Ririn. Sebagai seorang istri sang mantan cassanova, wajar kiranya Ririn bertanya hal itu.
“Terakhir kali itu ... sebelum aku datang ke kota Serang, sekitar ...." Deka berusaha mengingat waktu kejadiannya bersama Clara, mantan pacar Dewa. Hubungan yang di luar kendalinya." sekitar empat tahun yang lalu," sambungnya.
“Berarti sudah lama, dong. Dan Abang baru terinfeksi sekarang?”
__ADS_1
“Iya.”
Ririn membuka kembali surat hasil laboratorium itu dan membaca ulang dengan cermat. Fokusnya tertuju pada kop surat, ia mengerutkan kening saat membaca nama rumah sakit yang tertera di sana.
“Kok nama rumah sakitnya kayak nama toko ya ... Rumah Sakit Makmur Jaya,” ujar Ririn.
“Makmur Jaya? Aku waktu itu periksa di Rumah Sakit Harapan Sehat,” terang Deka.
“Nih, coba baca!" Tangan Ririn terulur menyerahkan surat itu. Deka mengambilnya dari tangan Ririn.
“Oh iya, kok Makmur Jaya, sih?” Deka mengerutkan keningnya.
“Kemarin aku hanya fokus ke hasil labnya, enggak memperhatikan kop surat dan nama rumah sakitnya," terang Deka.
Ia terdiam sejenak untuk berpikir, lalu meraih ponsel di atas nakas. “Kita cari Rumah Sakit Makmur Jaya itu di mana,” ucapnya.
Ia mulai mencari petunjuk dengan browsing mbah gugel.
“Enggak ada rumah sakit ataupun laboratorium dengan nama Makmur Jaya,” ujarnya usai mencari petunjuk lewat internet.
“Memangnya Abang ga inget periksanya di lab mana?”
“Inget, dong. Rumah sakitnya namanya Rumah Sakit Harapan Sehat, dan aku cek darah di laboratorium rumah sakit tersebut. Harusnya nama lab-nya Harapan Sehat juga ‘kan?”
“Iya, ya. Kok aneh.”
“Tunggu, coba aku tanyakan ke Bella dulu,” ujar Deka setelah beberapa jenak terdiam.
“Iya.”
“Jadi Abang lebih memilih untuk curhat sama si Bella daripada curhat sama saya,” ucap Ririn sebal sembari melipat tangan di dada.
“Bukan begitu, aku bukannya sengaja curhat sama dia. Jadi ceritanya, aku ‘kan ke rumah sakit ditemani Bella. Terus dokter nyuruh aku cek darah. Setelah cek darah aku pulang karena kepalaku pusing banget, ga kuat. Nah, jadi Bella yang nunggu dan ngambil hasil lab-nya. Sorenya Bella ke rumah ngasih ini. Pas aku baca hasil labnya, aku syok luar biasa, dong. Karena Bella sedang ada bersamaku, jadi akhirnya Bella tahu masalahku,” terang Deka panjang lebar.
Ririn melepas tangannya yang terlipat di dada, lalu meraih ponsel Deka. “Abang ga usah telpon Bella! Saya bukannya mau suudzon tapi saya memang suudzon sama dia. Kalau nama rumah sakit ini palsu, berarti hasil lab ini pun palsu. Ini cuma akal-akalan si bule Belong itu,” tukas Ririn.
“Untuk apa Bella melakukan itu? Apa motifnya? Dia sahabatku dari kecil loh?”
“Karena Bella ga suka Abang menikah sama saya.”
“Masa sih?”
“Terserah Abang kalau ga percaya!” Ririn melipat tangan di dada lagi.
“Iya, Sayang. Nanti abang cek darah ulang aja, biar yakin. Tapi sekarang aku mau telepon Bella dulu, minta penjelasan dari dia.”
Deka menghubungi nomor Bella. Namun sampai tiga kali panggilan, tidak ada jawaban dari wanita bule itu.
“Sial, ga diangkat-angkat!” geram Deka. Kemudian ia teringat suatu hal. “Oh iya, dia ‘kan lagi dugem.”
“Dari mana Abang tahu kalo dia lagi dugem?!”
“Eng ... Soalnya tadi Bella sempat ngajak aku.”
__ADS_1
“Terus Abang ikut dugem?” Mata Ririn melotot menatap Deka.
“Hampir ... tapi ga jadi, terus langsung pulang deh, begitu ingat sama bidadariku yang cantik,” rayu Deka.
“Hampir? Berarti Abang sempat dugem sama dia, gitu?!" tukas Ririn.
"Enggak, aku belum dugem. Maksudnya, aku itu baru nyampe diskotik langsung pulang lagi. Kalau kamu enggak percaya, sok tanya Fery. Dia saksinya. Lagian kalau aku ikut dugem, jam segini ini belum pulang," elak Deka.
"Sebenarnya saya kesal . Tapi, karena Abang bawa ini .... ” Ririn meraih buket bunga mawar yang tergeletak di atas kasur, dekat dengan posisinya duduk. “saya kurangi deh rasa kesalnya," lanjut Ririn. Matanya berbinar menatap bunga mawar nan indah.
Cup ...
Deka mencium pipi Ririn. “Makasih sayang,” ucapnya.
Dikasih bunga aja udah seneng, apalagi dikasih gelang berlian. Entar aja deh ngasih gelangnya, nunggu dia ngambek season 3. Batinnya.
"Abang tahu ga?"
"Enggak. Kan kamu belum ngomong."
"Saya tuh sempat berpikir Abang mengidap suatu penyakit, tapi bukan penyakit ini."
"Kamu mengira aku sakit apa?" Deka mengerutkan kening.
"Karena Abang ga pernah menyentuh saya. Jadi, saya nebaknya Abang itu im-po-ten," tukas Ririn.
"Apa??!" Mata Deka bulat membola mendengar tuduhan Ririn.
Tuduhan yang menyakitkan. Sembarangan bilang im-po-ten. Tunggu saja tanggal mainnya. Hahahaha. Gumam Deka dalam hati.
.
.
.
.
.
Terima kasih dukungannya.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1