Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Bulan Madu Berdarah


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Deka mewujudkan mimpi Ririn untuk pergi ke Takaoka, kota kelahiran Doraemon yang terletak di Prefektur Toyama, Jepang.


Takaoka merupakan kota kelahiran penulis Doreamon, yakni Fujiko F Fujio. Di kota ini, wisatawan dapat melihat Doraemon di berbagai sudut kota. Mulai dari museum, kereta, taman, patung di pinggir jalan hingga Doraemon Post semuanya dipenuhi oleh karakter Doraemon.


Takaoka adalah surganya Doraemon bagi pecinta Doraemon. Maka sejak kecil, Ririn memimpikan untuk datang ke sana.


Bertolak dari Bandara Soekarno-Harta menuju Toyama, menghabiskan waktu yang cukup lama ternyata. Kurang lebih delapan belas jam waktu perjalanan yang ditempuh untuk sampai ke Bandara Toyama dengan satu kali transit di Bandara Haneda, Jepang.


Deka memilih penerbangan dengan kelas bisnis menggunakan maskapai penerbangan nomor satu di Indonesia. Harga tiket penerbangannya saja lebih dari empat puluh juta untuk seorang.


"Ya Allah, Bang. Ongkos kita berdua ini kalau dibelikan tanah di Kampung Cibening, udah dapat berapa meter tuh, cukup lah tanahnya untuk membangun rumah." Reaksi Ririn saat mengetahui harga tiket perjalanan menuju Toyama.


"Uang itu tidak dapat mengukur kebahagiaan. Mau mahal atau murah, yang penting kita bahagia. Yang pasti ukuran bahagia itu mahal, bahkan nilai uang sebanyak apapun tidak dapat mengukur nilai kebahagiaan. Maka ketika kita punya banyak uang jangan pelit-pelit untuk menggunakannya, apalagi untuk mengejar kebahagiaan," tutur Deka.


Bang Deka bisa ngomong gitu, karena dia horang kayah. Uang memang tidak bisa menciptakan kebahagiaan, tetapi uang adalah sarana untuk mencapai kebahagiaan. Kalau kere kayak mak othor ini bagaimana, Bang? (curhat Mak othornya).


Dua sejoli itu sampai di Bandara Toyama pukul 18.10 waktu setempat. Deka sengaja memilih penerbangan kemarin malam saat berangkat dari Jakarta, supaya di sore hari mereka telah sampai di Toyama.


"Wow, ini beneran Jepang, Bang?" Mata Ririn membulat dan berkaca-kaca. Tidak menyangka akhirnya ia bisa menginjakkan kaki di negara impian yang sangat ingin dikunjunginya.


"Iya, dong, Sayang. Seneng ga?" lontar Deka.


"Seneng banget. Makasih, Abang." Ririn memeluk pinggang Deka.


"Ucapan makasihnya simpan untuk nanti malam, oke!" Deka mencubit mesra pipi Ririn.


"Ish, Abang. Apa gak cape, habis perjalanan jauh. Sampe tepos nih pan-tat," sahut Ririn.


"Makanya kita habis ini langsung ke penginapan aja ya. Besok lagi jalan-jalannya."


"Kita berapa hari di sini?"


"Sepuluh hari."


"Asyik."


"Kita duduk di sana dulu, yuk!" Deka menunjuk ruang tunggu bandara.


"Ayo!"


Mereka berjalan bergandengan menuju ruang tunggu bandara. Melewati hiruk pikuk manusia yang ingin melakukan perjalanan ke luar ataupun yang baru tiba di kota ini seperti pasangan Deka dan Ririn.


"Abang bisa berbahasa Jepang?" tanya Ririn setelah mereka duduk di ruang tunggu.

__ADS_1


"Bisa sih enggak, tapi sedikit tau untuk hal-hal yang umum," jawab Deka sembari sibuk dengan ponselnya, seperti sedang berkomunikasi dengan seseorang lewat chat.


"Terus nanti kita ngomongnya bagaimana?"


"Nanti 'kan ada tour guide yang mendampingi. Tour guide-nya juga pakai bahasa Indonesia kok."


"Oh, gitu."


Sesaat kemudian pandangan mereka jatuh pada seorang wanita Jepang yang terlihat sedang berjalan menuju ke arahnya. Langkah wanita itu pun kini semakin mendekat ke tempat keduanya duduk.


"Selamat sore, dengan Mister Radeka Bastian?" tanya wanita Jepang itu dengan menggunakan bahasa Indonesia.


"Ya, benar," sahut Deka.


"Saya Emiko. Tour guide yang akan mendampingi Anda selama berlibur di Jepang." Wanita bermata sipit dengan rambut sebahu itu memperkenalkan dirinya.


"Oh, iya." Deka menyalami Emiko. Emiko tersenyum ramah menyambut uluran tangan Deka.


"Kenalkan ini istri saya," ujar Deka memperkenalkan Ririn pada Emiko.


Ririn tersenyum hangat dan mengulurkan tangannya. "Saya Ririn," ucapnya.


Emiko menyambut uluran tangan Ririn dengan tersenyum ramah. "Saya Emiko. Senang berkenalan dengan Anda," ucapnya.


Kemudian Emiko turut duduk bersama mereka dan menjelaskan gambaran singkat tentang tempat-tempat wisata yang nanti akan dikunjungi dan dipandunya mulai besok.


"Sama-sama Mister Deka, Miss Ririn. Dengan senang hati, saya akan menemani perjalanan wisata selama berlibur di kota ini," sahut Emiko.


"Apakah sekarang Mister Deka dan Miss Ririn akan langsung ke penginapan? Mari saya antar," tawar Emiko.


"Kami ingin makan dulu, Miss Emiko. Apakah ada rekomendasi restoran di dekat sini yang berlabel halal?"


"Baiklah, Mister. Saya akan antar Anda ke restoran halal."


"Terima kasih."


"Sama-sama."


Deka dan Ririn pergi ke restoran berlabel halal dengan ditemani Emiko. Mengisi perut yang sudah keroncongan sejak tadi.


Salah satu hal penting yang dipersiapkan kala berkunjung ke negara lain adalah dengan mencari referensi makanan sejak di Indonesia. Apalagi jika yang dikunjungi adalah bukan negara islam, kita harus memastikan kehalalan makanannya. Begitu pun dengan Deka dan Ririn, agar lebih aman mereka memilih menu berbahan ikan atau vegetarian.


Setelah selesai makan, mereka pergi ke penginapan. Mereka memilih menginap di sebuah rumah khas Jepang yang sengaja disewakan untuk turis yang datang ke kota ini.

__ADS_1


Menginap di hotel, sudah menjadi hal biasa bagi Deka. Dalam setiap kunjungan ke Jepang, ia selalu menginap di hotel. Maka, agar lebih terasa bernilai dan menjadi pengalaman liburan yang tak dapat dilupakan, ia sengaja menyewa sebuah rumah unik khas Jepang untuk menghabiskan bulan madu bersama istri tercinta.


Sampai di penginapan, Ririn langsung mandi. Tubuhnya terasa sangat lengket karena perjalanan yang memakan waktu berjam-jam. Tentu saja sempat ada drama perdebatan tentang mandi bersama seperti hati kemarin. Namun, Ririn kekeh untuk tidak menuruti kemauan Deka.


Setelah Ririn selesai mandi, kini Deka yang sudah siap untuk mandi. Sebelum benar-benar masuk kamar mandi, ia sempatkan dulu untuk menggoda Ririn. Memeluk, mengecup, dan sebagainya.


"Ish, Abang! Udah sana buruan mandi! titah Ririn.


"Nanti habis mandi sepuluh ronde ya," sahut Deka seraya mengerlingkan mata. Ririn hanya tersenyum menanggapi godaan suami tampannya.


"Si Abang nih minumnya apa sih? Kok maunya begituan mulu," gumam Ririn saat Deka telah masuk ke kamar mandi.


Seperti biasanya pria tampan perfeksionis itu menghabiskan waktu lebih lama di kamar mandi dibanding Ririn. Selesai mandi, Deka keluar dari kamar mandi. Tubuhnya terasa segar, dan harum maskulin yang menguar kian menambah pesonanya.


Dengan tubuh yang masih dililit handuk sampai ke pinggang, ia mendekati Ririn yang tengah duduk selonjor di atas kasur sembari membaca majalah terbitan Jepang. Ia semakin merapatkan posisinya, lebih dekat dengan Ririn. Lalu, menggelitiki telinga Ririn dengan sapuan bibirnya. Memberi kode tersirat, mengajak wanita cantik itu untuk ... beribadah halal.


"Abang, tunggu ih!" cegah Ririn sebelum Deka semakin liar dalam aksinya.


"Ada apa, Sayang?"


"Saya ...."


Deka langsung membungkam bibir Ririn sebelum Ririn menyelesaikan kalimatnya.


"Abang, nanti dulu ih!" Ririn mendorong tubuh Deka.


"Kenapa sih, Yang. Mumpung aku lagi semangat nih."


"Tapi, saya ...."


"Tapi kenapa?"


"Saya lagi datang bulan, Bang!"


"Apa?!"


Hancur sudah dunia perkasuran.


.


.


.

__ADS_1


.


Bulan madu dulu aja ya, kasihan Bang Dekanya.


__ADS_2