
Dua minggu kemudian, keluarga Deka datang untuk melamar Ririn. Acara lamaran dilaksanakan secara sederhana seperti keinginan Ririn. Hanya pertemuan dua keluarga saja. Keluarga Deka dan keluarga Ririn.
Ririn tampil cantik mengenakan gamis brukat warna abu-abu, dipadukan dengan pasmina warna yang sama. Sementara Deka tampak gagah dengan kemeja satin warna abu-abu, sama seperti pakaian yang dikenakan Ririn.
Sepanjang acara Deka tak henti-hentinya memandang paras cantik calon istrinya. Membingkai wajah Ririn dengan tatapannya. Penampilan Ririn yang berjilbab membuatnya sama persis, sangat mirip dengan Mimin.
Setelah menelisik lebih lama, ternyata ada sedikit yang dapat membedakan Ririn dan Mimin yaitu keberadaan tahi lalat. Ririn memiliki tahi lalat di atas alis sebelah kanan, sedangkan Mimin seingatnya tak mempunyai tahi lalat itu.
“Pak Haji, kami datang lagi ke sini. Lagi-lagi untuk melamar putri Pak Haji. Sepertinya dunia anak-anak saya ini berputar di keluarga Pak Haji saja,” ujar Pak Satya. Yang disambut tawa oleh semuanya.
“Masyaallah. Sepertinya Allah menakdirkan supaya hubungan keluarga kita sangat dekat dan erat melalui anak-anak kita,” sahut Abah.
“Putrinya Pak Haji cantik-cantik sih. Jadinya, anak-anak kami kepincut,” timpal Bu Dewi.
“Alhamdulillah. Semoga hubungan anak-anak kita langgeng, selamanya. Amin," ujar Mami.
“Amin,” sahut semuanya.
“Deka, kamu maunya menikahnya kapan?” tanya Pak Satya, papahnya Deka.
Yang ditanya malah tak mendengar, karena sedang asyik memandang wajah wanitanya.
“Deka!” seru Bu Dewi, mamahnya Deka.
Deka masih belum menyahut, masih terhanyut dengan dunianya. Dunia dimana hanya ada Ririn di sana, yang lain hanya bayangan saja.
Ririn yang dipandangi balas menatap Deka. “Dipanggil tuh,” kata Ririn melalui isyarat mata.
“Deka!!” seru Mama dan Papa kompak.
“Eh, iya. Apa, Mah, Pah?!” Deka gelagapan karenanya.
“Kamu mau menikahnya kapan? Tanggal berapa, bulan apa? Udah diobrolin berdua belum sama Ririn?” lontar Mama.
“Kalau bisa secepatnya, Mah.” Deka menggaruk kepalanya. “Kalau bisa sekarang, sekarang aja, Mah,” sambungnya.
Semua tertawa mendengar ucapan Deka.
“Maafkan anak kami ya, Pak Haji. Karena Deka ini tengah berada dalam periode keemasan saat tak ada lagi keinginan yang lebih besar di hidupnya sekarang kecuali menikah," kelakar Papa.
Semua tertawa lagi, tak terkecuali Ririn.
“Ciye ciye pasti Bang Deka udah ngebayangin Ririn dasteran dan Bang Deka sarungan tinggal serumah ya? Makanya ga tahan udah kebelet pengen cepet-cepet. Hihihihi,” kelakar Dewa yang tiba-tiba saja muncul. Ia yang berada di ruang keluarga rupanya menguping obrolan di ruang tamu.
Eh, tau aja si dia. Tapi, jangan diomongin di depan orangtua juga kaleee. Dasar adik kurang asem! Gumam Deka dalam hati.
“Ih, Aa!” Mimin menarik lengan Dewa untuk kembali ke tempatnya.
__ADS_1
“Maaf ya, Bang Deka,” ucap Mimin yang tak enak hati melihat raut jengah Bang Deka akibat kelakaran suaminya. "Ayo, dilanjut!"
“Begini saja kita berusaha untuk secepatnya melaksanakan pernikahan Deka dan Ririn. Kira-kira satu bulan apakah cukup untuk mempersiapkan acara pernikahan ini?” lontar Papa.
“Satu bulan ga akan cukup, Pah. Bulan ini pesanan butik mama banyak banget. Dan ada beberapa pesanan indent untuk bulan depan. Dua bulan lagi aja deh acara pernikahannya,” sahut Mama.
“Dua bulan? Lama amat, Mah!” protes Deka. Ririn hanya meringis melihat aksi protes Deka.
Tanpa aba-aba, Dewa tiba-tiba muncul lagi.
"Iya, Mah, kasian Bang Deka. Kelamaan kalau dua bulan. Padahal Bang Deka itu pengen nikah muda loh, Mah. Sayang ... dia sudah tidak muda lagi,” ujar Dewa sembari geleng-geleng kepala dan melipat tangan di dada.
"Ish." Deka berdesis dalam hati melihat tingkah adiknya itu.
Ririn tampak menahan senyum mendengar ucapan Dewa.
Dasar adik kurang asem. Ngatain tidak muda lagi. Bener sih, tapi ga usah dibilangin gitu kaleee. Geram Deka dalam hati.
Benar yang dikatakan Dewa. Usia Bang Deka sekarang 31 tahun, dan baru akan menikah. Sementara Dewa menikah saat usianya 24 tahun. Kini saat menginjak usia 28 tahun ia akan memiliki tiga anak, karena di kehamilan kedua Mimin dipastikan mereka akan memiliki anak kembar. Begitu menurut hasil pemeriksaan dokter.
Setelah berdiskusi akhirnya diputuskan pernikahan Deka dan Ririn akan dilaksanakan satu setengah bulan lagi. Akad nikah akan dilaksanakan di Serang. Sementara resepsi akan dilaksanakan sehari setelahnya di Jakarta.
Satu setengah bulan dipastikan akan terasa seperti satu setengah abad bagi Deka.
*****
Deka tengah berkunjung ke rumah Ririn untuk membicarakan tentang persiapan pernikahan mereka. Mama menyuruhnya untuk menunjukkan foto contoh dekorasi pelaminan pengantin dari sebuah wedding organizer.
“Kamu suka yang mana, Rin?” tanya Deka.
“Emm, terserah Abang aja,” jawab Ririn sembari melihat-lihat foto contoh dekorasi pelaminan.
“Terserah kamu, dong! Kamu ga punya impian pernikahan yang seperti apa gitu?”
“Ada sih impian, tapi kayaknya susah deh.”
“Apa? Bilang aja?”
“Bisa ga ya kalau pelaminannya mengusung konsep Doraemon?” Ririn menatap Deka yang tampak sedang berpikir. “Eh, tapi ga usah deh. Tamunya nanti relasi bisnis Abang ‘kan? Nanti Abang malu.”
“Ga papa. Ide bagus itu! Seru tuh kayaknya. Unik dan menarik. Nanti abang tanyakan sama pihak WO-nya, gimana?"
Ririn mengangguk. “Iya, Bang.”
Ririn tersenyum manis menatap Deka. Deka balas menatapnya dengan menampilkan senyum yang tak kalah manisnya. Yakin deh gula aja kalah sama manisnya senyum calon pengantin ini.
“Rin.”
__ADS_1
“Hemm.”
“Makasih ya, karena udah menerima aku.”
“Malah saya yang merasa jadi cinderella. Dipersunting pangeran Radeka Bastian.”
“Ya Allah, aku ini cuma pangeran ... kodok, Rin.”
“Hehehehe.” Ririn tertawa mendengar kelakaran Deka.
“Bang. Boleh saya minta sesuatu?”
“Boleh. Bilang aja. Minta apa aja pasti akan kukabulkan. Aku juga punya kantong ajaib kayak Doraemon, loh. Hehehe.”
Iya, sih Bang Deka ‘kan Sultan.
Ririn menatap Deka intens. “Jangan pernah sakiti saya, Bang! Ibarat kaca, hati saya ini sudah retak. Sekali saja tersenggol pasti akan jatuh dan hancur berkeping-keping. Jadilah lem kaca yang bisa merekatkan retak-retak yang telah tercipta. Jadilah tangan yang kokoh dan hati-hati yang bisa membawa dan menjaganya agar tidak jatuh lagi dan terus hancur," pinta Ririn.
“Kata ustaz, jika seorang muslim berjanji ucapkan insyaallah.” Deka menjeda ucapannya.
“Insyaallah, Rin. Aku tidak akan pernah menyakitimu. Dan boleh aku minta sesuatu juga padamu?”
“Apa?”
“Setialah padaku. Dan bahagialah bersamaku,” ucap Deka sungguh-sungguh. Tak tampak raut gombal di wajahnya.
Ririn tersenyum. Hatinya juga tersenyum. Bulan juga tersenyum. Bintang juga tersenyum. Teh Yeni juga tersenyum.
Aku meleleh, Bang. Sungguh aku terDeka-Deka padamu.
.
.
.
.
Terima kasih dukungannya
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1