Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Cemas


__ADS_3

Deka pulang lebih awal, mengikuti saran Fery. Usai istirahat makan siang, ia segera meninggalkan kantor. Mampir ke sebuah toko bunga terlebih dahulu untuk membeli bunga.


Mungkin saja Ririn menyukai bunga. Lagipula, suka atau tidak seorang perempuan dengan bunga, jika pasangannya menghadiahkan bunga pasti hatinya akan berbunga-bunga. Nah lo, penuh dengan bunga ‘kan kalimatnya.


Buket mawar merah yang menjadi pilihan Deka. Mawar merah adalah bunga yang ideal untuk mengekspresikan cinta, melambangkan kesetiaan antara dua kekasih. Begitulah perasaan dan pengharapan Deka. Ia mencintai Ririn dan berharap Ririn selalu setia padanya.


Setelah dari toko bunga, hati Deka merasakan gamang. Masa iya hanya memberikan bunga, apa kata dunia. Akhirnya, ia memutuskan mampir ke toko perhiasan. Rasanya kurang lengkap seorang crazy rich tidak menggelundungkan deretan angka nol dari saldo rekeningnya.


Deka memilih sebuah gelang emas mewah keluaran rumah mode Perancis yang sangat terkenal, berlogo huruf D “Dibor”.


Ririn pasti akan senang. Ia pasti akan suka dengan hadiahnya. Gumam Deka dalam hati.


Urusan membeli hadiah untuk istri tercinta telah beres. Deka memacu mobil mewah pabrikan Jerman menuju rumah megah miliknya.


“Rin ...!”


“Sayang ...!”


Deka berseru memanggil-manggil nama Ririn setelah sampai di kamarnya. Namun, sosok yang dipanggil itu tidak nampak keberadaannya. Ia meletakkan buket bunga di atas kasur, sementara kotak perhiasan yang berisi gelang itu ia simpan di lemari.


Setelahnya ia beranjak ke kamar mandi. Mungkin Ririn ada di sana. Begitu pikirnya. Namun, ternyata kamar mandi kosong tak berpenghuni.


“Ririn ke mana ya?” tanyanya pada diri sendiri karena tidak menemukan keberadaan Ririn di kamar ataupun kamar mandi.


Ia jadi teringat kejadian tadi pagi saat menemukan tas besar yang berisi baju-baju Ririn. Sebelumnya tas itu tergeletak di dekat pintu, tapi kini tidak tampak ada di sana. Batinnya mulai resah sebab tumpukan baju Ririn di dalam lemari juga tampak berkurang.


Berlari-lari ia turun ke lantai bawah seraya berteriak memanggil ART-nya.


“Sanah ...!”


“Bi Iroh ...!”


“Iya, Pak,” sahut Sanah yang tengah menyeterika pakaian.


“Istri saya ke mana?” tanya Deka.


“Ibu pergi, Pak,” sahut Sanah.


“Ibu pergi, kenapa kamu gak telepon saya!” sentak Deka karena kalut.


“Loh, saya mengira Bapak mengetahui kepergian Ibu. Memangnya Ibu tidak mengatakan kepada Bapak terlebih dahulu jika mau pergi?”


“Enggak!” bentak Deka kesal.


“Wah, ada apakah gerangan dengan ibu? Jangan-jangan Bapak dan Ibu tengah bersitegang ya,” tukas Sanah. Mata Deka melotot menanggapi ucapan Sanah.


“Udah sana kamu lanjutin kerjaan kamu!” titah Deka.


"Sebaiknya memang begitu, Bapak. Jika Bapak mengganggu pekerjaan saya, maka pakaian yang saya setrika bisa gosong."


"Seterah lo, Sanaaah ...!"


"Kata yang benar adalah terserah, Bapak. Tidak ditemukan kata seterah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia."


Deka menepuk jidatnya sendiri. "Bisa asam urat gue kalau ngobrol sama dia," gumam Deka. "Lah kok asam urat sih."

__ADS_1


“Bi Iroh!” panggil Deka saat Bi Iroh melintas di depannya.


“Iya, Pak." Bi Iroh menghentikan langkahnya.


“Ririn ke mana ya, Bi?” tanya Deka.


“Ibu tadi pergi, tapi ga bilang mau ke mana, Pak," jawab Bi Iroh.


“Apa Ririn dianter Pak Pardi perginya?”


“Enggak, Pak. Tadi Pak Pardi sedang dinas di gerai, katanya mau mengantar bahan baku martabak. Jadi, ibu pergi naik taksi, Pak," terang Bi Iroh.


“Ya Allah.” Deka mengusapkan tangan ke wajahnya. Hatinya benar-benar khawatir.


“Apa Ririn pergi bawa tas?”


“Iya, Pak.”


“Ya Allah. Bi, lain kali jangan biarkan Ririn pergi sendiri, apalagi naik taksi. Harus diantar Pak Pardi. Kalau Pak Pardi ga ada, telepon saya!” pesan Deka tegas.


“Iya, Pak.”


Deka mengayun langkah gontai, lalu menghempaskan bokongnya ke atas sofa. Ia duduk sambil memijat pelipisnya.


Ririn pulang ke Serang atau ke Subang ya? Tanya hatinya.


Ia meraih gawai dan melakukan panggilan telepon ke nomor Ririn. Nomornya aktif, tapi tidak diangkat. Mencoba beberapa kali menghubungi nomor tersebut, tetap saja hanya nada sambung yang terdengar.


Setelah beberapa menit duduk termenung di atas sofa sembari memikirkan Ririn tentunya, ia beranjak ke kamar. Tubuhnya yang lengket karena peluh membuatnya ingin segera mandi.


“Astagfirullah, Rin, kamu ga bawa hape," ucapnya lirih penuh kekhawatiran.


Ia mengacak rambut frustrasi. Niatnya mau mandi, urung karena hatinya semakin resah. Ia memutuskan untuk menjemput Ririn segera.


Ia keluar kamar berlari-lari turun ke lantai bawah menghampiri Bi Iroh kembali. “Bi, tadi Ririn pergi jam berapa?” tanyanya.


“Jam sepuluhan, Pak,”sahut Bi Iroh.


Deka melirik arlojinya. Hampir pukul dua siang. Kurang lima menit saja menuju pukul 14.00.  Itu artinya jika Ririn pulang ke Serang ataupun Subang, pastilah sudah sampai di kedua tempat tersebut. Yang menjadi kebimbangannya kini, ia harus menjemput Ririn ke mana? Ke Serang atau Subang?.


Ia kembali meraih ponsel lalu menghubungi nomor Mami.


“Assalamualaikum, Nak Deka.”


“Waalaikum salam, Mih.”


“Gimana kabar kalian? Kapan kalian main ke sini? Mami kangen Ririn, kangen Nak Deka juga.”


Kalau Mami bicaranya begitu, berarti Ririn enggak ada di Serang. Batin Deka.


“Iya, Mih. Insyaallah kapan-kapan main ke sana.”


“Ini ada apa Nak Deka telepon? Ada perlu sama Mami?”


“Eng ... Mau bilang kalau Ririn juga kangen sama Mami dan Abah. Ririn pengen main ke Serang, tapi Deka masih banyak pekerjaan. Jadi, belum bisa ke sana. Mohon maaf ya, Mih."

__ADS_1


“Oh, begitu. Bilang sama Ririn suruh sabar dulu. Jangan pulang ke sini sendiri, harus sama Nak Deka!”


“Iya, Mih. Nanti dibilangin.”


“Oya, gimana? Kalian udah sebulan lebih menikah, apa sudah ada tanda-tanda Ririn hamil?”


“Oh, eng ... belum. Doakan aja, Mih. Semoga Ririn cepet hamil,” jawab Deka lirih.


“Amin. Mami doakan semoga kalian segera mendapatkan momongan. Soalnya Mimin sama Dewa udah mau punya anak tiga.”


“Iya, Mih. Udah gitu aja ya, Mih. Assalamualaikum.”


“Waalaikum salam.”


Deka membuang napas lelah setelah menelepon Mami. Mau menelepon Aki dan Nini di Subang, ia tidak punya nomornya.


Kamu ke mana, Rin? Kenapa kamu pergi? Katanya kamu ga akan pergi kalau aku ga menyuruh kamu pergi.


Terburu-buru Deka pergi menuju mobilnya. Ia berpikir akan pergi ke Subang untuk menjemput Ririn. Ia membuka pintu mobil, lalu duduk di belakang kemudi. Kegalauan tiba-tiba datang menyergapnya. Bagaimana kalau Ririn ternyata tidak ada di Subang?


Deka memukul setir mobil dengan kesal. Kemudian ia teringat dengan Mama. Apa Ririn sedang di butik sama Mama ya?


Ia segera menghubungi Mama dan menanyakan keberadaan Ririn. Akhirnya ia bisa bernapas lega setelah mendengar berita dari Mama bahwa istri tercintanya itu sedang berada di rumah Mama. Alhamdulillah.


.


.


.


.


Terima kasih dukungannya


❤️❤️❤️❤️


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2