
"Kalau banyak mikirin kamu, boleh?” Deka mendekatkan wajahnya pada Ririn.
Ririn menelan liur untuk menetralkan kegugupannya. Tingkah Deka yang menatap lekat wajahnya tak ayal membuat jantungnya berdegup bertalu. Darahnya berdesir hangat mengaliri seluruh tubuh.
Meskipun ini bukanlah pernikahan pertamanya. Namun, perasaan seperti ini adalah yang pertama baginya. Sungguh.
Pernikahannya dengan Jefri dulu adalah layaknya lubang neraka bagi Ririn. Jefri kerap menyiksanya sebelum melakukan hubungan suami istri. Hubungan yang seharusnya bernilai ibadah itu menjadi petaka hidupnya.
Sadomasokisme itulah penyimpangan yang dialami Jefri. Aktivitas sek*sual yang melibatkan penyiksaan pada pasangannya. Beruntung tak lama-lama ia hidup bersama pria ‘sakit’ itu, sebab Jefri sering masuk bui.
Ia pernah berniat tidak akan membina rumah tangga lagi karena trauma. Namun, akhirnya luluh juga ketika pria tampan, menawan, rupawan, tidak panuan, tidak kadasan dan tidak kurapan serta memesona itu sungguh-sungguh ingin menikahinya.
Bak seorang Cinderella yang dilamar sang Pangeran. Ia merasa tersanjung, bagai diangkat tinggi-tinggi sampai ke kumpulan bintang.
Mungkin begitu takdir hidupnya. Penderitaan saat pernikahan pertamanya dulu terbalas dengan indah pernikahan keduanya kini bersama Deka.
Semoga pernikahan kali ini dipenuhi keindahan, kebahagiaan dan keberkahan. Begitu harapannya dalam hati.
Jarak keduanya semakin dekat. Napas hangat Deka menerpa wajahnya. Aroma mint dari mulut Deka terhirup oleh indra penciumannya. Mungkin pria yang kini telah menjadi imamnya itu baru menyikat gigi atau makan permen. Begitu pikirnya. Sebab yang ia tahu Deka tidak merokok.
Deka mendongakkan wajahnya lalu mengecup lembut kening Ririn.
“Tidur, yuk!” ajak Deka. “Hari ini pasti kamu lelah. Besok pasti lebih melelahkan lagi. Besok kita berangkat ke Jakarta untuk resepsi,” ujarnya kemudian.
Ririn mengangguk kecil seraya menatap lekat pada bola mata Deka untuk mencari sesuatu di sana. Sungguh ini tidak sesuai ekspektasinya. Hanya sebuah kecupan di kening yang Deka berikan. Ada apa? Batinnya bertanya-tanya.
“Yuk, tidur!” ajak Deka lagi.
Ririn merebahkan tubuhnya, begitu pun dengan Deka. Mereka berbaring saling berhadapan. Saling melempar senyum.
Deka mengusap lembut pipi Ririn dengan ibu jarinya. “Maafkan aku ya,” ucapnya lirih.
“Jangan ada kata maaf untuk malam yang indah ini.” Ririn menggenggam tangan Deka yang tengah mengusap pipinya.
Rasanya Deka ingin menangis saja. Malam yang indah itu menjadi tak indah karena masalahnya. Jangankan untuk melakukan kewajiban sebagai suami istri. Berciu*man bibir pun ia tak berani.
Virus HIV memang tidak terbukti dapat ditularkan oleh air liur. Namun, ia tak mau mengambil risiko. Jika salah satu di antara mereka sedang sariawan, tentunya berpotensi untuk menularkan.
Menurut yang ia baca, penularan HIV dapat terjadi jika aktivitas berciuman menimbulkan luka pada area bibir atau rongga mulut sehingga mengakibatkan adanya pembuluh darah yang terbuka.
Oh, sungguh menyedihkan sekali. Batin Deka menangis.
“Udah malam. Tidur, Sayang. Dan jangan lupa berdoa,” ucap Deka seraya mengukir sebuah senyum. Senyuman menyedihkan.
Deka menenggelamkan wajah Ririn ke dada agar istrinya itu tidak dapat menangkap kesedihan yang mungkin terpancar dari sorot matanya.
Sementara Ririn, hatinya tengah menerka-nerka ada apa dengan Deka? Tampak sekali dari sorot matanya, pria yang kini telah menjadi suaminya itu tengah memendam sebuah masalah.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Pelaminan unik dengan tema Doraemon menjadi pusat perhatian para tamu. Beberapa tamu bahkan sengaja berfoto selfie untuk mengabadikannya lalu meng-upload ke akun media sosial mereka.
Para tamu yang hadir adalah teman-teman Deka saat sekolah maupun kuliah, juga rekanan bisnis. Yang spesial adalah karena Deka mengundang ratusan anak yatim untuk berbagi kebahagiaan bersama.
Waktu pelaksanaan dibagi menjadi dua sesi. Sore adalah untuk anak-anak yatim asuhannya, sedangkan malam adalah untuk tamu undangan umum.
“Hahaha, katanya mantan ke laut aja. Eh, sekarang digandeng ke sini,” ledek Deka dengan berbisik di telinga Fery, saat sahabatnya itu naik ke panggung pelaminan untuk menyalaminya dan Ririn.
Fery datang bersama mantan istrinya. Mantan pasangan suami istri itu tampil kompak mengenakan busana couple.
Bug ...
Fery meninju pelan lengan Deka. “Jangan ngeledek!”
“Rin, kenalin ini Fera,” ucap Fery memperkenalkan mantan istrinya.
Ririn menyalami Fera. Keduanya berjabat tangan hangat.
“Fery dan Fera kalau punya anak laki-laki namanya Fermen,” canda Deka. Ririn tertawa menanggapi candaan Deka.
“Fer, kamu turun duluan aja. Aku mau ngasih wejangan dulu buat Brobos tentang bagaimana cara membentuk keluarga yang sakinah mawaddah warahmah,” tutur Fery kepada Fera.
“Sesat gue kalau denger wejangan dari lo! Lo sendiri cuma seumur jagung. Itu nikah apa khilaf ngerjain orang KUA,” kelakar Deka setelah Fera turun.
“Tapi lo lihat, dong! Hubungan gue semanis ini coba sama mantan,” sahut Fery.
“Jadi ceritanya, mantan yang dibuang ke laut itu kena matahari lalu menguap ke atmosfer membentuk awan hitam lalu turun kembali bersama hujan ke pangkuan lo. Gitu ya,” seloroh Deka.
“Alah, bilang aja lo ga bisa melupakan, pengennya mengenang terus. Mantan apa pahlawan kok dikenang terus,” gurau Deka.
Fery tak menggubris gurauan Deka. Ia memilih turun untuk menikmati beraneka menu hidangan bersama mantannya.
Malam semakin larut. Kemeriahan pesta telah berakhir. Pengantin baru itu kini telah berbaring di atas peraduan.
Peraduan yang semestinya menjadi tempat panas membara bagi sepasang pengantin di malam pertamanya. Namun, malah menjadi dingin layaknya es karena sikap Deka.
Keduanya hanya saling mengeratkan tubuh dalam pelukan. Deka membenamkan wajah Ririn ke dadanya. Mungkin ini akan menjadi kebiasaannya. Ia tak mau Ririn melihat sorot menyedihkan yang terpancar dari matanya.
Menyedihkan sebab ia bagai pria lemah yang tak bisa melakukan apa-apa. Ia membelai rambut Ririn yang hitam terurai lalu mengecup puncak kepalanya. “Tidur, udah malam,” ucapnya.
“Kok tidur, Bang? Ini malam pertama kita. Abang ga mau ngapa-ngapain dulu gitu?” Pertanyaan Ririn yang hanya terucap di hati. Ia tidak berani mengucapkannya langsung karena malu.
“Ya.” Ririn menyahut datar. Ia sungguh tak mengerti apa yang terjadi dengan Deka. Saat resepsi tadi suaminya itu tampak bahagia, namun saat ini malah tampak menderita.
Ada apa, Bang? Kalau Abang ada masalah cerita saja sama saya. Jangan buat saya berpikir yang tidak-tidak. Batinnya.
\=\=\=\=\=
Langit berganti terang sebab sang surya telah datang. Udara pagi masih terasa sejuk meresap ke tubuh. Seluruh anggota keluarga baru selesai melaksanakan salat Subuh.
__ADS_1
Ririn tengah di dapur membuatkan kopi untuk Deka. Bi Siti yang mengajarkannya membuat kopi kesukaan Deka.
Usai membuat kopi, Ririn menghampiri Deka yang tengah duduk di depan televisi.
“Abang, ini kopinya.” Ririn meletakkan secangkir kopi dan camilan.
“Makasih, Sayang.” Deka tersenyum. “Duduk sini!” titahnya seraya menepuk samping tempat duduknya.
Ririn bergerak patuh, duduk di sebelah Deka. Tidak lama kemudian Mama menghampiri dan turut duduk bersama mereka.
“Kalian berangkat kapan?” tanya Mama.
“Berangkat ke mana, Mah?” sahut Deka.
“Bulan madu, dong. Oya, kalian mau bulan madu ke mana?”
“Enggak, Mah. Di rumah aja.”
“Loh, gimana sih?! Kalian itu pengantin baru ya bulan madu. Ke Eropa, ke Venice, Cappadocia atau mau yang dekat ke pulau Maldives.”
“Enggak, Mah. Nanti aja bulan madunya. Deka masih banyak kerjaan,” kilah Deka.
“Jadi hari ini kamu mau bekerja?”
“Enggak sih, Mah. Maksudnya aku ga bisa pergi jauh-jauh, khawatir ada hal penting di kantor yang harus ditangani.”
“Kalau begitu, kalian bulan madu yang deket aja dulu. Ke Bali misalnya.”
“Enggak, Mah. Ga ada acara bulan madu,” sahutnya datar.
Pernyataan Deka membuat Ririn semakin yakin, ada yang tidak beres dengan Deka.
.
.
.
.
Terima kasih dukungannya
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1