Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Sisi Lain Deka


__ADS_3

Setelah mendatangi alamat yang diberikan si gadis kecil, Deka tidak langsung pulang ke rumah. Ia menghentikan mobilnya di depan minimarket.


"Yuk, turun!" ajak Deka sembari melepaskan sabuk pengaman yang mengunci tubuhnya.


"Mau beli apa, Bang?" tanya Ririn. Sama seperti Deka, ia juga turut melepaskan sabuk pengaman.


"Beli jajanan anak-anak," sahut Deka. Ia turun dari mobil lalu berjalan menghampiri Ririn yang baru turun dari mobil.


"Ayo!" serunya seraya menautkan lengannya pada lengan Ririn.


Meskipun Ririn merasa jengah dengan sikap sang suami, karena beberapa pasang mata yang memperhatikan keromantisan mereka. Apalagi kebanyakan dari mereka adalah anak-anak sekolah berseragam abu-abu. Namun, ia tetap menebar senyum termanisnya pada Deka.


Sampai di minimarket, Deka memborong aneka jajanan anak-anak dalam jumlah yang banyak. Mulai dari snack, cokelat dan es krim.


"Abang, banyak banget belinya, buat siapa?" tanya Ririn keheranan.


"Nanti kamu juga tahu. Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat," jawab Deka.


Setelah membayar semua belanjaan, Deka kembali melajukan mobilnya. Kali ini tujuannya adalah suatu tempat yang rutin ia kunjungi setiap bulannya.


"Panti Asuhan AR Rahmah." Ririn membaca tulisan yang tertulis pada papan nama yang tertempel di dinding teras sebuah bangunan mirip rumah, kala Deka menghentikan mobilnya di depan bangunan itu.


"Ini panti asuhan, Bang?" tanya Ririn.


"Yups," jawab Deka.


"Yuk!" ajaknya kemudian. Ia membuka pintu mobil, lalu turun. Begitu pun dengan Ririn.


"Yang, ayo bantu bawa ini!" serunya sembari membuka bagasi.


Ririn bergerak patuh, ia menghampiri Deka untuk membantu membawakan kantong belanjaan berisi jajanan anak yang tadi dibelinya di minimarket.


Kemudian Deka mengayun langkahnya melewati samping bangunan. Ririn mengikuti langkahnya di belakang. Mereka masing-masing menenteng empat kantong belanjaan. Ternyata tujuan Deka adalah ke halaman belakang panti. Di sana, tampak anak-anak sedang bermain dengan cerianya.


"Assalamualaikum," ucap Deka.


Anak-anak yang tengah bermain itu kompak menoleh pada Deka. "Waalaikum salam," sahut mereka serempak.


"Bang Dekaaaaaa ...!" sorak anak-anak panti, lalu menghambur menghampiri Deka. Ada yang memeluk, ada yang berebut salim. Ririn terpana melihat pemandangan itu. Ia tersenyum kagum menatap sang jagoan hatinya.


Deka meladeni anak-anak itu satu per satu yang berebut mencium punggung tangannya. "Salim juga dong, sama istri Abang," katanya.


"Istri Bang Deka cantik," celetuk salah seorang anak.


"Iya, dong. 'Kan Bang Deka juga ganteng," timpal anak lainnya.


"Kaka cantik ini namanya siapa?" tanya anak yang lain.


"Nama kakak Ririn," jawab Ririn sembari berjongkok agar setara dengan anak-anak tersebut.


"Oh, Kak Ririn," sahut anak itu seraya tersenyum.

__ADS_1


"Oh iya, ini Kak Ririn bawa oleh-oleh nih untuk adik-adik semua," ujar Deka.


"Yeay!" Anak-anak panti dengan beragam usia itu bersorak girang. Beberapa anak langsung mengambil alih tentengan yang dibawa Deka dan Ririn.


"Dibagi ya, jangan rebutan!" seru Ririn.


"Kalau kurang, nanti kita beli lagi," timpal Deka.


"Makasih Bang Deka. Makasih Kak Ririn," ucap anak-anak itu bersamaan.


"Sama-sama, Sayang," balas Ririn dan Deka.


Saat anak-anak sedang sibuk dengan oleh-oleh yang dibawanya, Deka mengajak Ririn untuk masuk ke dalam panti.


"Assalamualaikum." Deka dan Ririn masuk ke dalam panti.


"Waalaikum salam. Wah, ada Bang Deka," sahut seorang perempuan paruh baya itu riang.


Perempuan berjilbab yang usianya lebih dari mamanya Deka itu berdiri menyambut kedatangan Deka dan Ririn. Keduanya mencium punggung tangan perempuan berjilbab yang adalah ibu panti.


"Ini pasti Ririn yang sering diceritakan itu, cantik sekali," puji ibu panti.


"Terima kasih, Bu," sahut Ririn tersipu.


"Rin, ini Bu Sari, pemilik panti asuhan ini," ujar Deka memperkenalkan ibu pemilik panti.


"Oh, iya. Senang saya bisa bertemu Bu Sari," sahut Ririn.


"Ibu lebih senang lagi karena kalian datang ke sini," sahut Bu Sari ramah. "


"Ayo silakan masuk, kita ngobrol di dalam saja." Bu Sari melangkah masuk ke dalam dengan menggandeng Ririn. Sementara Deka mengekor di belakang kedua wanita berjilbab itu.


Langkah mereka terhenti ketika sampai di sebuah ruangan luas mirip ruangan keluarga. Mungkin ruangan ini pun sama fungsinya dengan ruang keluarga. Karena perabot rumah di ruangan ini sama seperti yang biasa ada di ruang keluarga, seperti televisi, sofa, meja dan kursi. Ada karpet hambal  besar yang menutupi sebagian lantainya, juga beberapa lukisan khas anak-anak. Lukisan itu sepertinya memang karya anak-anak panti asuhan ini.


"Silakan, silakan." Bu Sari menggiring Deka dan Ririn menuju sofa dan mempersilakannya untuk duduk.


"Maaf, saat resepsi kemarin ibu tidak bisa datang karena asam urat sedang kambuh waktu itu, gara-gara keenakan ngicip kangkung. Jadi, anak-anak datang ke sana ditemani staf pengurus panti di sini," tutur Bu Sari setelah mereka semua duduk.


"Gak papa kok, Bu. Yang penting doanya," ujar Deka.


"Ibu pasti mendoakan semoga pernikahan kalian langgeng, penuh cinta, penuh berkah, sakinah, mawaddah, warahmah, dan selalu diliputi kebahagiaan sepanjang masa. Amin."


"Amin, amin," sahut Deka.


"Amin ya Allah. Terima kasih doanya, Bu," timpal Ririn.


"Rin, kamu ngobrol aja sama Bu Sari. Aku mau nemenin anak-anak dulu di belakang," cetus Deka.


"Iya, Bang." Ririn mengangguk.


"Bang Deka itu anak baik," cetus Bu Sari saat Deka telah berlalu meninggalkan keduanya.

__ADS_1


Ririn tersenyum. "Iya, Bu. Alhamdulillah," ucapnya.


"Sejak masih kuliah dulu, Bang Deka sudah jadi donatur tetap di panti ini," ungkap Bu Sari.


Ririn yang begitu antusias ingin mendengarkan cerita Bu Sari tentang Deka, menggeser posisi duduknya, berdekatan dengan Bu Sari. "Terus, terus, Bu," sahutnya antusias.


"Dulu Bang Deka 'kan kuliah di London, kalau ga salah. Dia selalu mengunjungi panti ini kalau sudah pulang ke Jakarta, saat libur kuliah. Dulu ibu sempat khawatir, kok anak semuda itu bisa punya banyak uang. Ibu malah takut uangnya itu didapatkan dari jalan yang tidak lazim, tidak halal. Kemudian ibu coba memberanikan diri untuk bertanya. Bang Deka menjelaskan kalau dia punya bisnis di London. Kalau ga salah punya gerai nasi goreng. Dan usahanya itu sukses, bahkan menurut cerita Bang Deka, sekarang gerainya sudah ada di beberapa negara di luar negeri."


Penuturan Bu Sari menguak sisi lain Deka yang belum diketahui Ririn. Selama mengenal Deka, ia tidak pernah bertanya soal dari mana hasil kekayaan pria tampan itu diperolehnya. Sempat berpikir kalau harta kekayaan itu adalah pemberian atau warisan dari kedua orangtua Deka, namun dugaan itu terpatahkan saat melihat kehidupan sang adik -- Dewa, tampak biasa-biasa saja, tidak wow seperti Deka.


Ia juga pernah berpikir kesuksesan Deka karena bekerja di perusahaan papahnya. Namun, faktanya Deka lebih tajir melintir dari sang mertua.


"Sekarang malah Bang Deka itu bukan hanya jadi donatur di sini, dia jadi donatur di beberapa panti lain juga. Hanya, panti ini adalah panti pertama yang ia kenal mungkin, jadi Bang Deka sering datang ke sini dan akrab dengan anak-anak di sini."


"Oh." Ririn manggut-manggut.


"Yang membuat ibu sangat bahagia ... karena perubahan Bang Deka, sekarang Bang Deka mau solat. Dulu Bang Deka baik dan suka berbagi, tapi gak pernah mau solat. Sampai-sampai ibu bilang gini sama anak-anak di sini, anak-anak ayo kita doakan Bang Deka agar diberi hidayah, agar mau solat. Alhamdulillah setelah bertemu Neng Ririn, Bang Deka mau solat. Ibu turut seneng."


"Oh, enggak, Bu. Saya sama sekali tidak mengetahui kehidupan Bang Deka sebelumnya. Yang baru ibu ceritakan semuanya tadi, bahkan saya baru tahu. Saya belum lama kenal Bang Deka, tapi takdir Allah membuat kami berjodoh. Dan mengenai perubahan Bang Deka, itu murni karena keinginannya sendiri, karena usahanya sendiri, bukan karena saya. Saya tidak punya andil dalam hidayah yang didapatkan Bang Deka," tutur Ririn.


Bu Sari menggenggam tangan Ririn yang duduk di sebelahnya. "Berubah menjadi lebih baik itu mungkin mudah, tapi mempertahankan untuk selalu menjadi baik itu yang susah. Makanya semoga Neng Ririn bisa terus membimbing Bang Deka agar istiqomah di jalan yang lurus."


"Amin, ya Allah."


"Jadilah istri yang dapat menentramkan hati suami, menjadi penyejuk hati suami, dan mampu menyenangkan suami. Dan menjadi calon ibu yang berkualitas dan dapat diteladani untuk calon anak-anak kalian nantinya."


Ririn mendengarkan nasihat Bu Sari dengan saksama. "Insyaallah doakan kami selalu ya, Bu."


"Insyaallah, ibu akan selalu mendoakan kalian."


Sesaat kemudian terdengar suara azan dari masjid yang tidak jauh dari panti asuhan. Deka datang bersama anak-anak ke ruangan di mana Ririn dan Bu Sari berbincang-bincang.


"Udah magrib, Yang. Ayo solat dulu!" ajak Deka.


"Alhamdulillah, Bang Deka luar biasa," puji Bu Sari.


.


.


.


.


Sebelum diberi konflik yang menegangkan, kita harus tahu sisi lain Bang Deka dulu, ya.


Terima kasih dukungannya sahabat semua.


Love U


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2