
“Kamu anak yatim?”
“Bukan anak yatim, tapi ... anak haram.”
Ririn dan Deka sontak berpandangan begitu mendengar pernyataan Tiara.
“Ssst ... Tiara ga boleh bilang begitu. Gak ada yang namanya anak haram. Semua anak itu suci,” kata Ririn.
“Semua anak itu suci. Yang haram itu orangtuanya ya, Tan?”
Belum Ririn menanggapi, Tiara berucap lagi. “Jadi, mama dan papa saya yang haram.” Sorot matanya menatap tajam Deka.
“Memangnya siapa yang bilang Tiara anak haram?” tanya Ririn.
“Dari kecil aku udah dibully kalau aku ini anak haram. Aku memang ga punya papa," jawab Tiara. Setiap mengucap kata 'papa' matanya melirik Deka.
“Mungkin bukan enggak punya papa, tapi papa Tiara sedang bekerja di tempat jauh," ujar Ririn.
“Kata Mama, laki-laki yang seharusnya jadi papa aku itu ga pernah nikahin Mama sampai sekarang," ungkap Tiara.
Ririn tidak habis pikir dengan keputusan mama Tiara untuk menceritakan hal sesensitif itu. Sejak kapan mama Tiara itu menceritakan tentang asal usul Tiara segamblang itu. Jika memang begitu cerita sebenarnya, bukankah lebih baik menceritakan hal itu saat Tiara sudah berusia dewasa. Bukan saat usianya masih anak-anak seperti ini.
“Walaupun begitu, Tiara ga boleh rendah diri. Tiara itu anak hebat. Dan harus jadi anak hebat," sahut Ririn.
“Kalau aku jadi anak hebat, apa papa aku itu nantinya mau mengakui kalau aku anaknya?”
“Semua orangtua pasti senang jika anaknya menjadi anak hebat.”
“Aku ingin banget ketemu Papa terus Papa mengakui aku anaknya.” Kali ini Tiara menatap Deka.
“Tante doakan semoga secepatnya Tiara ketemu papanya Tiara.”
“Amin.”
“Walaupun kamu anak yatim atau anak haram atau apalah namanya .... " sela Deka yang sedari tadi diam menyimak obrolan istrinya dan Tiara. Secepat kilat, ucapan Deka langsung dipotong oleh Ririn.
“Abang!” Ririn melotot, memberikan protes atas ucapan Deka yang menyebutkan kata anak haram.
Dengan isyarat tangan, Deka memohon maaf. Lalu kembali melemparkan pandangannya kepada Tiara.
“Saya tetap mau mengantarkan kamu pulang. Karena kamu ‘kan anak orang. Kami bisa dituduh menculik atau menyekap anak di bawah umur kalau kamu tetap tinggal di sini," kata Deka.
“Tapi aku bukan anak orang. Aku anak Papa.” Ingin sekali Tiara mengatakan itu. Namun, kalimat itu hanya sampai di tenggorokan.
“Apa Om yang mau antar saya pulang ke rumah?” tanya Tiara.
“Ya,” jawab Deka singkat.
Seketika senyum Tiara mengembang. Mimpinya selain ingin bertemu sang papa adalah dapat mempertemukan mamanya dengan pria yang seharusnya dipanggil Papa. Jika Deka mengantarkannya pulang, sudah pasti mamahnya akan bertemu dengan Deka yang menurutnya adalah papanya. Begitu yang ada di benak Tiara.
“Iya, Om. Aku mau diantar pulang ke rumah sama Om,” pungkas Tiara.
\=\=\=\=\=\=
Mobil yang dikendarai Deka hampir masuk ke kawasan perumahan ketika android super canggih itu berdering. Ia menepikan mobilnya sejenak, sebelum masuk ke kawasan perumahan yang diarahkan Tiara. Mengusap layar android, ia menjawab panggilan telepon dari Fery.
__ADS_1
“Kita ke kantor dulu ya, ada berkas yang harus ditandatangani,” ujar Deka setelah memutus panggilan telepon dari Fery.
“Aku gak jadi diantar pulang ke rumah, Om?” tanya Tiara yang duduk di bangku belakang.
“Ke kantor dulu, habis itu baru nganterin kamu pulang,” jawab Deka datar saja.
“Ga papa ‘kan, kalau ke kantor Om dulu?” lontar Ririn karena Tiara tak terdengar menyahuti ucapan Deka.
“Iya, Tan. Gak papa.” Tiara melemparkan sebuah senyuman kepada Ririn yang duduk di bangku depan bersama Deka.
Setelahnya mobil melaju menuju kantor Deka. Sampai di kantor, dengan langkah gegas Deka pergi menuju ruangannya. Sementara Ririn dan Tiara berjalan perlahan di belakang.
“Yang, aku duluan ya, buru-buru soalnya,” ujar Deka.
“Iya, Abang duluan aja. Nanti saya sama Tiara menyusul ke ruangan Abang,” sahut Ririn.
Keren banget papaku ini. Pasti dia CEO di kantor ini kayak di drakor yang suka aku tonton. Gumam Tiara dalam hati.
“Tiara, kita mampir ke kantin aja, yuk!” ajak Ririn.
“Yuk!” seru Tiara ceria.
Mereka masuk ke lift. Ririn menekan tombol angka tiga. Tujuannya mampir ke kantin dulu sebelum pergi ke ruangan Deka yang berada di lantai empat. Sementara Deka sudah lebih dulu masuk lift yang sebelumnya.
Setelah dari kantin, sekedar membeli camilan dan minuman, Ririn dan Tiara pergi ke ruangan Deka di lantai empat.
Di depan ruangannya tampak Deka ditemani Fery tengah memberikan instruksi kepada Silvi sang sekretaris dan seorang satpam berkumis lebat.
“Yang, aku ada meeting. Jadi ga bisa nemenin kamu mengantarkan anak ini pulang,” ujar Deka pada Ririn yang baru tiba.
“Ya udah, kalau enggak bisa, besok lagi aja kita antarkan Tiara pulang,” usul Ririn.
“Om, kalaupun Mama sampai lapor polisi, aku akan bela Om dan Tante, karena kalian udah nolongin aku, udah baik sama aku,” sela Tiara.
“Enggak enggak. Saya gak mau terlibat urusan sama kamu dan keluarga kamu!” tegas Deka.
Tiara menunduk. Dadanya sesak mendengar ucapan Deka. Mengapa pria yang ia yakini sebagai papanya itu selalu ketus setiap berucap kepadanya.
Kalau aku bilang, aku ini anak Papa. Apakah Papa akan bersikap lembut sama aku? Atau malah semakin ketus karena sejak aku di dalam kandungan aja, Papa ga peduli sama aku. Batin Tiara.
“Fer, bagaimana ini baiknya?” lontar Deka pada Fery.
“Seperti kata saya tadi, Pak. Bu Ririn tetap mengantarkan anak ini pulang ditemani Silvi sama Pak Kumis,” sahut Fery dengan mode formal. Jika di depan karyawan lain, Fery akan bersikap layaknya bawahan kepada atasan.
Rupanya sebelum Ririn tiba, Deka sudah berkonsultasi dengan sang asisten tentang rencananya mengantarkan anak orang asing yang dibawa pulang oleh Ririn.
“Silvi, Pak Kumis, saya tugaskan kalian untuk menemani istri saya mengantarkan anak ini pulang,” titah Deka.
“Siap, Pak!” sahut Silvi dan satpam yang dipanggil Pak Kumis itu.
“Dua personil sepertinya kurang. Saya gak mau ambil risiko, Fer. Bagaimana kalau keluarga anak ini ternyata adalah penjahat. Kerahkan lebih banyak personil untuk mengawal istri saya!” perintah Deka.
“Siap, Bos!” sahut Fery patuh.
Ririn menarik napas dalam-dalam menanggapi perintah suaminya. Ini mau nganterin seorang anak kecil pulang atau mau perang sih.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=
Di ruang tamu sebuah kawasan perumahan sederhana, Tiara tengah berpelukan erat dengan sang mama. Ririn tersenyum melihat kehangatan ibu dan anak itu.
“Tiara nginap di rumah tante ini, Mah,” ujar Tiara setelah melepaskan pelukannya. “Tante ini baik,” sambungnya.
“Terima kasih ya, Mbak, sudah menolong anak saya,” ucap mama Tiara ramah.
“Sama-sama, Mbak.” Ririn mengulas senyum. Karena menurutnya wanita yang dipanggil ‘Mama’ oleh Tiara masih muda, maka ia memanggil dengan sebutan ‘Mbak’.
“Mah, kita pergi aja dari sini. Tinggalin aja suami mama itu. Kita minta tolong Tante untuk menyediakan rumah buat Mama dan Tiara,” ujar Tiara dengan polosnya.
“Gak bisa begitu dong, Sayang. Mama ga bisa meninggalkan papa kamu.”
“Dia bukan papa aku!”
“Iya, tapi dia papa sambung kamu.”
“Tiara ga suka sama dia!”
“Maaf, Mbak.” Ririn menyela perdebatan ibu dan anak itu.
“Mohon maaf sebelumnya, saya ga berniat ikut campur. Menurut saya, jika suami Mbak melakukan KDRT terhadap Mbak, saran saya lebih baik Mbak melepaskan diri dari suami, Mbak.” Bukan tanpa alasan Ririn berkata seperti itu, ia pernah melihat dengan mata kepala sendiri kekerasan yang dialami oleh mamanya Tiara.
Sayangnya, ibunda Tiara itu terlihat kurang menyukai perkataan yang dilontarkan Ririn.
“Maaf, siapa nama Mbak?” tanyanya dingin.
“Saya Ririn. Kalau Mbak siapa namanya?” Ririn balik bertanya.
.
.
.
.
Tenang konfliknya ga berat kok.
Terima kasih dukungannya
__ADS_1