
“Maaf, siapa nama Mbak?”
“Saya Ririn. Kalau Mbak siapa namanya?”
“Saya Intan.”
“Salam kenal, Mbak Intan.”
“Ya, salam kenal kembali. Oya, terima kasih Mbak Ririn sudah menolong anak saya, tapi sebaiknya ga usah ikut campur urusan saya dan suami!”
“Maaf, kalau Mbak Intan tidak berkenan. Saya hanya memberi saran.”
“Terima kasih sarannya. Kalau saya pergi dari suami, lalu bagaimana saya makan? Bagaimana saya kasih makan Tiara? Bagaimana saya membesarkan Tiara?”
Dangkal sekali pemikiran wanita ibu kandung Tiara itu.
“Iya, Mbak. Kalau begitu saya permisi.” Ririn berpamitan. Tidak mau berlama-lama dan ikut campur urusan keluarga itu.
“Tante, jangan pergi dulu!” cegah Tiara.
“Mah, Tiara gak mau tinggal sama si Herman itu. Kalau Mama mau tetap tinggal sama si Herman, Tiara mau tinggal sama Tante aja!” Tiara memang tidak menyukai papa tirinya yang bernama Herman, sehingga ia tidak mau memanggil papa, ayah atau bapak.
“Tiara, kamu gak boleh gitu!” sentak ibunda Tiara.
“Pokoknya Tiara gak mau tinggal sama si Herman. Tiara mau tinggal sama Om dan Tante aja. Atau Tiara kabur lagi aja dari rumah ini!” ancam Tiara.
Melihat perdebatan ibu dan anak itu membuat Ririn tak enak hati. Ia sudah akan berdiri, berniat meninggalkan rumah Tiara segera. Namun, niatnya buru-buru dicekal Tiara.
Gadis kecil itu meraih tangan Ririn dan menggenggamnya. “Tante, aku mau ikut Tante aja,” mohonnya dengan penuh pengharapan.
Ririn mengulas sedikit senyum sembari mengusap tangan Tiara. “Maaf Tiara, tapi tante enggak bisa bawa kamu.”
Pertama, Deka pasti tidak akan mengizinkannya membawa kembali Tiara pulang. Kedua, ibunda Tiara itu pun pasti tidak senang jika anaknya memilih untuk ikut pulang dengannya. Begitu pikir Ririn.
“Tante, aku mohon, izinkan aku tinggal sama Tante.” Sorot mata gadis kecil itu berkaca-kaca.
“Tante minta maaf sekali lagi, tante ga bisa. Tiara ‘kan punya orangtua. Ada mama Tiara di sini.” Ririn melirik wanita yang duduk di hadapannya.
“Mah, Tiara mau tinggal sama Tante mah. Tolong izinin Tiara tinggal sama Tante. Ayo bilang sama Tante, ayo bilang kalau Tante boleh bawa Tiara pergi dari sini,” rengek Tiara pada mamanya.
Wanita yang mengaku bernama Intan itu menatap putrinya sejenak, lalu beralih menatap Ririn. “Mbak Ririn, boleh saya minta tolong sekali lagi. Tolong bawa Tiara pulang ke rumah Mbak. Tolong titip Tiara untuk sementara. Saya mohon," ucapnya lembut. Tidak keras seperti saat Ririn mengungkit soal KDRT.
“Maaf Mbak Intan, saya sih mau aja, tapi saya punya suami. Maksud saya, saya enggak bisa mengambil keputusan sendiri tanpa izin suami,” tutur Ririn.
“Kalau begitu titip salam sama suaminya Mbak Ririn. Saya mamanya Tiara mohon bantuannya untuk merawat Tiara sementara," sahut Mama Tiara.
__ADS_1
“Tapi saya ga yakin suami saya akan mengizinkan," sahut Ririn apa adanya.
Bukankah dari awal Deka tidak pernah merestui dirinya terlalu ikut campur urusan keluarga gadis kecil itu ataupun orang lain.
“Tante, biar aku yang ngomong sama Om. Aku mohon, Tan. Kalau aku udah ngomong, dan Om menolak, ya udah aku enggak akan maksa," rengek Tiara.
Ingin sekali Ririn menolak keinginan Tiara, namun lagi-lagi ia merasa kasihan dengan gadis kecil itu. Ia pernah berada di posisi seperti Tiara saat kecil dulu, sewaktu tinggal bersama ibu dan ayah angkatnya.
Rasa simpati dan empati menuntunnya untuk mengabulkan permohonan Tiara. Memberi kesempatan gadis kecil itu untuk berbicara sendiri dengan Deka. Bagaimana nanti reaksi Deka, biarlah urusan nanti. Begitu pikirnya.
“Kamu itu ngeyel, udah diantar pulang malah balik lagi ke sini!” hardik Deka pada Tiara yang bersikeras ingin menemuinya. Setelah dari kediaman Tiara tadi, Ririn kembali ke kantor Deka dengan mengajak serta Tiara.
“Aku mau tinggal sama Om dan Tante. Aku mohon.” Tiara sungguh-sungguh bermohon.
“Saya sama istri saya gak mau berurusan sama kamu, ngerti!” Deka menolak permohonan Tiara.
“Coba Om kasihan sama aku. Aku ini anak haram. Sejak di dalam kandungan, enggak pernah disayang sama sosok yang disebut papa. Atau papaku itu malah ga menginginkan kehadiran aku. Terus Mama menikah, tapi laki-laki yang menikah sama mamaku itu ga sayang sama aku. Apa Om ga kasihan sama aku?” tutur Tiara dengan wajah memelas.
“Aku ga minta apa-apa, Om. Asal dikasih tempat tidur dan makan aja, aku udah senang.”
Kemudian Tiara mengambil sesuatu dari saku bajunya. “Oya, ini ada surat dari mamaku,” ucapnya sembari mengulurkan tangan menyerahkan sebuah surat.
Deka menerima surat itu, lalu membacanya. Surat yang ditulis tangan oleh ibunda Tiara itu berisi permohonan agar mengizinkan Tiara tinggal sementara di kediaman Deka.
“Iya. Om kenal mama aku?” Tiara lebih antusias bertanya.
Deka menggeleng cepat. “Enggak. Saya enggak kenal!” kilahnya.
“Oh.” Ada desah kecewa dari intonasi suara Tiara. Harapannya adalah Deka dapat mengenali sang mama lalu menyadari keberadaannya. Keberadaan seorang anak hasil buah cinta dari dua insan yang pernah saling mencinta. Begitu yang ada di benaknya.
“Saya tetap ga bisa mengizinkan kamu tinggal di rumah saya. Terlalu berisiko!” seru Deka.
“Aku mohon, Om. Kalaupun Om ga mau menerima aku tinggal di rumah Om, aku tetap ga akan pulang ke rumah. Biar aku jadi gelandangan aja.”
“Tiara, jangan ngomong gitu, ah!” “ seru Ririn yang duduk di samping Deka.
“Tiara bisa keluar dulu sebentar, tante mau bicara berdua sama Om,” ujar Ririn kemudian.
Tiara mengangguk patuh.
Ririn membawa Tiara keluar dari ruangan Deka. Kemudian menitahkan Silvi untuk menemani Tiara pergi ke kantin untuk sekedar membeli jajanan. Setelahnya ia masuk kembali ke ruangan Deka.
“Abang, kenapa gak kita izinkan aja Tiara tinggal di rumah kita. Hanya untuk sementara, Bang,” ujar Ririn.
“Enggak bisa, Sayang. Kita belum mengenal dia itu bagaimana,” sahut Deka.
__ADS_1
“Tiara itu enggak gimana-gimana, Bang! Dia cuma gadis kecil yang polos dan menyedihkan. Saya tadi udah ketemu sama mamanya. Tiara sih inginnya pergi sama mamanya juga. Tapi mamanya itu gak mau. Memilih untuk tetap bertahan sama suaminya.”
“Rin, kamu pernah berpikir enggak sih resikonya nanti bagaimana.”
“Saya yakin Tiara dan mamanya itu orang baik, Abang ga usah khawatir. Lagipula, katanya Abang ingin punya anak.”
“Iya, tapi bukan si Tiara itu lah. Aku ingin anak darah daging sendiri, hasil buah cinta kita.”
“Kata orang kalau mau punya anak itu kita harus mancing. Nah, anggap saja Tiara itu pancingan kita. Siapa tahu setelah Tiara tinggal di rumah kita, kita bisa segera mendapatkan anak.”
“Apa begitu?”
“Iya, Bang, insyaallah. Lagian, nolongin orang yang benar-benar lagi butuh pertolongan itu pahalanya besar dan berlipat-lipat. Lebih besar dari pahala bersedekah biasa.”
“Apa begitu?”
“Iya, Bang. Kata mama Dadah begitu.”
Deka terdiam sejenak untuk menimbang-nimbang sebelum mengambil keputusan.
“Oke. Kita coba dulu sementara si Tiara itu tinggal di rumah kita. Tapi, kalau sampai anak itu bikin ulah, aku gak segan-segan untuk mengusir dia dari rumah,” putus Deka.
“Terima kasih, Bang. Abang memang suami yang ruarr biasa.”
“Pasti naganya ‘kan yang ruarr biasa,” seloroh Deka sembari tersenyum mesum.
Ririn memutar bola matanya lalu membuang napas. “Hufht.”
.
.
.
Terima kasih dukungannya
__ADS_1