Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Toilet


__ADS_3

Esok harinya, Ririn dan Deka mengantarkan Syad pulang ke rumah Mama. Begitu sampai rumah, Syad langsung mengadu pada ayah dan bundanya.


"Yayah, Daddy nackal," adu Syad.


"Daddy nackal kenapa?" tanya Dewa.


"Cad ditinggal cendiyi. Cad tidun cendiyi," adu Syad lagi.


"Abang gimana sih, masa Syad suruh tidur sendiri!" protes Dewa.


"Syad udah gede, harus mulai belajar tidur sendiri," kilah Deka.


"Iya, tapi pelan-pelan ngajarinnya. Jangan langsung suruh tidur sendiri kayak gitu," tukas Dewa.


"Semalam juga gitu, kita tuh temenin Syad tidur dulu, habis dia tidur baru kita pindah. Memangnya lo mau pas gue lagi anu-anu terus Syad bangun dan ngeliat gue sama Ririn lagi ...."


"Ih, Abang!" potong Ririn cepat, sebelum suaminya itu menceritakan kejadian semalam dengan polosnya.


Ia yang tengah duduk di samping Deka, segera berdiri dan berlalu meninggalkan dua pria tampan kakak beradik itu. Khawatir Deka berbicara ngawur, nanti ia sendiri yang menanggung malu. Begitu pikirnya.


Sekitar tiga jam mereka berada di rumah Mama. Puas bermain dengan keponakan lucu mereka, juga bercengkerama dengan keluarga. Menjelang siang, Deka dan Ririn berpamitan pulang.


"Kalian mau pulang? Enggak makan siang dulu di sini," tawar Mama saat mereka berpamitan.


"Kita makan di luar aja, Mah. Sekalian ngajak Ririn jalan-jalan," sahut Deka.


"Kalau begitu, Mama setuju. Kalian memang harus sering-sering menghabiskan waktu berdua. Jangan kerja terus, ngurusin perusahaan terus," nasihat Mama.


"Iya, Mah." Deka mencium punggung tangan Mama.


"Sayang, gimana, apakah udah ada tanda-tanda hamil?" lontar Mama saat Ririn salim mencium tangannya.


"Hamil? Belum, Mah," sahut Ririn cepat.


Bagaimana mungkin baru berproses semalam langsung hamil.


"Kalian 'kan belum bulan madu, coba dong bulan madu. Semoga dengan bulan madu, Ririn bisa segera hamil," usul Mama.


"Kalau bulan madu, Deka harus sesuaikan dengan kerjaan di kantor dulu. Nanti deh, kalau ada jadwal yang longgar, insyaallah kami akan buat rencana bulan madu," sahut Deka.


Ririn hanya tersenyum menanggapi usulan Mama.


Sepulang dari rumah Mama, mereka pergi ke mal. Tujuannya membeli ponsel baru untuk Ririn sekalian makan siang. Sampai di mal, Deka berjalan menggandeng Ririn.


"Sayang mau makan dulu atau nyari ponsel dulu?" tawar Deka.


"Terserah Abang aja baiknya bagaimana, saya mah nurut aja," sahut Ririn.


"Istri solehah." Deka melingkarkan tangan Ririn di pinggangnya seraya menatap wajah cantik itu.


"Suami soleh." Ririn menatap Deka diimbuhi seulas senyum.


Lalu keduanya tertawa bersama-sama.


"Kita cari ponsel dulu aja, ya," kata Deka.


"Oke."


Kemudian Deka mengajak Ririn ke sebuah gerai resmi salah satu brand ponsel ternama. Sesaat sebelum masuk gerai, Ririn menghentikan langkahnya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Deka.


"SPG-nya cantik-cantik ya," kata Ririn.


Deka tersenyum menatap Ririn lalu menjawil hidungnya. "Masih lebih cantik kamu," ucapnya.


"Gombal," desis Ririn.


"Enggak gombal, ini jujur dari lubuk hati yang terdalam," bisik Deka di telinga Ririn.


Cup ...

__ADS_1


Deka mengecup pipi Ririn setelah berbisik.


"Ish, Abang. Malu dilihat orang!" protes Ririn.


"Makanya, jangan mancing-mancing deh!"


"Iya, maaf."


"Ya udah, masuk yuk!"


Ririn mengangguk. Deka kembali menggandeng Ririn, masuk ke dalam gerai ponsel.


"Sayang, kamu mau yang mana ponselnya?" tanya Deka sembari melihat-lihat model ponsel yang terpajang di sana.


Ririn mendekatkan bibirnya di telinga Deka. "Yang murah aja, Bang," bisiknya.


"Yang kayak aku aja mau?" tanya Deka lagi.


"Yang kayak Abang, mahal. Saya mau yang murah aja," jawab Ririn dengan berbisik lagi. Khawatir didengar oleh sang SPG yang baru saja membeberkan kualitas dan spek beberapa ponsel pilihan.


"Wah, kakaknya so sweet nih, pake bisik-bisik. Tapi bukan bisik-bisik tetangga 'kan," seloroh sang SPG.


"Kami pengantin baru, Mbak," terang Deka.


"Ish, Abang!" Ririn mencubit pelan lengan Deka.


Kenapa harus bilang-bilang pengantin baru segala sih.


"Ciye ciye, pantesan so sweet," goda sang SPG berkulit putih dengan tubuh semampai itu. Setelahnya ia kembali menjelaskan produk ponsel yang tersedia di gerai.


"Ini yang keluaran terbaru, Kak. Model lipat ini cocok dengan istrinya yang cantik. Kelebihan utama yang ditonjolkan hp seri Galaxy Z adalah punya layar yang bisa dilipat. Hp ini punya dua layar, di mana layar utamanya ada di bagian dalam yang bisa dilipat.


Layar utamanya punya luas 7.6 inci saat dibuka. Resolusinya tinggi 2208 x 1768 piksel dan support refresh rate 120 Hz. Layar di bagian cover punya luas 6.2 inci dengan resolusi 2268 x 1768 piksel. Penutup layar memudahkan kita untuk mengakses fitur hp tanpa membuka layar lipat.


Ada 4 kamera di hp paling mahal di ser ini. Kamera di bagian cover punya resolusi 4MP. Sedangkan di belakang ada 3 buah kamera 12MP, " papar sang SPG.


"RAM berapa ini?"


"Abang!" Ririn menggelengkan kepalanya, memberi isyarat bahwa ia tidak mau.


Saat sang SPG menerangkan spek ponsel, mata Ririn justru tertuju pada harga yang tercantum. Ia menelan ludah saat mengetahui harga ponsel tersebut mencapai tiga puluh jutaan. Jika dibelikan motor matic bekas seperti miliknya di Subang, harga segitu bisa mendapatkan lima atau enam buah motor bekas. Begitu yang ada di benak Ririn.


"Saya mau ponsel yang biasa saja, Mba. Saya bukan wanita karir, hanya ibu rumah tangga biasa. Yang penting ada aplikasi WhatsApp untuk berkomunikasi dengan suami. Juga ada aplikasi noveltoon untuk baca novel," ujar Ririn.


"Suaminya mau membelikan yang mahal loh, Kak. Jangan ditolak," rayu SPG berwajah oriental itu.


"Jangan, saya gak mau."


"Kenapa, Sayang?"


Hati Ririn berbunga-bunga sekaligus malu dipanggil "Sayang" di depan orang lain. Setelah malam pertama, Deka selalu memanggilnya dengan panggilan "Sayang", tapi kalau dipanggil dengan sebutan tersebut di depan umum, kok ada rasa malu-malu gimanaaaa gitu.


"Kalau hape mahal, nanti kalau dibanting Syad, saya bakal nangis." Ririn menjawab pertanyaan terakhir Deka.


"Kalau dibanting lagi, ya tinggal beli lagi," ujar Deka ringan tanpa beban. Sultan gitu loh.


"Abang, saya mau ke toilet dulu ya. Udah kebelet," kata Ririn.


"Ya udah, aku antar," sahut Deka.


"Ga usah, Abang pilihkan saja hapenya. Biar ga lama-lama, habis ini kita langsung makan siang."


"Aku antar aja."


"Ga usah, saya bisa sendiri. Nanti lama lagi kalau Abang antar saya," tolak Ririn.


"Yakin, bisa ke toilet sendiri?"


"Insyaallah, Bang. Ini 'kan tempat rame, kalau ada apa-apa tinggal teriak."


"Mba, toiletnya di mana?" tanya Deka.

__ADS_1


"Dekat kok, Kak. Di belakang gerai ini, dekat pintu keluar ke area parkir belakang mal," terang sang SPG.


"Toiletnya juga dekat, Abang ga usah khawatir," timpal Ririn.


"Ya udah deh, tapi hati-hati," pesan Deka.


"Iya," sahut Ririn.


Sebelum pergi ke toilet, ia mendekati Deka lalu berbisik di telinganya. "Pilih hape yang harganya di bawah lima juta, ya."


Deka tersenyum, lalu mengusap puncak kepala Ririn yang tertutup jilbab warna coklat susu. "Jangan lama-lama ya di toiletnya," pesannya.


"Iya."


Ririn berlalu meninggalkan gerai ponsel. Ia pergi ke belakang gerai sesuai arahan sang SPG. Benar saja, dari tempatnya berdiri ia sudah dapat membaca petunjuk arah toilet.


Sementara di gerai, Deka telah selesai memilih ponsel. Ia berencana membeli dua buah ponsel untuk Ririn dan Fery. Untuk Fery ia membelikan Galaxy S20 Ultra yang kisaran harga belasan juta. Sedangkan untuk Ririn ia membelikan Galaxy A52s 5G.


"Mau dibayar sekarang, Kak?" lontar sang SPG.


"Sebentar, tunggu istri saya dulu," sahut Deka.


"Baik, Kak."


Setelah beberapa menit menunggu, Ririn belum kunjung kembali dari toilet.


"Mba, saya titip dulu ponsel pilihan saya. Saya mau susul istri saya ke toilet, nanti saya kembali ke sini," kata Deka.


"Baik, Kak."


Deka meninggalkan gerai, lalu beranjak menuju toilet.


"Dek, di dalam apa ada istri saya?" tanya Deka pada seorang gadis remaja yang baru keluar dari toilet wanita. Sebab tidak mungkin ia masuk ke toilet wanita untuk mencari Ririn.


"Istrinya, Om?" Gadis itu mengernyit bingung.


"Maksud saya, apakah di dalam ada perempuan cantik pake kerudung warna ... coklat susu?"


"Kalau perempuan cantik di dalam toilet sih banyak, aku salah satunya, Hihihihihi," sahut gadis remaja itu genit.


"Tapi kalau yang pakai kerudung kayaknya ga ada deh," lanjut si gadis.


"Saya minta tolong sama kamu. Tolong kamu masuk lagi, terus kalau ada perempuan cantik pake kerudung coklat, tolong bilang, ditunggu suaminya di luar gitu. Tolong ya," mohon Deka.


"Nama istrinya siapa, Om?"


"Ririn."


"Ok."


Gadis itu masuk kembali ke toilet, beberapa jenak kemudian ia keluar lagi menemui Deka. "Ga ada, Om. Di dalam ga ada yang pakai kerudung."


"Kamu yakin?"


"Yakin. Lagian di dalam toilet cuma ada tiga orang. Ada teman saya sama ibu-ibu dan anaknya. Tapi ibu-ibunya gak pake kerudung. Kalau gak percaya Om masuk aja, cari sendiri." Gadis itu lalu pergi meninggalkan toilet.


Seketika wajah Deka tampak pucat sebab rasa cemas dan khawatir yang mendadak datang.


Ya Allah, Ririn ke mana? Lindungi istriku,  ya Allah. Batinnya.


.


.


.


.


Terima kasih dukungannya


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2