
Deka duduk termenung di kursi tunggu lobi rumah sakit. Setelah drama penolakan menjadi pendonor darah untuk Mimin, ia tidak pergi ke mana-mana, hanya duduk di lobi.
Sesungguhnya ia pun sama khawatirnya. Tentu saja khawatir dengan keselamatan Mimin. Tapi apa yang dapat dilakukannya. Tidak mungkin ia mendonorkan darah untuk adik iparnya itu.
Mendonorkan darah untuk Mimin berarti mencelakakannya. Menularkan virus kepada wanita yang pernah menjadi teman sekantornya. Apalagi Mimin pernah merebut hatinya. Bahkan kembaran Ririn itu adalah titik balik dari kehidupan liarnya. Dan Dewa adalah orang pertama yang menunjukkan jalan pertobatannya. Mimin dan Dewa adalah dua orang yang sangat berharga baginya. Ia sangat menyayangi adik dan iparnya itu.
Ia menghubungi Fery untuk mendata karyawan yang bergolongan darah yang dibutuhkan Mimin. Meski ia pun tidak yakin, sebab sepertinya data tentang golongan darah belum tercantum dalam database karyawan. Dan lagi apakah bisa mengejar waktu dengan jadwal operasi Mimin yang sebentar lagi akan dilakukan. Namun, setidaknya ia telah berusaha.
Ia hanya bisa berdoa untuk keselamatan Mimin. Semoga bundanya Syad dan calon keponakan keduanya itu selamat, sehat walafiat, tak kurang satu apapun. Amin.
Sang rawi telah kembali ke peraduannya. Warna senja nan cantik yang menghias kota Jakarta semakin menghilang, seiring langit gelap yang kini datang. Deka mengayun langkahnya menuju masjid di rumah sakit tersebut untuk menunaikan salat Magrib. Semoga salat dapat menenangkan hati dari rasa bersalahnya.
Selepas salat, ia pergi ke area parkir untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di mobil. Ia duduk di belakang setir, membaca beberapa pesan yang masuk ke aplikasi telepon warna hijau.
Pertama, ia membaca pesan dari kontak yang disimpan dengan nama ‘Sayangku’, yang tidak lain adalah nomor kontak Ririn.
[Saya sungguh kecewa sama Abang!]
[Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Mimin. Saya ga akan pernah memaafkan Abang!!]
Ada perasaan sedih dan kesal saat membaca pesan itu. Mengapa Ririn tidak mengerti bahwa dirinya tidak mungkin menolak menjadi pendonor darah untuk Mimin tanpa alasan yang sangat kuat. Ia tidak mungkin sejahat itu. Namun, Ririn malah menyudutkannya.
Kemudian ia membaca pesan dari Bella.
[Abang, ada party loh!]
[Ayo, kita ke party]
Ia yang tengah kacau hati dan pikirannya langsung membalas pesan Bella.
[OK]
\=\=\=\=\=
Setelah sekitar satu jam menunggu di ruang tunggu, akhirnya kabar baik yang datang. Kabar bahwa proses persalinan Mimin berjalan dengan lancar dan tidak ada kendala. Alhamdulillah.
Ririn bernapas lega saat mendengar kabar tersebut. Sebab ia akan sangat merasa bersalah jika sampai terjadi sesuatu dengan Mimin. Apalagi jika proses persalinan itu sampai memerlukan transfusi darah, sementara ia dan Deka tidak dapat mendonorkan darahnya.
“Cantik banget bayinya,” ucap Ririn sembari menoel-noel pipi lembut dua bayi kembar yang cantik-cantik itu.
“Semoga nanti kamu juga cepat nyusul ya, Rin. Semoga kamu cepat hamil,” ujar Mimin.
“Iya, biar Mama punya banyak cucu,” timpal Mama.
Ririn tersenyum kecut menanggapi ucapan Mama dan Mimin. Lagi-lagi soal anak. Mana mungkin? Jika mendapatkan anak diibaratkan sebuah proses pembuatan pangan, jangankan membuat adonannya, mencampur bahan bakunya saja belum dilakukan.
“Oya, Min, maaf ya soal ...." ujar Ririn, namun ucapannya segera dipotong oleh Dewa.
"Ssst, udah jangan dibahas!" seru Dewa sembari memberi isyarat agar Ririn jangan membahas tentang donor darah kepada Mimin. Sepertinya Dewa memang belum dan tidak mau menceritakan hal itu kepada istrinya.
“Sekarang Deka ke mana?" lontar Mama.
"Gak tahu, Mah,” sahut Ririn.
"Ya, sudahlah. Biarkan saja, nanti mama akan bicara sama dia." Mama berucap kesal.
"Jangan, Mah. Jangan ikut campur urusan rumah tangga anak, ga baik. Dewa yakin Bang Deka lagi punya masalah tapi dia ga mau cerita. Biarlah, tunggu sampai dia mau cerita sendiri. Mama ga usah maksa-maksa Bang Deka buat ngomong," sahut Dewa.
Sesaat kemudian Abah, Mami, Opi dan Syad datang. Membuat suasana ruang kamar perawatan semakin ramai. Obrolan Mama dan Mami yang heboh ditambah celoteh Syad. Begitu datang, Syad langsung minta rebahan di dekapan bundanya.
"Aduh, Syad jangan ganggu bunda. Bundanya masih auh perutnya," cegah Dewa saat Syad memaksa merangsek mendekati Mimin.
"Sini, Syad gendong sama Mom aja," bujuk Ririn.
“Daddy mana?” Syad yang dekat dengan Deka bertanya keberadaan daddy-nya.
__ADS_1
“Daddy enggak ada, sama mommy aja ya,” bujuk Ririn lagi.
"Cama ayah ada, boyeh?" (Sama ayah aja, boleh?)
"Yuk, gendong sama ayah aja." Dewa meraih Syad dalam gendongan.
"Udah diazani bayinya, Ding?" tanya Abah.
"Udah, Bah,” jawab Dewa.
"Siapa namanya si duo cantik ini?" tanya Opi sambil menatap gemas kedua ponakan barunya.
"Syakira Azzahra dan Safiyaa Azzahra,” jawab Dewa.
“Lihat si kembar jadi ingat Mina sama Ririn,” timpal Mama.
“Iya, ini mirip seperti Mimin dan Ririn waktu bayi,” sahut Abah.
“Rin, Nak Deka ke mana?” tanya Mami.
“Emm, Bang Deka sedang ada pekerjaan, Mih,” sahut Ririn.
“Udah malam begini Nak Deka masih kerja?” tanya Mami lagi.
“Iya, Mih," jawab Ririn.
“Nanti, mama yang akan bilang sama Deka biar dia ga terlalu sibuk sama pekerjaannya. Kalau dia sibuk terus, bagaimana mau punya anak,” timpal Mama.
“Sabar Bu Dewi. Nak Deka sama Ririn ‘kan baru sebulan menikah. Masih banyak waktu,” timpal Abah.
“Oya, Pak Haji sama Bu Haji nanti menginap di rumah saya saja,” tawar Mama.
“Biar Abah sama Mami nginep di rumah Bang Deka aja sih, Mah,” kata Dewa.
“Rin, coba kamu telepon itu si Deka suruh ke sini!” titah Mama.
“Biar Dewa aja, Mah, yang telepon Bang Deka,”timpal Dewa.
\=\=\=\=\=\=\=
Hingar bingar suara musik mengentak-entak di sebuah diskotek. Begitu asyik dinikmati para manusia malam. Namun, membuat bising di telinga bagi yang tidak terbiasa datang ke tempat dengan pencahayaan temaram tersebut.
Deka ada di tempat itu, datang bersama Bella menghadiri pesta ulang tahun temannya yang diadakan di salah satu sudut tempat itu.
“Come on, Bang. Muka kamu kusut gitu loh. Let’s enjoy this night,” ujar Bella. Deka hanya tersenyum menanggapi ucapan Bella.
“Musiknya asyik gini. Joget dong!” Bella menggoyang-goyang tubuhnya berjoget ala ajeb-ajeb. “Kenapa sih, hem?” tanyanya.
“Aku udah lama banget ga datang ke tempat seperti ini,” sahut Deka.
“Oya, Really? It’s too bad. Ayo dong, life should be enjoyed!” Bella semakin lincah bergoyang-goyang.
“Turun yuk!” Bella menarik tangan Deka, mengajaknya berdansa di lantai dansa seperti kerumunan manusia malam lainnya.
“Enggak, Bell,” tolak Deka. “Kamu aja.” Deka kembali duduk di tempatnya.
“Lihat, itu DJ-nya keren banget. Cewek loh DJ-nya. Abang mau aku kenalin sama DJ-nya itu, hah?” goda Bella sembari menaik-turunkan alisnya.
Deka tersenyum. “Enggak, Bell. Ngaco kamu?”
“Really? She’s so sexy. Selera kamu ‘kan?” goda Bella lagi.
“Aku sudah punya bidadari di rumah yang lebih cantik dan seksi,” sahut Deka. Seketika ia teringat dengan wajah cantik dan teduh istrinya.
“Ya ya ya ya. Si JANDA beruntung itu ‘kan?” Bella memutar bola matanya, berucap sinis.
__ADS_1
“Apa kamu bilang?! Aku gak suka dengan ucapan kamu!” Deka merasa geram dengan ucapan Bella barusan. “Jangan remehkan istriku!” katanya tegas.
“Ma-maksud aku ... I mean ... eng ....” Bella tampak gelagapan. Ia tidak tahu harus menyahut apa.
“Aku sangat menyayanginya!” tegas Deka.
“Iya iya. I’m sorry.” Bella mengusap lengan Deka.
Deka sangat kesal dengan ucapan Bella. Ia pergi meninggalkan Bella menuju meja bar.
“Abang ...!” Bella mengejar Deka. “Sorry, aku minta maaf,” ucapnya.
“Hem.”
“Bagaimana kalau aku pesankan minuman untuk Abang,” tawar Bella.
“Boleh, aku pesan cocktail saja,” ujar Deka.
“Masa cocktail? Wine dong,” sahut Bella.
“Terserah kamu aja.”
“Okay.” Bella mengangkat tangan, menunjukan jari tangannya yang membentuk simbol ‘oke’.
Bella beranjak menghampiri seorang pelayan bar dan memesan minuman. Beberapa saat kemudian pelayan bar membawakan pesanan Bella.
“Ayo minum, Bang!” seru Bella karena melihat Deka belum menyentuh minuman yang dipesannya.
Deka hanya memandangi gelas yang telah dituangkan wine ke dalamnya. Ia teringat pesan Dewa saat baru mulai belajar agama.
“Pria muslim pantang mabuk ya, Bang! Ketahuilah, sekali Abang mabuk maka selama 40 hari kebaikanmu ditolak, dan dunia melaknatimu. Be a good man, be a positive man.”
Saat Deka tengah merenungi pesan adiknya itu, Bella menyodorkan gelas berisi minuman beralkohol itu ke depan bibirnya.
“I know your problem. Minumlah! It will make you feel better,” rayu Bella.
“Come on!” seru Bella saat Deka hanya memandangi wajahnya dan gelas itu bergantian.
Deka menerima gelas itu dari tangan Bella. Ia mendekatkan bibirnya di gelas itu. Baru ia akan meneguk minuman itu, lalu ...
“Adaw adaw adaw,” pekik Deka kesakitan sebab seseorang menjewer telinganya.
.
.
.
.
.
__ADS_1