
Tak seperti hari biasanya, Deka pulang lebih awal hari ini. Langit yang cerah bahkan masih memancarkan sisa kehangatannya. Saat masuk rumah, ia berpapasan dengan Dewa.
“Loh, Wa. Lagi ada di sini?”
“Iya, Bang.”
“Syad mana?”
“Enggak, gue sendiri. Habis ke tempat supplier, mampir ke sini.”
“Ooh.” Deka memperhatikan penampilan adiknya itu yang memakai sarung dan baju koko. “Mau ke mana?” tanyanya.
“Ke masjid, Bang.” Jawaban Dewa bertepatan dengan kumandang azan Asar. “Gue ke masjid dulu, Bang. Entar lagi deh kangen-kangenannya. Hihihi.”
“Wa, tunggu!” seru Deka saat Dewa telah melangkahkan kaki sampai pintu.
“Iya, Bang.”
“Emm, Gue boleh ikut ke masjid?” tanya Deka ragu-ragu.
“Abang mau ikut ke masjid? Boleh banget, Bang. Ayok!” Dewa tersenyum senang mendengar kakaknya itu mau ikut ke masjid.
Sepertinya Bang Deka habis keteguran malaikat. Batin Dewa bergumam.
“Beneran boleh?” Mata Deka berbinar cerah. “Gue mandi dulu, ya,” lanjutnya.
“Eh, ga usah, Bang. Ga mandi juga ga papa. Yang penting Abang bersih dari najis, hadas kecil, dan hadas besar," ujar Dewa.
Deka mengerutkan kening. “Apa itu yang kamu sebutin tadi? Najis, hadas itu apa?" tanyanya.
“Nanti aja deh jelasinnya sambil jalan. Sekarang kita langsung ke masjid aja, udah azan soalnya. Nanti ambil wudu di masjid aja. Kuy lah!” sahut Dewa.
“Pake baju begini gak papa?”
“Iya ga papa, yang penting bersih dari najis dan menutupi aurat.”
“Yuk, Bang!"
Dewa membuka pintu. Deka mengikuti di belakangnya. Mereka berdua mengayun langkah menuju masjid komplek dengan berjalan kaki.
“Bang, gue boleh tanya.” Dewa melirik Deka yang berjalan di sampingnya.
“Hemm. Mau tanya apa?”
“Dulu waktu kecil Abang sekolah di mana? Maaf nih, kayaknya Abang kok sama sekali ga mengerti dasar-dasar agama.”
Wajar kalau Dewa tak mengetahui soal sekolah Deka. Saat kecil dulu mereka terpisah karena perceraian orangtua. Deka ikut bersama papahnya, sedangkan Dewa ikut bersama mamahnya. Kedua orangtua mereka memutuskan kembali rujuk saat Deka duduk di kelas tiga SMA. Saat orangtua mereka rujuk, Dewa tengah mondok di pesantren. Saat Dewa lepas dari pesantren, Deka tengah berkuliah di luar negeri. Praktis hal itu membuat hubungan keduanya baru dekat belakangan ini.
Deka menyebutkan nama sekolah tempatnya dulu menimba ilmu. Sebuah sekolah Kristen di Jakarta. Alasan papahnya dulu memasukkan ke sekolah itu karena tempatnya yang strategis, dekat dengan kantor tempat papahnya bekerja. Sehingga memudahkan untuk mengantar jemput.
“Setau gue, keluarga kita itu agamanya Islam. Tapi ya itu, keluarga kita seperti tak mengenal agama. Solat itu penting. Sebab amal yang pertama dihisab pada seorang hamba adalah solatnya,” tutur Dewa.
“Tapi gue ga bisa solat.”
“Bang Deka bisa belajar sholat.”
“Apakah tidak terlambat, belajar solat umur segini?”
“Ga ada kata terlambat untuk belajar, Bang.” Kalimat terakhir Dewa mengiringi langkah kaki mereka masuk ke dalam masjid.
“Wa, gue belum bisa sholat. Gue tunggu di luar aja kali ya.” Deka menahan langkah Dewa.
“Masuk aja, ga papa. Siapa tau di dalam Abang mendapat hidayah,” sahut Dewa.
Dewa menuntun tangan Deka dan melanjutkan langkah masuk ke dalam. Deka mengikuti langkah adiknya itu dengan perasan gamang.
__ADS_1
Sebelum salat dimulai, mereka mengambil wudu terlebih dahulu di tempat wudu yang disediakan masjid. Sebenarnya Dewa sudah berwudu di rumah tadi. Karena ingin mengajari Deka, maka ia berwudu lagi.
Ini adalah kali kedua Deka menginjakkan kaki di masjid. Pertama kali adalah ketika menginap di rumah Abah, lalu melaksanakan salat Subuh di masjid kampung Cibening. Tanpa disadari tempat suci itu menumbuhkan sebuah perasaan yang ia rindukan.
Ia sendiri tak memahami perasaan apakah yang tertinggal begitu dalam usai pertama kali mendatangi masjid kala itu. Ia merindukan getaran yang sejuk merambat hingga ke hati saat berlutut dan menempelkan dahi ke lantai beralas sajadah. Perasaan damai yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Tadi itu namanya salat Asar,” terang Dewa saat mereka melenggang pulang.
“Oh.” Jawaban Deka hanya ‘oh’ namun tak menampik raut ketertarikan akan pembahasan yang disampaikan Dewa. “Apa orang seperti gue, masih boleh solat?” tanyanya.
“Malah wajib, Bang. Solat fardu itu wajib hukumnya bagi setiap muslim.”
“Tapi gue merasa gak pantas. Gue telalu kotor, dosa gue numpuk.”
Dewa merangkul pundak Deka. “Semua manusia pasti punya dosa, Bang. Yakinlah, di samping seorang hamba yang berlumur dosa, ada Allah yang penuh rahmat. Sebagian rahmat-Nya adalah membuka pintu taubat bagi hamba yang sungguh-sungguh ingin bertobat.”
“Gue udah lama berhenti dan meninggalkan kegiatan maksiat. Tapi tetep aja gue merasa kecil dan gak pantas .... “
“Bang, tobat sejati bukan hanya berhenti dari berbuat maksiat, tetapi juga berbalik menuju kebaikan dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk tetap berada di jalan kebaikan itu,” sela Dewa.
“Gue yakin Abang telah melakukan kebaikan itu. Sekarang tinggal bagaimana menjadikan kebaikan yang Abang lakukan itu agar bernilai ibadah. Caranya, Abang harus dekat dengan Allah,” lanjut Dewa.
Setelahnya tak ada lagi obrolan di antara mereka. Dewa sengaja memberikan kesempatan pada Deka untuk dapat mencerna ucapannya.
Kedua pria tampan itu sampai ke rumah. Mereka berjalan beriringan naik ke kamar yang berada di lantai dua. Mereka meraih pintu kamar masing-masing yang posisinya berseberangan.
“Wa,” panggil Deka sesaat sebelum Dewa masuk ke kamarnya.
“Iya, Bang.” Dewa memutar kepalanya menjawab panggilan Deka.
“Tolong ajari gue solat,” pinta Deka sungguh-sungguh.
Terpaku sejenak karena mendengar permintaan Deka, Dewa segera menghampiri kakaknya itu dan langsung memeluknya.
“Alhamdulillah, seneng dengernya. Insyaallah dengan senang hati, gue temani Abang belajar solat,” ujar Dewa, masih memeluk Deka.
Sebelumnya, Dewa meminta izin terlebih dulu pada Mimin melalui sambungan telepon. Menyuruh istri tercinta yang tengah hamil muda itu untuk menginap di rumah orangtuanya. Mendengar alasan yang disampaikan Dewa, Mimin mengizinkannya untuk menginap bahkan turut mendukungnya untuk mengajari Deka salat.
Selepas magrib Dewa menuliskan bacaan salat dalam sebuah buku. Bacaan salat itu ia tulis dengan huruf latin agar memudahkan Deka dalam menghafal, sebab Deka belum bisa membaca tulisan arab.
Usai makan malam, dua kakak beradik itu beranjak ke kamar Deka.
“Ini, Bang.” Dewa menyerahkan sebuah buku yang di dalamnya terdapat bacaan salat hasil tulisan tangannya. “Abang baca, lalu hafalkan.”
“Banyak juga ya yang harus dihafal.”
“Bang Deka ‘kan pinter waktu sekolah, pasti encer untuk menghafal itu mah. Ini bacaan salatnya sengaja aku tulis pake huruf abjad karena Bang Deka pasti belum bisa baca tulisan huruf arab ‘kan?”
Deka mengangguk.
“Nah, nanti kalau ini udah hafal. Kita lanjut belajar ngaji iqro,” lanjut Dewa.
Deka mengangguk lagi.
“Sebelum menghafal itu, Abang baca ini dulu. Abang harus tahu dulu rukun-rukun salat, syarat sahnya salat, apa yang membatalkan salat. Ini masih ada bukunya, buku lama punya gue dulu.” Dewa menyerahkan sebuah buku berjudul ‘Tuntutan Salat Lengkap’ yang sampulnya telah usang dimakan waktu.
Dewa menerangkan mulai dari dasar-dasar fikih tentang bersuci, tentang najis, hadas besar dan kecil, juga tentang wudu. Deka mendengarkan dengan saksama penjelasan Dewa.
“Kalian lagi ngapain?” Mama melongokkan kepala di pintu kamar Deka.
“Masuk sini, Mah,” sahut Dewa.
Mama masuk ke kamar lalu duduk di tepi ranjang di sebelah Dewa.
“Tuntunan salat lengkap.” Mama membaca judul buku yang diambil dari tangan Deka. “Kamu mau belajar salat?”
__ADS_1
“Iya, Mah. Bang Deka mau belajar salat.” Dewa yang menjawab pertanyaan Mama.
“Bener kamu mau belajar solat?” selidik Mama.
“Iya, Mah. Ga papa ‘kan?”
“Ga papa, dong. Emm ... Mama juga mau ikut belajar solat, boleh?”
“Boleh banget, Mah.” Dewa merengkuh bahu Mama yang duduk di sampingnya. “Dewa seneng banget dengernya.”
“Papa ga diajak, nih!” seru Papa yang mendadak muncul dan ikut bergabung.
“Papa mau belajar solat juga?” lontar Dewa.
“Sejujurnya sejak papa berbesanan dengan mertua kamu, papa udah pengen belajar solat, tapi ... malu mau ngomongnya,” sahut Papa.
Dewa tersenyum mendengar kejujuran Papa. “Ga usah malu, Pah. Dilarang malu untuk melakukan suatu kebaikan.”
“Papa khawatir ga bisa.”
“Pasti bisa, Pah. Biar kita bisa masuk surga bareng-bareng,” ujar Dewa.
“Kalau begitu mari kita belajar solat bareng-bareng,” sahut Mama.
“Sepertinya Dewa harus memanggil ustaz. Kalau Dewa yang mengajari sendiri, khawatir Dewa gak mampu bolak-balik Serang-Jakarta.”
“Iya, Wa ... papa setuju. Lebih baik kamu panggil ustaz profesional untuk mengajari kami solat.”
“Siap, Pah. Oya, ngomong-ngomong apa sih yang membuat Papa ingin belajar solat?” tanya Dewa penasaran.
“Karena nantinya papa ingin naik haji seperti mertua kamu,” jawab Papa. “Biar nanti papa dipanggil ‘Pak Haji’, Haji Satya Nugraha.”
Dewa geleng-geleng kepala mendengar jawaban Papa. Sementara Deka dan Mama tertawa-tawa. Rupanya diam-diam Papa bercita-cita menjadi Pak Haji.
.
.
.
.
.
Terima kasih dukungannya.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1