
Deka terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. Saat binar harapan terpancar dari bening mata Ririn, hati Deka justru sedikit menciut.
“Bah, Ririn ke belakang dulu,” pamit Ririn. Yang dibalas anggukan oleh Abah.
Ririn bangkit dari duduk lalu beranjak ke dapur. Berusaha menghindar dari obrolan Abah dan Deka.
“Mungkin penolakan Ririn saat itu karena Ririn merasa belum mengenal Nak Deka,” ucap Abah saat Deka hanya terdiam tak menjawab lontaran pertanyaannya.
“Saya ....” Deka terdiam lagi sejenak, berusaha merangkai kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan Abah.
“Saat dulu mama saya melamar Ririn, motivasi saya hanya satu ... ingin menikah. Belakangan saya merasa ... saya harus memperbaiki diri saya dulu," tutur Deka.
“Bagus itu," sahut Abah sambil manggut-manggut.
“Bukankah katanya menikah itu ibadah? Sedangkan saya merasa belum bisa beribadah dengan benar.”
“Ya, semuanya bisa dilakukan seiring sejalan.”
“Saya takut karena saya .... “
“Tidak ada yang perlu ditakutkan untuk menikah.”
“Saya khawatir saya tidak dapat menjadi imam yang sempurna.”
“Tidak ada yang sempurna di dunia ini, Nak Deka. Yang sempurna itu hanya Allah. Manusia yang terrrrrbaik itu ya Rosulullah. Kita-kita ini hanya manusia biasa, yang mungkin banyak tidak baiknya. Tapi yang paling baik dan utama adalah berusaha untuk lebih baik dan terus belajar menjadi lebih baik," tutur Abah.
“Iya, Bah. Tapi saya ingin memantapkan diri saya. Saya sedang berusaha meneguhkan hati saya dengan iman dan ilmu. Saya ....” Deka menggantung kalimatnya.
Abah menepuk pundak Deka. “Kalau Nak Deka sudah siap, dan lamaran untuk Ririn itu masih berlaku, datanglah lagi ke sini! Insyaallah jawaban Ririn tidak sama dengan waktu itu. Insyaallah Ririn akan menerima lamaran Nak Deka kali ini. Abah yakin itu," tuturnya.
Deka mengangguk mendengar penuturan Abah.
“Malam ini, Nak Deka menginap di sini saja. Dewa dan Mimin juga akan abah suruh menginap di sini.” Deka mengangguk patuh.
“Sekarang abah mau bawa ba-jingan itu ke kantor polisi. Kalau Nak Deka perlu ke dokter, biar abah antar,” tawar Abah.
“Enggak usah, Bah. Saya ga papa kok,” tolak Deka. “Besok juga udah sembuh,” lanjutnya.
“Insyaallah. Ya sudah, silakan Nak Deka istirahat. Abah pergi dulu.” Abah bangkit dari duduk. Setelahnya berlalu meninggalkan Deka.
\=\=\=\=\=\=
Sebulan sudah berlalu setelah kejadian malam penyerangan Jefri. Selama itu, Deka hampir tidak pernah berkunjung lagi menemui Ririn. Pernah sekali dua kali berkunjung ke Serang, tapi adalah untuk kepentingan memberikan keterangan pada pihak kepolisian. Bahkan, sekedar komunikasi lewat gawai pun mereka sudah jarang.
Bukan karena rasanya pada Ririn telah memudar. Namun ada setitik keraguan yang mendadak hadir. Ia merasa dirinya tak cukup lebih baik dari mantan suami Ririn. Setelah pengalaman pernikahan suram di masa lalu, seharusnya Ririn mendapatkan pria yang lebih baik. Dan itu bukanlah dirinya. Begitu yang ada di pikiran Deka.
__ADS_1
Sementara Ririn merasa sikap Deka belakangan menjauhinya. Padahal hatinya sudah mulai terbuka untuk menerima Deka. Apakah Deka hanya mempermainkan dirinya? Atau sudah ada wanita lain di hati Deka. Batin Ririn resah.
Apapun yang terjadi dengan perubahan sikap Deka, Ririn tak menyalahkannya. Cukup sadar diri serta ikhlas menerima.
Ririn meraih ponsel lalu mengetikkan sesuatu :
Yang hilang biarlah hilang. Yang pergi biarlah pergi.
Kalimat itu ia posting sebagai status WA pertamanya. Ririn sendiri termasuk orang yang jarang bahkan belum pernah meng-update status WA.
Lima menit kemudian ada bunyi pesan masuk ke ponselnya. Ririn meraih gawai dan membukanya. Ada dua buah pesan dari Deka sebagai balasan statusnya.
Deka : [Aku ga hilang. Aku gak pergi, Rin]
Deka : [Aku hanya sedang menepi]
Ririn membalas pesan Deka dengan emot senyum.
Deka : [Rin, kita harus bicara. Kapan kamu ada waktu?]
Ririn : [Saya bukan orang sibuk. Selalu ada waktu setiap saat]
Deka : [Ok. Besok kita ketemu]
Keesokan harinya Deka benar-benar datang untuk menemui Ririn. Ia mengetuk pintu dan mengucap salam. Tak menunggu lama seorang wanita cantik berjilbab yang membuka pintu untuknya.
Wanita cantik berjilbab itu tertawa kecil. “Ini Ririn, Bang,” ucapnya setelah tawanya selesai.
Deka mengerutkan dahi menatap wanita di hadapannya dari ujung kaki hingga puncak kepala. “Kamu ... kamu Ririn?”
“Iya, Bang.” Setelah kedatangan Jefri waktu itu, Ririn memantapkan hati untuk berhijab. Bismillah semoga istiqomah.
Kamu semakin cantik dengan jilbab itu, Rin. Pujian yang hanya diucapkan di dalam hati Deka.
Deka mengajak Ririn ke sebuah taman hijau di daerah dekat objek wisata religi Masjid Agung Banten. Mereka duduk di bangku taman untuk berbincang.
“Maaf kalau belakangan aku jarang datang,” ucap Deka membuka percakapan.
Ririn tersenyum kecil. “Iya, ga papa. Saya juga bukan siapa-siapa yang harus didatangi ‘kan," sahutnya datar.
“Kamu marah, ya?” tukas Deka seraya menebar senyum.
“Enggak.” Ririn menggeleng cepat.
“Iya, juga ga papa. Kalau kamu marah, artinya kamu ada rasa nih sama aku. Kamu suka ya, sama aku yang ganteng ini?” goda Deka dengan menaikturunkan alisnya.
“Enggak,” sahut Ririn cepat.
“Sekarang gini aja deh. Kalau kamu suka aku, kamu sekarang senyum. Tapi kalau kamu ga suka aku ... kamu senyum juga.”
__ADS_1
Ririn tersenyum karena kalimat Deka yang membingungkan. “Gimana sih, kalau suka senyum, kalau ga suka juga senyum. Aneh Bang Deka, nih!"
“Nah, tuh ‘kan senyum. Berarti kamu suka sama aku,” tukas Deka penuh percaya diri.
Ririn tersenyum getir. “Da aku mah apa atuh. Ga berani suka sama Bang Deka. Aku bukan siapa-siapa, apalagi aku ini janda," sahutnya lirih.
“Memangnya kenapa kalau janda? Aku juga bukan per-jaka," ungkap Deka.
Ririn yang tengah memandang lalu lalang orang-orang sekitar kemudian beralih menatap Deka. “Jadi, Bang Deka ini duda??” tanyanya. Ia sungguh tak menyangka jika seandainya benar pria tampan di hadapannya adalah seorang duda.
Deka balas menatap Ririn. “Bukan. Aku bukan duda. Aku belum pernah menikah, tapi aku ... emm ... maksud aku, aku ini pria ba-jingan, Rin. Aku ... ya pokoknya gitu lah.”
Masih menatap Deka, Ririn mengangguk-anguk kecil. Menandakan bahwa ia paham dengan ucapan Deka barusan.
Deka membuang pandangannya pada hamparan rumput hijau di hadapannya. “Tapi itu dulu. Sebelum aku datang ke kota ini. Sebelum aku bertemu Jasmin. Sebelum aku dekat dengan si Dewa," tuturnya.
“Semua orang punya masa lalu. Yang penting mau berubah menjadi lebih baik,” ucap Ririn.
Deka kembali menatap Ririn. “Rin, kalau aku seburuk itu dan sebajingan itu. Apa kamu mau menerima kalau aku melamar kamu?”
“Kalau Bang Deka mau berubah. Kalau memang Bang Deka sungguh-sungguh mau melamar dan bukan main-main ... kenapa enggak,” sahut Ririn.
Deka refleks menggenggam tangan Ririn. “Rin, serius kamu mau menerima aku?? Kalau aku bawa mama dan papa datang melamar, kamu ga akan nolak lagi kayak dulu??”
Ririn melirik tangan Deka yang menggenggam tangannya. Hal itu sontak membuat Deka melepas genggaman tangannya. “Maaf,” ucapnya.
“Memangnya Bang Deka serius mau melamar saya? Sedangkan saya gak punya keistimewaan yang patut dibanggakan. Saya cuma perempuan biasa, perempuan kampung."
“Biasa tapi istimewa, Rin. Iya, kamu istimewa.”
Ucapan Deka membuat Ririn menunduk tersipu.
“Rin, secepatnya aku akan bawa mama dan papa untuk melamar kamu,” pungkas Deka.
.
.
.
.
Terima kasih dukungannya
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1