
“Mbak Sanah, aku mau pinjam kunci ruangan kerja om Deka,” ujar Tiara pada Sanah yang tengah memangkas daun-daun liar pada tanaman bunga di kebun belakang rumah.
“Ada apa kamu mau memasuki ruang kerja Bapak?” lontar Sanah acuh tak acuh.
“Aku mau .... “
“Tidak boleh!” potong Sanah cepat.
Tiara memutar bola mata kesal. “Aku udah izin Tante, malah Tante yang suruh aku ambil kamus di ruang kerja Om,” sahutnya ketus.
“Kalau enggak percaya, telepon aja Tante, nih!” Tiara menyodorkan ponselnya.
“Sst, Bi Iroh!” Tiara menyenggol lengan Bi Iroh yang berdiri di sampingnya. Kedua ART itu tengah melakukan pekerjaan yang sama yaitu menyiram dan merawat bunga.
“Apa sih?” sahut Bi Iroh.
“Anak ini diizinkan tidak untuk memasuki ruang kerja Bapak.”
“Kalau sudah diizinkan sama Ibu, ya sudah izinkan saja.”
Sanah melirik pada Tiara. “Ya sudah, boleh masuk ke sana. Akan tetapi, awas, jangan membuat ruangan itu menjadi berantakan!” pesan Sanah.
“Iya, iya, bawel,” sungut Tiara lalu berlalu meninggalkan Sanah dan Bi Iroh.
"Dasar anak halu!" umpat Sanah.
__ADS_1
Tiara masuk ke ruang kerja Deka di lantai dua. Ini adalah kali pertama ia memasuki ruangan tersebut. Hal pertama yang dilakukannya setelah masuk ruangan tersebut adalah duduk di kursi kerja Deka bergaya seperti bos.
Pandangan Tiara tertuju pada pigura yang terletak di atas meja kerja. Ia meraih pigura yang memasang foto prawedding Deka dan Ririn.
“Kenapa Papa enggak menikah sama Mama sih!” katanya sembari memandangi foto tersebut.
Setelah beberapa saat memandangi foto, Tiara bangun dari kursi kebesaran Deka dan beranjak menuju rak buku. Saat tengah menyisir deretan buku untuk mencari kamus, ia menemukan sebuah album foto besar dengan sampul berwarna hitam.
Tiara mengambil album foto tersebut dan membawanya ke meja kerja. Duduk kembali di kursi, ia mulai membuka lembar demi lembar album foto masa-masa sekolah Deka.
“Betul, ini memang papaku. Foto ini sama dengan foto yang Mama kasih ke aku,” ujarnya sambil memandangi foto Deka yang memakai seragam SMA.
Kemudian ia kembali membuka lembaran berikutnya. Pandangannya terjatuh pada foto Deka yang tengah memeluk bahu seorang gadis. Namun, pada bagian wajah gadis dalam foto tersebut dicoret tanda silang warna merah. Serta dibubuhkan tulisan I Hate You.
Tiara meradang melihat foto itu. Gadis dalam foto yang dicoret tanda silang spidol merah itu adalah foto mamanya. Ia sangat yakin.
Ingatannya terbang ke masa-masa ia mengalami perundungan. Saat itu ia bertanya pada sang mama tentang sosok sang papa. Kemudian mamanya memberikan sebuah foto sekaligus nama pria yang seharusnya menjadi papahnya.
Radeka Bastian, menurut sang mama pria itu adalah papanya. Pria yang tidak bertanggungjawab untuk menikahi mamanya karena harus menempuh pendidikan ke luar negeri. Dan menjadikannya berstatus anak haram.
“Papa jahat! Kenapa Papa lupa sama Mama! Kenapa Papa meninggalkan Mama! Kenapa Papa membiarkan aku menjadi anak haram! Kenapa Papa menelantarkan aku. Aku benci Papa! BENCI, BENCI, BENCI,” umpat Tiara.
Hatinya bergemuruh. Amarah yang selama ini ia simpan, meledak seketika. Tiara meraih pigura foto Deka lalu melemparkannya dengan keras.
Praaangg ...
__ADS_1
Pigura itu hancur berantakan di lantai.
“Tiara! Ada apa?” lontar Ririn yang telah berdiri di depan pintu ruang kerja Deka.
.
.
.
.
Udah paham belum Tiara anak siapa?
Klu nya foto masa SMA, berarti tahu dong ya, Tiara anak siapa
__ADS_1