
Ririn bergeming menatap tas besarnya. Satu sisi hati menyuruhnya untuk pergi, sementara sisi hati lainnya menyuruh untuk bertahan.
Seharusnya saat ini adalah masa-masa indah pernikahannya. Seumpama madu, sedang manis-manisnya. Ibarat bunga, sedang mekar-mekarnya. Semisal bocah, sedang lucu-lucunya. Namun, yang terjadi malah seperti ini.
Ya Allah. Bolehkah aku pergi dari sini sebentar saja. Sekedar untuk mengetahui seberapa besar rasa sayangnya padaku. Seberapa besar dia membutuhkanku.
Tapi mau pergi ke mana? Kalau pulang ke Serang, Abah dan Mami nanti akan bertanya mengapa pulang sendiri. Apa pulang ke Subang ya? Tapi nanti Aki dan Nini juga pasti akan bertanya. Aku tidak mau membuat beban pikiran keluargaku.
Kalau tetap di sini, Bang Deka tidak akan berubah. Dia selalu tertutup. Tidak bisa terbuka menceritakan masalah dengan aku, istrinya. Oh iya, kenapa aku tidak mencari tahu sendiri saja ya.
Ririn teringat dengan ucapan Deka tentang surat hasil laboratorium. Ia seolah mendapat bisikan untuk mencari informasi tentang Deka yang mungkin bisa ditemukan di rumah ini. Ia beranjak menuju laci nakas, laci lemari dan tempat-tempat lainnya. Namun, tidak ada petunjuk yang ia temukan.
Kemudian terlintas di pikiran untuk mencari ke ruang kerja Deka. Ririn beranjak menuju ruang kerja suaminya. Hal yang jarang dilakukan, kecuali untuk sekedar membersihkannya. Ia masuk ke dalam, lalu duduk di kursi meja kerja. Pandangannya tertumbuk pada sebuah foto dalam pigura kecil yang terletak di atas meja.
Senyum Ririn terkembang, tangannya meraih pigura foto itu. Sebuah foto dirinya bersama Deka. Salah satu foto prewedding mereka dengan latar pantai Anyer.
Ririn menatap foto itu. Inilah yang membuatnya bingung. Hatinya merasa disayangi sekaligus diabaikan. Setelah beberapa saat memandangi foto, ia meletakkan kembali pigura itu ke tempatnya.
Ririn kembali ke tujuannya datang ke ruang kerja Deka. Ia menggeledah setiap laci. Namun, yang ia temukan hanya berkas-berkas pekerjaan Deka yang ia sendiri tidak paham.
Pencarian Ririn beralih ke sebuah rak buku yang berada di pojok ruangan. Ia menggeledah laci rak buku. Nihil tak ditemukan petunjuk apapun.
Setelah menggeledah laci rak buku, pandangan Ririn beralih pada deretan buku yang dikoleksi Deka. Rupanya suaminya itu selain tajir melintir takiwir kiwir, tampan menawan rupawan, tidak panuan, tidak kurapan dan tidak kudisan, juga hobi membaca.
Ririn mengabsen satu per satu buku yang kebanyakan adalah tentang bisnis, strategi bisnis, dan buku lain yang menurutnya tidak menarik. Coba kalau ada novel, aku mau baca. Gumamnya dalam hati. Hingga kemudian matanya menemukan sebuah album foto besar.
Ririn membuka album foto dengan sampul berwarna hitam itu. Terdapat foto-foto Deka di sana. Kebanyakan adalah foto masa SMA. Ia melangkah menuju sofa dan mengambil posisi duduk di atasnya agar bisa lebih fokus melihat foto-foto dalam album tersebut.
“Bang Deka dari dulu juga udah ganteng, tapi lebih ganteng sekarang sih,” ujarnya saat memandang foto Deka memakai seragam abu-abu.
Ia tersenyum menatap sebuah foto Deka bersama seorang pria kurus dengan rambut dibelah tengah. “Ini kayaknya Fery deh. Ceking banget dulu si Fery.” Ia terkekeh geli dibuatnya.
Kemudian ia membuka lembaran berikutnya. Ada foto Deka kecil bersama seorang gadis cantik berambut pirang, Bella. Oh, mereka dari dulu udah dekat rupanya. Ucap Ririn dalam hati.
Ada satu foto yang menarik perhatiannya, foto seorang gadis cantik yang bagian wajahnya dicoret silang dengan spidol warna merah. I HATE YOU. Begitu sebuah kalimat yang tertulis pada foto tersebut.
Ini foto siapa? Kenapa Bang Deka membencinya? Tanya hati Ririn.
__ADS_1
Selanjutnya ia menemukan foto Deka bersama beberapa gadis cantik yang kemungkinan adalah para mantan pacar Deka. Begitu tebakan Ririn.
Melihat foto Deka bersama para gadis, membuat dada Ririn sesak sehingga ia menutup album tersebut. Lalu, berdiri dan mengembalikan album itu ke tempatnya.
Tidak mendapatkan petunjuk apapun di ruang kerja suaminya, Ririn keluar ruangan dan menutup pintunya. Lalu ia turun ke lantai bawah menuju dapur. Ia baru saja berdiri di depan wastafel, hendak mencuci piring dan gelas bekas sarapan saat Bi Isah menyerunya.
“Bu, jangan! Biar saya saja!” seru Bi Isah.
“Gak papa saya aja. Saya juga ga ada kerjaan,” sahut Ririn.
“Saya aja, Bu.”
“Ga usah. Bibi beresin belanjaan dari pasar tadi aja.”
“Bu, kalau alat makan Bapak dipisah, disimpan di rak yang itu, kata Bapak,” tutur Bi Isah usai Ririn mencuci peralatan makan.
“Rak yang mana?” tanya Ririn karena tadi ia tidak memperhatikan Bi Isah.
“Rak yang itu, Bu.” Bi Isah menunjuk sebuah rak kecil. “Sini biar saya saja yang menaruh di rak.”
“Kata Bapak, alat makan dan minum Bapak ga boleh dipake sama yang lain, harus dipisah. Termasuk Ibu juga ga boleh pake alat makan dan minum punya Bapak.”
Ririn tertegun mendengar jawaban Bi Isah. Ia jadi teringat kejadian pagi tadi, saat Deka merampas gelas minumannya.
Apa Bang Deka punya penyakit? Bang Deka sakit apa, kok sampai alat makan dan minumnya ga boleh barengan? Apa jangan-jangan Bang Deka sakit TBC? Tapi Bang Deka ga kelihatan seperti pengidap TBC.
Saat Ririn tengah bertanya-tanya dalam hati, Sanah -- ART lainnya datang menghampiri.
“Bu, saya ingin memberitahukan. Ketika saya membersihkan kamar, telepon seluler ibu berbunyi,” lapor Sanah dengan gaya khasnya, berbahasa yang baik dan benar dengan kata-kata baku.
“Oh, iya. Makasih, Nah.”
Ririn gegas berlalu, beranjak menuju kamar. Sampai di kamar, ia meraih ponselnya. Ada tiga panggilan tidak terjawab dari Mimin – saudara kembarnya sekaligus adik ipar. Ia melakukan panggilan balasan kepada Mimin.
“Assalamualaikum.” Suara Mimin di ujung telepon.
“Waalaikum salam. Min, maaf tadi saya lagi di dapur. Kamu kenapa? Baik-baik saja ‘kan? Apa sudah melahirkan?” tanya Ririn khawatir. Sebab Mimin kini tengah hamil usia 9 bulan, tengah menunggu saat-saat melahirkan.
__ADS_1
“Aku ga kenapa-kenapa. Belum ... belum melahirkan. Ini aku baru sampai rumah Mama. Ke sini dong, Rin ... biar aku ada temannya.”
“Kamu ke situ sama Dewa dan Syad juga?”
“Iya, dong. Masa ke Jakarta sendiri lagi hamil besar begini. Gak berani lah.”
“Hehehe ... iya juga ya. Ya udah aku ke sana. Aku juga jenuh di sini sendirian.”
“Tapi kamu ke sini sama siapa?”
“Sama sopir kalau enggak naik taksi."
“Oh, oke deh. Aku tunggu ya.”
“Oke."
"Udah dulu ya, Rin. Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam.”
Setelah menerima panggilan telepon dari Mimin, Ririn segera bersiap lalu berangkat ke rumah mertuanya.
.
.
.
.
.
Terima kasih dukungannya.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1