Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Mama Tiara


__ADS_3

Sampai menjelang malam, nyatanya pekerjaan Deka belum selesai juga. Setelah mengurus masalah Tania dan Tiara, ia tebang ke Malaysia untuk membuka peresmian gerai martabaknya.


Frenchisee baru untuk negara Malaysia itu adalah kawan Deka sendiri. Kawannya itu meminta langsung kepada Deka untuk membuka peresmian gerai. Lagipula ini adalah gerai martabak pertamanya di luar negeri. Sehingga sesibuk apapun, ia harus menyempatkan diri untuk hadir di sana. Sekaligus sebagai ajang promosi dan pembuka jalan untuk melebarkan sayap usaha martabaknya hingga ke luar negeri.


Baru keesokan harinya, selepas salat Subuh, ia meluncur ke kota Serang untuk menemui Ririn. Sang surya bahkan belum menyingsing saat ia melajukan mobil mewahnya. Sengaja subuh-subuh sekali ia berangkat agar terhindar dari kemacetan.


Ririn masih tertidur saat Deka sampai di rumah mertuanya.


“Biarin Nak Deka, Ririn ‘kan sedang tidak solat, biar saja tidak usah dibangunkan,” pesan Mami saat Deka mau menemui Ririn di kamarnya.


“Lagipula kalau malam, Ririn tidak bisa tidur. Masih sedih saja kelihatannya. Padahal sudah Mami bilang, tidak usah berlarut-larut sedihnya. Setelah pulih nanti ‘kan bisa usaha untuk hamil lagi. Dokter bilang, tiga kali siklus menstruasi udah boleh hamil lagi,” tutur Mami.


Deka yang duduk di meja makan sambil memperhatikan kesibukan Mami di dapur, mengangguk-angguk mendengar penuturan Mami.


“Nak Deka mau sarapan?” tawar Mami.


“Enggak usah, Mih. Nanti saja bareng Ririn.”


“Atau mau mami bikinkan kopi?” tawar Mami lagi.


“Enggak usah, Mih, makasih.” Deka bangun dari posisi duduknya. “Mau ke kamar dulu aja, Mih. Tapi enggak akan bangunin Ririn kok,” ujarnya.


“Iya, deh. Lagian ini masih subuh, Nak Deka tiduran aja dulu, temani Ririn.”


“Iya, Mih.”


Deka beranjak menuju kamar Ririn. Membuka pelan pintu kamar, ia masuk ke dalamnya. Lalu merebahkan tubuhnya di samping sang istri yang tampak cantik meski saat tertidur.


Menatap wajah wanita tercintanya, hati Deka bergetar pilu. Ia merasa bersalah sendiri. Benar apa yang dikatakan Ririn kemarin, bahwa masa lalunya pasti sangat melukai wanita baik hati itu. Ini memang kesalahannya di masa lalu, dan Ririn menjadi korban ... korban perasaan.


Ririn membuka mata saat Deka mengusap lembut pipinya.


“Abang,” lirihnya.


“Tidur lagi, Sayang. Maaf, abang jadi bangunin kamu.”


“Abang udah lama?”


“Enggak, barusan aja. Maaf, abang baru sempat datang ke sini. Kemarin abang sibuk banget.”

__ADS_1


Ririn melirik penunjuk waktu yang tergantung di dinding. Bahkan belum tepat jam tujuh pagi, Deka sudah berada di kamarnya. “Berarti subuh sekali Abang berangkat ke sini?”


“Iya, Sayang. Biar enggak kena macet. Oya, kamu mau sarapan apa, Yang? Nanti abang belikan.”


Ririn menggeleng. “Lagi males makan.”


“Makan dong, Yang, biar cepat pulih. Kalau sudah pulih ... abang siap menghamili kamu lagi.” Deka menjawil hidung mancung Ririn.


“Ish.”


“Sarapan bubur mau? Abang tahu bubur yang enak di kota Serang. Mau ya, mau ya?” tawar Deka penuh semangat.


Akhirnya Ririn mengangguk mengiyakan tawaran Deka.


“Ok, abang beli bubur dulu. Tunggu, ya! Deka mengecup pipi Ririn lalu beringsut turun dengan penuh semangat juga.


Ririn masih rebahan di atas tempat tidur saat terdengar deru mobil Deka. Rupanya Deka membeli bubur di luar kampung Cibening.


Tidak lama kemudian, terdengar dering ponsel dari atas meja rias. Ponsel Deka ternyata tertinggal di sana. Ririn turun untuk mengambil ponsel tersebut.


Ia bergeming menatap layar ponsel. Mama Tiara calling. Begitu yang tertulis di layar.


Ririn berharap Deka dapat menjelaskan dan menceritakan pertemuannya dengan mamanya Tiara. Namun, hingga saat waktunya Deka harus kembali ke Jakarta, suaminya itu tidak kunjung bercerita.


“Maaf ya, Sayang. Abang enggak bisa menemani kamu di sini. Abang banyak pekerjaan. Semoga kamu mengerti.” Deka mengusap puncak kepala Ririn.


Belum juga waktu zuhur tiba, Deka harus kembali pulang karena urusan pekerjaan.


“Pulang aja, yuk, Yang, ikut abang,” ajak Deka.


“Saya masih ingin di sini. Apa boleh?” lontar Ririn.


“Boleh. Yang penting kamu nyaman. Kalau abang ada waktu, nanti abang ke sini lagi,” janji Deka.


“Terima kasih.”


“Iya, Sayang.” Deka merengkuh bahu Ririn.


“Abang.”

__ADS_1


“Ya.”


“Abang enggak mau cerita sesuatu sama saya?” Ririn mengharapkan Deka menceritakan pertemuannya dengan mama Tiara.


“Oh, iya. Abang mau cerita nih.” Deka menggiring Ririn untuk duduk di sebelahnya. Mereka tengah berada di ruang tamu.


“Begini, calon anak kita yang gugur itu usianya sudah lebih dari empat bulan. Jadi, oleh ustaz Arif calon anak kita itu dimandikan, dikafani dan dikubur di kawasan pondok pesantren. Anak kita itu diberi nama Annisa. Itu ustaz Arif yang kasih nama. Kata ustaz Arif, Annisa itu artinya perempuan. Nanti kalau kamu sudah pulih, kita berkunjung nengok Annisa ya."


Ririn mengangguk.


“Kata ustaz Arif, untuk ibu yang sabar menghadapi ujian keguguran, Allah menyiapkan bangunan kokoh dan indah. Kalau enggak salah namanya Baitul Hamdi. Terus nanti anak kita itu akan membantu kita masuk ke surga,” tutur Deka.


Deka hanya bercerita tentang calon anaknya dan hal-hal lain yang ia ketahui tentang keguguran. Tidak sedikit pun menyinggung soal pertemuannya dengan Tania.


Tidak mau membahas tentang Tania dan Tiara di rumah sang mertua karena khawatir malah terjadi kesalahpahaman. Begitu pikir Deka.


 \=\=\=\=\=\=


[Sayang, baik-baik ya di sana. Jangan lupa makan. Dan selalu bahagia]


[Maaf mungkin beberapa hari ini abang gak bisa menghubungi kamu karena kesibukan]


[Abang sayang kamu. ❤️❤️❤️]


Itu adalah pesan dari Deka seminggu yang lalu. Sehari setelah kedatangannya menjenguk Ririn di subuh hari waktu itu.


Ririn sedikit kecewa karena setelahnya Deka belum mengunjunginya lagi. Bahkan, menelepon dan berkirim pesan pun tidak. Sementara Ririn masih enggan untuk menghubungi Deka. Ia masih kesal karena Deka tidak mau jujur menceritakan pertemuannya dengan mama Tiara.


Ada apa dengan Bang Deka? Sesibuk apa sampai untuk menelepon dan berkirim pesan pun tidak sempat. Apa ini ada hubungannya dengan mama Tiara? Batin Ririn menduga-duga.


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2