
Deka telah melakukan prosedur pemeriksaan darah lengkap. Pemeriksaan darah dilakukan dengan cara mengambil darah dari pembuluh darah vena yang terletak dekat dengan permukaan kulit. Petugas laboratorium mengambil sampel darah dari lipatan siku tangan Deka.
“Abang kalau pusing, baiknya pulang aja deh. Biar aku yang ambil hasil labnya,” ujar Bella usai Deka melakukan cek darah.
“Terus ke dokternya bagaimana? Setelah ada hasil ‘kan aku harus konsultasi ke dokter lagi,” sahut Deka.
“But you’re not okay, Bang! Istirahatlah dulu di rumah. Kamu pucat sekali. Jangan sampai kamu jatuh pingsan di sini lalu dokter menyuruhmu untuk bedrest in this hospital,” kata Bella.
Deka berpikir sejenak. Betul yang dikatakan Bella, ia sedang tidak baik-baik saja. Kepalanya berat, tubuhnya lemas, pandangannya seperti berputar. Ia ingin segera bertemu dengan kasur, tapi kasur yang nyaman di kamarnya. Bukan kasur di rumah sakit ini.
“You’re right. Aku pulang aja dulu," putus Deka akhirnya.
“Of course. Nanti kalau sudah keluar hasilnya, aku akan antarkan hasil lab-nya ke rumahmu. Kita bisa pergi ke dokter lagi nanti sore. Bagaimana?” tawar Bella.
Deka mengangguk. “Terus nanti kamu pulangnya bagaimana?” tanyanya. Mengingat mereka berangkat ke rumah sakit menggunakan mobil kantor dan disopiri oleh sopir kantor.
“Don’t worry about me. Aku bisa pulang naik taxi.”
Bella menggamit lengan Deka. “Ayo, aku antarkan kamu ke depan,” ujarnya.
Deka mengangguk patuh. Bella menuntunnya hingga pintu lobi. Bertepatan dengan mobil kantor yang membawa mereka tadi tiba di depan lobi. Sebelumnya Bella telah menelepon sang sopir untuk segera datang ke teras lobi rumah sakit.
Bella menuntun Deka hingga masuk ke dalam mobil.
“Istirahatlah, Bang. Get well soon,” ucap Bella sesaat setelah Deka masuk ke mobil.
“Thanks, Bell,” ucap Deka. Bella menanggapi dengan sebuah senyuman.
“Take care,” ucap Bella seraya melambaikan tangan saat mobil mulai melaju.
\=\=\=\=\=\=\=
Deka yang tengah terlelap, terbangun saat dering ponsel berbunyi. Dilihatnya ada panggilan telepon dari kontak yang ia tulis dengan nama ‘Calon Istri’.
Hari ini ia belum mengabari Ririn sama sekali. Bahkan sekedar mengirimkan chat untuk menyapa ‘selamat pagi, siang, sore’ atau bertanya ‘sedang apa?’ ia belum sempat, dikarenakan kondisi kesehatannya yang sedang tidak fit.
Deka meraih ponsel untuk menerima panggilan dari Ririn.
“Ya, Sayang,” sapa Deka dengan suara lemah.
“Assalamualaikum, Bang.”
“Waalaikum salam, Rin.”
“Abang sakit?”
“Enggak. Cuma lagi kurang fit aja.”
“Itu dari suaranya kedengarannya lemes banget. Abang beneran sakit ya?”
“Sakit sedikit, Rin. Pasti langsung sembuh kalau udah ketemu kamu.”
“Ish, Abang.” Pasti di ujung telepon sana wajah Ririn tengah merona merah karena tersipu.
“Rin.”
“Ya, Bang.”
“Ga sabar ya, nunggu empat belas hari lagi.”
“Makanya Abang yang sehat. Jangan sampai pas empat belas hari ke depan, Abang malah sakit.”
“Enggak lah, Rin. Pasti sehat nanti kalau sudah hari H. Apalagi malam setelah hari H, dijamin sehat segar bugar," ucap Deka pongah.
__ADS_1
“Ish, apa sih Abang nih.” Kemudian hening sesaat. Mungkin karena kedua insan itu tengah tersenyum tersipu membayangkan apa yang akan terjadi setelah hari H.
“Abang udah ke dokter?” tanya Ririn kemudian.
“Udah tadi pagi.”
“Terus kata dokter Abang sakit apa?”
“Belum tahu karena aku disuruh untuk cek darah sama dokter, biar ketahuan sakit apa.”
“Terus belum cek darah?”
“Udah, tapi karena pusing, Aku pulang duluan. Bella yang nanti mengambil hasil lab-nya.”
“Ooh, jadi Abang pergi ke rumah sakit sama Bella?” Dari intonasinya, terdengar Ririn tengah cemburu.
“Maunya sih kamu yang nganter abang ke rumah sakit, Rin. Makanya ga sabar nunggu kita halal dan menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah dan penuh barokah.” Hal itu yang paling diingat Deka tentang pernikahan dalam islam yang pernah disampaikan Ustaz Arif.
“Amin. Allahumma Amin.”
“Amin juga.”
“Ya udah, Abang istirahat gih! Jangan lupa makan. Abang harus makan biar ga lama-lama sakitnya.”
“Kamu juga jaga kesehatan. Dan doakan abang biar cepet sehat ya."
“Insyaallah, saya selalu mendoakan calon imam saya. Doa terbaik untuk Abang.”
“Makasih ya, Rin.”
“Sama-sama. Saya tutup teleponnya ya.”
“Ga ada kata penutup, nih?”
“Ada. Nih kata penutupnya. Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam. Miss you,” pungkas Deka sebelum menutup telepon. Pasti di sana, Ririn tengah berbunga-bunga dengan wajah merona.
Usai menerima telepon dari Ririn, terdengar pintu kamar yang diketuk dan suara Bi Siti memanggil namanya.
“Masuk, Bi!” seru Deka.
Bi Siti masuk ke kamar membawakan semangkok bubur ayam dan segelas air putih dalam nampan.
“Den Deka makan dulu, ya. Bibi buatkan bubur ayam untuk Den Deka,” ujar Bi Siti.
“Aku lagi ga nap*su makan, Bi,” sahut Deka.
“Den Deka harus makan kalau mau sembuh. Tinggal menghitung hari loh hari pernikahannya.”
“Ya udah taro di meja aja, Bi. Nanti aku makan kalau udah ga pusing.”
“Iya, Den. Bibi taro di sini ya, buburnya.” Bi Siti meletakkan nampan di atas nakas.
“Oya, Den. Barusan ada telepon dari non Bella, katanya sebentar lagi mau datang ke sini,” lapor Bi Siti.
“Iya, Bi ... makasih. Nanti kalau ada Bella kasih tahu aku aja.”
“Iya, Den.” Bi Siti berlalu meninggalkan Deka.
Langkah Bi Siti baru mencapai pintu ketika Bella datang.
“Hai, Abang!” Bella langsung masuk ke kamar Deka tanpa sungkan. “What do you feel? Is it better?”
Deka tak menjawab. Rasanya masih sama, tubuhnya masih lemah dan kepalanya pusing.
__ADS_1
“Loh, ini kok buburnya ga dimakan?” Bella mengambil mangkok bubur, lalu duduk di tepi ranjang. “Aku suapin ya!”
“No. I’m not okay. Aku ga berselera makan,” tolak Deka. Tubuhnya semakin meringkuk di bawah selimut dengan mata terpejam.
“Jangan begitu, Bang! You have to eat for Ririn,” bujuk Bella.
Deka yang tadi terpejam, membuka matanya menatap Bella.
“She will be sad if you don’t want to eat,” bujuk Bella lagi.
“Oke, satu suap aja,” kata Deka. Ia beringsut bangun dan mengambil posisi duduk dengan bersandar di kepala ranjang.
“Nah, gitu dong.” Bella tersenyum. Lalu mulai menyuapi Deka.
“Udah,” ucap Deka setelah berhasil menelan satu suap bubur.
“One more bite, please,” ujar Bella.
“Enough."
“For Ririn, please.”
Mendengar nama Ririn disebut lagi, Deka kembali mau makan. Begitu seterusnya hingga tidak terasa semangkok bubur ayam itu telah habis setengah.
“Oya, Bell. Gimana, apakah sudah keluar hasil lab-nya?” tanya Deka setelah kegiatan makan usai.
“Oh, iya. Wait.” Bella meletakkan mangkok bubur kembali ke tempatnya. Lalu, ia membuka tas dan mengambil sebuah surat. “Ini surat dari laboratorium.” Tangannya terulur menyodorkan selembar surat.
“Makasih, Bell.” Deka menerima surat hasil pemeriksaan laboratorium itu dari tangan Bella.
“Aku sakit apa, Bell?”
“I don’t know. Aku belum baca. Suratnya masih disegel.”
“Oh.”
Deka membuka amplop surat itu lalu membacanya.
Seketika pandangannya berkunang. Tubuhnya semakin lemas. Bahkan ia seperti tak mampu menopang berat tubuhnya sendiri. Dunianya seakan runtuh. Masa depannya seakan hancur.
Hasil pemeriksaan laboratorium itu menyatakan bahwa Deka teinfeksi human immunodeficiency virus. Hiv.
.
.
.
.
Terima kasih dukungannya
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1