
“Adaw adaw adaw,” pekik Deka kesakitan sebab seseorang menjewer telinganya.
Deka menoleh pada seseorang yang tengah menjewer telinganya.
“Pulang lo!” seru Fery. Sahabatnya itu datang-datang langsung menjewer telinga Deka.
“Lepasin tangan lo, di telinga gue!” balas Deka.
Fery melepaskan tangannya dari telinga Deka.
“Apa-apaan sih lo!” geram Bella seraya mendorong tubuh Fery. “Jangan sok ngatur deh lo!"
“Hey Bule Rambut Merah, lo jangan menjerumuskan Deka!” omel Fery.
“What do you say? Menjerumuskan? Aku malah mau membantu dia untuk melupakan masalahnya!” sangkal Bella.
Fery mengabaikan ucapan Bella sebab percuma rasanya berbicara dengan wanita bule yang hobinya dugem itu. Ia memilih kembali fokus pada Deka.
“Mau ustaz Arif atau abah mertua lo yang nyeret lo pulang, hah!” gertak Fery.
“Atau gue bawa Ririn ke sini biar lihat kelakuan lo! Jangan nangis kalau Ririn sampai ninggalin lo!” gertak Fery lagi.
“Eh, jangan! Ya udah gue pulang,” putus Deka akhirnya.
“Bell. Sorry, i have to go,” ujar Deka pada Bella.
“Enggak bisa gitu, Bang. Terus aku nanti pulang sama siapa?” rengek Bella manja.
“Ini pesta teman kamu ‘kan? Kamu bisa pulang bersama teman-teman kamu,” pungkas Deka. Lalu, pergi meninggalkan Bella. Mengabaikan Bella yang memanggil-manggil namanya.
Bella mengentakkan kakinya kesal. “Awas aja lo, Bang!” umpatnya.
“Lo tuh gimana sih katanya udah tobat, katanya udah insyaf, katanya hijrah, malah datang ke tempat kayak gitu lagi!” omel Fery saat mereka sudah duduk di dalam mobil Deka.
“Soalnya gue lagi pusing,” sahut Deka.
“Pusing karena masalah lo itu?”
Deka mengangguk.
“Lo udah cerita sama Ririn?” tanya Fery penuh selidik.
Deka menggeleng.
“Cerita, Bro! Kalau lo ga jujur sama Ririn, masalah lo ga akan selesai.”
“Belum sempat. Niatnya gue mau cerita, tapi situasinya ga memungkinkan gue cerita.”
“Ya udah, sekarang lo pulang, terus lo cerita semuanya sama Ririn,” saran Fery. Yang dibalas anggukkan kepala oleh Deka.
“Dan satu saran lagi, lo jangan terlalu deket-deket sama si Belek itu! Gue mencium gelagat tidak baik dari dia,” tukas Fery.
“Jangan suudzon!”
“Gue ga suudzon. Cuma berprasangka buruk doang,” kilah Fery.
“Iya, itu namanya suudzon, Dodol!”
“Oh, gitu. Gua ‘kan batu tahu,” kelit Fery.
“Ngomong-ngomong kok bisa sih lo datang ke tempat itu. Lo tau dari mana gue lagi di sana?” selidik Deka.
__ADS_1
“Tadi Dewa nelpon gue. Katanya dia nelpon lo ga diangkat-angkat. Makanya dia nelpon gue, nanyain gue lagi sama lo ga, ya gue jawab enggak, dong. Terus gue lihat update status si Belek itu. Dari fotonya kok gue kenal tempatnya, dan perasaan gue mengatakan lo lagi sama si Belong itu. Jadi ya gue langsung samperin lo ke sana,” terang Fery.
Mendengar penjelasan Fery, Deka segera meraih ponselnya. Benar saja ada banyak panggilan tak terjawab dan juga beberapa pesan masuk dari Dewa.
Dewa : [Alhamdulillah persalinan istriku berjalan lancar. Telah lahir dengan selamat dua putri cantik yang sehat walafiat. Terima kasih untuk doa seluruh keluarga, saudara, sahabat, teman dan rekan. Semoga doa terbaik untuk kami dibalas kebaikan oleh Allah SWT untuk Anda semua]
Dewa : [Abang di mana?]
Dewa : [Pulang, Bang. Abah dan Mami mau nginep di rumah Abang]
“Gue mau pulang, Fer,” ujar Deka setelah selesai membaca pesan dari Dewa. "Mertua gue mau nginep di rumah gue," lanjutnya.
"Nah 'kan untung gue samperin lo. Kalau enggak, bisa-bisa mertua lo yang nyeret lo pulang. Dan lo bakal dipecat jadi menantu. Mana ada Pak Haji yang punya mantu tukang mabok. Halah halah halah ...."
"Iya iya. Bawel!"
“Bawel juga gue mah benar."
"Iya iya, makasih ya, Bro."
"Kalau mau bilang makasih, pintu rekening gue terbuka lebar," kelakar Fery.
"Tenang entar gue transfer dosa-dosa gue ke lo," balas Deka yang dihadiahi sebuah tinjuan pelan ke lengannya.
"Hahahahaha." Deka tertawa, Fery pun ikut tertawa.
"Mau gue antar?” tawar Fery. Setelah gelak tawa mereka usai.
“Ga usah,” tolak Deka.
“Oke, gue turun ya. Lo hati-hati pulangnya," ujar Fery seraya menepuk pundak Deka.
"Lo juga hati-hati."
Deka menghentikan mobil di depan rumahnya saat arloji di tangan menunjukkan pukul 22. 30. Sanah membukakan pintu garasi, Deka memasukkan mobilnya ke garasi.
“Ririn ada, Nah?” tanya Deka usai memarkirkan mobilnya.
“Ada, Pak. Kedua orangtua Ibu pun berada di sini, Pak,” jawab Sanah.
Deka masuk ke dalam rumah. Di ruang keluarga ia bertemu Ririn, Abah, Mami dan Opi.
“Assalamualaikum,” sapa Deka.
“Waalaikum salam,” sahut semuanya.
“Nak Deka baru pulang?” tanya Abah saat Deka mencium punggung tangannya.
“Iya, Bah.”
“Memang kantornya tutup jam berapa?” Kini giliran Mami yang bertanya saat Deka mencium punggung tangannya.
“Biasa Mih, office hour,” sahut Deka.
“Bang Deka kayaknya workaholic nih, makanya bisa jadi sultan,” timpal Opi saat bersalaman dengan kakak iparnya.
“Enggak ah Pi, biasa aja,” sahut Deka.
Setelahnya Deka menyodorkan tangan pada Ririn. Meskipun sedang kesal, Ririn menyambut hangat uluran tangan dan mencium takzim punggung tangan suaminya itu.
“Whoooaaaam. Mih, ke kamar, yuk!” ajak Opi. Setelah tercipta obrolan hangat keluarga di antara mereka.
__ADS_1
“Iya, abah juga udah ngantuk,” timpal Abah.
“Yuk, lagian khawatir Syad bangun,” sahut Mami.
“Syad ada di sini juga?” lontar Deka.
“Iya. Biar Syad tidur sama kami,” kata Mami.
Setelahnya, keluarga Ririn masuk ke kamar tamu di lantai satu. Ririn dan Deka juga beranjak ke kamarnya di lantai dua.
“Udah makan?” tanya Ririn datar tanpa menatap Deka. Perasaannya masih kesal jika mengingat kejadian di rumah sakit sore tadi.
“Udah. Aku mau mandi dulu ya. Habis mandi aku akan menjelaskan semuanya,” sahut Deka. Ia bisa menangkap raut kesal di wajah cantik istrinya.
Kemudian Deka masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Sementara Ririn menyiapkan baju tidur Deka.
Sekitar lima belas menit Deka melakukan ritual mandi. Setelahnya ia keluar kamar mandi, lalu mengenakan piyama yang sudah disiapkan Ririn.
Ririn duduk dengan tubuh bersandar di headboard, menunggu Deka. Sorot matanya tak henti memperhatikan gerak-gerik Deka. Suaminya itu terlihat mengambil sesuatu dari tas kerjanya. Sebuah amplop putih yang entah berisi apa. Apakah itu surat yang dimaksud Deka? Batin Ririn bertanya.
Deka duduk di tepi ranjang, berhadapan dengan Ririn. Ia mengulas senyum sejenak sembari membingkai wajah Ririn. Wajah cantik yang selalu dirindukannya. Wajah cantik yang selama ini membuat semangat hidupnya, dari keterpurukan sebagai seorang penderita virus mematikan.
Ia menarik napas pelan sebelum menjelaskan semuanya. Berusaha untuk menguatkan hati dan mengekarkan jiwa.
“Aku minta maaf soal tadi sore. Aku bukannya ga mau mendonorkan darah untuk Jasmin, tapi aku .... “ Deka menggantung ucapannya.
“Enggak papa. Alhamdulillah persalinan Mimin lancar. Dia dan bayinya selamat.” Ririn memotong ucapan Deka yang belum tuntas.
“Ini.” Deka menyodorkan sebuah amplop putih yang dipegangnya.
“Ini apa?” tanya Ririn seraya menerima amplop putih itu.
“Buka aja, kamu baca sendiri. Itu jawaban atas semua yang kamu tanyakan.” Deka menjeda ucapannya sejenak. “Aku sudah siap dengan keputusan apapun yang kamu ambil nantinya,” sambungnya dengan intonasi sendu.
Ririn membuka pelan amplop itu, lalu mengeluarkan selembar surat dari dalamnya. Ia membaca dengan hati-hati setiap tulisan yang sama sekali tidak dimengertinya. Yang ia pahami hanya nama Radeka Bastian yang tertulis di bagian atas surat. Sampai kemudian ia menangkap tiga buah kata yang bisa dipahaminya. Human Immunodeficiency Virus.
Mata Ririn terbelalak mengeja tiga kata itu. “HIV? Abang positif HIV?”
Deka mengangguk lemah. “Iya, Rin. Maafkan aku. Hiks hiks hiks.” Tangisnya pecah seketika.
.
.
.
.
Terima kasih dukungannya
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1