
"Tiara itu anak Abang,” sahut Ririn. Sorot matanya menatap Deka. Sorot mata penuh luka.
“Maksud kamu, kamu mau Tiara jadi anak kita, begitu? Jadi anak angkat kita? “ lontar Deka yang tidak paham dengan ucapan Ririn.
“Tiara itu anak Abang. Abang itu papanya Tiara!” pekik Ririn tertahan. Sekuat hati ia menahan emosinya.
“Kamu ngomong apa sih, Yang. Abang gak paham,” sahut Deka dengan raut bingung.
“Abang masih enggak paham kalau saya bilang Abang itu papanya Tiara. Laki-laki yang sering diceritakan oleh Tiara, yang tidak mau bertanggung jawab untuk menikahi mamanya. Yang membuat Tiara itu berstatus anak haram. Laki-laki itu adalah Abang. Papanya Tiara itu Abang!” tukas Ririn berapi-api.
Perempuan mana yang hatinya akan baik-baik saja jika mengetahui suaminya memiliki anak dari perempuan lain. Begitu pula dengan Ririn, hatinya hancur berperai-perai saat mengetahui berita bahwa Deka adalah papanya Tiara.
“Ngaco, kamu! Siapa yang bilang begitu?” Deka yang tengah duduk dekat Ririn di tepi ranjang pasien sontak berdiri. Tentu saja Deka tidak terima dengan tuduhan penuh kenistaan itu.
“Tiara sendiri yang bilang sama saya!”
“Tuh ‘kan. Omongan anak kecil kamu percaya. Dari awal juga aku udah enggak suka sama anak itu. Tapi, kamu keras kepala mau nolongin dia. Aku turuti kemauan kamu, karena aku sayang sama kamu. Terus sekarang apa? Benar ‘kan anak itu jadi kurang ajar, jadi berani ngomong yang aneh-aneh. Dan parahnya kamu percaya sama omongan anak itu!” Deka berkata dengan penuh kekesalan. Terbukti dari caranya berbicara yang memanggil dirinya dengan sebutan ‘aku’ bukan ‘abang’.
“Saya juga tadinya enggak percaya. Tapi, saya lihat sendiri foto Abang sama Mbak Intan, mamanya Tiara.”
__ADS_1
“Intan siapa? Aku gak kenal sama yang namanya Intan!” sangkal Deka.
“Enggak mungkin kalau Abang enggak kenal. Ada foto Abang berdua sama Mbak Intan lagi berpelukan.” Ririn hampir menangis mengatakannya. Sejujurnya dadanya sakit luar biasa saat melihat foto itu, ditambah pengakuan Tiara bahwa Deka adalah papanya.
“Rin, sumpah demi apa saja, aku gak pernah mengkhianati kamu. Setelah menikah, aku enggak pernah dekat dengan wanita mana pun selain kamu. Jadi, aku enggak tahu, dan aku enggak kenal sama perempuan yang kamu sebutkan namanya tadi.”
“Memang itu bukan foto sekarang. Itu foto lama. Mungkin mamanya Tiara itu adalah mantan pacar Abang dan Tiara itu adalah anak Abang.”
“Aku enggak pernah punya anak dengan wanita mana pun selain kamu!” tegas Deka.
“Dari mana Abang tahu? Apa Abang pernah mendatangi lagi perempuan-perempuan yang udah pernah Abang tiduri? Mungkin saja di antara mereka ada yang pernah hamil anak Abang!” tukas Ririn.
“Tapi masa lalu Abang itu menyakiti saya!”
Pecah tangis Ririn saat mengatakan kalimat tersebut. Saat ini ia benar-benar merasa teramat sakit. Sudah kehilangan calon buah hati, ditambah lagi dengan beban masa lalu sang suami yang sangat menyakitkan hati.
Deka bergeming mendengar pengakuan Ririn. Ia sangat kecewa dengan pengakuan Ririn barusan. Bahwa masa lalunya ternyata menyakiti wanita pilihannya tersebut.
Bukankah sejak awal Deka sudah terbuka menceritakan masa lalunya yang kelam dan suram. Dan bukankah Ririn sudah mau menerima ia apa adanya. Lalu mengapa sekarang Ririn mengatakan tersakiti dengan masa lalu dirinya.
__ADS_1
Deka memijit pangkal hidungnya. Pikirannya buntu. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan dan perbuat. Sungguh, ia sangat kecewa saat ini.
“Jadi, kamu menyesal menikah sama aku, Rin? Kamu menyesal menikah dengan lelaki kotor ini, iya?!” sentak Deka.
“Salah saya karena enggak pernah berpikir jauh. Saya enggak pernah berpikir kalau bisa saja Abang pernah memiliki anak dengan wanita masa lalu Abang!” Suara Ririn bergetar bercampur tangis.
“Aku sudah bilang bahwa aku enggak pernah punya anak dengan wanita mana pun. Dan kamu gak percaya dengan suamimu ini, Hah!” Intonasi Deka semakin meninggi. Hatinya sungguh kacau.
Ririn meraup napas panjang lalu mengembuskannya. “Tinggalkan saya sendiri! Abang pergi aja, saya mau sendiri,” pungkasnya diiringi sedu-sedan. Ia tidak mau berdebat lagi dengan Deka. Hati dan tubuhnya benar-benar lelah saat ini.
“Baik. Kalau itu mau kamu, aku akan pergi,” putus Deka setelah terdiam beberapa saat.
Sorot matanya menatap Ririn yang tertunduk sembari tersedu. Seharusnya saat Ririn tengah bersedih dan berlinang air mata, ia akan maju untuk memeluk dan menghapus kesedihan itu. Namun, tidak untuk saat ini. Ia tidak melakukannya karena sangat kesal dengan Ririn.
Dengam perasaan kesal yang memuncak, Deka melangkah menuju pintu. Sebelum benar-benar keluar ruangan, ia berbalik badan menatap Ririn.
“Sebentar lagi Mama datang ke sini. Abah dan Mami juga sedang dalam perjalanan ke sini. Aku pergi, mau mengurus penguburan anak kita. Satu lagi, aku kecewa jika kamu mempercayai tuduhan anak itu!”
Setelahnya Deka beranjak keluar ruangan tanpa menunggu jawaban Ririn.
__ADS_1