Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Kangen Naga


__ADS_3

Tiga minggu sudah berlalu sejak Ririn dinyatakan hamil. Ririn merasa ada yang berbeda dengan Deka. Suami perkasanya itu sudah tiga minggu tidak unjuk gigi, atau unjuk naga tepatnya. Kuat sekali dia. Begitu yang ada di pikiran Ririn.


Deka bukannya kuat, tetapi berusaha untuk kuat. Baginya keselamatan Akacahan yang utama. Ia rela mengubur dalam-dalam has-ratnya karena rasa khawatir akan menyakiti si Akachan serta untuk menjaga keberadaannya.


Mungkin kekhawatirannya agak berlebihan. Namun, memang benar begitu adanya. Ia tidak mau jika luapan has-rat justru akan membahayakan bagi calon anaknya. .


Sementara Ririn, beberapa hari ini ada rasa kangen dengan si naga. Tidak dipungkiri kadang wanita pun ada rasa ingin dimasuki, betul tidak?


“Betul!” sahut emak-emak pembaca dengan kompaknya.


Malam menjelang larut. Sepasang suami istri itu sudah berbaring bersama di atas peraduan. Peraduan yang biasa diguncang gempa itu, kini sunyi senyap dari guncangan. Bahkan, kesunyian dan kesenyapan itu sampai terasa oleh cicak-cicak di dinding. Bukankah makhluk itu yang biasa mengintip guncangan gelora kedua insan itu di setiap malamnya.


“Ini kapan besarnya, Yang? Kok, masih rata aja.” Deka tengah berbaring miring dengan sebelah tangan menopang kepala, sedangkan tangan satunya mengusap-usap perut Ririn.


“Baru juga nginjak dua bulan, Bang,” sahut Ririn yang tengah berbaring dengan pandangan menatap langit-langit kamar. Menatap cicak-cicak yang saling berkejaran.


“Berarti tujuh bulan lagi. Rasanya udah gak sabar ingin berjumpa sama si Akachan.” Deka terus mengelus perut Ririn.


Ririn terdiam sejenak, lalu menggerakkan tubuhnya. Mengubah posisi menjadi berbaring miring seperti Deka. Kini, posisi keduanya saling berhadapan.


“Kenapa gak ditengok aja Akachannya.” Jari telunjuk Ririn menyentuh dada Deka dan bergerak-gerak seperti tengah menulis sesuatu.


“Emang bisa? Gimana cara nengoknya?” tanya Deka dengan kening mengerut.


“Coba Abang kenalin naganya sama si Akachan,” jawab Ririn sembari menundukkan pandangannya malu-malu.


“Gimana cara ngenalinnya?” lontar Deka dengan polosnya.


Ririn berdecak sembari menggaruk hidung. Abang ini benar polos, tidak tahu atau pura-pura ya. Gumamnya dalam hati.


“Yang ...!” seru Deka karena Ririn hanya diam.


“Hemm.”


“Masa ngenalin si naga sama si Akachan, apa enggak terlalu dini?” lontar Deka.


“Yang ...!” seru Deka karena Ririn diam saja tak menanggapi.


“Abang, kenapa naganya sekarang enggak jos markojos?” tukas Ririn. Akhirnya ia memberanikan diri mengatakan itu. Semoga dengan mengatakan secara gamblang, suaminya itu bisa memahami keinginannya.


“Sembarangan ngatain naga Abang gak jos markojos. Abang itu khawatir, takut si Akachan kenapa-kenapa,” sahut Deka sedikit kesal.


Tentu saja, perlu perjuangan yang keras untuk menjinakkan naganya itu agar tidak selalu bangkit. Tidak semudah itu, Debora!


“Enggak apa-apa, asalkan pelan-pelan.” Ririn meyakinkan.


Sebelumnya Ririn telah mencari informasi tentang keamanan hubungan intim di saat kehamilan lewat mesin pencari informasi, maupun bertanya langsung kepada yang sudah berpengalaman. Menurut informasi yang ia dapat dari mbah gugel dan saudara kembarnya—Mimin, tidak masalah melakukan hubungan intim saat hamil, asalkan dengan posisi yang aman dan pelan-pelan.


“Memangnya kamu lagi pengen yah, Yang?” Deka bertanya jahil.


Ish. Pake nanya. Gumam Ririn dalam hati. Wajahnya bersemu merah karena pertanyaan jahil sang suami.

__ADS_1


“Kalau lagi pengen, bilang aja ga papa.”


Dih, masa harus bilang. Ogah.


Ririn berbalik badan, memunggungi Deka. Sedikit kesal karena suaminya itu sama sekali tidak peka. Tidak memahami kemauannya.


Deka menggeser tubuhnya, semakin merapat ke tubuh Ririn dan memeluknya dari belakang. Tangannya mulai meraba tubuh Ririn, menelusuri setiap lekuknya. “Yang ... kita coba pelan-pelan, yuk!” bisiknya.


Mendengar ajakan Deka, Ririn langsung berbalik badan. “Ayo, Bang!” serunya semangat.


Dua sejoli itu pun akhirnya terlarut dalam kegiatan indah, penuh barokah dan bernilai ibadah. Mengisi malam merdu nan indah. Semerdu semilir angin yang men*de-sah-de-sah. Seindah senyum rembulan yang merekah-rekah.


\=\=\=\= 


 


Waktu terus bergulir, tidak terasa kehamilan Ririn telah menginjak usia empat bulan. Sepasang suami istri ini semakin tidak sabar menanti hari bahagia untuk berjumpa dengan si Akachan.


Dalam waktu dekat, dua insan yang tengah berbahagia itu tidak sabar untuk mengetahui jenis kelamin calon buah hati mereka. Ya, Ririn tengah melakukan pemeriksaan kandungan dengan ditemani Deka. Namun, untuk kedua kalinya mereka harus menelan kekecewaan karena dokter belum bisa melihat jenis kelamin calon bayi.


“Alat kelaminnya belum kelihatan nih, terhalang tangan si dede. Dedenya sepertinya malu-malu gak mau dilihat kelaminnya,” ujar dokter yang tengah menggerakkan probe USG di sekitar kulit perut Ririn.


“Waktu periksa kemarin juga enggak bisa dilihat karena posisinya lagi nungging. Sekarang tertutup tangan, Dok?” lontar Ririn.


Saat usia janin empat belas minggu, Ririn juga melakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui perkembangan kondisi janin juga jenis kelaminnya. Namun, alat kelamin si Akachan juga tidak dapat terlihat oleh dokter karena posisi janin yang tengah menungging.


“Iya nih. Okelah kita lihat yang lain saja dulu ya,” kata dokter.


Deka tersenyum mendengar kata ‘biji wijen’.


“Panjangnya dua belas senti, bagus dan normal. Struktur wajah normal, tidak ada potensi kelainan bibir sumbing.” Dokter menerangkan hasil USG yang tampak di layar monitor.


“Alhamdulillah,” ucap Ririn dan Deka berbarengan.


“Apakah sudah terasa pergerakan janinnya? Bu Ririn sudah terasa ditendang-tendang belum sama si dede?” Dokter itu melempar pandangan pada Ririn.


“Kayaknya belum. Tapi, belakangan saya sering merasa kedutan di perut.”


“Nah, kedutan di perut itu artinya bayi sedang bergerak-gerak.”


“Oh ya, Dok? Berarti kedutan itu bayinya lagi nendang?” sahut Ririn antusias.


“Iya, Bu.”


Ririn tersenyum haru. Ia ingat betul pertama kali merasakan kedutan di perut itu saat sedang ruku, ketika menunaikan salat Zuhur sekitar seminggu yang lalu. Saat itu ia bertanya pada Sanah, tentang arti kedutan di perut. Sanah bilang, kedutan di perut itu artinya ada seseorang yang sedang rindu. Entah, dari mana Sanah mendapatkan informasi itu.


“Sekarang lagi gerak enggak, Yang? Abang mau rasain juga dong gerakan si Akachan,” timpal Deka.


“Sekarang lagi enggak.”


“Nanti kalau gerak lagi, bilang abang ya, Yang.” Ririn mengangguk menjawab permintaan Deka.

__ADS_1


“Pak Deka coba dengar deh ini suara apa?” lontar dokter.


“Memang suara apa itu, Dok?”


“Ini bunyi detak jantung bayi.”


“Detak jantung anak saya, Dok?”


“Iya.”


Deka terharu mendengar suara denyut yang berdetak-detak sembari menatap layar monitor.


“Ya Allah, sungguh luar biasa rasanya,” lirihnya dengan mata berkaca-kaca karena haru bahagia.


Sebahagia ini ternyata rasanya akan memiliki anak dari suatu hubungan yang halal. Tentu berbeda rasanya jika akan memiliki anak dari suatu hubungan yang haram seperti yang dialami beberapa temannya.


Ya Allah terima kasih telah memberikan kebahagiaan luar biasa pada hamba penuh dosa seperti diriku. Tuntun selalu jalanku ya Allah. Dan jangan pernah Kau putus hidayah-Mu untukku, hingga di penghujung hidupku. Amin.


.


.


.


.


Kenapa panjang banget sih ngidamnya. Perasaan cuma dua hari itu ngidam. Satu hari bab ngidam dipecah jadi 2 bab, besoknya ttg jengkol. Enggak panjang kayak kereta sih menurut aku.


Karena saya perlu membangun emosi pembaca di sini. Agar pembaca ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan si tokoh di sini. Sehingga saat disentuh oleh sebuah masalah, pembaca bisa merasakan emosinya juga. Itu menurut aku ya.


Ibaratnya, tidak akan ada rasa manis jika tidak ada pahit. Tidak mungkin merasakan pahitnya perpisahan sebelum merasakan manisnya pertemuan.


Gak mungkin begitu hamil besoknya aku kasih masalah, malah jadi tidak elok ceritanya. Dan yakin pembaca akan berkomentar, "Ya, baru juga dikasih senang sebentar, udah dikasih masalah semenyedihkan itu."


Kapan status Tiara diungkap? Tentu saja akan diungkap berbarengan dengan hadirnya masalah mereka. Tapi, biarlah mereka merasakan bahagia dulu.


Lusa insyaallah akan diungkap sosok Tiara, berbarengan dengan masalah yang akan terjadi.


Terkesan lama, karena memang aku hanya mampu up satu bab tiap harinya. Aku memang gak bisa nulis banyak-banyak seperti penulis lainnya. Di sini aku hanya sekedar menyalurkan hobi menulis aku. Ga ngoyo crazy up, biar dapat cuan. Dan tetap santai serta selalu semangat meskipun pembacanya masih zedikit.


Dibanding dua novel sebelumnya, jujur aku paling menikmati menulis novel ini. Kalau diperhatikan di dua novel sebelumnya aku bahkan ga bisa up tiap hari, dua hari sekali baru up. Di novel ini aku rajin banget up nya tiap hari meskipun pembaca sedikit, aku begitu menikmatinya.


Maaf ya panjang kali cuap-cuapnya. Ini baru cuap cuap panjang kayak kereta.


Terima kasih untuk yang selalu memberi dukungan untuk karya ini dan selalu berkomentar bijak serta positif.


Terima kasih. Love U


❤️❤️❤️❤️


 

__ADS_1


 


__ADS_2