
"Abang, tadi perut saya kram dan sakit,” lapor Ririn saat terjaga kesadarannya.
Ririn telah ditempatkan di ruang perawatan. Dokter menyarankan agar Ririn menjalani rawat inap dua atau tiga hari untuk memastikan kondisinya pulih.
“Iya, Sayang, enggak papa.” Deka tersenyum pilu sembari mengusap punggung tangan istri tercintanya.
Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis di depan Ririn. Berusaha untuk kuat dan tegar. Bukankah laki-laki memang harus kuat dan tegar.
“Terus, saya enggak kenapa-kenapa ‘kan?” lontar Ririn lagi.
Deka yang duduk di kursi di samping ranjang pasien meraih tangan Ririn, lalu dikecupnya tangan halus itu dengan pelan dan lembut.
“Kita harus ikhlas, Sayang,” ujar Deka.
Ia meraup napas dalam-dalam sebelum memberitahukan apa yang terjadi kepada Ririn. Tidak mungkin kabar ini disembunyikan dari Ririn. Istrinya itu tentu harus tahu kabar duka ini. Kabar duka karena kehilangan Akachan sebelum waktunya dilahirkan.
Dokter telah mewanti-wanti agar ia bisa membagikan kabar duka kepada Ririn dengan bijak. Sebisa mungkin, jangan sampai menyebabkan jiwa sang istri terguncang.
“Ikhlas?” Kening Ririn mengerut. “Ikhlas kenapa, Bang?”
“Kamu keguguran, Sayang.”
“Apa?” Ririn lekat menatap Deka. “Abang, bercanda ‘kan?”
Deka bediri lalu berpindah posisi duduk. Kini ia duduk di dekat Ririn dan menggenggam tangannya. “Akachan sudah ... Akachan tidak mungkin lagi tumbuh berkembang di perut kamu. Dan kita tidak bisa lagi menunggu untuk menanti kehadirannya. Kamu keguguran, Sayang.”
__ADS_1
“Enggak mungkin.” Ririn menggelengkan kepalanya.
“Kita harus ikhlas, Sayang. Sabar ya.” Deka menyentuh wajah Ririn memberi kekuatan.
“Huaaa ... enggak mungkin. Huuu ... Akachan pasti masih ada. Huuuu ... “ Tangis Ririn pecah seketika.
Deka memeluk tubuh Ririn. “Sabar, Sayang ... ini cobaan. Mungkin Allah sayang sama kita, menyediakan tabungan akhirat untuk kita. Maka kita harus ikhlas dan sabar.”
“Huaaa ... Akachan udah enggak ada. Huuu ... huuu ...”
“Sabar ya, Sayang. Insyaallah nanti kamu dapat kesempatan untuk hamil lagi.”
“Huuu ... huuu ... huaaa ... “
Apalagi Ririn, yang sudah mengandung dan membersamai Akachan selama ini. Pasti sedihnya berlipat-lipat.
Sementara Ririn, tersentak sedemikian hebat mendengar berita duka ini. Harapannya terlalu tinggi kemarin. Mimpinya terlalu indah kemarin. Dan kini, ia jatuh dalam nelangsa setengah mati. Jatuh meruntuh dalam duka nestapa yang begitu dalam. Meremukkan jiwa. Melemahkan raga.
Pelangi indah yang mewarnai hati, pudar seiring awan gelap yang seketika menyelimuti. Bahunya berguncang karena tangis dan isak tidak dapat reda dengan mudahnya. Pedih rasanya. Sakit rasanya.
“Sayang, sudah ya. Jangan nangis terus. Jangan menangisi Akachan yang sudah tenang di surga-Nya,” ujar Deka. Lagi-lagi berusaha menenangkan Ririn dan juga menenangkan dirinya sendiri.
Ucapan Deka barusan sepertinya mampu sedikit menenangkan Ririn, terbukti dari tangisnya yang mereda.
“Akachan udah di surga ya,” ujar Ririn sembari mengusap air mata di pipinya.
__ADS_1
“Iya, Sayang. Dan kelak dia yang akan menolong kita di akhirat nanti. Begitu katanya.” Tangan Deka turut mengusap jejak air mata Ririn.
“Kita bahkan belum tahu jenis kelaminnya,” ucap Ririn lirih.
“Perempuan, Sayang. Akachan itu perempuan. Abang tadi sudah lihat langsung.”
“Anak kita perempuan, Bang?”
“Iya, perempuan.”
Tangis Ririn pecah kembali karena mendengar calon anaknya adalah berjenis kelamin perempuan seperti keinginannya.
Deka kembali memeluk Ririn. “Cup, cup. Ikhlaskan dia. Dia udah jadi peri kecil di surga.”
Ririn melepaskan pelukan Deka. Kemudian meraup napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Berusaha menguatkan hatinya yang berduka. Berusaha membangun jiwanya yang terluka.
“Sayang, sebenarnya apa yang terjadi sampai kamu pingsan? Apa kamu terjatuh dari tangga?” lontar Deka setelah Ririn tampak lebih tenang.
Ririn terdiam sejenak, berusaha merangkai informasi dari pusat saraf lalu menyusun kepingan ingatannya. Hingga kemudian ia dapat mengingat kejadian sebelum tergelincir dari tangga. “Tiara,” gumamnya.
“Tiara?” Deka mengernyitkan kening. “Ada apa dengan Tiara?” tanyanya.
“Tiara itu anak Abang,” sahut Ririn. Sorot matanya menatap Deka. Sorot mata penuh luka.
__ADS_1