Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Oleh-Oleh


__ADS_3

Deka baru saja tiba di Bandara Soekarno-Harta. Setelah menempuh kurang lebih delapan jam perjalanan dari Bandara Haneda Tokyo. Saat tiba di bandara, Fery sang asisten sudah ada di sana bersiap untuk menjemput Deka.


“Ini koper penuh amat,” seloroh Fery saat menaikkan dua buah koper ke bagasi mobil.


“Hemm.” Deka hanya ber-hemm saja. Sebab fokusnya bukan pada selorohan Fery. Ia sedang menimbang-nimbang apakah akan mengantar langsung oleh-oleh untuk Ririn atau pulang ke rumah dahulu.


“Oleh-oleh buat gue apa?” tanya Fery.


“Ada, gue beli Tokyo banana buat lo,” sahut Deka. Tokyo banana adalah cemilan berbentuk pisang dengan tekstur yang lembut seperti spons serta isian pisang yang wangi.


“Anjir, gue mintanya boneka malah dibeliin pisang,” sungut Fery sembari menutup bagasi lalu masuk ke mobil. Deka sudah duduk manis di sampingnya.


“Lo tadi bilang apa?” Deka tadi sudah masuk ke mobil sehingga tak bisa mendengar dengan baik ucapan Fery.


“Gue mintanya boneka,” ulang Fery.


“Ada kok.”


“Serius ada? Lo beli buat gue?”


“Iya. Mau sekarang?”


“Mana, mana?” Fery sangat  antusias.


“Bentar .... “ Deka memutar tubuhnya untuk meraih backpacker yang disimpan di kursi jok penumpang belakang. Memangku backpacker itu, kemudian membuka resletingnya untuk meraih sebuah benda di dalamnya.


“Taraaaaa ... lucu ‘kan?” Deka menunjukkan Kokeshi dengan mimik muka lucu seraya mengerjapkan mata berkali-kali.


“Idih, ini boneka apaan?!”


“Ini namanya Kokeshi.” Kokeshi adalah boneka kayu unik yang memiliki bentuk wajah dan badan, tidak memiliki kaki karena bagian bawahnya dibentuk datar.


“Iya, tau itu Kokeshi. Tapi gue maunya boneka .... “ Fery mendekatkan bibirnya di telinga Deka lalu membisikkan sesuatu.


“Dasar musim!! Eh, MESUM!!” Deka menoyor pria berstatus duda dengan tingkat kemesuman tinggi itu.


Fery pernah menikah dengan wanita yang dipacarinya bertahun-tahun sejak duduk di bangku TK nol kecil. Dari sejak Indonesia dipimpin oleh presiden kedua sampai presiden ketujuh. Namun saat memutuskan untuk menikah malah usia pernikahannya hanya seumur jagung. Sungguh tragis.


“Alah, kayak elo ga mesum aja,” balas Fery.


“No no no ... gue udah membuang jauh atribut kemesuman gue,” kilah Deka.


“Alah entar juga kalo sa*nge bakal balik lagi,” cibir Fery.


Bug ...


Deka memukul lengan Fery. “Jalan!”


“Ke mana nih? Ke kantor apa pulang?”


“Ke Serang.”


“What?!”


“Yes!”


“Ga bisa Brobos ... gue banyak kerjaan. Kalau bukan karena lo bos, gue juga malas jemput lo. Kerjaan gue numpuk segunung, setinggi Gunung Everest.”

__ADS_1


“Sebentar doang.”


“Oke oke. Gini aja. Gimana kalau gue balik ke kantor naik taxi aja. Lo ke Serang sendiri. Gimana?”


Deka terdiam sejenak untuk berpikir. “Oke. Pulang ke rumah aja deh,” putusnya.


“Nah, cocok.” Fery menyalakan mesin mobil lalu melajukannya.


“Gue pinisirin gebetan lo yang di Serang kayak gimana. Kayak ga ada lagi cewek cantik di sini.” Fery melirik Deka yang tengah sibuk dengan ponselnya. “Apa ada fotonya? Coba gue pengen lihat!” lanjutnya.


“Secret. Kalau gue bisa menikah dengan dia baru lo bakal lihat dia,” sahut Deka.


“Cantik?”


“Sangat.”


“Manis?”


“Banget.”


“Seksi?”


“Stop! Gue mau tidur!” seru Deka. “Lo bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut, gue belum siap mati. Dosa gue setinggi langit. Sementara pahala gue masih rata dengan tanah,” sambungnya.


Fery menempelkan tangan di dahi Deka sebab mendengar kalimat yang diucapkan Deka barusan. “Lo lagi ga sakit ‘kan, Bro?”


Deka menghempaskan tangan Fery. “Asal aja lo! Gue sehat walafiat!” sungutnya.


“Soalnya gue ga percaya aja, seorang Deka ngomongin dosa sama pahala. Ga cocok aja kayaknya,” ledek Fery.


“Apa? Hjrah?”


“Fer, awas!”


Saking terkejutnya mendengar Daka hijrah, Fery hampir saja menabrak mobil di depannya.


“Hati-hati lo!”


“Iya, iya, sori gue soalnya kaget sampe ngejumbul denger lo mau hijrah,” seloroh Fery.


“Udah, gue tidur!” pungkas Deka lalu memejamkan matanya.


Godaan saat hijrah itu salah satunya sahabat somplak bin mesum kayak si Fery. Batin Deka.


 


\=\=\=\=\=\=


 


Pukul tujuh malam, Deka keluar dari kamarnya membawa sebuah boneka Doraemon besar dan beberapa paper bag.


“Ka, mau ke mana?” tanya Mama yang tengah duduk di depan TV. Pandangannya beralih pada apa yang dibawa Deka. “Itu apa?” tanyanya


“Mau keluar sebentar ya, Mah.” Deka menghampiri Mama lalu mengecup pipinya.


“Itu penuh amat, buat siapa?” selidik Mama.

__ADS_1


“Buat dibagi, Mah ... sama teman-teman.”


“Enggak besok aja, kamu gak cape?”


“Enggak, Mah. Tadi udah istirahat kok.”


“Enggak mau makan dulu?”


“Nanti aja lah, Mah. Masih kenyang. Deka berangkat ya, Mah. Assalamualaikum.”


“Waalaikum salam. Hati-hati.”


“Iya, Mah,” sahut Deka seraya berlalu.


Deka masuk ke mobil. Tujuannya adalah mengantar oleh-oleh untuk Ririn. Pekat malam dan jarak yang membentang antara Jakarta dan Serang tak menyurutkan niatnya untuk segera menyerahkan barang-barang spesial yang dibelinya khusus untuk Ririn.


Deka melajukan mobilnya memecah keramaian jalanan malam. Tempo hari ia bisa menempuh perjalanan ke Serang kurang dari dua jam. Waktu tercepat yang ditempuh sebab semangat yang berkobar.


Deka melirik arloji di tangannya. Jika perjalanan lancar mungkin jam sembilan malam ia sampai di Serang. Masih masuk waktu toleransi untuk bertamu. Ia hanya ingin bertemu Ririn sekejap lalu menyerahkan oleh-oleh. Itu saja. Begitu pikirnya.


Tak sesuai perkiraannya, Deka sampai di Serang pukul 21:30. Sebab saat melewati rest area, ia berhenti dulu untuk mengisi bahan bakar dan salat Isya. Teringat ucapan Ustaz Arif, ustaz yang membimbingnya selama ini. “Jangan menunda-nunda solat. Sebab kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi pada diri kita di detik berikutnya. Apakah yakin kita masih bernyawa di detik selanjutnya?”


Kampung Cibening telah sepi saat Deka sampai di sana. Mungkin karena hujan baru saja menyapa. Tampak dari tanahnya yang basah. Membuat sebagian warganya melebur dalam dingin malam lebih awal.


Deka menghentikan mobilnya beberapa meter sebelum sampai tepat di depan rumah Ririn. Hatinya meragu untuk mendatangi Ririn sebab waktu menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Khawatir mengganggu penghuni rumah serta merasa tak enak dengan Abah dan Mami.


Deka meraih ponselnya. Ia berpikir untuk menghubungi Ririn terlebih dahulu. Sebelum berangkat ke Serang tadi, sengaja ia tak menghubungi Ririn sebab ingin memberikan kejutan.


[Rin, udah tidur?]


Pesan yang baru saja dikirim Deka centang satu abu-abu. Apa Ririn sudah tidur, ya? Batinnya.


Deka turun dari mobil lalu berjalan kaki mendekati kediaman Ririn. Langkahnya diayun menuju samping rumah bertujuan ingin mengecek kamar Ririn apakah lampunya masih menyala atau tidak. Jika lampu kamarnya menyala kemungkinan Ririn belum tidur. Begitu pikirnya.


Alangkah terkejutnya Deka saat mendapati sesosok memakai pakaian serba hitam tengah menggapai jendela kamar Ririn. Sosok serba hitam itu seperti sedang berusaha masuk ke kamar Ririn.


Ya Allah. Apa yang harus kulakukan. Batin Deka risau.


.


.


.


.


Terima kasih dukungannya.


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2