
"Abang, ih!" Ririn berusaha untuk turun. Namun, Deka menahannya.
"Gak mau!"
"Coba dulu!"
"Gak mau!"
Ririn berontak hendak turun, tapi Deka langsung menautkan bibirnya. Membuat Ririn diam tidak dapat berkutik. Saat keduanya tengah sibuk dalam kegiatan saling menyesap, tiba-tiba terdengar pintu kamar yang digedor kasar.
"Huaaaa ... Daddy ...!" Terdengar raung tangis Syad dari balik pintu.
Raungan Syad membuat dua sejoli yang tengah terlarut dalam buaian has-rat penuh cinta itu sontak melepaskan tautan bibir mereka.
"Syad bangun, Bang!"
"Iya."
"Ayo cepetan pakai bajunya!"
"Ronde dua gagal," seloroh Deka sembari menepuk bokong Ririn sebelum turun dari atas tubuhnya.
"Ish, Abang!"
Ririn turun dengan selimut yang membungkus tubuh, lalu segera meraih daster yang tercecer di lantai beralas hambal warna biru. Dengan gerak gesit, Ririn segera memakai dasternya.
"Abang, ih!" Ririn refleks menutup matanya dengan kedua tangan. Sebab saat berbalik badan, ia mendapati Deka masih berbaring dengan tubuh polosnya.
"Tutup pake selimut atuh, Bang!" protes Ririn.
"Selimutnya 'kan dibawa kamu," kelit Deka. "Ga usah tutup mata gitu kalee, udah lihat juga 'kan tadi," katanya lagi.
"Nih!" Ririn melemparkan selimutnya ke arah Deka. "Cepat tutup dan pakai bajunya!" perintahnya kemudian.
"Huaaaa ... Daddy ... Mommy!" Syad masih meraung di luar kamar seraya menggedor pintu.
Setengah berlari, Ririn beranjak menuju pintu. Syad langsung menghambur memeluk, saat Ririn membuka pintunya. Ia meraih Syad dalam gendongan. Sebelumnya ia menutup pintu kamar terlebih dahulu. Jangan sampai penampakan Deka yang sepolos bayi dilihat oleh Syad.
"Huaaaa ... Mommy ... Daddy nackal," adu Syad.
"Nakal kenapa Daddy-nya?" lontar Ririn.
"Cad ditinggal bobo cendiyi. Nackal Daddy. Huaaaa ..."
Ririn mencium pipi bakpao Syad. "Maafin Daddy ya, tadi Daddy keluar sebentar mau pipis," ujar Ririn berbohong. (Bohong apa benar ya 🙈)
Pipis? Ya ampun, kok aku bilang Abang mau pipis sih! Gumam hati Ririn.
"Cekayang Daddyna udah pipis?" lontar Syad dengan polosnya.
Hadeuh. Tuh 'kan.
"I-iya, udah," jawab Ririn salah tingkah karena merasa malu sendiri dengan pikiran mesum yang datang tanpa permisi.
"Daddy pipis di mana emangnya?"
Aduduh, jadi panjang 'kan. Syad, kenapa pake tanya pipis di mana segala sih!
"Eng ...." Ririn berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan Syad. "Pipisnya di rumah pipis," jawabnya.
"Yumah pipis itu di mana?" lontar Syad lagi. Anak kecil memang kritis seperti wartawan 'kan.
Astaga, emang aku tadi bilang rumah pipis gitu. Apa sih mulut ini kok ngaco ngomongnya.
__ADS_1
"Maksudnya di tempat pipis. Tempat pipis itu ada di kamar mandi," sahut Ririn.
"Oh, gitu." Syad manggut-manggut.
Sementara sedari tadi, Sanah senyum-senyum melihat reaksi istri majikannya. Ririn melototi Sanah saat mengetahui sang ART bertubuh mungil itu tengah tersenyum menggodanya.
"Maafkan saya, Bu. Sesungguhnya tadi saya belum tertidur. Saya tengah menonton televisi, menonton sinetron ikatan cilok, tetapi tiba-tiba Syad terbangun dan seketika berteriak histeris mencari daddy-nya," terang Sanah dengan karakter khasnya.
"Ya udah ga papa. Kamu balik lagi ke kamar aja!" titah Ririn.
"Memangnya Ibu sama Bapak, eng ... anu ... apakah sudah selesai? Hihihihi ...." lontar Sanah dengan diakhiri tawa kecil tertahan.
"Udah, kamu kembali ke kamar kamu sana!"
"Saya boleh tidur di kamar saya kembali, Bu?"
"Iya."
"Alhamdulillah. Saya tidak enak perasaan jika tidur di kamar majikan," ujar Sanah jujur.
"Apa ada yang bisa saya bantu lagi, Bu?" tanya Sanah sebelum berlalu.
"Enggak ada."
"Jika tidak ada, saya pamit kembali ke kamar saya ya, Bu."
"Iya."
Sanah kembali ke kamarnya. Setelah Sanah pergi, Deka keluar dari kamar persinggahannya. Tubuhnya sudah tidak polos lagi, sudah mengenakan piyama dengan sempurna.
"Halo, Jagoan!" sapa Deka pada Syad.
Syad memalingkan muka dengan wajah ditekuk seperti mau menangis.
"Aduh anak ganteng nangis lagi." Ririn membawa Syad kembali ke kamarnya. Sementara Deka berjalan di belakang Ririn sembari membujuk Syad agar berhenti menangis, tetapi tidak berhasil. Syad semakin keras menangis.
"Huaaaa ... puyang, puyang. Daddy nackal, Cad da mau cama Daddy. Yayah, Nda ... puyang, puyang!" Syad meraung histeris.
"Abang, sih!"
"Loh kok, abang sih! Kamu juga loh, Yang. Kita berdua dong, seharusnya," kilah Deka.
"Puyang, puyang, puyang," rengek Syad.
"Ini udah malam, Sayang. Pulangnya nanti besok pagi ya," bujuk Ririn.
"Puyang cekayang, puyang cekayang," raung Syad.
"Besok aja pulangnya, Syad. Sekarang udah malam, daddy takut keluar malam," kata Deka.
"Puyang cekayang, puyang cekayang."
"Eh, Syad mau nontonThomas ga di hape," bujuk Deka.
"Mau, mau, mau."
"Abang, anak kecil jangan dibujuk sama hape!" protes Ririn.
"Gak papa lah sebentar aja, yang penting nangisnya berhenti." Deka menyerahkan ponsel miliknya kepada Syad.
"Hape saya aja, Bang. Hape Abang hape mahal, takut dibanting," sela Ririn.
"Kalau dibanting ya tinggal beli lagi, dong," sahut Deka.
__ADS_1
Ririn tidak menggubris ucapan Deka, ia segera menukar ponsel Deka dengan ponsel standar miliknya lalu diberikannya kepada Syad.
"Ya ampun, Yang, itu hape jadul loh. Besok aku belikan hape yang baru untuk kamu, ya," ujar Deka.
"Enggak mau. Orang ini masih bagus kok, masih nyala dan berfungsi," tolak Ririn.
Deka patuh saja pada keputusan Ririn. Sudah sejak lama ia ingin membelikan ponsel baru untuk istri tercinta, tetapi selalu ditolak.
"Abang jaga Syad dulu, saya mau bikin susu untuk Syad," ujar Ririn.
"Sekalian buat aku juga ya, Yang," sahut Deka.
"Ok, Abang mau susu apa?"
"Susu kamu."
Ririn melotot mendengar ucapan Deka
"Eh, maksud aku, su-su ha-ngat." Deka mengeja kalimat akhirnya agar tidak salah ucap lagi.
"Putih apa coklat?"
"Putih, dong."
"Ok."
Ririn beranjak menuju dapur untuk membuat susu. Susu formula satu plus untuk Syad, serta susu dengan kandungan protein yang tinggi untuk Deka. Susu "X men" yang biasa Deka konsumsi, efektif untuk meningkatkan massa otot. Biasanya pria tampan dengan bentuk tubuh sixpack yang menjadi bintang iklan susu tersebut.
Setelah membuat susu, Ririn kembali ke kamar. Saat masuk kamar, ia mendapati Syad tengah meraung lagi.
"Syad sayang, kenapa nangis?" lontar Ririn.
"Daddy nackal, daddy nackal!" raung Syad.
"Kok bisa nangis lagi sih? Diapain sama Abang?" tukas Ririn.
"Enggak diapa-apain, nangis sendiri. Sumpah," sahut Deka sembari mengacungkan jari membentuk huruf V.
"Ga mungkin kalau gak ...." Belum selesai Ririn mengucapkan kalimatnya, ia dikejutkan dengan aksi Syad.
Braaaak ...
Syad melemparkan ponsel milik Ririn ke lantai hingga hancur tercerai-berai.
"Ya Allah, hape saya." Ririn segera meletakkan nampan berisi segelas susu untuk Deka dan sebotol susu untuk Syad. Setelahnya ia memunguti serpihan ponsel yang terserak di lantai.
"Duh, Syad kok lempar ponsel mommy sih! Mommy nangis nih!" seru Ririn.
"Ga papa Sayang, besok kita beli hape baru untuk kamu ya," kata Deka.
"Jangan-jangan Abang yang nyuruh Syad untuk lempar hape saya," tukas Ririn.
.
.
.
.
Mau dobel up, matanya ga kuat. Maaf ya 🙏🙏
Terima kasih dukungannya.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️