Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Hamil Kedua


__ADS_3

Satu tahun kemudian.


Deka melambaikan tangan pada wanita cantik dengan perut bunting yang baru saja selesai melakukan senam hamil bersama beberapa orang ibu hamil lainnya. Kegiatan itu dilaksanakan di sebuah rumah sakit bersalin. Wanita cantik yang tidak lain adalah Ririn, balas melambaikan tangan kepada sang suami tampannya.


“Suaminya Bu Ririn ganteng ya, mirip artis Korea,” celetuk salah satu ibu hamil yang duduk di samping Ririn.


“Ibu bisa aja.” Ririn tertawa kecil.


“Bu Mila tuh harus bersyukur punya suami. Biar jelek-jelek juga itu suami kita. Karena sebaik-baiknya seorang suami adalah ... seorang pria,” timpal Ibu hamil lain yang duduk di dekat Ririn.


"Hahahahaha." Para ibu hamil itu tertawa mendengar celetukan salah seorang temannya tersebut.


“Ibu-ibu, saya permisi pulang duluan ya,” pamit Ririn seraya mengulas senyum.


“Bu Ririn, nanti dong pulangnya biar suaminya yang nyamperin ke sini,” sahut ibu hamil pertama yang memuji kegantengan Deka.


"Suami saya enggak mau, katanya grogi dillihatin ibu-ibu,” kata Ririn diiringi tawa kecil


"Bu Mila sih, godain suami Bu Ririn terus. Auto takut deh suami Bu Ririn, takut digigit sama Bu Mila," sahut ibu hamil lainnya yang disambut gelak tawa teman-temannya. Ririn pun ikut tertawa kecil.


“Ya sudah ibu-ibu, saya permisi. Assalamualaikum.”


“Waalaikum salam,” sahut Ibu-ibu kompak.


Deka berlarian kecil menghampiri Ririn setelah posisi Ririn sudah menjauh dari kumpulan ibu-ibu hamil tersebut.


“Maaf ya, Yang, abang enggak nyamperin ke sana. Habisnya keki dekat ibu-ibu itu.” Deka tidak akan pernah lupa, saat awal Ririn mengikuti kelas hamil, Ibu-ibu hamil tersebut minta dielus perutnya satu per satu dengan alasan agar anaknya ketularan ganteng.


“Hiiiii.” Deka bergidik ngeri.


“Hahahahaha.” Ririn tertawa melihat ekspresi suaminya.


“Hay Boy, hai Girl.” Deka mengusap perut Ririn yang membuncit. “Bagaimana, senang enggak diajak senam sama Mommy?” tanyanya seolah sedang berbicara dengan calon anaknya.


“Seneng, Daddy,” jawab Ririn menirukan suara anak kecil.


Lima bulan setelah Ririn mengalami keguguran, Deka berhasil menghamili Ririn lagi. Selama empat bulan, Ririn memaksa Deka untuk membungkus naganya saat melakukan aktivitas penuh cinta yang bernilai ibadah. Baru saat bulan kelima, Ririn mengizinkan sang naga menyemprotkan bisanya.


Di bulan kelima itu pun Deka mengulang kembali masa-masa bulan madunya bersama istri tercinta dengan mengunjungi negara Jepang. Ririn yang belum bisa move on dari negara Jepang, menjadi alasan Deka untuk memilih negeri sakura tersebut sebagai tujuan destinasi bulan madu kedua mereka.


Tidak lama setelah kepulangan dari Jepang, Deka mengalami mual-mual parah. Semula mereka mengira jika Deka kembali terserang tifus. Namun, setelah melakukan pemeriksaan kesehatan, tidak ditemukan gejala penyakit tertentu pada Deka. Sampai akhirnya, dokter menyatakan Ririn positif hamil. Sehingga mual-mual yang dialami Deka ditengarai karena ngidam.


Masa-masa awal kehamilan kedua Ririn menjadi masa yang tidak akan pernah dilupakan oleh Deka. Setiap pagi, pria rupawan itu mengalami morning sicknes dan selalu ingin makan rujak di setiap harinya.


Bahkan, Deka sampai membuat ketetapan baru di kantornya. Bahwa setiap hari secara bergilir, karyawan diharuskan membawa rujak buah untuknya. Setiap hari ada tiga orang karyawan yang dijadwalkan untuk membawa rujak untuk pagi, siang dan sore.

__ADS_1


“Pak Deka, mohon maaf, saya mau memberitahukan kalau jadwal saya membawa rujak yang semula tanggal 20 ditukar dengan tanggal 23. Jadwalnya saya tukar dengan anak HRD, namanya Wiwi,” lapor Silvi.


“Iya, terserah. Yang penting setiap pagi, siang, sore, harus ada rujak buah di meja saya. Kalau ada yang tidak membawa saat jadwalnya membawa rujak, saya akan kasih SP satu!” ancam Deka tidak main-main.


Pernah di suatu pagi, saat Deka masuk ke ruangannya, ternyata belum ada rujak di sana. Hal itu tentu membuat Deka gusar.


“Silvi, kenapa di meja saya belum ada rujak?” omel Deka.


“Waduh, masa sih, Pak,” sahut Silvi.


“Iya. Siapa yang hari ini dijadwalkan membawa rujak?”


“Hari ini jadwalnya si Abdul, anak divisi umum,” sahut Fery.


“Mana itu si Abdul belum datang bawa rujak!”


“Saya, Pak!” Seorang karyawan berlari-lari menghampiri Deka. “Maaf, Pak, saya telat. Mohon saya jangan di SP. Ini rujaknya sudah ada. Rujak saya mantap loh, Pak,” ujar karyawan bernama Abdul itu sembari menyerahkan sebuah wadah tupperware berisi rujak buah.


“Memang ini rujak apa namanya?” lontar Deka.


“Abdul Rujak, Pak," sahut karyawan bernama Abdul itu.


“Apa?!”


“Pantesan ini rujaknya muter-muter,” timpal Fery.


“Muter-muter gimana, Fer?” lontar Deka mengernyit.


“Tuh, lagi nyari alamat palsu. Kemana, kemana, kemana.” Fery bernyanyi dengan suara sumbang.


“Pak Fery lebih baik ngerujak deh, daripada ngerusak lagu penyanyi idola saya!” protes Abdul.


Kini kehamilan Ririn telah menginjak usia tujuh bulan. Lima hari yang lalu mereka baru mengadakan acara syukuran tujuh bulan di tiga kota. Yaitu, Jakarta, Serang dan Subang.


Di kehamilan Ririn kali ini, mereka tidak lagi memperdebatkan soal jenis kelamin. Mau laki-laki atau perempuan yang penting bisa dilahirkan selamat dan sehat walafiat. Mereka akan mensyukuri apapun jenis kelamin anaknya nanti.


Keikhlasan dan rasa syukur tentang jenis kelamin calon anak mereka, ternyata dihadiahi kabar gembira. Di usia kehamilan dua belas minggu, dokter menyatakan dan memastikan Ririn mengandung anak kembar.


Melalui pemeriksaan USG, dokter menyatakan Ririn mengandung anak kembar fraternal atau kembar tidak identik. Berbeda dengan kehamilan kembar identik pada Mimin saat mengandung bayi kembar Syakira dan Safiyaa.


Kembar fraternal terjadi saat dua sel telur dibuahi oleh dua sel ******. Pasangan kembar tersebut tidak memiliki gen yang sama, sehingga akan terlahir dengan jenis kelamin berbeda, laki-laki dan perempuan. Tentu saja kabar tersebut membuat pasangan Deka Ririn sangat berbahagia. Boy dan Girl adalah panggilan sayang untuk calon anak mereka.


“Abang, saya gemuk banget ya?” lontar Ririn yang tengah mematut dirinya di depan cermin. Bobot tubuhnya naik banyak di kehamilan kedua ini. Amat wajar karena ia mengandung anak kembar.


Deka menghampiri Ririn lalu merengkuh bahunya. “Biarpun kamu gemuk, tapi tetap muat kok di hatiku.”

__ADS_1


“Ish, Abang.”


“Eh, beneran, Sayang. Meskipun gemuk kamu mah ada manis-manisnya dan tetap kelihatan cantik di mata abang.” Deka mengecup tengkuk Ririn dan menghirup aroma wanginya dalam-dalam.


“Gombal,” sahut Ririn mencebikkan bibir.


“Mau bukti?” tantang Deka.


“Apa?”


“Abang mau nengok si Boy and Girl.” Deka menggiring Ririn menuju peraduan. “Yang, boleh ya, boleh ya?” kerlingnya.


“Boleh.” Ririn mengangguk tersipu.


Kemudian terjadilah gempa yang tidak terlalu dahsyat karena disesuaikan dengan kondisi Ririn yang tengah hamil. Malam itu, Deka menjenguk calon anaknya melalui perantara sang naga.


“Abang, Boy dan Girl lagi ngapain tadi di dalam?” tanya Ririn usai Deka menjenguk calon buah hatinya.


“Sedang berdiskusi membahas masalah negara yang tidak ada habisnya.”


Syukurlah, yang penting enggak membahas masalah hidup Mak Othornya.


.


.


.


.


Maaf ya, satu bab doang.


Terima kasih dukungannya.


❤️❤️❤️❤️


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2