
Di atas peraduan di sebuah kamar nuansa Doraemon itu sedang terjadi gempa lokal, dipastikan selanjutnya akan terjadi beberapa gempa susulan. Karena tidak mungkin cukup satu ronde. Selalu ada ronde-ronde berikutnya.
Sepanjang usia pernikahan pasangan ini. Lebih akuratnya, setelah Deka dinyatakan negatif HIV, tempat tidur mereka tidak pernah reda dari gempa. Selalu terjadi gempa setiap malamnya terkecuali jika Ririn kedatangan tamu bulanan.
Seperti yang terjadi malam ini, Ririn tengah bergerak naik turun di atas tubuh lelakinya. Tidak habis pikir dengan keinginan sang suami yang mengatakan lelah, namun malah menginginkannya. Maka jadilah begini. Ia yang bersusah payah beraksi, sementara Deka enak berbaring. Menyebalkan meskipun juga ... meng-anukan.
Meski risih, Ia harus berlapang dada melakukannya. Karena ada maksud dan tujuan tertentu. Yaitu demi membujuk sang suami agar menuruti kemauannya. Agar Deka mengizinkan Tiara menginap di rumah mereka. Ia sudah terlanjur sayang dengan gadis bernama Tiara itu.
Lima bulan pernikahan, membuat Ririn memahami karakter Deka. Suaminya itu mudah sekali dibujuk.
Pernah suatu hari Deka merajuk karena Ririn tidak menjawab ponselnya. Setelah sampai di rumah, dilihatnya sang istri tengah menonton sinetron kumenangis membayangkan bersama Sanah. Deka yang tidak menyukai Ririn menonton drama seperti itu sebab khawatir akan memberikan sugesti buruk terhadap hubungan mereka, merajuk dan mendiamkan Ririn.
Ternyata tidak lama-lama Deka merajuk. Tinggal dielus-elus sedikit, dikecup sedikit, bertingkah genit sedikit, langsung hilang mengambek atau marahnya. Rasa marah Deka luluh lantak bersama datangnya serangan has-rat yang tiba-tiba. Begitulah sang mantan cassanova.
“Abang Sayang.” Ririn memainkan jarinya di dada bidang sedikit berisi dan terbentuk. Itu karena si pemiliknya sering melatih otot pektoralis sehingga membuat dadanya terbentuk. Dan ini adalah salah satu bagian tubuh Deka yang menjadi kesukaannya. Bukan yang naga-naga itu. Weleh-weleh.
“Iya, Sayang.” Deka membelai rambut hitam, lurus dan wangi sang wanita yang baru saja menyebabkan gempa tektonik sekaligus gempa vulkanik sampai laharnya meluber-luber.
“Maaf ya, saya ga minta izin Abang dulu waktu membawa Tiara pulang ke sini," sesal Ririn. Meskipun ia sengaja melakukannya, tetap saja terselip rasa penyesalan. Bukankah sebagai istri yang baik, setiap apapun yang akan dilakukan harus mendapat persetujuan sang imam.
“Hemm.” Deka bergumam sembari terus membelai rambut bidadarinya dan menciumi aroma wanginya.
“Tiara itu kelihatannya sangat tertekan tinggal di rumahnya, makanya dia nekat kabur. Saya merasa kasihan sama anak itu.” Kesan pertama Ririn saat bertemu Tiara adalah rasa kasihan dan selanjutnya kini tumbuh rasa sayang.
“Kalau orangtuanya nyariin bagaimana?” lontar Deka.
“Kalau saya pergoki waktu itu, ayahnya itu kasar sekali. Sampai-sampai tega melakukan KDRT kepada ibunya di depan Tiara. Mungkin itu alasan Tiara ingin kabur dari rumahnya.”
“Tapi biar bagaimanapun dia itu anaknya.”
“Saya merasa itu bukan ayah kandungnya, mungkin itu ayah tirinya. Kalau dari pesan yang ditulis waktu itu ‘kan dia mau kita bisa nolongin ibunya juga.”
“Sudah ah, ga usah ikut campur urusan mereka. Jangan terlibat terlalu jauh dalam urusan orang lain. Salah salah malah kita yang kena getah.”
“Iya, saya juga tahu. Rencananya saya juga nanti akan mengantar Tiara pulang, tapi semalam dua malam ini biarlah dia menginap di sini.”
“Gak bisa, Yang. Cukup malam ini aja dia menginap di sini. Kalau lebih dari dua kali dua puluh empat jam, terus orangtuanya lapor polisi, kita bisa kena pasal penculikan anak di bawah umur.”
“Tapi, Bang .... “
“Pokoknya besok kita antarkan dia pulang. Aku akan temani kamu antarkan anak itu pulang,” putus Deka.
__ADS_1
Ririn hanya dapat menarik napas banyak-banyak. Keputusan sang suami tentu lebih diutamakan daripada rasa kasihan pada Tiara.
Sesaat kemudian hanya keheningan yang tercipta di antara mereka. Hanya detak suara jantung Deka yang jelas terdengar oleh Ririn, sebab ia memang tengah menenggelamkan wajahnya pada dada pria tampan itu.
Deka merenggangkan pelukannya. Memberi jarak spasi di antara mereka agar dapat menatap wajah Ririn.
“Sayang, ini belum ada dede bayinya juga ya,” ucapnya sembari mengelus perut Ririn.
Ririn menggeleng kecil.
“Perasaan usaha kita udah maksimal, super maksimal malah,” ujar Deka lagi.
Ririn diam tak menyahut, hanya memandangi wajah Deka seraya tersenyum. Ia tahu suaminya itu ingin segera memiliki anak. Tentu saja karena usia sang suami sudah menginjak angka tiga puluh dua. Seandainya saja suaminya itu menikah saat lulus SMA, bisa jadi sudah memiliki anak seusia Tiara. Begitu pikir Ririn.
“Apa kurang sering atau kurang banyak rondenya?” Deka tersenyum jahil.
Pertanyaan apa itu. Kurang sering bagaimana? Terlalu sering malah. Kurang ronde bagaimana? Terlalu banyak malah. Hadeuh.
“Malah katanya gak bagus kalau terlalu sering, Bang," sahut Ririn.
“Siapa yang bilang begitu? Ajaran sesat itu! Yang benar itu semakin banyak mencoba maka semakin besar kesempatan atau peluang untuk mendapatkannya,” kilah Deka.
Ririn bergerak maju. Alih-alih menanggapi pernyataan Deka, ia memilih untuk kembali menenggelamkan wajahnya di dada Deka. Hal ini menjadi kesukaannya sejak menikah dengan Deka.
“Yang ... Sayang,” panggil Deka karena setelah penuturan panjang lebar itu, justru keheningan yang menyelusup di antara mereka.
“Yang!” Deka memundurkan tubuhnya agar bisa menatap Ririn.
“Herr ... herr ... herr.” Ririn mendengkur halus.
“Ya Allah, malah tidur. Baru juga tiga ronde.”
Malam ini dipastikan gempa susulan tidak akan terjadi secepatnya. Tidak terjadi atau delay? Biarlah cicak-cicak di dinding yang nanti akan menjadi saksinya.
\=\=\=\=\=\=
Sang mentari hadir menyapa pagi. Menyambut dan mengiringi aktivitas setiap insan di bumi. Ketiga penghuni rumah mewah itu telah duduk manis di meja makan untuk menyantap santapan pagi. Ririn dan Deka duduk bersebelahan. Sementara si tamu kecil—Tiara, duduk di kursi di seberang Deka.
Dari tempat duduknya, Deka mengamati Tiara. Pengamatannya fokus pada wajah si gadis kecil.
Anak itu wajahnya mirip ...
__ADS_1
Ah, sudahlah. Ga penting.
“Ayo, Tiara, dimakan nasi gorengnya,” ujar Ririn yang sedari tadi memperhatikan Tiara hanya menunduk menatap piring dan sesekali mengangkat wajahnya menatap Deka.
“Apa mau sarapan outmeal seperti Om?” tawar Ririn kemudian.
“Enggak, Tante. Ini aja.” Tiara mulai menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya.
“Jangan lupa berdoa sebelum makan,” pesan Ririn. Tiara mengangguk seraya tersenyum.
“Habis sarapan, kami akan mengantar kamu pulang ke rumahmu!” tegas Deka.
“Jangan, Om! Aku masih mau tinggal di sini," mohon Tiara sembari menatap Deka.
“Memangnya kamu gak punya orangtua apa!”
“Aku cuma punya mama. Aku gak punya papa.” Tiara berucap lirih.
“Kamu anak yatim?”
“Bukan anak yatim, tapi ... anak haram.”
.
.
.
.
Terima kasih dukungannya.
__ADS_1