Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Marah


__ADS_3

“Bella, kamu ke ruangan aku sekarang!” titah Deka tegas.


“Ada apa sih, Bang? Gitu banget ngomongnya," sahut Bella dengan gestur sok manja.


Sikap Bella yang sok manja justru membuat Deka semakin muak.


“Ini perintah! Saya bilang ke ruangan saya, SEKARANG!” titah Deka, suaranya terdengar seperti berteriak.


“Ayo, kita ke ruangan kamu sama-sama.” Lengan Bella bergelayut manja di lengan Deka. Sok akrab.


Bella tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, seolah tidak menyadari kemarahan Deka. Sudah diteriaki masih tidak peka kalau Deka tengah memendam amarah kepadanya.


“Don’t touch me!” Deka melepaskan kasar lengan Bella. “Kamu duluan saja! Nanti aku menyusul!” serunya.


“What am I going to do in your room while you are still here?” (Apa yang akan aku lakukan di ruanganmu sementara kamu masih di sini?)


“I told you. Kamu duluan, aku nanti nyusul! sentak Deka. Kilatan amarah terpancar jelas dari sorot matanya.


“I-iya,” sahut Bella terbata sebab tatapan Deka yang sangat mengerikan. Sorot mata Deka ibarat obeng yang siap menusuk-nusuk bola matanya.


Bella keluar dari ruang meeting. Berlalu meninggalkan Deka yang mendadak berwajah sangar dan Fery yang berwajah penuh tanda tanya. Seperti Fery, hati Bella pun dipenuhi tanya.


What’s matter with Abang? Ada apa dengan Abang? Mengapa sorot matanya tajam begitu? Dari raut wajah dan sorot mata jelas  sekali Abang sedang marah. Abang marah kepada siapa? Apakah marah kepadaku? Marah tentang apa? Apa aku melakukan kesalahan dalam pekerjaan? Kalau tentang pekerjaan, tidak mungkin Abang semarah itu. Biasanya jika ada kesalahan dalam pekerjaan, Abang menegur lewat Silvi. Tidak pernah menegur langsung kepadaku. Lalu Abang marah kenapa? Oh, tunggu ... apa Abang marah karena ... Batin Bella menerka-nerka.


“Deka lo kenapa sih?!” lontar Fery. Terdengar seperti kalimat pertanyaan sekaligus sebuah teguran.


“Gue perhatikan dari tadi, lo ngeliat Bella kok gitu banget, kaya mau nelen dia idup-idup, tau enggak sih!” Sedari tadi Fery memperhatikan Deka yang tidak fokus pada pembahasan meeting. Sorot matanya menatap tajam Bella. Ia menduga bahwa Deka ada masalah dengan Bella.


"Untung Pak Budi tadi ga peka dengan sikap lo. Coba kalau proyek ini sampai batal, bakal kena semprot bokap lo. Mana Deka yang profesional, selalu memprioritaskan pekerjaan dibandingkan masalah pribadi," omel Fery.


Deka masih duduk di ruangan meeting, tangannya mengetuk-ngetuk bolpoin di meja. Ia sama sekali tidak menanggapi omelan Fery. Bahkan, ia juga tidak mendengarkan dengan baik omelan asistennya itu.


“Balasan apa yang setimpal untuk cewek keparat itu?” Matanya melirik Fery yang duduk di dekatnya dengan gerak tangan masih mengetukkan bolpoin ke meja.


“Cewek keparat siapa?” tanya Fery seraya mengerutkan kening.


Bukannya menjawab pertanyaan Fery, mata Deka malah melotot menatap asistennya itu.


“Bella maksudnya?” terka Fery setelah dipelototi sang bos.


“Ya.”


“Memangnya si bule berambut merah itu bikin kesalahan apa?” Fery memang tidak tahu menahu soal pemalsuan hasil lab yang dilakukan Bella.


“Ini bukan kesalahan lagi tapi sebuah kejahatan.”


“Apa sih, Bro? Gue ga ngerti.” Fery menatap Deka dengan raut serius.

__ADS_1


“Hasil laboratorium itu ternyata palsu,” ungkap Deka.


“Hasil laboratorium apa?” tanya Fery bingung.


Deka menarik napas panjang lalu mengembuskannya. Kesal karena Fery belum paham juga. “Hasil laboratorium yang menyatakan gue terinfeksi HIV.”


“Gue masih belum paham, apa hubungannya dengan Bella?”


“Ah iya, gue belum cerita sama lo. Waktu itu ‘kan dia yang ngambil hasil labnya. Ternyata itu adalah palsu. Bodohnya gue waktu itu, gue ga baca dengan teliti dan gue main percaya aja karena dia sahabat gue dari kecil. Gue ga konsultasi ke dokter, gue ga konfirmasi pihak lab. Gue langsung terima aja hasilnya," tutur Deka.


Fery mendengarkan cerita Deka dengan antusias.


“Terus beberapa hari yang lalu, gue memutuskan untuk cek ulang. Bahkan gue sampai cek darah dua kali di dua rumah sakit berbeda. Rumah sakit tempat gue dulu periksa dan rumah sakit lainnya. Pihak lab bilang kalau hasil tes HIV itu ga bisa hasilnya langsung selesai sehari. Dari situ aja udah ketahuan kalau Bella udah bohongin gue,” tutur Deka.


“Terus, terus.” Fery semakin antusias mendengarkan.


“Tadi pagi hasil tes gue udah keluar. Alhamdulillah hasilnya gue negatif HIV.”


Braaaak ...


Fery memukul meja, membuat Deka terlonjak kaget. “Macan, macan, macan.”


“Apaan sih lo, ngagetin aja!” umpat Deka sembari meninju pelan lengan Fery.


“Sori, sori, saking antusiasnya gue,” sahut Fery.


“Dari awal juga gue ga percaya sama hasil lab itu. Tapi gue ga kepikiran si Belek itu ada hubungannya. Coba kalau lo bilang dari awal, semuanya akan terungkap lebih cepat,” kata Fery.


Braaaak ...


“Gue nih bodoh banget,” ujar Deka. Dan semua pembaca menyetujuinya. (Hihihihihi)


“Emang,” sahut Fery. “Jadi manusia merugi ‘kan lo, punya istri cantik dianggurin,” ledek Fery.


“Hal itu yang bikin gue kesel dan ga terima. Pernikahan gue terancam karam gara-gara dia.” Deka sungguh geram kala mengingat nasib pernikahannya yang dipermainkan oleh Bella.


“Makanya gue harus kasih hukuman apa sama wanita itu? Apa gue harus mengambil tindakan hukum?” tanyanya.


“Gue percaya lo. Terserah lo mau kasih hukuman apa, yang penting emosi lo jangan sampai kebablasan dan akan merugikan lo nantinya,” sahut Fery.


“Lo ikut gue!” Deka berdiri lalu mengayun langkah tegap menuju ruangannya. Fery mengekor di belakangnya.


Di dalam ruangan Deka, Bella tengah memandangi foto dalam pigura yang dipegangnya. Foto pernikahan Deka dan Ririn yang terbingkai dalam pigura dan diletakkan di meja kerja Deka.


“Dasar janda kampung! Lo tuh ga pantes jadi istri seorang Radeka Bastian!” umpat Bella.


Saat Bella mendapatkan informasi bahwa calon istri Deka adalah seorang janda yang berasal dari kota Serang dan dibesarkan di Subang, ia bertekad untuk memisahkan Bella dan Deka. Ia tidak rela, sahabatnya itu berdampingan dengan wanita yang menurutnya tidak sepadan dengan performa Deka.

__ADS_1


Bella masih memandangi foto itu seraya mengumpat dalam hati saat Deka membuka pintu ruangannya. Bella gegas meletakkan kembali pigura itu di atas meja kerja Deka.


Ia melemparkan senyum saat Deka masuk ruangan. Namun, Deka sama sekali tidak membalas senyumnya, malah memasang wajah angker. Membuat hati Bella bergidik ngeri.


Deka duduk di kursi kebesarannya. Sementara Fery yang masuk ruangan bersama Deka berdiri di samping kursi Deka dengan tangan terlipat di dada.


Deka menatap tajam Bella sejenak. Lalu, membuka laci dan mengambil surat hasil lab palsu dari dalam laci.


“Ini apa!” bentak Deka seraya melemparkan surat hasil lab ke wajah Bella.


Bella tersentak kaget, tidak menyangka Deka akan sekasar itu kepadanya. Membentak dan melemparkan surat ke depan wajahnya. Rasa hati ingin menghardik balik sahabat kecilnya itu, namun mengingat ini masih jam kantor dan ada Fery di ruangan itu, ia menahannya.


Bella mengambil surat yang dilemparkan dan jatuh di atas pangkuannya. Ia membuka lalu mengeluarkan isi surat itu. Dengan hanya membaca sekilas, ia dapat memahami surat apakah itu.


Seketika tenggorokan Bella terasa tercekat. Nyalinya menciut. Ia menelan ludah berulang kali untuk mengurangi rasa gugup. Gugup karena kebohongannya telah terbongkar.


“I-ini ....”


Braaaak ...


Deka memukul meja kerjanya.


“JELASKAN!!!” Seruan Deka tegas dan membahana


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2