
“Ayo jalan yang cepat tuda (kuda)!” seru Syad yang tengah duduk di punggung Deka.
Drama menangisnya Syad tadi sore, mengantarkan bocah usia dua tahun itu menginap di rumah uwaknya. Semoga tidak sampai sebulan seperti yang dibilang papahnya. Begitu harapan Deka. Bakal kurang JOS nantinya kalau diganggu Syad.
“Udah ya Syad, daddy yemes,” keluh Deka.
Posisi tubuhnya tengah berjongkok dengan kaki dan tangan menjadi tumpuan, menirukan kuda. Wajahnya meringis sebab sudah lebih dari lima belas menit Syad duduk di punggungnya.
“Biarlah, Bang. Hitung-hitung belajar punya anak. Ini baru keponakan loh, belum kalau anak beneran yang setiap hari selalu bersama kita. Segini aja Abang udah ngeluh,” timpal Ririn.
“Kalau jadi kudanya kamu sih pasti kuat mau lama-lama juga.” Deka mengerlingkan mata.
“Ish.” Ririn mendesis.
“Syad, turun yuk! Kasihan, tudana yemes,” bujuk Ririn sambil berjongkok di dekat Syad.
“Da mau.” Syad menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Mau naik tuda nang lama."
“Syad mau minum susu enggak?” lontar Ririn sembari menggoyang-goyangkan botol susu yang telah terisi susu dalam genggamannya.
Dewa yang membawakan botol susu itu sebagai bekal Syad menginap di rumah Deka. Selebihnya ayah ganteng itu menyertai kepergian putranya untuk menginap dengan doa.
“Mau,” sahut Syad riang.
“Kalau mau, turun dong," titah Ririn.
“Tuyun, tuyun.” Sebotol susu rupanya ampuh untuk membuat bocah tampan itu mau turun dan mengakhiri main kuda-kudaan.
Ririn menurunkan Syad dari punggung Deka. “Anak pintar,” ucapnya.
“Alhamdulillah,” ucap Deka setelah Syad turun dari punggungnya. “Hadeuh, belum tempur udah lemes duluan gara-gara Syad. Jadi kurang JOS nih nantinya.”
Ririn terkikih geli mendengar keluh kesah Deka.
“Ayo, Syad mimik dulu, yuk!” titah Ririn.
“Ayo!” seru Syad riang.
Ririn menuntun Syad menuju kamar. Sementara Deka mengekor di belakangnya. Sampai di kamar, Ririn mengangkat Syad dan menidurkannya di atas kasur berukuran super king.
“Syad mimik, terus bobo ya.” Ririn menyerahkan botol susu pada Syad yang telah anteng berbaring. Ia hafal kebiasaan Syad sebelum tidur, yaitu minum susu menggunakan dot sembari berbaring. Biasanya saat susu habis, bocah kecil itu akan langsung tertidur sendiri.
Syad mengangguk, digenggamnya botol susu dengan ukuran paling besar itu, memasukkan dotnya pada mulut, lalu menghisapnya dengan kuat.
Ririn turut berbaring di samping bocah kecil yang tengah ngedot itu. Berbaring miring menghadap Syad sembari mengusap-usap tubuhnya. Deka ikut-ikutan berbaring miring di belakang Ririn, sembari mengusap-usapnya. Mengusap ... apa saja yang bisa diusap.
Susu sebotol penuh itu hampir habis. Mata Syad telah terpejam, namun mulutnya masih menghisap dot.
Deka menyembulkan kepalanya dari balik tubuh Ririn untuk mengintip keadaan Syad.
“Syad udah tidur,” ujarnya girang.
“Ssssst. Jangan berisik, takut bangun lagi. Belum lelap itu tidurnya,” sahut Ririn dengan berbisik.
“Iya, iya,” balas Deka dengan berbisik pula.
Beberapa menit kemudian, dot telah terlepas dari mulut mungil Syad. Botol susu itu pun telah kosong dan tergolek di samping kepala Syad. Mata Syad telah terpejam, namun mulutnya masih bergerak seolah sedang ngedot.
"Sayang, Syad udah tidur ya?" bisik Deka.
"Belum lelap. Itu mulutnya masih gerak-gerak. Tunggu sebentar lagi," sahut Ririn dengan berbisik pula.
__ADS_1
Tenang, Deka. Bersabar sebentar lagi. Batinnya menguatkan diri sendiri.
Setelah puas memandangi punggung Ririn yang tertutup daster. Deka kembali menyembulkan kepalanya mengintip keadaan Syad. Ia tersenyum senang saat melihat Syad telah terlelap dalam tidur.
“Sayang, Syad udah tidur tuh. Mari kita ngejos,” bisik Deka di telinga Ririn.
Hening.
“Sayang, Syad udah tidur,” bisik Deka lagi.
Lagi-lagi hening.
Deka yang berbaring di belakang Ririn, beringsut bangun lalu melongokkan kepalanya mendekati wajah Ririn. Ternyata, istri cantiknya itu telah tertidur.
“Ya Allah, Rin. Aku nunggu-nunggu, malah kamu tidur,” gumamnya.
Mau membangunkan, kasihan Ririn. Tidak membangunkan, kasihan “adik kecilnya”. Ia menggaruk kepalanya bingung. Bangunkan Ririn atau tidak ya.
“Bangunin, enggak, bangunin, enggak, bangunin, enggak.” Deka menimbang keputusan dengan menghitung jumlah kancing baju piyamanya. “Yaaah, kok enggak sih,” keluhnya karena hasil akhir adalah “enggak”.
Ia mengulang sekali lagi peruntungannya. “Enggak, bangunin, enggak, bangunin, enggak, bangunin. Nah, bangunin ‘kan.”
Deka mengguncang-guncang tubuh Ririn. “Sayang, bangun dong!”
“Hemm.” Tubuh Ririn bergerak, dari berbaring miring berganti menjadi telentang, namun matanya tetap terpejam, tetap tertidur.
Deka tidak menyerah, ia terus berusaha membangunkan Ririn dengan cara mengelus, menoel, menyenggol, mengecup, mencium, mendekap, namun Ririn belum terbangun juga. Kemudian ia berbisik di telinga Ririn. “Sayang, ada Doraemon lagi nyanyi ‘buka dikit jos’, loh.”
“Mana, mana, mana?!” Ucapan Deka membuat Ririn terkinjat bangun.
“Nih,” Deka menunjuk sendiri.
“Kok tidur sih?”
“Memangnya mau ngapain?”
“Kan mau merayakan kemenangan cinta kita." Deka mengerlingkan mata genit.
“Maksudnya?”
“Mengisi malam-malam indah yang selama ini terlewat sia-sia. Buka dikit jos, boleh?”
“Ish, Abang. Buka banyak jos juga boleh,” kata Ririn tersipu.
“Yes.”
“Tapi, jangan sekarang ... ada Syad.”
“Udah tidur.”
“Takut bangun.”
Deka berpikir sejenak. “Di kamar sebelah, gimana?” lontarnya setelah mendapat ide brilian.
“Ga tega ninggalin Syad. Kalau Syad jatuh dari tempat tidur, gimana?”
“Tenang. Tunggu ya, tapi jangan tidur lagi!” pesan Deka.
Ia turun dari ranjang lalu keluar kamar. Turun ke lantai satu, ia menghampiri kamar Sanah dan mengetuk pintunya.
Tidak menunggu lama, Sanah membuka pintu kamarnya. ART berusia belia itu belum tidur, ia tengah membuka akun sosial media facebook miliknya dengan nama “Sanah nya tuh di Sinih.”
__ADS_1
“Pak Deka, ada apakah gerangan?” lontar Sanah.
“Nah, malam ini kamu tidur di kamar saya ya,” sahut Deka.
“Astagfirullahaladzim. Pak Deka, jangan sembarangan. Saya bukan ART yang berpotensi menjadi pelakor seperti cerita novel yang iklannya seringkali saya temukan di sosial media facebook. Saya ini ART yang memiliki etika dan etos kerja, serta berdedikasi tinggi terhadap pekerjaan. Karena menurut buku yang saya baca, mengembangkan etika dan etos kerja yang baik adalah salah satu kunci menuju kesuksesan. Saya itu .... “
“Sanah!” seru Deka memotong ucapan Sanah yang entah akan sepanjang apa nantinya.
“Pak Deka!” balas Sanah.
“Ke kamar saya, SEKARANG!” seru Deka sambil berkacak pinggang.
“Jangan, Pak. Saya mohon, jangan memberikan pilihan sulit kepada saya. Pak Deka memang tampan, dan saya memang memimpikan berjodoh dengan pria tampan. Tapi bukan berarti saya mau menuruti kemauan Pak Deka. Maaf Pak, saya bukan gadis murahan!” tegas Sanah.
“Astagfirullah.” Deka menepuk jidat.
“Kamu ke kamar saya, temani Syad tidur!” seru Deka.
Ia berpikir Syad lebih dekat dengan Sanah daripada Bi Iroh. Keponakan Bi Siti itu dulu sering menginap di rumah orangtuanya, membantu pekerjaan Bi Siti. Hubungan Syad dan Sanah boleh dibilang cukup akrab. Makanya ia menyuruh Sanah untuk menemani Syad tidur di kamarnya.
“Oh, menemani dede Syad tidur. Baiklah kalau begitu,” sahut Sanah.
“Eh, tunggu. Apakah menemani dede Syadnya bersama Pak Deka? Jangan Pak, nanti keempatnya adalah setan,” lontar Sanah.
“Iya, kamu setannya!!” sungut Deka.
“Sanah, cepetan sanah ke kamar!” titah Deka.
“Tapi Pak Deka sudi kiranya menjawab dahulu pertanyaan saya. Apakah menemani Syad tidurnya bersama Pak Deka?”
Deka menarik napas lalu mengembuskan kasar. “Sanah, malam ini saya dan istri saya akan tidur di kamar tamu. Kamu tidur bersama Syad, di kamar saya. Begitu, apakah kamu paham?”
“Oh, begitu. Saya kira ... Hihihihihi.” Sanah terkikik malu.
“Makanya, jangan kebanyakan baca novel tentang suami yang tidak setia, pelakor, pebinor, selingkuh. Mending baca novel Gadis Berkerudung Merah, Suami Bayaran, dan Sang Mantan Cassanova. Apalagi yang terakhir itu, MC nya gue banget,” tutur Deka. Apa tutur Teh Yeni ya.
“Siap, Pak Deka. Saya akan baca karya otor remahan rengginang bekas lebaran tahun kemarin itu. Tidak lupa untuk memberi like, komen, hadiah dan vote,” pungkas Sanah.
Ea ea
.
.
.
.
__ADS_1