Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Bella


__ADS_3

Ciiit ...


Hampir saja mobil Deka tersenggol sedan warna merah yang melaju ugal-ugalan di sampingnya.


“Bisa bawa mobil ga sih!” geram Deka. Ia menginstrusikan pengendara sedan merah itu untuk menepi.


Mobil sedan merah itu menepi. Begitupun dengan mobil Deka, juga turut menepi.


Deka keluar dari mobil, lalu berjalan menghampiri sedan merah. Niatnya adalah untuk memberikan sedikit tausyiah tentang berkendara yang baik dan benar kepada sang sopir.


Tok ... tok ... tok


Deka mengetuk kaca bagian pengemudi sedan merah.


Tak sampai sepuluh detik, pintu pengemudi terbuka. Sepasang kaki jenjang dengan sepatu hak tinggi warna merah, turun menyentuh tanah. Seorang wanita cantik dengan rambut bergelombang warna mahogany dan bibir bergincu merah cabe, keluar dari mobil dan berdiri menatap Deka di balik kacamata hitamnya.


Wanita cantik itu melepas kacamata hitam yang bertengger di atas hidung mancungnya. “Abang!” seru wanita itu ceria.


Deka tampak terkejut menatap wanita yang berdiri di hadapannya. “Bella?!”


Cup ... cup


Wanita cantik bernama Bella itu mengecup pipi kanan dan kiri Deka.


“How are you, Abang?” lontarnya setelah bercipika-cipiki. Abang adalah panggilan untuk Deka saat kecil dulu.


“Ba-baik. Kabar aku baik,” sahut Deka gelagapan karena kecupan Bella di pipinya. Dulu ia terbiasa dengan hal itu. Namun kini ia merasa risih jika bercipika-cipiki dengan wanita. Apalagi wanita itu bukan mahramnya.


“Lama banget ya, kita ga ketemu. I’m so happy to meet you,” ujar Bella semringah.


“Iya. Kabar kamu gimana, Bel?”


“Ya ... aku begini.” Bela mengedikkan sebelah bahunya. “This Is me.”


“Ah, lupa. You’re an artist, right?” sahut Deka.


“Itu dulu. Not anymore now.”


Deka mengangkat sedikit tangannya untuk melihat penunjuk waktu pada arloji.


“Bel, I’m sorry. Aku buru-buru nih. Bentar lagi ada meeting. I have to go a meeting now.”


“Please deh, Bang. Kita baru ketemu loh. Jangan buru-buru gitu, ah!”


“Please, Bel. Sumpah, aku buru-buru banget. Nanti klien aku bisa kabur.”


“Okay. I need your phone number. Berapa nomornya?” todong Bella.


Deka mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya lalu menyerahkannya kepada Bella.


“Thanks. I will call you later. Kita harus ngobrol-ngobrol. Aku kangen, Abang. Really miss you.”


Deka mengacungkan jempol tangannya. “Sip.” Setelahnya ia berlalu menuju mobil. “Oya, Bel. Lain kali kalau berkendara tuh yang bener!” serunya sebelum masuk ke dalam mobil.


Bella balas mengacungkan jempol tangannya seraya melemparkan senyum. “Sip.”


Keduanya masuk ke dalam mobil masing-masing dan melajukannya ke tujuan masing-masing.


Bella Carolline adalah teman masa kecil Deka. Wanita berdarah campuran Inggris-Indonesia itu dulu bertetangga dengan Deka dan bersekolah di SD yang sama.


Hubungan mereka dulu sangat dekat. Mereka bersahabat erat. Deka kecil bahkan sering menginap di rumah Bella. Namun, saat menginjak jenjang SMP, Bella dan keluarganya pindah rumah dikarenakan rumah orangtua Bella disita oleh bank akibat bisnis ayahnya yang mengalami kebangkrutan.

__ADS_1


Setelah kepindahan Bella, Deka hampir tak pernah berjumpa kembali dengannya. Akan tetapi ia mengetahui kabar Bella dari majalah dan televisi. Bella adalah seorang model dan aktris, meski tidak tenar. Tepatnya SEKUTER, selebriti kurang terkenal.


Bella pernah membintangi iklan obat panu, itu pun yang tampak hanya punggungnya yang berpanu, bukan wajah seksinya. Ia juga pernah membintangi iklan sepatu  merek “Ananda” yang gambar daun pepaya tiga dengan slogan Just give it (Berikan saja). (Hah, gratis dong🤭)


Yang paling membuatnya agak bersinar adalah saat ia membintangi sinetron azab di stasiun ikan terbang berjudul “Azab Mata Belekan Karena Baca Novel Gratis tapi Tidak Pernah Kasih Like”


Uhuk ... uhuk ...


Pembacanya tersedak.


 


\=\=\=\=\=\=


Di Kantor


Deka tengah fokus menuliskan sesuatu di buku agendanya saat pintu ruangannya diketuk.


“Masuk!” seru Deka.


Ia masih menuliskan sesuatu sebagai pelarian kegabutannya.


“Hai, Brobos!” Fery melenggang masuk ke ruangan Deka. Lalu mengambil posisi duduk di hadapan Deka.


Deka segera menghentikan kegiatan menulis dan menutup buku agendanya. Jangan sampai Fery mengetahui apa yang sedang ditulisnya. Sesungguhnya sedari tadi ia menulis kata Deka Ririn Deka Ririn sampai sebanyak 500 kata. Separo dari jumlah kata menulis satu bab novel online.


“Lagi nulis apa sih, Brobos? Serius amat!” tanya Fery kepo.


“Emm, ini. Lagi nulis ... emm ... agenda buat besok. Ya, gue lagi nulis agenda meeting besok,” kilah Deka.


“Besok ‘kan ga ada meeting, Bro!”


“Oh, besok ga ada meeting ya.” Deka mengusap hidungnya. “Lo ngapain ke sini? Memangnya ga ada kerjaan?” Ia mengalihkan pembicaraan.


Terus lo sendiri gimana, apa yang lo pikirkan menjelang acara pernikahan lo?” lontar Fery.


Deka memundurkan kursinya. Duduk bersandar dengan melipat satu tangan di perut, sementara tangan yang lainnya menyentuh dagu layaknya orang yang tengah berpikir serius. “Kadang gue tuh suka mikir, kenapa Tuhan menciptakan gue seganteng ini,” ucapnya dengan mimik serius.


“Tai kotok!” umpat Fery.


“What’s the meaning of tai kotok?” lontar Deka dengan posisi tangan masih menyentuh dagu.


“Tai kotok adalah satu satunya tai paling misterius asal Indonesia. Sebab setelah diteliti, hingga detik ini tak ditemukan binatang yang namanya Kotok. Tapi kenapa ada namanya tai kotok. Sungguh aneh bin absurd,” kelakar Fery.


“Hahahahaha. Kasih tawa dikit,” sahut Deka.


“Asem!”


Daripada ngobrol dengan Fery, kenapa tidak ngobrol sama Ririn saja. Kenapa ia tidak menelepon Ririn. Begitu pikir Deka.


“Fer, tolong liatin hape gue yang lagi di cas!" titah Deka. "Udah penuh belum?" tanyanya kemudian.


Fery bangun dari duduk lalu beranjak menuju meja dekat sofa tempat biasa Deka men-charge ponselnya.


“Belum penuh, Bos! Dikit lagi penuh," sahut Fery sembari menatap layar ponsel Deka.


“Berapa persen memangnya?”


“97 persen.”


“Cabut aja! Gue mah pria soleh. Ngecas hape cukup sampai 97,5 % aja, ga mau 100%. Karena yg 2,5 % milik kaum yang membutuhkan,” kelakar Deka.

__ADS_1


“Ciye. Bisa aja Radeka Bastian tampilan baru nih. Kayak android yang semakin komplit dan canggih speknya. Ea ea,” seloroh Fery.


“Kata ustaz, jadilah pria baik kalau mau mendapatkan jodoh yang baik.”


“Beuh, bener luar biasa lo, Bro. Benar-benar transformasi besar-besaran. Gue ga nyangka seorang cassanova kek lo bisa sealim ini," puji Fery seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Ish, apa sih! Enggak lah, dosa gue masih numpuk," bantah Deka.


“Gue mah nonton film azab tiap hari bukannya jadi soleh malah jadi hafal lagu Opick. Terangkanlah eta terangkanlah ....”


“Hahahahaha.” Deka tertawa lepas.


Fery melirik pada ponsel Deka yang memajang foto Ririn sebagai wallpaper-nya.


“Bentar lagi mau nikah, masih aja majang foto cewek orang. Katanya udah insyaf,” cibir Fery. Sebab ia memang belum pernah melihat sosok Ririn baik secara visual langsung atau pun dalam sebuah foto.


Untuk kali ini Deka memang pelit, tidak seperti kebiasaannya dulu yang suka memamerkan wanita-wanita cantik yang dekat dengannya.


“Enak aja! Siapa juga yang majang foto cewek orang,” sangkal Deka.


“Lah ini, foto siapa?” Fery menunjuk foto wallpaper dalam ponsel Deka.


“Sini sini hape gue!” salak Deka. Fery patuh menyerahkan ponsel Deka.


“Cantik banget. Kenalin ke gue lah yang masih zomblo ini."


“Enak aja ini calon bidadari surga gue.”


“Hah? Maksud lo, itu foto Ririn?”


“Yes.”


“Ya ampun liat foto Ririn, kok gue nyesel jadi jomblo ya.” Fery meremas rambutnya sendiri. “Sumpah loh, awalnya gue tuh cuma iseng jomblo eh ga taunya keterusan," selorohnya.


“Makanya jangan lama-lama jadi jomblo!”


“Iya sih. Gue udah kelamaan jomblo. Saking lamanya sekarang meluk guling aja grogi.”


"Wahahahahaha. Kasian banget lo, Mblo," ledek Deka.


.


.


.


.


Maaf ya enggak bermaksud menyinggung kamu yang ga suka kasih Like. Tapi memang seharusnya sehabis baca itu Like. Ini bukan tentang novelku aja, novel penulis lain juga.


Oke lah ga pernah kasih hadiah atau vote karena aku, atau othor ini, othor itu bukan penulis favoritmu. Tapi setidaknya kasih like, toh ga bayar dan ga susah juga, tinggal sentuh gambar jempol.


Terima kasih untuk yang selalu like, sesekali komen, sesekali kasih hadiah, sesekali kasih vote. Apalagi kalau sering. 😁😁


Terima kasih dukungannya


❤️❤️❤️❤️


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2