Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Tiang Listrik


__ADS_3

Bruuuuk ...


Ririn jatuh di pelukan Deka. Ia yang mengira akan kejedot pintu, tapi malah kejedot dada bidang Deka seketika tergugu, terdiam, terpaku dan membisu.


Dewa yang baru saja selesai mandi, menghentikan langkahnya ketika melewati pintu kamar Deka. Begitu pun dengan Opi yang baru mengambil pembalut dan hendak ke kamar mandi.


"Bang Deka, lagi ngapain?"


"Teh Ririn, lagi ngapain?" tanya Dewa dan Opi berbarengan.


Pertanyaan Dewa dan Opi sontak membuat Deka dan Ririn tersadar dan segera melepaskan pelukan. Keduanya sama-sama bergerak kikuk. Hingga Ririn memilih untuk berlalu, beranjak dari tempatnya berdiri. Disusul Opi di belakangnya.


"Bang, mandi dulu gih! Habis itu solat," titah Dewa.


"Hah, apa? Solat?" Deka tercengang mendengar ucapan Dewa. Pasalnya, hingga di usia saat ini, Deka belum pernah melaksanakan salat.


"Kalau mau jadi menantu Haji Zaenudin harus bisa solat dan ngaji, Bang." Dewa menepuk bahu Deka, lalu berlalu meninggalkannya.


Deka bergeming di tempatnya.


Omeigot. Semalam boxer doraemon, sekarang salat. Sepertinya menginap di rumah ini adalah keputusan yang salah. Karena membuatnya berhadapan dengan masalah. Begitu keluh kesah hatinya.


 


Eh tunggu, tadi Dewa bilang apa? Kalau mau jadi menantu Haji Zaenudin. Semoga Dewa tak pernah tahu soal lamarannya pada Mimin dan Ririn yang ditolak secara telak. Memalukan.


*****


Deka menyapu ke segala penjuru masjid dengan sorot matanya. Seingatnya, ini adalah kali pertama masuk ke dalam masjid. Atau mungkin waktu kecil sudah pernah masuk masjid, tapi ia lupa. Entahlah ia benar-benar tak ingat.


Bulu halus tubuhnya seketika meremang, saat mengingat segala dosa. Merasa dosa-dosanya terlalu banyak, sebanyak butiran debu dalam hamparan bumi yang ia tinggali. Dari ujung kaki hingga puncak kepala, semua bagian tubuhnya pernah tersentuh perbuatan dosa.


“Gue ‘kan ga bisa solat, Wa,” bisik Deka setelah duduk bersila di sebelah Dewa. Sementara Haji Zaenudin duduk di sebelah Dewa pada sisi lainnya.


“Yang penting ikutin gerakannya aja,” balas Dewa dengan berbisik juga. “Makanya nanti Abang belajar solat, ya,” lanjutnya.


Deka melirik Dewa yang berdiri hendak melakukan salat sunnah. Dilihatnya para jamaah lain ada yang melakukan salat seperti Dewa dan ada juga yang tidak melakukan.


Dengan ragu, Deka turut berdiri dan mengikuti Dewa melakukan salat yang ia sendiri tidak tahu itu salat apa. Saat sujud ia memiringkan kepala untuk melirik Dewa, sebab khawatir ketinggalan gerakan salat selanjutnya.


Bacaan iqamah telah didengungkan. Haji Zaenudin yang subuh ini mendapat jadwal sebagai imam, melangkahkan kaki menuju baris terdepan menempati posisi imam. Tanpa sadar Deka malah mengikutinya. Beruntung Dewa sigap mencekal lengannya, dan menariknya kembali ke posisi semula.


“Abang di sini aja, kecuali kalau Abang mau jadi imam,” gumam Dewa, berbisik di telinga Deka.


“Imam itu artinya suami ‘kan. Mau mau,” jawab Deka mantap. Membuat Dewa menepuk jidat padahal tak ada nyamuk nakal yang hinggap di sana.


“Salat Subuh itu dua rakaat, Bang,” ujar Dewa sebelum memulai salat.


Deka mengangguk. Meskipun ia tak paham maksudnya.


Salat fardu Subuh dimulai. Deka berdiri mengikuti jamaah lainnya. Ia salat hanya mengikuti gerakan-gerakan saja. Sebab tak ada satu pun bacaan salat yang ia ketahui. Namun, entah mengapa saat dalam posisi sujud, hatinya terasa bergetar. Hingga titik-titik peluh menitik di keningnya. Sujud membuatnya seakan dekat dengan Tuhan.


Selesai salat, Deka dan Dewa pulang bersama, berjalan beriringan sampai ke rumah. Sementara Abah (Haji Zaenudin) masih bertahan di masjid karena ada keperluan dengan marbot masjid.


Sepanjang perjalanan pulang, Dewa memberikan kuliah singkat tentang salat. Deka menyimak dengan saksama. Tak dipungkiri, setelah melaksanakan salat, ada perasaan sejuk dan nyaman merambat di relung hati. Sejuk seperti ubin masjid. Nyaman seperti ... pelukan Ririn subuh tadi. Prikitiw.

__ADS_1


Perasaan nyaman itu seketika sirna saat melihat Ririn yang tengah menyapu halaman rumah. Padahal jaraknya masih jauh untuk sampai di hadapan Ririn. Namun, sungguh sudah membuat hatinya ketar ketir bagai kincir.


Bayangan kejadian semalam, aib tentang boxer doraemon berkelebat dalam ingatannya. Ia memilih berjalan dengan menundukkan kepala dalam-dalam. Sesekali berjalan sambil memejamkan mata. Tak mau bertemu pandang dengan Ririn karena teramat malu.


Jedug ....


“Adaww.” Deka mengelus jidat yang kepentok tiang listrik.


“Hati-hati, Bang. Lagian Bang Deka jalannya sambil merem sih.” Dewa menghampiri Deka dan tiang listriknya.


“Alhamdulillah. Tiang listriknya gak apa-apa, ga benjol,” kelakar Dewa sembari mengelus tiang listrik.


Dasar adik kurang asyem. Malah mengkhawatirkan tiang listrik. Padahal gue yang benjol.


Karena kesal, Deka menendang tiang listrik itu. Naas, aksinya malah membuatnya kesakitan dua kali. Mata kakinya kini yang terantuk tiang listrik. “Adaww.”


Hayo. Jadi adaww dua kali ‘kan.


“Sabar, Bang. Jadilah seperti tiang listrik. Tetap diam meski ditubruk Abang. Dan tetap tegak berdiri meski ditubruk fortuner sekalipun,” seloroh Dewa.


Mereka kembali melanjutkan langkah menuju rumah. Begitu sampai halaman rumah Abah, dilihatnya Ririn masih ada di sana menyapu halaman. Menghindari temu pandang dengan Ririn, Deka menolehkan kepalanya, hadap kanan memandang Dewa. Rasa malu yang memuncak membuat wajah Dewa terasa lebih enak dipandang daripada wajah Ririn.


Sementara Dewa senyum-senyum saja melihat Abangnya itu menatapnya. “Gue keren banget, ya, Bang. Ampe segitunya liat gue,” selorohnya.


Deka baru akan membuka mulut hendak menjawab selorohan Dewa ketika terdengar suara lembut wanita menyapanya. “Bang Deka.”


Sontak Deka menoleh. Wanita yang menyapanya adalah Ririn.


“Ehem. Iya,” sahut Deka. Berdehem akan terdengar cool ‘kan. Begitu pikirnya.


Hayo. Ririn tadi melihat juga momen keakrabannya dengan tiang listrik. Jadi malu dua kali ‘kan.


“Gak papa, kuat saya tuh,” sahut Deka jumawa. Padahal rasa malunya meronta-ronta.


“Bang Deka mah kuat, Rin. Kalau misalnya makan ikan, dagingnya dipinggirin, durinya ditelan,”  timpal Dewa.


Ririn terkekeh-kekeh mendengar gurauan Dewa.


“Terus kalau Bang Deka minum obat. Bang Deka nya sembuh, obatnya yang sakit,” canda Dewa.


Ririn semakin terkekeh, bahkan wajah putihnya memerah karena tawa.


"Bahkan, Bang Deka kalau ketemu kuntilanak, ga takut. Malah kuntilanak yang lagi nangis itu disuruh diem sama Bang Deka. Habis itu air matanya dihapus sama Bang Deka. Hihihihi."


Tawa Ririn semakin kencang hingga deretan gigi putihnya tampak. Sembari tertawa, sorot mata Ririn lekat menatap Deka yang memakai baju koko dan sarung pinjaman dari Dewa. Di matanya, Bang Deka terlihat lebih tampan subuh ini.


Laki-laki akan terlihat sepuluh kali lebih tampan jika mengenakan sarung dan baju koko itu benar adanya. Ini fakta.


Deka tersenyum seraya memandang wajah cantik Ririn yang tengah tergelak dalam tawa.


Lihat kamu ketawa gitu. Sumpah cantik banget. Gumam Deka dalam hati.


Deka sedang terpesona dengan kecantikan Ririn. Pesona Ririn seolah melenyapkan beban rasa malu yang mengimpit kalbu. Menghempaskan kekalutan tentang boxer doraemon.


Namun sesaat kemudian beban malu itu kembali menyeruak di memorinya karena lagu yang dinyanyikan Opi.

__ADS_1


Aku ingin begini


Aku ingin begitu


Ingin ini itu banyak sekali


Semua semua semua


Dapat dikabulkan


Dapat dikabulkan


Dengan kantong ajaib


Aku ingin terbang bebas


Di angkasa


Hei... baling baling bambu


La... la... la....


Aku sayang sekali...


Doraemon


La... la... la....


Aku sayang sekali...


Doraemon


 


.


.


.


.


Cerita Bang Deka ini komedinya ga sekental GBM, sebab karakter Bang Deka 'kan tidak sekonyol Dewa. Tapi, yakin deh ceritanya akan terasa manis-manisnya.


Terima kasih dukungannya.


❤️❤️❤️❤️


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2