Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Memecat


__ADS_3

"JELASKAN!!!” Seruan Deka tegas dan membahana.


Bella meringis ketakutan dengan wajah tertunduk.


“Surat ini palsu. IYA ‘KAN!” bentak Deka. Karena Bella tak kunjung bersuara untuk memberikan penjelasan tentang surat itu.


“Calm down, Abang,” sahut Bella. Takut-takut ia menatap Deka.


“Aku marah, Bell! Very very angry, you know!” geram Deka.


“Come on, jangan marah begitu. I’m just kidding," kelit Bella.


“Bercanda kamu bilang?!” Wajah Deka tampak semakin bengis karena amarah.


“Waktu itu aku tuh niatnya hanya mengerjai kamu. Aku cuma mau nge-prank. Tapi, kamu malah menanggapinya serius. Padahal kalau saat itu, kamu memutuskan untuk pergi ke dokter. I will say, ini hanya bercanda, aku sedang ngeprank. Kamu malah percaya aja sama hasil lab itu, not trying to find the truth,” tutur Bella panjang lebar.


“Kamu bilang ini cuma ngeprank. GILA!"


Braaaak ...


Deka menggebrak meja. Membuat Bella terkaget sampai jantungnya hampir copot. Sementara Fery tetap dalam posisinya yang cool, melipat tangan di dada. Fery kebal dengan gebrakan meja kali ini, sebab di ruang meeting tadi sudah ada adegan gebrak menggebrak meja.


"Bagaimana kalau gara-gara hasil lab palsu itu aku jadi ga semangat hidup terus memilih untuk bunuh diri, Hah!”


“I know, kamu tidak akan seperti itu. Kamu bukan pria lemah.”


“Bagaimana kalau gara-gara hasil lab itu, aku membatalkan rencana pernikahanku dengan Ririn?”


“Ayolah Deka! Masih banyak wanita yang lebih baik dari janda kampung itu. Ririn itu ga pantas buat kamu!” hina Bella lancang.


Kalimat Bella terakhir membuat amarah Deka semakin berkobar menyala dan membuatnya naik pitam.


“JANGAN HINA ISTRIKU!” Deka berdiri, mengulurkan kedua tangannya meraih leher Bella, lalu mencekiknya.


“A-bang, le-pas-kan,” mohon Bella. Tenggorokannya benar-benar tercekat karena cekikan Deka di lehernya.


“Deka! Kendalikan diri lo!” Fery berusaha melepaskan tangan Deka dari leher Bella.


“Wanita ini jahat sekali, Fer! Dia sudah mempermainkan pernikahanku!” murka Deka.


“Lepasin tangan lo! Si Bella bisa mati, lo bisa masuk penjara, dan Ririn akan sedih nantinya,” sahut Fery.


Deka melepaskan tangannya dari leher Bella. “Astagfirullahaladzim,” ucapnya lirih.


“Uhuk, uhuk, uhuk.” Bella terbatuk-batuk setelah lehernya terbebas dari cekikan Deka.


“Air. please get me a drink, " mohon Bella dengan wajah memerah karena kesakitan.


Fery beranjak menuju lemari pendingin yang ada di sudut ruangan Deka. Lalu, mengambilkan sebotol air mineral kepada Bella.


“Thanks,” ucap Bella.


Tangan Bella yang bergetar-getar berusaha membuka seal penutup botol minuman. Namun, pekerjaan yang biasanya mudah itu menjadi sulit karena suasana mencekam barusan. Dan juga tatapan tajam Deka.


“Sini!” Fery meraih botol minuman dari tangan Bella, membuka seal penutupnya, lalu menyerahkan kembali kepada Bella.


“Thanks,” ucap Bella lagi. Lalu, meneguk air mineral dalam botol ukuran 600 ml itu hingga hampir tandas, menyisakan beberapa mili saja.


Fery tersenyum melihat tingkah Bella. “Haus atau kesurupan sih,” oloknya dalam hati.


Sementara Deka terdiam sembari menatap tajam Bella. Ia sedang berpikir apa yang akan dilakukan untuk menghukum sahabat kecilnya itu.


Terbesit keinginan untuk menyeret Bella dalam jalur hukum. Namun, mengingat persahabatan mereka saat kecil dulu, Deka mengurungkan niatnya.


“Kemasi barang-barang kamu! Pergi dari sini! Aku tidak mau melihat kamu ada di sini lagi!” tegas Deka.


Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Fery. “Fer, pastikan perempuan ini menerima gaji bulan ini serta pesangonnya! Pastikan dia tidak akan pernah kembali ke sini!” Deka bangun dari duduknya, lalu beranjak meninggalkan ruangannya.

__ADS_1


“Tunggu, Abang! Apa maksudnya aku dipecat?!” Bella ingin mengejar Deka, namun Fery mencekal lengannya.


“Saran saya, kamu segera pergi dari sini! Jangan sampai bos kita itu berubah pikiran, lalu mencekikmu lagi tanpa ampun, atau bahkan membunuhmu!” seru Fery.


“Sial. Ini gara-gara janda kampung itu!” umpat Bella.


“Mulut kamu lancang, Bell. Hatimu busuk. Kamu keterlaluan. Pergi sekarang atau satpam yang akan menyeretmu keluar dari kantor ini!” ancam Fery.


Akan sangat memalukan jika sampai diseret satpam keluar. Akhirnya Bella pun menyerah kalah. Menerima hukumannya dengan lapang dada.


\=\=\=\=\=\=\=


 


Sore hari di kediaman sang mertua, Ririn tengah mengajak Syad bermain di kolam belakang rumah.


“Ini kura-kura punya siapa, Syad?” tanya Ririn.


“Puna Yayah (Punya ayah). Yang ni tuya-tuya yayah (kura-kura ayah) . Yang ni tuya-tuya mama. Yang ni tuya-tuya anak,” papar Syad dengan logat khas anak-anak. Bocah kecil itu sedang bermain dengan tiga kura-kura.


“Tuya-tuya daddy sama tuya-tuya mommy mana?” lontar Ririn mengikuti gaya bicara Syad.


“Enda ada. Daddy nda suka tuya-tuya,” sahut Syad.


“Daddy sukanya apa dong?”


“Daddy sukana (sukanya). Eng ....” Syad memanyunkan bibir mungilnya pertanda sedang berpikir.


“Daddy sukanya mommy,” sambar Deka yang baru datang dan langsung memeluk Ririn dari belakang.


Perlakuan Deka sontak membuat Ririn terjingkat kaget. “Ish, Abang!” desisnya.


“Daddy peyuk Mommy. Hihihihihi.” Bocah kecil yang sebelumnya tengah manyun kini tertawa cekikikan.


“Abang lepas, ih! Malu,” desak Ririn.


“Abang jam segini kok udah pulang?" tanya Ririn. Sebab biasanya Deka pulang saat langit telah berwarna jingga. Sedangkan sekarang, baru saja ia selesai salat Asar, bahkan Syad saja belum dimandikan, Deka sudah pulang.


“Udah dong, kangen sama kamu soalnya. Ga sabar untuk ...." Deka mengecup leher Ririn dari belakang. “Pulang, yuk!” ajaknya.


“Ehem.” Dewa berdehem.


Tanpa disadari, ayah dari Syad itu sudah berdiri di belakang Deka yang sedang memeluk Ririn.


Deheman Dewa sontak membuat Ririn melepaskan diri dari pelukan Deka. Lalu, berjalan menghampiri Syad, mencari aman.


“Dilarang bermesraan di depan anak kecil,” seloroh Dewa. Tangannya menggenggam beberapa lembar sawi, hendak memberikan makan pada kura-kura peliharaannya.


“Ga papa kali, bermesraan sama yang halal,” kelit Deka.


“Yayah, Yayah ... Daddy peyuk Mommy,” lapor Syad.


Dewa melangkah mendekati Syad yang tengah menggendong kura-kura. “Iya, kita selentik aja yuk si Daddy,” sahut Dewa sembari memberi makan kura-kura.


“Yayah, seyentik itu apa?” tanya Syad dengan polosnya.


“Seyentik itu kalau Syad sakit, diseyentik sama dokter,” sahut Deka.


“Itu syuntik, Daddy!” Protes Syad.


“Syuntik itu bunda. Bunda sama dede bayi kembar itu syuntik- syuntik,” timbrung Dewa.


“Itu syantik, Yayah!” Kali ini Dewa yang kena protes Syad.


“Syad, daddy sama mommy Ririn yang syantik mau pulang ya,” ujar Deka.


“Yuk Sayang, kita pulang!” ajak Deka pada Ririn.

__ADS_1


“Itut, itut. (Ikut, ikut)” Syad berlari ke arah Deka, lalu melompat-lompat minta digendong oleh om tampannya. “Daddy, Cad itut,” rengeknya lagi.


Deka mengangkat tubuh mungil Syad, lalu menggendongnya.


“Untuk kali ini Syad jangan ikut ya. Syad di sini aja. Di sini ada Ayah, ada Bunda, ada adik kembar cantik, ada Oma, ada Opa. Di sini rame,loh,” rayu Deka agar Syad jangan ikut pulang bersamanya.


Bisa kacau dunia persilatan, ralat ... bisa kacau dunia perkasuran kalau bocah kecil itu ikut.


“Cad, mau ninep di yumah Daddy. Yumah Daddy bagus dan gede, teyus kamalnya gambal Dolaemon."


"Hah, beneran Syad, kamar Daddy gambar Doraemon?" timpal Dewa.


"Iya," sahut Syad.


"Doraemon itu kartun kesukaan Ririn, bukan kesukaan gue." Deka berkelit menanggapi sorot mata Dewa yang penuh pertanyaan dan kebingungan.


“Lain kali aja nginep di rumah daddy, malam ini Syad nginep di rumah Oma aja ya." Deka kembali membujuk Syad.


“Udah sih, Bang, bawa aja Syad ke sana! Orang Syad pengen menginap di rumah Abang,” sela Dewa.


“Iya, Bang, biarin Syad nginep di rumah kita,” timpal Ririn.


“Sayang, kita ‘kan mau .... “ Deka mengedipkan mata genit, memberi kode pada Ririn.


“Mau apa sih, Bang? Pake kode-kode segala,” sambar Dewa.


“Pake nanya, kayak ga tahu aja!” sewot Deka.


“Ya elah, udah dua bulan kaleee. Udah bukan pengantin baru juga,” cibir Dewa.


“Dua bulan juga kami tuh .... “


“Abang, ih!” Ririn langsung memotong kalimat Deka. Jangan sampai suaminya itu keceplosan mengatakan yang sesungguhnya.


“Syad di sini aja ya, nanti lusa boleh nginep di rumah daddy.” Deka mencium pipi gembul Syad yang tengah digendongnya.


“Huaaa ... Daddy nackal!” Syad memukul pelan wajah Deka.


“Tuh kan, Abang sih! Jadi nangis ‘kan,” timpal Dewa.


“Sini, Syad sama mommy.” Ririn meraih Syad dari gendongan Deka.


“Huaaa ....” Syad terus menangis dalam gendongan Ririn.


“Ada apa ini?” tanya Papa yang baru tiba dari kantor.


“Sini, sini, cucu opa ganteng.” Syad berpindah ke gendongan kakeknya. Sementara Ririn memilih masuk ke rumah, meninggalkan keributan yang terjadi.


“Cup, cup, cup. Siapa yang nakal, anak ganteng?”


“Daddy nackal,” raung Syad.


“Iya tuh, Pah. Bang Deka nackal,” adu Dewa.


“Daddy nakal kenapa, anak ganteng?” tanya Papa.


“Mau ninep di yumah Daddy da boyeh,” adu Syad.


“Kamu itu Deka. Syad, mau nginep aja dilarang. Bawa Syad nginep di rumah kamu!”


“Tapi, Pah.”


“Kasian Jasmin baru punya bayi, kembar lagi. Kalau perlu selama sebulan Syad nginep di sana,” kata Papa.


“Apa? Sebulan?” Wajah Deka mendadak pucat mengingat bulan madunya yang terlewat akan diganggu oleh Syad.


 

__ADS_1


 


__ADS_2