
“Iya. Suami Tante ganteng, mirip ....” Tiara menggantung kalimatnya.
“Mirip siapa?”
Mirip papa aku. Gumam Tiara dalam hati.
“Mirip siapa?” Ririn mengulang tanya sebab gadis kecil berponi itu urung menjawab pertanyaannya. Masih betah memandangi foto pernikahannya. Bukan, sorot matanya fokus pada gambar Deka dengan jas pengantinnya.
“Mirip ... Ji Chang wook,” sahut Tiara.
“Si cangcut itu siapa?” lontar Ririn dengan kening mengerut.
“Bukan si cangcut, tapi Ji Chang wook, aktor Korea. Tante ga suka nonton drakor ya?” tebak Tiara.
“Enggak,”sahut Ririn tersipu. Ia merasa ndeso karena tidak mengenali aktor yang dimaksud.
“Tapi kalaupun tante nonton, kayaknya ga akan bisa mengenali aktor atau aktrisnya, habis wajah mereka mirip semua. Yang laki-laki aja mukanya cantik kayak perempuan. Hihihihihi." Ia terkikik geli.
Ririn tidak hobi menonton drama Korea. Hanya sekedar pernah saja, wajar kalau ia tidak tahu aktor dan aktris Korea. Bukan karena tidak menyukai drama dari negeri gingseng itu, tetapi memang ia tidak mengetahui akses untuk menonton drama Korea. Apakah drama yang tengah digandrungi para kaum hawa itu ada di stasiun televisi Indonesia atau bagaimana, ia tidak paham.
Ririn mengambil posisi duduk di sofa mewah ruang tamunya. Dengan isyarat tubuh ia mempersilakan duduk kepada Tiara. Gadis itu bergerak patuh, mengambil posisi duduk di seberang Ririn.
“Jujur tante lebih seneng kalau suami tante itu dibilang mirip Iko Uwais ... bukan si cangcut.” Ririn berkata jujur. “Hihihihihi.” Setelahnya ia terkikik demi menyadari dirinya menyebutkan nama ‘si cangcut’.
“Ji Chang Wook!” protes Tiara.
“Pelan-pelan coba, biar tante bisa menyebutkan namanya dengan benar,” kata Ririn.
“Ji” Tiara mulai mengeja nama aktor tampan tersebut dan Ririn mengikuti yang dilafalkan Tiara.
“Ji”
“Chang.”
“Chang.”
“Wook.”
“Wook.”
“Ji Chang Wook. Benar begitu?” lontar Ririn.
“Ya, benar begitu, Tan,” sahut Tiara.
“Kamu ngefans sama dia?” selidik Ririn.
“Emmm, kalo ngefans sih enggak, hanya suka aja lihatnya ... ganteng sih.”
“Aih aih ... udah ngerti sama cowok ganteng rupanya,” goda Ririn.
Tiara tersenyum malu-malu. “Tante sendiri ngefans sama Iko Uwais ya?”
“Emmm, mungkin.”
“Kalau seandainya Iko Uwais itu masih jomblo terus ketemu Tante, aku yakin deh Iko Uwais bakal naksir Tante. Soalnya Tante lebih cantik dari Audi.”
Ririn terkekeh sampai tampak deretan gigi putihnya. Wajahnya pun sedikit merona saat dibilang lebih cantik dari istri sang aktor idolanya. Apalagi saat Tiara mengatakan jika Iko Uwais akan naksir dengannya kalau masih jomblo. Membuat Ririn hampir terbang jadinya.
Bagaimana bisa seorang gadis kecil atau lebih tepatnya gadis belia. Belia? Ya, karena saat di mobil tadi, Ririn banyak bertanya tentang profil sang gadis tersebut. Gadis itu bercerita kalau ia duduk di bangku kelas satu sekolah menengah pertama.
Gadis belia itu membuat Ririn merona. Aneh bin ajaib, selama ini hanya sang suami yang mampu membuatnya merona. Detik itu pula, ia merasa sangat menyukai Tiara.
Boleh tidak ya, ia menyukai gadis belia itu. Bagaimana kalau Deka tidak suka dengan keputusannya untuk menyukai Tiara. Atau malah jangan-jangan suaminya itu menentang keputusannya untuk membawa menginap Tiara di rumah ini.
__ADS_1
Ah, sudahlah. Nanti saja tunggu Bang Deka pulang, baru ia akan meminta izin. Tidak mungkin kalau meminta izin lewat panggilan telepon. Begitu pikirnya.
“Udah mau magrib, kamu mandi aja dulu gimana?” tawar Ririn.
“Boleh.”
“Kamu bawa pakaian ganti? Soalnya di sini ga ada pakaian untuk seukuran kamu.”
Tiara membuka resleting tas berwarna biru yang berada di atas pangkuannya, lalu menunjukkan isinya pada Ririn. “Nih, isi tasnya, baju semua.”
“Niat banget mau kabur ya kamu."
"Memang iya, Tan."
"Ya udah kamu mandi dulu. Nanti tante suruh Bi Iroh buat siapin kamar kamu.”
Ririn bangkit dari posisinya. “Ayo, Tiara!”
Mereka melangkah menuju ke ruangan tengah. Seperti tadi, Tiara mengedarkan pandangan ke setiap penjuru rumah. Ia benar-benar kagum dengan keseluruhan rumah ini. Meski belum paham soal interior rumah dan sebagainya, ia yakin keseluruhan interior di rumah ini pasti harganya mahal. Begitu pikirnya.
“Bi Iroh, tolong siapkan kamar untuk anak ini, namanya Tiara," kata Ririn.
“Baik, Bu. Kamar tamu yang di atas atau yang di bawah?”
“Yang di bawah aja.”
“Baik, Bu.”
“Tunjukkan juga kamar mandinya, dia mau mandi.”
“Baik, Bu.”
“Tiara, kamu mandi dulu aja ya. Habis mandi nanti solat Magrib, terus makan.”
“Tante tinggal ya. Tante juga mau mandi.”
“Iya. Makasih ya, Tan.”
“Sama-sama.”
Setelahnya Ririn naik ke lantai atas di kamarnya. Sementara Tiara mengikuti Bi Iroh pergi ke kamar yang disiapkan untuknya.
\=\=\=\=\=\=
“Yang enak makannya ya.” Ririn tersenyum sembari memperhatikan Tiara makan dengan sangat lahap.
Ada sedikit rasa bersalah di lubuk hati Ririn. Mengapa sewaktu datang tadi, Tiara tidak langsung disuruh makan saja, tidak perlu menunggu untuk mandi, salat, dan mengobrol lagi. Melihat cara Tiara makan, ia yakin gadis itu lapar sekali. Terlihat seperti orang yang belum makan dari kemarin. Kasihan.
“Tante kok gak ikut makan? Cuma liatin aku makan doang,” lontar Tiara dengan mulut yang penuh makanan.
Menu rendang daging dan sambal kentang mustofa tampak begitu sangat dinikmatinya. Atau memang karena gadis kecil itu tengah kelaparan. Sehingga tingkat kelahapannya naik berkali-kali lipat.
“Tante makannya nanti aja, nunggu suami tante pulang,” sahut Ririn yang turut duduk di meja makan, berhadapan dengan Tiara, menemaninya bersantap malam.
“Oh. Memangnya om kerja di mana, Tan?” tanya Tiara tanpa menghentikan aktivitas makannya.
“Om?” Ririn mengerutkan kening. “Suami tante maksudnya?”
Tiara mengangguk.
“Kerja di kantor.”
__ADS_1
“Iya lah, Tan, kerja mah di kantor.” Tiara tersenyum. “Terus nanti om pulang jam berapa, Tan?”
“Mungkin sebentar lagi pulang.”
“Tante kayaknya belum punya anak ya?”
“Belum. Nikahnya juga belum lama kok.”
“Memang baru berapa lama nikahnya?”
“Baru lima bulanan nikahnya.”
“Oh, gitu. Pengantin baru dong." Ririn tersenyum.
"Kalau boleh tahu nama om siapa, Tan?”
“Namanya om Deka.”
“Oh, om Deka. Jangan-jangan si om, nama depannya adalah Hari?”
“Hari? Bukan, lah."
“Kirain nama depannya Hari. Terus nama lengkapnya Hari Merdeka Nusa dan Bangsa."
“Hahahahaha.” Ririn tergelak mendengar selorohan Tiara. Dan Tiara pun ikut tertawa.
“Soalnya namanya Deka, kirain namanya Merdeka.” Tiara mengulum senyum.
“Namanya bukan Merdeka, tapi Radeka. Radeka Bastian.”
“Uhuk uhuk uhuk.” Tiara terbatuk-batuk karena tersedak.
“Kamu pelan-pelan makannya. Minum dulu.” Ririn menyerahkan segelas air putih pada Tiara.
“Makasih, Tante,” ucap Tiara usai meneguk air putih hingga tandas separuhnya.
“Salah tante nih, ngajakin ngobrol kamu yang lagi makan. Maaf ya."
“Enggak papa, Tan.”
Kemudian terdengar deru mobil dari garasi samping rumahnya. Ririn hafal itu adalah suara mobil Deka. Mungkin karena sudah malam, Deka langsung memasukkan mobilnya ke garasi.
“Itu kayaknya si om pulang deh. Tante tinggal dulu ya.” Ririn bangkit dari duduknya.
“Oya, kalau ketemu sama om, Tiara salim ya sama om. Biar om suka sama Tiara,” pesan Ririn sebelum beranjak untuk menyambut kedatangan Deka. Tiara membalas dengan sebuah anggukan.
Tiara melanjutkan makan dengan pelan. Angannya sedang berkecamuk mendengar nama Radeka Bastian. Nama yang tidak asing baginya. Sebuah nama yang ingin sekali dijumpainya sejak dulu.
__ADS_1