
Deka sempat jatuh cinta pada Jasmin (Mimin). Hingga kemudian ia harus mengikhlaskan saat mengetahui gadis yang dicintainya itu adalah istri dari Dewa, adik kandungnya.
Seburuk-buruknya Deka, ia masih tergolong pria yang waras. Tak mungkin merampas istri adik kandungnya.
Meskipun dulu ia pernah khilaf, meniduri Clara, kekasih adik kandungnya sendiri. Namun, sesungguhnya itu bukanlah keinginannya. Claralah yang telah menggodanya. Membuatnya tergelincir lalu jatuh dalam kenikmatan sesaat.
Belakangan baru diketahui bahwa Mimin memiliki saudara kembar bernama Sabrina Zahra atau Ririn. Sosok Mimin dan Ririn bagai pinang tak berbelah. Tak mungkin jika ia tak terpesona dengan kecantikan Ririn.
Hingga ketiika mama dan papahnya berencana untuk menjodohkan dirinya dengan Ririn yang tak lain adalah saudara kembar adik iparnya, tentu saja ia tak menolak.
Namun sayang, Ririn yang adalah seorang janda muda dengan sejuta luka dan memiliki trauma akan pernikahan, tak serta merta dapat menerima lamaran Deka.
Dan di sinilah cerita dimulai.
Ririn menatap langit-langit kamarnya. Ia tak menyangka, dirinya kini berada di tempat ini, berkumpul bersama keluarga kandungnya. Keluarga yang baru beberapa hari bertemu dan sudah memberikan kehangatan luar biasa.
Ia sungguh senang melihat hubungan Abah dan Mami yang terasa hangat dan mesra, tak seperti hubungan bapak dan ibunya dulu. Bagaimana dulu, ia kerap menyaksikan bapaknya melakukan tindakan kekerasan baik secara fisik maupun verbal kepada ibunya.
Ririn memeluk boneka Doraemon kesayangannya. Boneka ini sengaja dibawa karena ia terbiasa tidur dengan memeluk boneka Doraemon.
Sejak kecil Ririn sangat menyukai Doraemon, robot kucing yang bisa mengabulkan segala permintaan dengan kantong ajaibnya. Jika hatinya tengah bersedih, suka berkhayal andai saja ia memiliki sahabat robot kucing Doraemon yang bisa memberikan jalan keluar untuk setiap masalah yang dihadapinya.
Ketika menyaksikan bapaknya menyakiti sang ibu, ingin sekali rasanya ia membawa ibu pergi dengan pintu ke mana saja, pintu ajaib milik Doraemon.
Atau ketika Jefri--mantan suami Ririn berbuat kasar kepadanya, ingin sekali menyorotnya dengan senter pengecil agar Jefri yang berperangai buruk itu berubah kecil dan tak lagi dapat menindasnya.
Ririn menghela napas panjang. Berusaha mengubur segala kenangan buruk tentang hidupnya. Tubuh yang terasa lelah, membuatnya tak dapat menahan kantuk.
Ia memanjatkan doa sebelum menutup mata. Tak lupa memeluk Doraemon untuk mengiringinya ke alam mimpi. Berharap mimpi indah akan membelainya malam ini.
__ADS_1
Deka masuk ke dalam kamar yang telah dipersiapkan untuknya. Untuk pertama kalinya ia menginap di rumah Haji Zaenudin, bapak mertua Dewa, ayah dari Jasmin dan Ririn.
Kamar tamu ukuran 3x3 meter bercat putih yang tak dilengkapi fasilitas mesin pendingin ruangan. Luasnya pun jauuuuuh lebih kecil dari kamar pribadinya di rumah. Hanya ada satu tempat tidur dan sebuah lemari. Tanpa AC dan TV Led.
Pantas saja Papa dan Mama memilih untuk menginap di hotel. Kalau tahu begini ia pun akan memilih untuk menginap di hotel. Mana bisa ia tidur tanpa pendingin ruangan. Kota Serang sama panasnya seperti Jakarta. Begitu keluh hatinya.
Deka membuka kemeja, kaos dalam dan celana panjangnya. Hanya menyisakan celana boxer yang membungkus bagian bawahnya. Di dalam boxer itu apakah ada ce lana dalam merek “GUE Man” atau tidak, dalam hal ini penulis tidak tahu. Bisa ditanyakan nanti pada cicak-cicak di dinding.
Tujuannya membuka pakaian tentu saja agar tak terlalu kegerahan tidur di kamar ini. Sebagai usaha untuk menyiasati kamar yang tanpa AC.
Deka merebahkan tubuh ke atas kasur yang lumayan empuk meski tak seempuk kasur miliknya. Lega rasanya bisa berbaring setelah perjalanan pulang pergi Serang-Subang yang cukup melelahkan.
Perjalanan ke Subang tadi pagi menorehkan kenangan tersendiri baginya. Melamar seorang wanita yang baru sehari dijumpainya, bahkan belum sempat berkenalan dengannya. Dan langsung ditolak pula. Lucu. Antara pengen ketawa dan pengen nangis hadir bersamaan.
Whoooaamm ....
Mulutnya terbuka lebar karena ngantuk berat. Tidak sampai lima menit, ia yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan boxer itu langsung berkelana ke alam mimpi.
Pukul dua dini hari, Deka terbangun dari tidurnya. Tubuhnya menggelinjang karena HIV alias Hasrat Ingin Vivis. Ia segera bangun dari posisi tidurnya. Sempat berpikir untuk memakai pakaiannya, namun kemudian mengurungkannya karena HIV sudah di ujung tanduk.
Lagipula tengah malam begini, penghuni rumah pasti tengah terlelap dalam tidur. Jadi, tak masalah ia pergi ke kamar mandi dengan penampilan begini. Begitu pikirnya.
Deka membuka pintu kamar yang bersebelahan dengan kamar Ririn. Ia mengayun langkah cepat menuju kamar mandi yang terletak di belakang dekat dapur.
Karena sudah tak tahan, ia masuk ke kamar mandi tanpa menutup pintu. Dan segera menuntaskan hasratnya. Hasrat Ingin Vivis. Tak lupa untuk cebok dan menyiram bekas buang air kecilnya.
Ia baru saja menaikkan boxer-nya lalu berbalik badan, ketika dikejutkan dengan keberadaan Ririn di hadapannya. Ririn pun sama terkejutnya. Ia memasuki kamar mandi yang pintunya tak tertutup, tak menyangka ada Deka di dalam kamar mandi itu.
"Aaaaa ...." Ririn berteriak karena terkejut. Deka langsung membekap mulut Ririn dengan tangannya.
__ADS_1
"Sssstttt ... Jangan teriak! Nanti semua bangun dengar teriakan kamu," kata Deka dengan posisi tangan masih membungkam mulut Ririn.
"Emmm." Ririn melotot memberi isyarat agar Deka melepaskan tangan yang membungkam mulutnya. Tangan Ririn juga refleks menyentuh tangan Deka berusaha untuk melepaskan diri.
"Maaf, habisnya kamu teriak, sih." Deka melepaskan bungkaman tangannya.
Sorot mata mereka bertemu. Saling menautkan dalam tatapan. Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik. Pada detik keenam Ririn memutuskan tatapannya. Ia menundukkan pandangannya menghindar dari sorot mata Deka.
Saat dalam perjalanan menundukkan pandangan. Dada Ririn mendadak bergemuruh. Darahnya berdesir. Dan jantungnya berpacu cepat karena melihat penampakan Deka.
Euleuh euleuh ... roti sobek.
Namun sedetik kemudian ia berusaha mengulum senyum ketika pandangannya lebih turun lagi dan jatuh pada boxer yang dikenakan Deka.
Euleuh euleuh ... boxer-nya gambar Doraemon.
Deka yang terlambat menyadari ke mana arah sorot mata Ririn tertuju, seketika merasakan wajahnya memanas karena malu. Detik itu juga rasanya ia ingin bersembunyi di lubang semut. Atau terbang ke pluto juga boleh.
Dengan gestur kikuk dan malu, tanpa sepatah kata pun yang terucap, Deka berlalu meninggalkan Ririn. Langkahnya terbirit-birit menuju kamar. Hatinya menggerutu sendiri.
Duh, kenapa hari ini gue pake boxer Doraemon sih.
Malu banget gue, kepergok pake boxer Doraemon.
.
.
.
.
Ini diulang lagi ya, karena dari sini cerita mereka dimulai
__ADS_1